Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toko di Ujung Gang Kecil
Ada satu prinsip yang aku pegang cukup teguh sejak SMP: jangan pernah mempercayai ajakan Cahaya yang dimulai dengan kalimat "ikut aku sebentar" tanpa penjelasan lebih lanjut.
Bukan karena ajakan itu selalu berujung buruk. Justru sebaliknya — biasanya berujung pada sesuatu yang, dalam skala tertentu, menyenangkan. Tapi "sebentar" dalam kamus Cahaya punya rentang waktu yang sangat elastis, mulai dari benar-benar lima menit sampai — pernah terjadi sekali waktu SMA kelas satu — tiga jam penuh yang berakhir dengan kami berdua basah kuyup karena hujan deras yang tidak diprediksi cuaca manapun.
Jadi ketika Sabtu pagi itu, dua hari setelah insiden kotak kostum, Cahaya mengetuk pintu kamarku pukul sembilan pagi dengan wajah penuh semangat dan kalimat pembuka "Ren, ikut aku sebentar," alarm internal aku otomatis menyala.
"Sebentar yang mana?" tanyaku, masih setengah mengantuk, berdiri di ambang pintu dengan piyama yang belum sempat diganti.
"Sebentar yang beneran sebentar," jawabnya, sambil menyodorkan sesuatu ke tanganku — kaos yang bukan milikku, tapi cukup mirip ukurannya. "Ganti baju. Kita ke suatu tempat."
"Tempat apa?"
"Nanti kamu tau sendiri."
"Kamu selalu bilang begitu."
"Karena selalu benar."
Aku menatap kaos di tanganku — warna abu-abu polos, tidak ada gambar apa-apa, ukurannya cukup pas kalau ditebak dari mata. "Kenapa aku harus ganti baju? Baju aku sekarang juga baik-baik saja."
"Baju kamu sekarang bau bantal."
"Itu tuduhan yang tidak berdasar."
"Aku baru aja meluk kamu tadi pas kamu buka pintu. Aku tau."
Aku tidak sempat mengingat kapan tepatnya Cahaya memelukku tadi — mungkin sepersekian detik yang tidak sempat terekam kesadaranku karena masih dalam proses transisi dari tidur ke bangun — tapi aku memutuskan untuk tidak membantah lebih jauh dan menutup pintu untuk berganti pakaian.
Perjalanan yang dimaksud Cahaya ternyata melibatkan naik angkot dua kali dan berjalan kaki sekitar lima belas menit melewati jalan-jalan kecil yang, jujur saja, aku tidak pernah lewati sebelumnya meski sudah tinggal di kota ini seumur hidup.
"Kita ke mana sebenarnya?" tanyaku, untuk ketiga kalinya dalam perjalanan ini.
"Sudah dekat."
"Kamu bilang begitu sepuluh menit lalu."
"Sekarang lebih dekat dari sepuluh menit lalu. Itu progres."
Aku tidak punya jawaban untuk logika itu, jadi aku memilih diam dan mengikuti langkahnya yang, seperti biasa, sedikit lebih cepat dari langkahku sendiri — kebiasaan yang sudah ada sejak kami kecil dan tidak pernah benar-benar hilang meski sekarang tinggi badan kami hampir sama.
Kami melewati deretan ruko yang sebagian besar tutup — mungkin karena masih terlalu pagi untuk hari Sabtu, atau mungkin memang area ini tidak seramai jalan-jalan utama yang biasa aku lewati. Ada toko kelontong kecil di sudut, salon yang plangnya sudah pudar warnanya, dan satu warung kopi yang aromanya menguar sampai ke jalan meski pelanggan yang terlihat cuma dua orang duduk di teras.
Cahaya berbelok ke gang yang lebih kecil lagi — lebar jalannya cuma cukup untuk dua orang berjalan berdampingan — dan di ujung gang itu, terselip di antara bangunan yang lebih besar di kedua sisinya, ada sebuah toko dengan pintu kaca dan tirai bambu setengah tertutup.
Tidak ada plang besar. Hanya tulisan kecil di kaca pintu, ditulis tangan dengan spidol permanen yang sudah agak pudar: Rak Buku Senja.
"Ini toko buku?" tanyaku.
"Bukan cuma buku." Cahaya mendorong pintu, bel kecil di atasnya berbunyi nyaring. "Masuk aja."
Aku mengikutinya masuk, dan hal pertama yang menyambutku bukan rak buku seperti yang aku bayangkan dari nama tokonya, melainkan aroma kertas lama bercampur dengan sesuatu yang lebih manis — mungkin dupa, atau mungkin lilin aromaterapi yang menyala di sudut ruangan.
Toko itu tidak besar. Mungkin seluas dua kamar tidur digabung jadi satu, dengan langit-langit yang cukup rendah sehingga aku — meski tidak terlalu tinggi — harus sedikit menunduk saat melewati rak-rak yang lebih tinggi. Tapi meski kecil, setiap sudutnya terisi penuh dengan barang, dan begitu mataku mulai fokus pada detail-detailnya, aku menyadari ini bukan sekadar toko buku biasa.
Ada rak berisi novel-novel lama yang covernya sudah pudar. Ada rak lain berisi komik — bukan hanya manga, tapi juga komik lokal dan beberapa yang terlihat seperti terbitan luar yang sudah lama tidak dicetak ulang. Di sudut kiri, ada etalase kaca kecil berisi action figure dan beberapa merchandise anime yang, dari sekilas pandang, aku kenali beberapa judulnya.
Dan di sudut kanan — bagian yang membuat aku berhenti melangkah sepenuhnya — ada rak khusus berisi kain-kain, pola-pola kertas, dan beberapa kostum setengah jadi yang tergantung di gantungan.
"Ini..." Aku menoleh ke Cahaya, yang berdiri di sebelahku dengan senyum yang jelas sudah menunggu reaksiku sejak tadi. "Toko cosplay?"
"Bukan cuma itu. Tapi iya, ada bagian buat itu juga." Ia berjalan ke arah rak kain, jarinya menyentuh salah satu gulungan kain biru gelap yang teksturnya mirip dengan yang aku lihat di kostum Kaito Amagi dua hari lalu. "Aku beli bahan buat kostum itu di sini. Dulu."
"Kamu sering ke sini?"
"Lumayan. Sejak SMP." Ia menoleh ke arahku. "Ibu yang punya toko ini namanya Bu Ratih. Dia juga suka anime, makanya tokonya jadi kayak gini. Aku kenal beliau dari komunitas kecil di grup Facebook, terus ternyata tokonya deket rumah kita — cuma emang jarang ada yang tau soalnya letaknya nyempil begini."
Aku mengedarkan pandangan lebih jauh. Di rak buku, aku melihat beberapa judul yang aku kenal — bukan versi terjemahan resmi yang biasa dijual di toko buku besar, tapi versi lama yang sudah lama tidak dicetak ulang, dengan cover yang berbeda dari yang biasa aku lihat sekarang.
"Ini edisi lama," gumamku, mengambil salah satu volume dari rak. "Ini dicetak sebelum penerbitnya ganti lisensi."
"Kamu tau soal itu?"
"Aku pernah baca artikel soal sejarah penerbitan manga di sini."
Cahaya menatapku dengan ekspresi yang campuran antara geli dan takjub. "Kamu tau hal-hal yang bahkan aku enggak kepikiran buat dicari tau."
"Itu bukan hal yang aneh untuk dicari tau."
"Buat orang normal, iya, itu aneh."
Aku tidak membantah itu, karena dalam skala tertentu, mungkin ia benar.
"Cahaya! Lama enggak ke sini."
Suara itu datang dari balik meja kasir kecil di dekat pintu masuk, tempat seorang perempuan paruh baya — mungkin usia lima puluhan, dengan rambut yang sebagian sudah beruban dan diikat rapi ke belakang — duduk sambil merajut sesuatu yang belum jelas bentuknya.
"Bu Ratih!" Cahaya langsung berjalan ke arahnya dengan semangat yang berbeda dari yang biasa ia tunjukkan ke orang-orang di kampus — lebih hangat, lebih personal, seperti berbicara dengan seseorang yang sudah dikenalnya lama. "Maaf udah lama enggak mampir, sibuk kuliah."
"Wajar, namanya juga anak kuliah." Bu Ratih meletakkan rajutannya, matanya beralih ke arahku dengan tatapan yang menilai dengan cara yang tidak terlalu terselubung. "Ini siapa? Baru pertama kali ke sini kayaknya."
"Ini Rendy. Temen aku dari kecil." Cahaya menoleh ke arahku dengan senyum yang aneh — campuran antara bangga dan sedikit gugup, kombinasi yang tidak biasa aku lihat dari ekspresinya. "Yang kostum Kaito Amagi itu, ini orangnya. Yang aku ceritain."
Aku mengangkat alis. "Kamu cerita soal aku ke Bu Ratih?"
"Oh, sering banget," jawab Bu Ratih sebelum Cahaya sempat merespons, dengan nada yang terdengar seperti seseorang yang senang sekali punya bahan gosip baru. "Tiap kali beli bahan buat kostum itu, ceritanya selalu, 'ini buat temen aku, dia suka banget anime ini,' terus lanjut cerita panjang lebar soal—"
"Bu Ratih." Suara Cahaya terdengar sedikit lebih tinggi dari biasanya, dan aku menoleh untuk melihat pipinya sudah mulai memerah. "Enggak usah diterusin."
"Loh, kenapa? Kan lucu ceritanya—"
"BU RATIH."
Bu Ratih tertawa kecil, mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah, tapi matanya masih berkilat jahil. "Oke, oke. Nanti aja diterusin kalau Cahaya-nya lagi enggak di sini."
Aku menoleh ke arah Cahaya, yang sekarang sengaja menghindari kontak mata denganku dengan cara berpura-pura sangat tertarik pada rak buku di sebelahnya. "Cerita apa yang enggak boleh aku dengar?"
"Enggak ada."
"Bu Ratih bilang ada."
"Bu Ratih suka bercanda."
"Aku enggak bercanda kok," sela Bu Ratih dari mejanya, masih dengan nada yang jelas menikmati situasi ini. "Tapi ya sudah, kalau Cahaya enggak mau, saya enggak akan cerita. Nanti kalau Cahaya udah pulang aja."
Cahaya menoleh cepat ke arah Bu Ratih dengan tatapan yang, kalau bisa membunuh, mungkin sudah membuat toko ini butuh kasir baru. Bu Ratih hanya tertawa lagi, lalu kembali ke rajutannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku menatap Cahaya, yang masih berpura-pura sibuk dengan rak buku, dan memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh — meski rasa penasaran itu jelas belum sepenuhnya hilang, mengendap di suatu tempat untuk ditanyakan lain waktu.
Kami menghabiskan hampir satu jam di toko itu, dan dalam satu jam itu, aku menyadari sesuatu yang cukup mengubah persepsiku: Cahaya bukan sekadar tahu soal dunia ini karena memaksakan diri belajar untuk membuat satu kostum. Ia benar-benar familiar dengan tempat ini, dengan orang-orang di dalamnya, dengan bahasa dan referensi yang biasanya hanya dipahami oleh orang yang sudah lama berada di lingkaran itu.
"Coba liat ini," katanya, menarik salah satu volume manga dari rak yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Covernya menampilkan dua karakter berdiri berhadapan dengan latar langit senja. "Kamu tau ini?"
Aku mengambil buku itu, membolak-balik beberapa halaman. "Belum pernah lihat."
"Ini serial lama, cuma sempat terbit sepuluh volume terus berhenti karena mangaka-nya sakit. Ceritanya soal dua orang yang tumbuh bareng dari kecil, terus salah satunya harus pindah kota, dan mereka janjian ketemu lagi sepuluh tahun kemudian di tempat yang sama."
"Terus?"
"Terus enggak ada kelanjutannya. Karena berhenti di volume sepuluh." Cahaya mengambil kembali buku itu, menaruhnya kembali ke rak dengan hati-hati. "Bu Ratih bilang itu salah satu yang paling dicari kolektor, soalnya ceritanya menggantung tapi tetep bagus banget sampai volume terakhir."
Aku menatapnya dengan ekspresi yang mungkin terlalu jujur menunjukkan keterkejutanku. "Kamu tau detail sebanyak ini soal manga yang bahkan aku enggak pernah dengar?"
"Aku banyak baca di sini pas nunggu Bu Ratih nyari bahan kain yang aku pesen. Toko ini enggak rame, jadi biasanya aku duduk aja di pojok situ—" ia menunjuk ke sebuah kursi kayu kecil dekat jendela, "—sambil baca apa aja yang menarik perhatian."
"Sejak kapan kamu mulai baca-baca kayak gini?"
Cahaya terdiam sebentar, seperti sedang menghitung dalam kepala. "Kira-kira bareng waktu aku mulai bikin kostum itu. Jadi udah... tiga tahun?"
Tiga tahun.
Tiga tahun aku menghabiskan waktu bersama Cahaya — makan siang, jalan pulang bareng, chat setiap malam — tanpa pernah tahu bahwa selama itu juga, diam-diam, ia sedang membangun pengetahuan tentang dunia yang selama ini aku anggap sepenuhnya milikku sendiri.
"Kenapa kamu enggak pernah ngobrol soal ini sama aku?" tanyaku, nada suaraku lebih pelan dari yang aku maksudkan.
Cahaya mengangkat bahu, tapi gerakannya terlihat kurang natural — terlalu disengaja untuk terlihat santai. "Karena... aku enggak pernah tau caranya mulai. Kayak, gimana caranya bilang 'eh Ren, aku juga suka hal-hal yang kamu suka' tanpa kedengeran aneh atau maksa."
"Itu enggak aneh."
"Buat kamu mungkin enggak. Tapi buat aku—" Ia berhenti, menatap ke rak buku di depannya tanpa benar-benar melihatnya. "Kamu punya dunia kamu sendiri, Ren. Dunia yang selalu kelihatan kayak tempat kamu paling nyaman jadi diri kamu sendiri. Aku enggak mau masuk terus malah ngerusak itu."
"Kenapa itu bisa ngerusak?"
"Karena—" Cahaya menghela napas panjang, dan untuk sesaat, ekspresinya berubah jadi sesuatu yang lebih serius dari yang biasa ia tunjukkan. "Karena kadang aku takut kamu ngerasa aku cuma nyoba-nyoba ikut campur di hal yang bukan urusan aku."
Aku menatapnya, mencoba mencerna kalimat itu dengan hati-hati.
"Itu enggak masuk akal," kataku akhirnya.
"Kenapa enggak masuk akal?"
"Karena—" Aku berhenti sejenak, mencari kata yang tepat, sesuatu yang bisa menyampaikan apa yang sedang aku rasakan tanpa terdengar berlebihan atau, sebaliknya, terlalu meremehkan situasinya. "Karena kamu enggak pernah cuma 'ikut campur', Cahaya. Kamu—"
Aku berhenti lagi.
Kalimat berikutnya sudah ada di ujung lidah, tapi entah kenapa terasa terlalu berat untuk diucapkan begitu saja di tengah toko kecil yang penuh rak buku ini, dengan Bu Ratih yang masih duduk di dekat kasir dan mungkin masih mendengarkan meski berpura-pura sibuk dengan rajutannya.
"Kamu apa?" tanya Cahaya, menatapku dengan mata yang menunggu.
"Kamu selalu jadi bagian dari apa pun yang aku suka," kataku akhirnya, memilih versi kalimat yang lebih aman, lebih mudah diucapkan tanpa membuka sesuatu yang aku sendiri belum sepenuhnya mengerti. "Enggak peduli kamu tau soal itu atau enggak, kamu selalu ada di sana."
Cahaya menatapku lebih lama dari yang biasanya, dan untuk sesaat aku merasa seperti sedang diperiksa — seolah ia sedang mencoba membaca sesuatu di balik kalimat yang baru saja aku ucapkan, mencari makna yang mungkin tidak sepenuhnya aku sadari sendiri sudah aku sisipkan di sana.
"Rendy," katanya pelan.
"Hm?"
Ia membuka mulut, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi kemudian menutupnya lagi. Menggeleng kecil, seperti membuang pikiran yang baru saja muncul.
"Enggak jadi," katanya, dan kembali ke ekspresi yang lebih ringan, lebih familiar. "Ayo, aku mau tunjukin sesuatu lagi."
Sesuatu yang dimaksud Cahaya ternyata adalah rak kecil di bagian belakang toko, tersembunyi di balik tirai kain yang harus disibak untuk bisa mengaksesnya. Di dalamnya, tergantung beberapa kostum yang sudah jadi — bukan untuk dijual, tapi lebih seperti koleksi pameran yang dibuat oleh pelanggan-pelanggan toko ini selama bertahun-tahun.
"Ini semua dibuat komunitas di sini," jelas Cahaya, menunjuk satu per satu kostum yang tergantung. "Bu Ratih suka pajang hasil kerjaan orang-orang yang sering ke sini, biar yang lain juga termotivasi."
Aku memperhatikan setiap kostum dengan seksama — beberapa dari anime yang aku kenal, beberapa dari yang tidak, tapi semuanya menunjukkan level detail yang sama seriusnya dengan yang aku lihat di kostum Kaito Amagi milik Cahaya.
"Yang mana punya kamu?" tanyaku.
"Enggak ada di sini. Punyaku aku simpen sendiri di rumah." Ia menunjuk ke satu sudut kosong di antara dua kostum yang tergantung. "Tapi Bu Ratih udah nawarin buat pajang punyaku di sini juga. Aku belum pernah mau."
"Kenapa?"
"Karena—" Cahaya berhenti, kemudian tertawa kecil, seperti baru menyadari sesuatu yang lucu. "Karena itu berarti orang-orang bakal tau itu kostum karakter apa, terus mungkin nanya-nanya, terus—"
"Terus kamu harus jelasin kenapa kamu bikin kostum karakter dari anime yang enggak begitu populer."
"Iya."
"Yang artinya kamu harus jelasin soal aku."
Cahaya terdiam sebentar. Kemudian mengangguk pelan, tanpa menatapku langsung.
Ada keheningan yang menggantung di antara kami — bukan keheningan canggung, tapi keheningan yang terasa seperti sedang menampung sesuatu yang lebih besar dari yang bisa diucapkan dengan mudah dalam situasi ini.
"Cahaya," panggilku.
"Hm?"
"Kalau kamu mau pajang di sini, aku enggak keberatan kok. Kalau ada yang nanya, jelasin aja apa adanya."
Ia menoleh ke arahku. "Apa adanya gimana?"
"Bahwa itu kostum karakter favorit temen kamu, dan kamu bikin karena kamu pengen ngerti dunia yang dia suka." Aku mengangkat bahu, mencoba terdengar sesantai mungkin meski dadaku terasa sedikit lebih sesak dari biasanya. "Itu bukan sesuatu yang perlu disembunyikan."
Cahaya menatapku lama — lebih lama dari yang biasa, dengan ekspresi yang sulit aku baca sepenuhnya, campuran antara terkejut dan sesuatu yang lebih dalam yang tidak bisa aku identifikasi dengan pasti.
"Kamu serius?" tanyanya akhirnya.
"Serius."
Ia tersenyum — bukan senyum lebar seperti biasanya, tapi senyum kecil yang terasa lebih personal, lebih jujur. "Mungkin lain kali. Enggak sekarang, tapi... mungkin."
"Kenapa enggak sekarang?"
"Karena aku masih perlu waktu buat mikirin gimana caranya jelasin ini semua tanpa—" Ia berhenti, seperti mempertimbangkan kata-kata dengan hati-hati. "Tanpa kedengeran seperti aku lagi ngasih tau sesuatu yang lebih besar dari yang sebenarnya aku maksud."
Aku tidak sepenuhnya mengerti maksud kalimat itu, tapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat aku merasa tidak perlu mendesak untuk penjelasan lebih lanjut sekarang.
"Oke," kataku saja.
Cahaya mengangguk, lalu menutup kembali tirai yang tadi ia sibak, seolah menutup topik itu untuk sementara waktu.
Sebelum kami pulang, Cahaya membeli satu gulungan kain kecil berwarna hijau tua — untuk proyek berikutnya, katanya, meski ia tidak mau memberitahu karakter apa yang sedang ia rencanakan. Aku membeli dua volume manga yang tadi menarik perhatianku, salah satunya adalah serial dengan cover langit senja yang Cahaya ceritakan sebelumnya.
"Kamu beli itu?" tanya Cahaya waktu melihat pilihanku di meja kasir.
"Penasaran sama ceritanya."
"Tapi itu enggak ada kelanjutannya."
"Aku tau. Tapi kadang cerita yang enggak selesai lebih menarik buat dipikirin daripada cerita yang udah tuntas semua."
Cahaya menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan — sesuatu antara setuju dan sedikit sedih, meski aku tidak sepenuhnya mengerti kenapa kalimat sesederhana itu bisa memicu reaksi seperti itu.
Bu Ratih membungkus pembelian kami dengan kertas cokelat sederhana, sambil sesekali melirik ke arah kami berdua dengan senyum yang aku tidak sepenuhnya bisa artikan.
"Kalian berdua sering ke sini bareng?" tanyanya, meski nada suaranya terdengar seperti sudah tahu jawabannya dan hanya ingin mendengar konfirmasi.
"Ini pertama kalinya Rendy ke sini," jawab Cahaya.
"Oh? Padahal Cahaya udah cerita soal kamu bertahun-tahun," kata Bu Ratih, kali ini menatapku langsung. "Katanya kamu itu—"
"BU RATIH."
"—orangnya susah peka."
"BU RATIH!"
Bu Ratih tertawa lepas, menyerahkan bungkusan kami dengan ekspresi puas seperti seseorang yang baru saja berhasil menyelundupkan informasi penting tanpa tertangkap sepenuhnya. Cahaya menariknya ke arah pintu dengan wajah yang sudah semerah tomat, hampir mendorongku keluar dalam prosesnya.
"Dadah Bu Ratih, makasih ya!" serunya cepat, sebelum benar-benar menutup pintu di belakang kami dengan bunyi bel yang berdenting nyaring.
Di luar, di gang kecil yang tadi kami lewati, Cahaya berhenti sejenak, menghela napas panjang seperti baru saja lolos dari sesuatu.
"Kamu susah peka soal apa?" tanyaku, mengulang kata-kata Bu Ratih yang masih menggantung di kepalaku.
"Enggak ada."
"Bu Ratih bilang ada."
"Bu Ratih itu—" Cahaya menghela napas lagi, lebih panjang kali ini. "Bu Ratih itu suka nambah-nambahin cerita. Jangan didengerin."
"Tapi kamu memang cerita soal aku ke dia."
"Iya, tapi enggak—" Ia berhenti, seperti kehabisan cara untuk menyelesaikan kalimat itu tanpa mengatakan lebih dari yang ingin ia katakan. "Enggak penting. Yang penting kamu udah tau toko ini sekarang. Kamu bisa balik lagi kapan aja kalau mau."
Aku memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh, meski rasa penasaran itu masih ada, mengendap di suatu tempat untuk dipikirkan nanti.
Perjalanan pulang terasa lebih santai dari perjalanan pergi — mungkin karena sekarang aku tahu tujuan kami, mungkin juga karena ada semacam kepuasan tersendiri setelah menemukan tempat baru yang, entah kenapa, terasa seperti sudah lama seharusnya aku ketahui keberadaannya.
"Ren," kata Cahaya, di tengah perjalanan, ketika kami sedang menunggu angkot di halte kecil pinggir jalan.
"Hm?"
"Makasih udah mau ikut hari ini."
"Kamu yang maksa aku ikut."
"Tetep makasih." Ia menatap ke jalan, memperhatikan kendaraan yang lewat satu per satu. "Aku udah lama pengen nunjukin tempat itu ke kamu. Cuma enggak pernah nemu waktu yang pas."
"Kenapa hari ini?"
Cahaya terdiam sebentar, seperti mempertimbangkan jawaban yang tepat. "Karena kamu udah nemu kostumnya duluan. Jadi enggak ada gunanya lagi disembunyiin."
"Kalau aku enggak nemu kostumnya, kamu enggak akan pernah nunjukin toko ini?"
"Mungkin. Entahlah." Ia mengangkat bahu, meski gerakannya terlihat lebih berat dari sekadar gestur santai. "Ada banyak hal yang aku simpen sendiri, Ren. Bukan karena aku enggak percaya kamu. Cuma karena—"
Angkot yang kami tunggu berhenti di depan kami, memotong kalimatnya di tengah jalan. Cahaya naik lebih dulu, dan momen untuk melanjutkan kalimat itu hilang begitu saja, terserap oleh rutinitas naik kendaraan dan mencari tempat duduk yang nyaman.
Aku duduk di sebelahnya, menunggu apakah ia akan melanjutkan kalimat yang terpotong tadi. Tapi Cahaya sudah beralih ke topik lain — bertanya soal manga yang aku beli, apakah aku sudah baca beberapa halaman, apa pendapatku soal gaya gambarnya.
Aku menjawab pertanyaan-pertanyaan itu satu per satu, tapi di bagian belakang kepalaku, kalimat yang terpotong tadi masih menggantung, belum selesai, menunggu waktu yang mungkin belum datang untuk diselesaikan.
Malam itu, setelah pulang dan menghabiskan sisa hari dengan hal-hal biasa — makan malam, mengerjakan sedikit tugas, membaca beberapa halaman manga baru yang aku beli — aku duduk di kasur dengan ponsel di tangan, membuka kembali percakapan dengan Cahaya.
Aku mengetik: "Kalimat kamu tadi di halte yang kepotong. Yang mau kamu bilang apa?"
Balasan tidak datang secepat biasanya. Butuh waktu hampir lima menit sebelum tiga titik muncul di layar, hilang, muncul lagi.
Akhirnya: "Enggak penting kok."
"Kamu bilang gitu tiap kali ada sesuatu yang sebenernya penting."
"Enggak selalu."
"Selalu."
Jeda lagi. Lebih lama dari sebelumnya.
"Aku cuma mau bilang," pesan berikutnya masuk, "kadang aku nyimpen hal-hal sendiri bukan karena aku enggak percaya kamu. Tapi karena aku takut kalau aku ceritain, sesuatu yang sekarang udah nyaman bakal berubah."
Aku menatap layar itu cukup lama, membaca kalimat itu berulang kali, mencoba mengurai maknanya dari berbagai sudut.
"Berubah kenapa?" ketikku akhirnya.
"Entah. Cuma perasaan aja."
"Perasaan yang gimana?"
Jeda panjang. Cukup panjang sampai aku mulai bertanya-tanya apakah Cahaya sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan percakapan ini.
Kemudian: "Udah ah. Tidur, Ren. Besok masih ada kelas."
Aku menatap layar itu, tahu bahwa ini adalah salah satu momen di mana Cahaya memilih untuk menutup pintu sebelum aku bisa melihat lebih jauh ke dalamnya — pola yang sudah aku kenali, meski aku tidak selalu tahu kapan tepatnya harus mendorong lebih jauh dan kapan harus membiarkannya begitu saja.
Kali ini, aku memilih yang kedua.
"Oke," balasku. "Makasih lagi buat hari ini. Beneran."
"Sama-sama, wibu."
"Terima kasih."
"Masih bukan pujian."
"Aku tau."
Satu stiker masuk — kucing cemberut yang sudah familiar, tapi kali ini aku memperhatikan sesuatu yang tidak pernah benar-benar aku sadari sebelumnya: di balik ekspresi cemberut yang dibuat-buat itu, ada semacam kehangatan yang tersembunyi, sesuatu yang mungkin sudah lama ada tapi baru sekarang mulai aku perhatikan dengan lebih seksama.
Aku meletakkan ponsel, menatap langit-langit kamar yang sudah gelap kecuali cahaya dari lampu tidur di sudut ruangan.
Toko kecil di ujung gang. Kotak kostum yang sudah tiga tahun tersembunyi. Kalimat yang terpotong di halte bus. Semuanya terasa seperti kepingan-kepingan kecil dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang belum sepenuhnya bisa aku lihat bentuknya, tapi mulai terasa keberadaannya di suatu tempat di antara aku dan Cahaya.
Aku menutup mata, membiarkan pikiran itu mengambang tanpa harus segera dijawab.
Ada banyak hal, aku sadari malam itu, yang selama ini aku anggap sudah aku ketahui sepenuhnya — tentang Cahaya, tentang dunia kami berdua, tentang batas antara apa yang "milikku" dan apa yang "miliknya".
Tapi batas itu, ternyata, tidak pernah sejelas yang aku kira.
Dan mungkin — meski aku belum sepenuhnya siap mengakui ini bahkan pada diriku sendiri — mungkin itu bukan hal yang buruk.