Indonesia
NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:24.1k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Pukul 6:45 malam, Zaira tiba di gedung yang ditunjukkan.

Hotel itu tampak seperti dunia lain: marmer yang dipoles hingga bagai cermin, lampu-lampu gantung yang memercikkan emas, permadani tebal yang meredam langkah seakan berusaha membungkam pikiran. Dinding-dinding tinggi dihiasi lis-lis kuno, dan di udara mengapung aroma pekat: campuran parfum mahal, kayu tua, dan kekuasaan. Jenis kekuasaan yang menghimpit bahkan sebelum berbicara.

Semuanya terlalu elegan. Terlalu mengintimidasi.

Ia berhenti di depan pintu-pintu kaca, merasa jantungnya terhimpit di dalam dada. Pantulan itu memantulkan kembali sosok seorang gadis muda yang rapuh sekaligus tegar. Rambut tergerai jatuh bagai tirai gelap di atas bahunya. Jinnya sederhana, tapi bersih; blus putihnya begitu tanpa cela sampai tampak seperti baju zirah dari kain. Ia mencengkeram erat tali tasnya, seolah gerakan itu bisa menambatkannya pada sesuatu.

Matanya yang besar dan gelap, meski ketakutan, membara oleh nyala baru yang garang, yang belum ia kenal sampai kini.

"Kamu tidak akan menjual diri," gumamnya nyaris tak terdengar, dengan suara setipis benang yang bergetar di tenggorokannya. "Kamu bukan barang dagangan."

Ia mengepalkan tinju dan melangkah masuk.

Bagian dalam menyelimutinya dengan kehangatan buatan: cahaya temaram, marmer berkilau di bawah kakinya, dan alunan musik instrumental lembut yang meluncur di udara bagai bisikan elegan.

Petugas resepsionis nyaris tak mengangkat wajah. Ia tampak tanpa cela, dengan sanggul kencang dan bibir merah bagai peringatan. Ia memandang Zaira dengan ketidakpedulian yang sama seperti orang mengamati bayangan yang melintasi ruangan. Seakan ia sudah terbiasa melihat gadis-gadis seperti dirinya masuk dengan jiwa yang membara... dan keluar dengan pandangan yang padam.

Seorang pramukamar mendekat dengan langkah mekanis, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Seragamnya yang tanpa cela tampak lebih menyerupai baju zirah ketimbang pakaian.

"Nona Zaira?" tanyanya dengan suara rendah, formal, nyaris hanya gumaman.

Ia mengangguk, merasakan jantung menghantam dadanya seakan mencari jalan keluar.

"Lewat sini, silakan."

Mereka berjalan menyusuri koridor yang sunyi. Cahaya keemasan memproyeksikan bayangan panjang di dinding-dinding berlapis panel kayu gelap. Ketika melewati sebuah cermin, Zaira menghindari memandang dirinya. Ia tak ingin melihat gemetar di dagunya, rasa takut pada punggungnya yang tegak.

Lift itu bagai sangkar emas. Pintunya menutup dengan bunyi tumpul, dan cermin di dalamnya memantulkan bayangan yang terdistorsi oleh kegugupan. Tiap angka yang menyala di panel adalah hitung mundur menuju saat yang paling ia takuti... dan yang, meski begitu, telah ia pilih untuk dihadapi.

Sampai di lantai delapan belas, pramukamar tak berkata sepatah pun lagi. Ia hanya mengantar Zaira sampai ke sebuah pintu ganda, berat, dari kayu berukir, dengan gagang perunggu yang mengilap. Megah. Agung. Sebuah ambang di antara dua dunia.

Ia mengetuk sekali.

Suara pria menjawab dari seberang, berat, penuh keyakinan:

"Masuk."

Pramukamar membuka pintu dan menyingkir dengan sedikit membungkuk. Zaira masuk sendiri, merasa udara di paru-parunya menjadi lebih pekat.

Bagian dalam adalah ruang pribadi yang dibasuh bayangan yang nyaman. Perabotnya dari kulit gelap, berkilau samar di bawah cahaya hangat lampu-lampu berdiri. Aromanya memabukkan: cendana, kulit, dan sentuhan tipis wiski tua. Segalanya berbicara tentang kemewahan yang senyap, tentang kendali. Tentang seorang pria yang tak meminta izin.

Tirai-tirai tertutup, tapi cahaya cukup untuk membentuk siluet seorang pria tinggi, membelakanginya, sedang menuang minuman ke gelasnya.

Leonardo Santos.

Ketika ia berbalik, Zaira merasa waktu memampat di dadanya. Pria itu jauh lebih menjulang dari yang ia ingat. Ia mengenakan serba hitam, bagai bayangan yang elegan. Kemeja yang terbuka di bagian kerah memperlihatkan kulitnya yang kecokelatan, dan arloji logam di pergelangannya berkilau dengan angkuh. Perawakannya bagai pemangsa yang tenang. Segalanya pada dirinya berbicara tentang kekuasaan.

Matanya, kelabu logam yang dingin, menyusuri Zaira perlahan, tanpa berpura-pura. Bagai orang yang memandang sesuatu yang sudah ia anggap miliknya.

"Kamu datang," gumamnya, puas, suaranya bergetar bagai guntur rendah yang tertahan.

Zaira menelan ludah. Ia maju dua langkah, kaki menegang bagai tali yang nyaris putus. Kini ia bisa melihatnya dengan jelas: tinggi, atletis meski usianya, rambut hitam dengan helai-helai perak di pelipis, janggut yang tercukur sempurna. Tiap garis di wajahnya dipahat oleh waktu, uang, dan kekuasaan.

"Saya..." ia menarik napas dalam, tenggorokan tercekat, "saya tidak datang untuk tinggal," ia tergagap, membenci dirinya karena terdengar begitu rapuh. "Saya hanya datang untuk mengembalikan uang Anda... dan mengatakan bahwa..." suaranya pecah, "bahwa saya bukan pelacur."

Leonardo terhenti. Wajahnya yang tadi santai kini menegang. Bayangan kejengkelan melintasi tatapannya. Sudut-sudut bibirnya sedikit turun, dan kerutan halus muncul di antara alisnya.

Zaira merasakan keheningan tumbuh, tebal, mencekik.

"Malam itu... saya ditipu," katanya, memeras kata-kata itu di sela gigi. "Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Itu tidak berarti apa-apa."

Matanya menusuk mata Leonardo, sekeras baja.

Leonardo membisu beberapa detik yang terasa memanjang bagai berabad-abad. Bibirnya menegang. Lalu, ia maju.

Zaira nyaris tak sempat mundur. Dalam sekejap, pria itu sudah berada di hadapannya, begitu dekat sampai panas tubuhnya menyelimuti Zaira bagai selimut tak kasatmata. Dinding dingin menekan punggungnya, marmer di bawah kakinya, napas pria itu di lehernya.

"Tidak berarti apa-apa?" bisiknya, serak, tak percaya. "Begitu caramu ingin menghapus apa yang terjadi di antara kita?"

Zaira membuka mulut, tapi tak sanggup mengucap sepatah kata pun. Sedetik kemudian, bibirnya tertangkap oleh bibir Leonardo.

Ciuman itu bagai sebuah pukulan. Tanpa kelembutan. Tanpa manis. Ia adalah hasrat yang lepas kendali, amarah yang tertahan, frustrasi. Sebuah perang tempat mulut mereka menjadi senjata, dan kulit menjadi medan pertempuran.

Terpana, Zaira sesaat tak mampu bereaksi.

Tubuhnya menegang, benaknya menjerit, dan tangannya yang gemetar berusaha mendorong pria itu. Ketika akhirnya ia berhasil melepaskan diri, ia terengah. Dadanya naik-turun cepat, seolah baru berlari maraton emosional.

Dengan mata membara amarah, ia mengangkat tangan. Tapi pria itu lebih cepat.

Leonardo mencengkeram pergelangan tangannya dengan mantap, tanpa menyakiti, tapi menegaskan bahwa dialah yang memegang kendali.

"Jangan memancingku, Zaira," geramnya, suaranya bagai tali yang nyaris putus.

Zaira meronta, rasa takut dan kemarahan membasahi tiap sel di tubuhnya.

"Lepaskan aku!" jeritnya dengan suara pecah.

Leonardo menariknya lebih dekat. Tubuhnya bagai benteng yang menghadang tubuh Zaira.

"Kamu milikku," bisiknya, tiap kata bagai cambukan. "Sekeras apa pun kamu melawan... aku takkan melepaskanmu."

Zaira gemetar. Tapi bukan hanya karena takut.

Ada sesuatu yang lain, arus listrik berbahaya yang mengalir di bawah kulitnya. Panas tak terduga yang membuatnya marah sekaligus takut.

Ia menatap pria itu, air mata membakar di matanya, tenggorokan tercekat amarah.

"Aku bukan pelacurmu!" ludahnya, suaranya tajam oleh penghinaan.

Leonardo terdiam. Cengkeraman di pergelangan tangan Zaira melunak. Sesuatu di tatapannya berubah, meski tetap tajam, melahap.

Ia menarik napas dalam, dan ketika ia bicara, suaranya lebih rendah, lebih intim.

"Aku tidak ingin membelimu, Zaira..." katanya. "Aku menginginkanmu... apa adanya. Utuh. Bebas... tapi milikku."

Zaira menggeleng, putus asa.

"Tidak. Kamu ingin memilikiku dengan uang... dengan kendali. Dan aku tidak menjual diri."

Akhirnya, ia melepaskan Zaira. Tapi ia tak menjauh. Kehadirannya tetap menyerbu segalanya, bahkan udara.

Zaira mundur beberapa langkah. Ia masih merasakan tangan pria itu pada dirinya, rasa pahit ciuman itu, beban tak kasatmata dari semua yang tak terucapkan.

Jarak di antara mereka teramat kecil... tapi tak terhingga.

"Kamu akan lelah melawan, Zaira," kata pria itu, suaranya nyaris hanya bisikan sarat ancaman sekaligus janji. "Dan ketika saat itu tiba... kamu benar-benar akan menjadi milikku."

Zaira tak menjawab.

Leonardo Santos. 50 tahun

Zaira Montes. 25 tahun.

1
Enik Ulandari
aku suka ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!