Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: SINERGI DUA KEKUATAN

​SRAAAKKK!

​Cakar-cakar hitam milik entitas Void pertama merobek permukaan tebing es dengan ganas, melemparkan gumpalan salju bercampur abu belerang ke udara saat ia melesat naik dengan kecepatan yang tak wajar.

​Gerakan raga entitas Void itu patah-patah namun sangat presisi dan cepat, bagaikan binatang iblis raksasa yang kelaparan di tengah padang beku.

​Mo Xie tidak membuang waktu sedikit pun. Insting bertarungnya yang ditempa di tengah bentrokan kiamat langsung mengambil alih kesadarannya. Ia menarik lengan kanannya ke belakang, dan dengan satu sentakan kehendak mutlak, segel di pergelangan tangannya bergetar hebat.

​WUSH!

​Asap hitam pekat meluap deras dari balik kain hitam yang melilit lengannya, mengental di udara malam menjadi sebilah pedang hitam legendaris—Pedang Kehampaan.

​Aura Qi Kegelapan yang dingin dan destruktif langsung berbenturan dengan hawa korosif dari makhluk-makhluk yang mendekat, menciptakan riak gelombang energi yang membuat salju di sekitar kaki Mo Xie seketika meluruh menjadi uap abu-abu.

​"Jangan biarkan mereka mengepungmu, Mo Xie!" teriak Xue Qingyue, suaranya lantang menembus deru badai.

​Dengan satu gerakan anggun namun mematikan, praktisi wanita itu melompat turun dari gundukan es pertahanan mereka. Pedang kristalnya menebas udara dengan kecepatan luar biasa, memanggil gelombang es tajam berbentuk bulan sabit yang melesat memotong jalur dua entitas Void di belakang.

​PRANG!

​Teknik Qi es Xue Qingyue berhasil menghantam salah satu entitas hingga membeku setengah tubuhnya, mengunci gerakannya di lereng tebing.

​Namun, entitas Void pertama yang paling besar sudah melayang tepat di hadapan Mo Xie. Ia melompat tinggi dengan rahang terbuka lebar, siap mengoyak leher pemuda itu dengan deretan gigi tajam berlendir ungu beracun.

​Mo Xie menyipitkan mata kirinya. Tiba-tiba, di dalam persepsi penglihatan mata kirinya yang membawa esensi Inti Es Abadi, gerakan entitas yang begitu cepat itu terasa melambat secara drastis.

​Ia tidak merasakan adanya ledakan Qi es yang memancar keluar, melainkan sebuah kejernihan pikiran yang mutlak—seolah aliran udara, arah angin, dan titik kelemahan fatal di tenggorokan makhluk itu terpeta dengan sangat terang di dalam kepalanya.

​Mata ini... benar-benar mampu membaca alur gerakan mereka!

​Tanpa ada sedikit pun keraguan di dalam dadanya, Mo Xie merunduk rendah di bawah terkaman entitas Void tersebut.

​Dengan memanfaatkan momentum kecepatan lawan, Mo Xie mengayunkan pedang hitamnya dari bawah ke atas dalam satu tebasan diagonal yang brutal dan mematikan.

​CRASHHH!

​Bilah Pedang Kehampaan milik Mo Xie membelah dada entitas itu hingga menembus ke punggung. Cairan hitam pekat berbau belerang menyembur keluar, membakar salju di sekitar tempat mereka berpijak.

​Entitas Void itu melolong kesakitan sebelum akhirnya ambruk dan terurai menjadi tumpukan abu hitam yang menyatu dengan tanah.

​Mo Xie mendarat dengan bertumpu pada satu lututnya, napasnya memburu halus. Ia menatap telapak tangan kanannya yang memegang erat pedang hitam; segel di pergelangan tangannya tetap stabil berkat hawa dingin yang mengalir pasif dari mata kirinya.

​Untuk pertama kalinya, ia merasakan sinergi yang luar biasa matang antara Qi Kegelapan di tangannya dan kejernihan Hukum Es di matanya.

​"Satu tumbang!" gumam Mo Xie rendah, bangkit berdiri dan langsung mengalihkan pandangan tajamnya ke arah dasar lembah, di mana puluhan bayangan hitam lainnya kini mulai menyadari pertarungan ini dan merayap naik secara serentak.

​Xue Qingyue mendarat mulus di sampingnya, mengibaskan pedang kristalnya yang berlumuran cairan hitam hingga membeku dan pecah menjadi kristal murni di udara.

​"Itu baru pemanasan, Mo Xie! Jangan biarkan kewaspadaanmu menurun. Sesuatu yang jauh lebih besar sedang mencoba mendobrak celah itu dari sisi lain!"

​WUMMM!

​Udara di sekitar celah dimensi mendadak berdengung kencang, memancarkan gelombang kejut tak kasat mata yang membuat dinding-dinding es di sekeliling lembah retak hebat.

​Tekanan aura spiritual yang keluar dari retakan ungu kemerahan itu melonjak berkali-kali lipat, menghempaskan salju dan abu belerang ke udara hingga membentuk pusaran badai yang menyiksa pandangan.

​"Mo Xie! Mundur dua langkah!" teriak Xue Qingyue tajam.

​Praktisi wanita itu melompat mundur dengan anggun, mendarat tepat di sisi Mo Xie. Pedang kristalnya diangkat tegak lurus di depan dada. Konsentrasi Hukum Es murni miliknya memancar begitu kuat hingga menciptakan formasi segel es biru bercahaya di bawah kaki mereka berdua, menahan hawa korosif dari celah dimensi yang kian menekan.

​Dari dalam retakan ruang yang bergejolak, sesosok bayangan raksasa mulai memaksakan dirinya merangkak keluar.

​Bentuknya menyerupai praktisi berzirah hitam legam yang telah terkorosi, namun dari sela-sela zirahnya tidak ada daging fana, melainkan kobaran api ungu kehampaan yang menjalar liar. Di tangan kanannya yang masif, makhluk itu menyeret sebuah gada berduri raksasa yang membara.

​"Penjaga Celah..." gumam Xue Qingyue, wajahnya yang biasa tenang kini mengeras tegang.

​"Entitas Void di ranah Awakened tingkat menengah ke atas! Mo Xie, jangan pernah berani menahan serangannya secara langsung! Kekuatan fisiknya sanggup meremukkan tulang mortalmu dalam sekali hantam!"

​Mo Xie tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya mempererat cengkeramannya pada gagang Pedang Kehampaan.

​Aura Qi Kegelapan yang menyelimuti bilah pedangnya berdenyut liar, seolah mendambakan esensi entitas di depannya. Di saat yang sama, mata kiri Mo Xie—yang membawa esensi Inti Es Abadi—berpendar biru gletser semakin terang.

​Dalam persepsi mata kirinya, dunia di sekitarnya kembali melambat. Ia bisa melihat alur energi ungu korosif yang menyelimuti zirah sang Penjaga Celah, mencari titik-titik lemah di mana pelindung energi ilahinya menipis dan retak.

​GROOOARRR!

​Penjaga Celah itu menggeram dahsyat, mengayunkan gada raksasanya secara horizontal. Sapuan senjata itu menciptakan gelombang api ungu yang mematikan, melelehkan lapisan es dan menerjang ke arah mereka berdua dengan kecepatan yang merusak.

​"Biar aku yang menahan serangannya! Cari celah untuk menebas intinya di bagian dada!" instruksi Xue Qingyue cepat.

​Xue Qingyue melesat maju ke garis depan tanpa ragu. Sebagai praktisi di ranah Awakened puncak, ia memusatkan Hukum Es pertahanan terkuatnya pada pedang kristal di tangannya.

​"Hukum Es Abadi: Perisai Nol Mutlak!"

​Dinding es kristal setebal satu meter seketika tercipta di depan mereka. Saat gada raksasa itu menghantam pertahanan Xue Qingyue, suara benturan yang memekakkan telinga bergema menembus tebing.

​Dinding es kristal itu retak hebat, menahan gempuran dahsyat tersebut dengan susah payah sementara Xue Qingyue mengatupkan giginya rapat-rapat, menahan gelombang tekanan luar biasa yang disalurkan ke fisiknya.

​"Sekarang, Mo Xie!" teriak Xue Qingyue, wajahnya sedikit memucat akibat pengerahan pasokan Qi yang sangat besar.

​Inilah momennya.

​Mo Xie melompat melewati bahu Xue Qingyue, memanfaatkan pecahan es yang melayang di udara sebagai pijakan. Dengan mata kirinya yang mengunci presisi pada retakan zirah di dada sang Penjaga Celah, ia memusatkan seluruh kehendak membunuhnya pada lengan kanannya.

​"Tebasan Kehampaan!"

​Bilah pedang hitam Mo Xie diselimuti semburat ungu pekat yang meninggalkan jejak korosi di udara, mengikis habis lapisan pelindung Qi ungu sang Penjaga Celah layaknya asam melumat batu.

​CRASHHH!

​Pedang Kehampaan milik Mo Xie menusuk telak ke dalam dada berongga milik Penjaga Celah. Namun, entitas Void itu tidak langsung hancur menjadi debu.

​Dengan sisa kekuatan dari jiwanya yang terkutuk, tangan kiri raksasa sang Penjaga Celah bergerak cepat melayang di udara, siap mencengkeram dan meremukkan tubuh Mo Xie yang masih melayang tanpa pertahanan!

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!