Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memang Kamu Bisa Masak?
Hari kedua setelah pernikahan mereka, Kanaya dan Yudha akhirnya memutuskan pindah ke rumah Yudha. Tak banyak barang-barang yang mereka bawa, hanya pakaian juga barang-barang yang ada di meja kerja Kanaya.
Kedua orang tua juga adik Kanaya ikut mengantar kepindahan mereka. Danur sengaja ikut untuk memastikan, apakah rumah tempat tinggal menantunya itu cukup nyaman dan layak untuk putrinya. Jauh dari pantauannya membuat Danur khawatir Yudha tidak bisa memperlakukan Kanaya dengan baik.
Danur bahkan menemui ketua RT di komplek perumahan itu untuk menitipkan anaknya. Danur masih belum percaya dan yakin seratus persen melepas Kanaya hidup berdua dengan Yudha.
"Makasih Papa sama Mama sudah bersedia mengantar kami." Yudha senang kedua orang tua Kanaya bersedia ikut datang mengunjungi rumahnya, meskipun sikap Danur masih dalam mode waspada dan tak bersahabat.
"Saya hanya ingin memastikan Kanaya aman di sini! Saya sudah bicara sama Pak RT, kalau sampai kamu menyakiti Kanaya ...."
"Pa ..." Kanaya memotong ucapkan papanya, khawatir kata-kata yang diucapkan sang papa akan menyinggung Yudha. "Papa nggak usah khawatir. Aku 'kam bukan anak kecil lagi," ujarnya mencoba meyakinkan Danur.
"Pa, apapun alasan pernikahan mereka, sekarang Yaya dan Yudha udah jadi pasangan suami istri yang sah, Mereka berhak menentukan kehidupan mereka sendiri. Kita sebagai orang tua jangan terlalu banyak ikut campur." Anita mencoba menenangkan Danur seraya mengusap lengan suaminya itu.
Dengusan nafas Danur terdengar berat. Tatapannya tajam mengarah pada menantunya. Keputusan Yogi yang kabur dari rencana pernikahan sepertinya belum bisa ia lupakan begitu saja, meskipun Yudha sudah menggantikannya sebagai mempelai pria.
"Kalau sampai Kanaya kamu sakiti dan kamu kecewakan, saya sendiri yang akan menendangmu sampai ke depan muka orang tuamu sendiri!" Ancaman ditebar Danur. Tak perduli tubuhnya ringkih, tak perduli tenaganya tak sekuat dulu, demi membuat sang menantu gentar padanya, dia berani mengeluarkan ancaman layaknya seorang preman.
Yudha membeliakkan matanya, tak menyangka papa mertuanya mengucapkan ancaman itu. Padahal, jika sampai beradu fisik, dia lebih unggul dari Danur. Namun, ia pun tak mungkin berani melakukan hal tersebut.
"Pa, jangan marah-marah terus. Ingat hipertensi, Pa." Kanaya khawatir penyakit papanya kambuh, sehingga meminta papanya itu untuk berhenti memarahi Yudha. Sebenarnya ia kasihan terhadap Yudha, karena selalu mendapatkan perlakuan tak enak dari Danur. Tapi, apa boleh buat, mungkin nasib sial Yudha adalah menjadi adik Yogi.
"Pa, Ma, kita makan dulu aja, yuk! Pesanan makanan udah datang, nih!" Merasakan atmosfer ketegangan di ruangan itu, Kinanti mencoba mencairkan suasana dengan mengajak semua anggota keluarga menikmati makan siang, karena makanan yang dipesan Yudha secara online sudah tiba.
"Iya, kita makan dulu aja, Pa." Anita pun menarik tangan suaminya dan menuntunnya duduk di sofa agar obrolan mereka tadi berakhir.
***
Kanaya selesai mencuci peralatan makan dan minum setelah semua keluarganya meninggalkan rumah Yudha sekitar jam empat tadi. Kini ia ingin melanjutkan pekerjaan menyapu dan mengepel. Sebab, keponakan-keponakannya tadi menumpahkan makanan dan minuman di lantai.
Merasa dirinya yang sedang menumpang di rumah Yudha, ia berniat merapihkan dan membersihkan rumah itu. Namun, seketika ia dibuat kaget melihat Yudha sudah lebih dulu mengambil tugas itu.
Tertangkap oleh netranya, Yudha yang memakai celana selutut sibuk menggerakkan gagang pel di tangannya, menguarkan aroma floral yang menyegarkan di lantai keramik yang kini menjadi kinclong.
"Sini aku aja yang ngepel, Yud!" Kanaya meminta Yudha menyerahkan pekerjaan itu kepadanya, karena pekerjaan itu seharusnya menjadi tugasnya.
"Nggak usah, biar aku aja. Tanggung ini tinggal dapur aja. Lantai atas juga udah aku pel." Yudha menolak permintaan Kanaya, karena pekerjaan itu mampir ia selesaikan.
"Sorry ya, gara-gara keponakanku jadi ngerepotin kamu." Kanaya merasa tak enak hati melihat Yudha membersihkan lantai dari atas sampai bawah, karena tadi banyak kaki yang wira-wiri di sana, terutama keponakan-keponakannya yang tidak mau diam berlarian.
"Nggak apa-apa. Kan udah aku bilang, aku sering bersih-bersih kalau datang ke sini." Karena terbiasa melakukannya, Yudha tak merasa terbebani mengerjakan hal tersebut.
"Oh ya, nanti malam kamu mau makan apa? Biar aku buatkan." Karena tugasnya membersihkan sudah dihandle Yudha, Kanaya berniat membalasnya dengan memasak untuk mereka makan malam. Kebetulan Kanaya tadi sempat meminta bantuan adiknya berbelanja untuk mengisi stok bahan makanan di kulkas.
"Memang kamu bisa masak?" tanya Yudha meledek.
Kanaya mengangkat alisnya mendengar Yudha meremehkannya soal memasak. Telat menikah bukan berarti ia buta soal urusan dapur. Dia sudah terbiasa membantu mamanya menyiapkan sarapan jika ia tak mengajar.
"Nanti kamu rasain dulu, deh! Baru komen gitu!" Kanaya memutar tubuhnya dan kembali melangkah ke arah dapur, merasa tertantang oleh ucapan Yudha tadi.
"Gitu aja ngambek, dasar cewek!" ledek Yudha, namun hanya diucapkan dengan bergumam, khawatir Kanaya akan marah mendengar cibirannya tadi.
Selepas Magrib, ayam goreng bawang putih, tumis udang buncis, tahu goreng dan krupuk udang sudah tersaji di meja makan. Semuanya dimasak oleh Kanaya. Dia ingin membuktikan pada Yudha jika ia memang bisa memasak, meskipun sebenarnya ucapkan Yudha hanya bersifat candaan semata.
"Eh, serius ini, kamu masak sendiri?" tanya Yudha memasang gesture tak percaya. "Nggak diam-diam order di luar, kan?" ledeknya lagi sambil terkekeh.
"Alamat rumah ini aja aku nggak tahu jelas nama blok-nya, gimana mau order dari luar?" Kanaya terpancing oleh ledekan Yudha.
"Hahaha, bercanda kali ..." Yudha menarik kursi makan dan mendudukinya. "Keliatannya enak banget, nih." Tangannya mengambil pinggan berisi ayam goreng dan mendekatkan ke hidungnya, menikmati aroma bawang putih yang membangkitkan selera makannya.
"Kalau dari aromanya sih aku kasih nilai sepuluh, kalau rasanya ..." Ekor mata Yudha melirik pada Kanaya, bersiap meledek istrinya lagi.
"Coba aja dulu, kalau nggak enak, tinggal pesan makanan lain di luar aja!" Kanaya menjawab dengan sedikit kesal, sebab Yudha terus saja meremehkannya.
"Hahaha, masa pesan di luar, sih? Kamu udah cape-cape masak, kok." Yudha menjawab enteng. "Ya udah, aku coba dulu, deh!" Dia lalu mengambil piring dan menyodorkannya pada Kanaya.
Kanaya menoleh pada piring yang disodorkan Yudha. Dia tahu maksud Yudha melakukan itu kepadanya. Itu memang kewajiban istri melayani suami. Namun, bukankah mereka menjalani pernikahan mereka hanya sementara.
Kanaya tak menolak melakukan pekerjaan itu. Dia pun lalu mengisi piring dengan beberapa centong nasi dan menyodorkannya kembali pada Yudha.
"Sekalian kasih tumis sama ayam gorengnya. Krupuknya juga. Susah ambilnya. Pinggangku pegal nih, abis ngepel tadi." Yudha berasalan seraya mengusap pinggangnya mendramatisir.
❤️❤️❤️
Bersambung...
❤️❤️❤️
Bersambung ...
auto mandi keramas lagi kamu nay🤣🤣
Awas Kanaya kena hukuman.tapi hukumannya yang bikin enak😁
apa harus melihat perbedaan usia di saat menikah ya
mau Naya lebih tua dari Yudha apa hak kamu,,toh mereka serasi ko,,
julid amat loh
seolah olah Kanaya yang salah padahal pihak keluarga Yogi dan Yudha yang bikin masalah.
besoknya anggap angin lalu. siapa tau jodoh sebenarnya udah deket
terima nasib aja ayy,positif thinking aja kalau Yudha bukan jodohmu. jangan coba2 buat nikung ya,..