Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.
Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.
Altair Varellion.
Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.
Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.
Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toilet
Suara benda tajam menembus kayu pintu terdengar keras tepat di depan wajahnya.
Tubuh Evelyn langsung membeku. Matanya membelalak. Sebuah belati menancap di pintu biliknya.
Tepat setinggi wajahnya. Jaraknya bahkan tidak sampai sejengkal. Kalau tadi ia maju sedikit saja- mungkin benda itu sudah menembus kepalanya.
Napas Evelyn langsung tercekat. Tubuhnya refleks mundur perlahan. Untung pintu toilet belum terbuka penuh karena kuncinya masih menggantung setengah.
Tangannya mulai dingin.
Anjir..."
Kepalanya langsung kosong.
Detik berikutnya-
SRET.
Belati itu ditarik kembali dari luar, dan terdengar suara hantaman dari luar. Lalu-
BRUK!
Suara benda berat jatuh terdengar jelas. Tubuh manusia.
Evelyn langsung menegang.
Dan benar saja- setelah itu terdengar suara teredam seseorang seperti hendak berteriak.
"ΜΜΗ-!"
Namun suara itu langsung terputus. Seperti mulutnya dibekap paksa. Lalu semuanya kembali hening. Sunyi yang justru lebih menyeramkan. Jantung Evelyn berdetak kacau.
Ia bahkan bisa mendengar bunyinya sendiri di telinga.
Perlahan... dengan tangan gemetar... ia mendekat ke pintu. Mengintip dari celah kecil bekas tusukan belati tadi. Dan saat itulah tubuhnya terasa dingin.
Di lantai luar bilik-ada
bercak merah. Darah. Masih segar. Mengalir tipis di keramik putih. Evelyn langsung membekap mulutnya sendiri. Ya Tuhan..."
Suara air wastafel terdengar menyala. Seseorang sedang mencuci sesuatu dengan santai.
Pelan. Tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa. Dari celah sempit itu, Evelyn samar melihat sosok pria berdiri di depan terdengar jelas. Tubuh manusia.
Evelyn langsung menegang.
Dan benar saja- setelah itu terdengar suara teredam seseorang seperti hendak berteriak.
Di lantai luar bilik-ada
Air bercampur merah mengalir turun dari ujung pisau. Yang membuat Evelyn makin merinding-gerakan pria itu terlalu tenang. Tidak panik. Tidak tergesa. Seperti... sudah sering melakukan ini.
"Gila..."
"itu orang gila..."
"itu beneran psikopat..."
Pikiran Evelyn mulai kacau. Dan lebih parahnya lagi adegan ini terasa familiar. Terlalu familiar. Persis seperti cara pembunuhan di novel. Cepat. Rapi. Hampir tanpa suara. Namun tiba-tiba- pria itu berhenti bergerak.
Deg.
Kepalanya perlahan menoleh. Ke arah bilik toilet Evelyn. Refleks Evelyn langsung mundur cepat. Tubuhnya menempel ke dinding belakang bilik. Tangannya membekap mulut sendiri kuat-kuat agar napasnya tidak terdengar.
Tak.
Tak.
Tak.
Langkah kaki mulai terdengar mendekat. Pelan.
Santai. Namun justru itulah yang membuatnya makin menyeramkan.
Evelyn menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai terasa perih.
"Jangan buka..."
"Jangan buka..."
"Jangan buka pintunya anjir..."batinnya panik.
Tak.
Tak.
Langkah itu berhenti tepat di depan biliknya. Hening. Lalu
Cklek.
Gagang pintu mulai ditekan perlahan dari luar. Mata Evelyn langsung membesar. Pintu berguncang kecil. Dia benar-benar mencoba masuk. Tubuh Evelyn gemetar hebat.
Otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Kalau pintu ini terbuka - selesai. Refleks Evelyn merogoh saku rok cepat. Tangannya menemukan botol kecil berisi pil.
Obat stimulans dan pengencer darah ringan yang beberapa hari lalu sengaja ia beli online sebagai 'alat darurat'.
Awalnya karena paranoia berlebihan. Kalau suatu hari dia diculik atau disekap-setidaknya ada cara membuat dirinya tampak kritis agar orang panik dan cepat memanggil bantuan.
Ide bodoh.
Tapi sekarang- itu satu-satunya harapan. Dengan tangan gemetar ia langsung menelan 2 pil itu kering.
Beberapa detik berlalu. Dadanya mulai sesak. Jantungnya berdetak makin cepat.
Lalu- cairan hangat menetes dari hidungnya. Darah.
Evelyn langsung menutup hidungnya cepat. Tangannya gemetar parah.
Namun tepat saat itu-suara langkah kaki tergesa terdengar dari luar toilet.
"Cepat! Di sini!"
"Ada dosen datang!"
"Cepat cek disana-!"
Orang yang berada di depan bilik Evelyn mendadak diam. Hening beberapa detik. Lalu langkah kaki itu menjauh. Cepat. Menghilang begitu saja. Tubuh Evelyn langsung lemas.
Obat itu mulai bereaksi terlalu cepat. Pandangannya kabur. Napasnya tidak stabil. Dan tak lama kemudian-suara ramai mulai memenuhi toilet. Namun anehnya... bukan teriakan panik berlebihan. Melainkan suara-suara tertahan. Berusaha tetap tenang.
"Pastikan mahasiswa lain belum tahu."
"Tutup area ini sekarang!."
"Hubungi pihak keamanan kampus!."
"Jangan sampai kasus ini tersebar!."
Seseorang ditemukan tewas di toilet wanita. Mahasiswi.
Lehernya dipenuhi luka tusuk.
Namun pihak kampus tampaknya berusaha mencegah berita itu langsung menyebar. Beberapa dosen terlihat ikut berada di sana. Wajah mereka tegang. Dan di tengah situasi itu
Devan yang kebetulan berada di sekitar lokasi ikut membantu memeriksa keadaan. Ia mengecek satu per satu bilik toilet. Sampai akhirnya-
Cklek.
Pintu bilik paling ujung terbuka. Dan Devan langsung terdiam. Di sana- Evelyn terduduk lemas di lantai. Wajahnya pucat. Maskernya ternoda darah dari hidung. Matanya setengah terbuka namun tidak fokus. Tubuhnya gemetar kecil. Seolah baru saja melihat sesuatu yang sangat mengerikan.
"Evelyn?!" Devan langsung berjongkok panik.
Namun Evelyn bahkan nyaris tidak sadar. Tangannya masih mencengkeram sisi pintu erat. Seakan takut seseorang akan kembali membukanya.
"Hey, dengar gue? Evelyn!" ucap Devan panik, sambil menepuk kecil pipi Evelyn.
Dengan pelan... tatapan gadis itu bergerak ke arah Devan. Bibirnya bergetar kecil. "...ja... jangan buka..." Suaranya nyaris tidak terdengar.
"Dia..."
"...masih..."
Kalimatnya terputus.
Tubuhnya langsung limbung.
Devan refleks menangkap tubuh
Evelyn sebelum jatuh sepenuhnya.
Wajahnya langsung berubah serius. "Panggil petugas medis sekarang." Dengan cekatan juga,
Devan membawa keluar Evelyn dari tempat itu.
*
*
Kesadaran Evelyn kembali perlahan. Hal pertama yang ia dengar adalah suara seseorang yang sangat berisik di dekat telinganya.
"Ya ampun akhirnya bangun juga!"
"Lo tau gak sih muka lo tadi pucetnya kayak mayat kurang skincare!"
Evelyn mengernyit pelan.
Kelopak matanya terasa berat.
Kepalanya masih pusing. Dan hidungnya sedikit perih.
Perlahan ia membuka mata.
Lampu putih terang langsung menyambut pandangannya.
Ruangan kecil dengan aroma obat yang khas. UKS kampus.
"Oh...gue belum mati."
"Jangan ngomong gitu anjir!" sahut suara cempreng itu cepat.
Celine langsung muncul di hadapan wajahnya dengan ekspresi campuran panik dan kesal. "Lo bikin gue takut tau gak?!"
"Dari tadi gue mikir lo kerasukan setan toilet!"
Evelyn memejamkan mata sebentar. "Kepala gue sakit..."
"Ya iyalah! Hidung lo mimisan kayak keran bocor tadi!" Celine masih mengomel tanpa jeda.
Ternyata sekitar lima belas menit lalu Devan mengirim pesan WhatsApp padanya kalau Evelyn pingsan di toilet wanita. Begitu baca pesan itu- Celine langsung keluar kelas bahkan sebelum dosen selesai ngomong.
Bodo amat dimarahin. Yang penting temannya gak mati misterius. Sekarang gadis itu duduk di kursi samping ranjang UKS sambil masih terlihat cemas.
Sedangkan Evelyn... jujur masih linglung.
Efek pil yang ia telan tadi ternyata lumayan brutal.
Dadanya masih agak sesak.
Tubuhnya lemas. Namun dibanding efek obat yang lebih mengganggu justru bayangan pria di toilet tadi.
Pisau.
Sarung tangan hitam.
Suara langkah kaki itu.
Evelyn refleks meremas selimut ranjang pelan.
"Ev?" Celine langsung sadar perubahan ekspresinya. "Lo beneran gapaра?"
Evelyn terdiam beberapa detik sebelum memaksa senyum kecil. "...masih hidup berarti gapapa."
"Becanda mulu lo." ucap Celine agak kesal.
Namun sebelum percakapan mereka lanjut- pintu UKS terbuka pelan.
Ceklek.
Beberapa orang masuk bersamaan. Dan seketika suasana ruangan berubah agak tegang. Devan berjalan paling depan. Di belakangnya ada ketua BEM kampus, Adrian Vale.
Ruangan mendadak terasa lebih sempit. Celine bahkan langsung duduk tegak.
Sedangkan Evelyn... tatapannya otomatis bergerak satu per satu ke wajah mereka. Devan terlihat khawatir. Sedangkan Adrian-wajahnya tenang. Terlalu tenang malah. Tatapan matanya tajam namun sulit ditebak. Seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Udah sadar?" tanya Devan lebih dulu.
Evelyn mengangguk pelan.
"Iya..."
"Masih pusing?"
"Dikit."
"Syukurlah."
Namun meski nada mereka terdengar normal- Evelyn bisa merasakan sesuatu.
Mereka semua menyimpan pertanyaan. Banyak pertanyaan. Dan entah kenapa... tatapan mereka terasa seperti sedang mencoba membaca reaksinya.
Hening beberapa detik.
Sampai akhirnya Adrian membuka suara. "Untuk sementara...kejadian tadi jangan dibicarakan ke mahasiswa lain dulu."
Suaranya tenang. Datar.
Namun terdengar serius.
"Kampus sedang menangani masalah ini."
Celine langsung tampak bingung. "Masalah...?"
Devan melirik sekilas ke arah Adrian sebelum menjawab pelan. "Ada mahasiswi ditemukan meninggal di toilet."
Hening.
Celine langsung membeku.
"Ha...?"
Sedangkan Evelyn otomatis menunduk pelan. Tangannya terasa dingin lagi. Bayangan darah di lantai tadi langsung muncul di kepalanya.
Adrian berbicara lagi sambil melirik Evelyn sekilas. "Ku ada di sana saat kejadian."
Kalimat itu membuat suasana makin sunyi. Evelyn merasa tenggorokannya langsung kering. Namun sebelum ia sempat menjawab-
Adrian bicara lagi, pelan.
"Tapi kami gak akan nanya sekarang." Tatapannya tertuju pada Evelyn. "Mental kamu jelas belum stabil. Dan kondisi kamu juga belum pulih."
Nada bicaranya terdengar tenang. Tapi justru karena terlalu tenang- Evelyn malah makin susah membaca isi pikirannya. "Kami cuma perlu memastikan satu hal," lanjut Adrian. "Kamu aman sekarang."
Deg.
Entah kenapa kalimat itu tidak membuat Evelyn lega.
Malah sebaliknya. Karena kepalanya justru dipenuhi satu pertanyaan besar.bKalau pelakunya memang orang yang sama seperti di novel... apa benar dirinya masih aman?
curang tauuu😒😒