Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:626
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12. Gerbang Pertama

..."pedang memotong musuh. sapu membersihkan jalan. saya milih sapu"...

Pagi di Gunung Emei datang lebih cepat dari biasa nya. Kabut belum sepenuh nya naik ketika lonceng peringatan di menara di pukul satu kali.

Itu bukan lonceng latihan. Itu lonceng tamu yang datang tanpa undangan.

Jing yue sedang menyapu halaman di depan Balai Cahaya Bodhi dengan sapu bambu dari Shaolin. Tangan nya berhenti. Dia menegakkan punggung. Di kejauhan terlihat tiga sosok berjubah hitam berjalan naik dari anak tangga.

Di dada mereka ada lambang harimau putih.

Itu lambang Sekte Harimau Putih dari Gunung Taihang. Sekte itu terkenal kasar. Sekte itu baru saja menaklukkan dua perguruan kecil bulan lalu.

Bai Ling berlari dari belakang.

"hati-hati," bisik nya.

"Ini ujian pertama mu sebagai Penjaga Gerbang."

Jing yue mengangguk. Dia tidak meletakkan sapu. Dia justru menggenggam nya lebih erat.

Karena guru Shaolin pernah bilang, pemimpin harus siap kotor tangan nya. Tiga utusan itu berhenti di bawah tangga. Yang di tengah paling tinggi. Janggut nya tebal. Mata nya menatap ke atas seperti sedang menilai harga.

"Aku Tie Shan," kata nya lantang.

"Utusan Sekte Harimau Putih."

"Kami dengar Emei mengangkat anak kecil jadi Penjaga Gerbang."

"Kami datang untuk melihat, apakah gunung ini masih layak di sebut sekte besar."

Tidak ada salam.

Tidak ada teh.

Langsung menantang.

Seratus murid di belakang gerbang menahan napas. Beberapa menggenggam gagang pedang.

Jing yue turun tiga anak tangga.

Dia berhenti.

Dia tidak menunduk.

Dia juga tidak sombong.

Dia hanya berdiri.

"Lencana mount hua di dadaku," kata nya pelan.

"Tasbih Shaolin di leher ku."

"Giok Kunlun di pinggang ku."

"Teh Wudang di dalam perut ku."

"Saya Jingy ue. Penjaga Gerbang Emei."

Tie Shan tertawa.

Suara nya kasar.

"Anak tujuh belas tahun bawa barang-barang itu."

"Kau pikir kami takut?"

"Kami datang bukan untuk bicara."

"Kami datang untuk satu hal."

"Serahkan kitab pedang Emei, dan kami akan pergi."

"Kalau tidak, kami naik dan mengambil sendiri."

Angin berhenti.

Bahkan burung pun diam.

Jing yue menatap sapu di tangan nya.

Dia ingat seribu anak tangga di Shaolin.

Dia ingat salju di Kunlun.

Dia ingat air di Wudang.

Dia ingat tulang di mount hua.

Lalu dia menancapkan ujung sapu nya ke tanah.

"Saya tidak akan pernah menyerahkan kitab emei," kata nya.

"Karena kitab itu bukan milik saya."

"Itu milik seratus murid di belakang saya."

"Tapi saya juga tidak akan bertarung dengan mu di sini."

Tie Shan mengernyit.

"Maksud mu apa?"

Jing yue menunjuk ke lapangan batu di samping gerbang.

"Itu tanah Emei."

"Tanah tidak melawan."

"Tanah menampung."

"Kalau kalian mau menguji Emei, uji saya."

"Satu lawan satu."

"Tidak pakai pedang."

"Tidak pakai tenaga dalam."

"Tapi pakai sapu ini."

Seluruh lapangan hening.

Tie Shan tertawa lagi, tapi kali ini lebih pelan.

"Kau gila."

"Baik."

"Aku layani."

Kedua orang berjalan ke tengah lapangan.

Bai Ling berdiri di pinggir, wajah nya pucat.

Tetua Emei menonton dari balkon atas tanpa turun.

Ini memang ujian.

Jing yue membuka jubah luar nya.

Di dalam nya ada lencana, giok, dan tasbih.

Dia meletakkan semuanya di batu, rapi.

Lalu dia mengambil sapu lagi.

Tie Shan mencabut golok nya.

Besar.

Berat.

"Boleh pakai senjata," ejek nya.

Jing yue menggeleng.

"Saya cukup ini."

Lonceng di pukul.

Pertarungan di mulai.

Tie Shan maju pertama.

Golok nya menebas ke bawah.

Jing yue tidak menghindar jauh.

Dia geser setengah langkah.

Seperti air. Seperti yang di ajarkan Wudang.

Sapu menangkis gagang golok.

Bukan bilah nya.

Bunyi kayu bertemu besi.

Tie Shan terkejut.

Dia tebas lagi.

Jing yue mundur.

Lalu sapu menyapu tanah.

Debu naik.

Mata Tie Shan perih.

Itu bukan jurus.

Itu cara menyapu.

Jing yue berputar.

Sapu menghantam lutut Tie Shan.

Pelan. Tapi tepat. Tie Shan terhuyung.

Dia marah.

Dia ayunkan golok dengan seluruh tenaga.

Jing yue tidak lari. Dia tunduk. Seperti es yang tidak pecah. Seperti yang di ajarkan Kunlun.

Golok lewat di atas kepala nya.

Sapu menyapu kaki Tie Shan.

Tie Shan jatuh terduduk.

Bukan karena sakit.

Karena kaget.

Jing yue tidak menyerang lagi.

Dia berdiri.

Menjaga jarak.

"Napas mu berat," kata Jing yue.

"Tangan mu gemetar."

"Kau sudah membunuh dua perguruan bulan ini."

"Tanganmu penuh dengan darah."

"Turunkan golok nya."

Tie Shan menggeram.

"Aku belum kalah!"

Dia bangkit. Menerjang lagi. Kali ini Jing yue tidak menangkis. Dia melangkah maju. Sapu menahan dada Tie Shan.

Bukan memukul.

Menahan.

Seperti tanah yang menahan beban.

Seperti yang diajarkan Shaolin.

Tie Shan terdorong mundur. Dia kehilangan keseimbangan. Dia jatuh duduk lagi.

Kali ini lebih lama.

Jing yue membuang sapu.

Dia berjalan mendekat. Lalu dia berlutut. Di depan Tie Shan. Semua orang terkejut.

"Kenapa?" geram Tie Shan.

Jing yue menatap mata nya.

"Karena tulang tanpa hati akan patah," kata nya.

"Karena air tanpa wadah akan tumpah."

"Karena es tanpa matahari akan mencair sia-sia."

"Karena tanah kalau tidak di tanami, hanya akan jadi lumpur."

"Saya tidak mau menang atas mayat mu."

"Saya mau Emei dan Harimau Putih sama-sama berdiri."

Tie Shan terdiam. Golok di tangan nya bergetar.

Lalu jatuh ke tanah. Dia menutup muka dengan kedua tangan.

"Bajingan," gumam nya.

"Aku datang untuk mempermalukan kalian."

"Tapi kau malah mempermalukan aku dengan cara yang berbeda." Jing yue tidak menjawab.

Dia hanya mengambilkan air dari kendi. Dan menyerahkan nya. Tie Shan minum.

Tangan nya masih gemetar. Setelah lama, Tie Shan berdiri. Dia memungut golok nya. Tapi tidak mengacungkan nya. Dia menyarungkan nya.

"Aku pulang," kata nya pelan.

"Katakan pada Ketua Tetuamu."

"Harimau Putih tidak akan menginjak Emei tahun ini."

"Lalu tahun depan?" tanya Jing yue.

"Tahun depan aku yang datang lagi," jawab Tie Shan.

"Bukan untuk bertarung."

"Untuk belajar menyapu."

Dia berbalik. Dua utusan di belakang nya mengikuti nya turun. Tidak ada yang mengejar. Tidak ada yang bersorak. Seratus murid hanya berdiri, dan menyaksikan. Jing yue kembali memungut sapu nya.

Memungut lencana.

Memungut giok.

Memungut tasbih.

Lalu dia berjalan kembali ke atas. Melewati seratus murid. Melewati Tetua di balkon. Melewati gerbang. Sampai di halaman Balai Cahaya Bodhi. Dia melanjutkan menyapu.

Seolah tidak terjadi apa-apa. Bai Ling menghampiri. Mata nya merah.

"Kau menang," bisik nya. Jing yue menggeleng.

"Saya tidak menang."

"Saya hanya tidak kalah."

Malam nya Jingyue menulis di buku. Tangan nya masih sakit.

"Hari kesembilan belas. Hari ini saya tidak memakai pedang. Hari ini saya memakai sapu. Hari ini saya mengerti kenapa Shifu De Yuan menyuruh saya menyapu seribu tangga. Karena kadang musuh tidak perlu di kalahkan.Kadang musuh perlu di beri jalan untuk pulang."

Dia menutup buku. Di luar, lonceng Emei dipukul tiga kali. Tanda malam aman.

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!