Indonesia
NovelToon NovelToon
Masuk Novel Pikiran Ku Di Baca Pangeran

Masuk Novel Pikiran Ku Di Baca Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Lucien berdiri mematung di tengah ruangan, dikelilingi serpihan keramik vas bunga yang hancur berantakan. Manik mata birunya yang sepekat samudra es menatap Eliana dengan intensitas yang begitu mengerikan, seolah-olah ia bisa menguliti dan membaca setiap sudut pikiran gadis itu hidup-hidup. Aura intimidasi yang memancar dari tubuh tegap sang Pangeran Mahkota begitu pekat hingga membuat udara di sekitar terasa makin menghimpit dan dingin.

Eliana merinding diselimuti ketakutan. Ia mencengkeram kain apron putihnya erat-erat, perlahan melangkah mundur hingga punggungnya menempel makin rapat pada dinding kayu.

"Duh... gue salah apa lagi ya?" gumam Eliana pelan banget, menyusupkan wajahnya sedikit menunduk. "Nih Pangeran kesetanan kenapa sih? Tatapannya kek mau makan orang hidup-hidup! Apa gara-gara gue berdiri di sini pas rahasia kelam keluarganya terbongkar? Duh, mending gue menghilang aja dari muka bumi sekarang!"

KLEK.

Sebelum ketegangan itu membunuh Eliana dari dalam, pintu ganda ruang kerja terdorong terbuka.

Rosalie melangkah masuk dengan gaun sutra berwarna krem yang amat anggun, diiringi aroma harum bunga mawar segar yang langsung menyeruak membasuh udara tegang di ruangan tersebut. Wajah cantiknya memancarkan kepolosan dan kehangatan yang amat memikat saat matanya menangkap sosok sang tunangan.

"Pangeran Sayang?" panggil Rosalie lembut, mengabaikan serpihan vas di lantai dan kehadiran Kenneth serta Eliana.

Rosalie berjalan mendekat dengan langkah anggun, lalu tanpa ragu melingkarkan kedua tangan halusnya di pinggang Lucien, menyandarkan kepalanya di dada tegap sang Pangeran. "Ada apa ini? Aku mendengar suara barang pecah dari luar... Kamu baik-baik saja?"

Lucien membeku sejenak saat tubuh halus Rosalie menempel padanya. Hatinya yang porak-poranda oleh kenyataan pahit, pengkhianatan, dan ancaman kematian mendadak terasa begitu hampa dan lelah. Di tengah kehancuran jiwanya yang terungkap hari ini, Lucien membalas pelukan itu memeluk tubuh Rosalie dengan erat, meski ada kehampaan dingin yang menjalar di relung dadanya. Ia merasa sangat butuh sandaran, butuh pelukan untuk menahan guncangan di kepalanya, walau ia tahu wanita di dalam pelukannya ini juga bagian dari konspirasi yang ingin menjatuhkannya.

Rosalie melepas pelukannya pelan, lalu membalikkan badan dan menatap Eliana dengan kening berkerut halus. Tatapan mata Rosalie berkilat penuh dominasi terselubung saat melihat seorang pelayan cantik berdiri di dekat kekasihnya.

"Kenapa pelayan ini masih ada di sini?" tanya Rosalie dengan nada suara yang dibuat sehalus mungkin, namun menyintesis perintah tegas. Ia melambaikan tangannya mengusir. "Kamu, pelayan. Bersihkan serpihan kaca itu nanti, sekarang keluar dulu."

Eliana tidak perlu diperintah dua kali.

"B-Baik, Nyonya..." cicit Eliana cepat.

Ia langsung membungkuk hormat secepat kilat, memutar tubuhnya dan meluncur keluar dari ruang kerja utama dengan perasaan lega luar biasa. Begitu pintu ganda tertutup rapat di belakangnya, Eliana menyandarkan tubuhnya ke dinding koridor luar, meraup udara segar sebanyak-banyaknya sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang.

"Huuuh... selamat gue!" desah Eliana dalam hati, mengusap keringat dingin di dahinya. "Gila, atmosfer di dalam tadi bener-bener kayak mau perang dunia! Tapi biarlah... biar dua tokoh utama itu berduaan. Gue mau balik ke dapur aja, aman!"

Di dalam ruang kerja yang kini hening pasca kepergian Eliana, aura tegang masih tersisa di udara. Pintu ganda telah tertutup rapat, menyisakan Lucien dan Rosalie yang berdiri di dekat kepingan vas bunga yang hancur.

Rosalie menatap sekeliling ruangan dengan dahi berkerut halus, memasang raut wajah cemas yang sangat sempurna. Ia menyentuh dada tegap Lucien, meraba kemeja sutra hitam sang pangeran dengan jemarinya yang halus.

"Ada apa sebenarnya, Pangeran? Mengapa suasana ruangan ini mendadak tegang sekali?" tanya Rosalie dengan nada suara yang begitu lembut, memancarkan perhatian penuh kasih. "Apakah ada masalah kerajaan yang membuatmu seterguncang ini?"

Lucien tidak langsung menjawab. Manik mata birunya yang setajam kristal es menatap lurus ke dalam iris mata Rosalie, mencoba mencari celah kepalsuan di balik binar polos wanita itu. Senyuman manis, kehangatan tubuhnya, dan cara wanita itu menatapnya segalanya tampak begitu sempurna, hingga Lucien sulit percaya bahwa wanita di hadapannya adalah sosok yang berencana menghancurkan hidupnya.

Secara perlahan, Lucien meraih kedua tangan Rosalie. Cengkeramannya sedikit lebih erat dari biasanya, menghantarkan sensasi dingin yang membuat jemari Rosalie bergetar tipis.

"Rosa," panggil Lucien dengan suara berat yang dalam.

"Iya, Pangeran?"

"Jawab jujur padaku," kata Lucien, suaranya terdengar datar namun sarat akan tekanan terselubung. "Apakah kau pernah membohongiku? Apa ada sesuatu yang sangat besar... yang selama ini kau sembunyikan dariku?"

DEG.

Jantung Rosalie seolah berhenti berdetak seketika. Tubuhnya membeku kaku di balik gaun sutra mewahnya. Suasana ruangan mendadak terasa begitu membekukan, seolah pasokan udara tersedot habis oleh pertanyaan mendadak dari sang Pangeran Mahkota.

Apakah dia tahu sesuatu? batin Rosalie menjerit panik. Otaknya berputar cepat mencari kemungkinan. Apakah ada pengkhianat di kelompok oposisi? Atau rapat rahasianya dengan Gerald telah bocor? Tidak... tidak mungkin. Rencana ini disusun sangat rapi!

Hanya butuh dua detik bagi Rosalie untuk menguasai kembali akal sehat dan topeng kepalsuannya. Binar kepanikan di matanya langsung menguap, berganti dengan kilatan luka dan kebingungan yang dibuat-buat dengan amat lihai. Matanya mendadak berkaca-kaca, menatap Lucien seolah baru saja dituduh melakukan kejahatan paling besar.

"Pangeran... bagaimana bisa kamu menanyakan hal seperti itu padaku?" bisik Rosalie dengan suara gemetar yang menahan kesedihan. Ia membalas genggaman tangan Lucien, menatap sang pangeran dengan binar pengabdian yang amat dalam. "Seluruh hatiku, jiwaku, dan masa depanku hanya untukmu. Aku mencintaimu melebihi apa pun di dunia ini, Lucien. Bagaimana mungkin aku tega membohongimu atau menyembunyikan sesuatu darimu?"

Rosalie berjinjit pelan, mengelus rahang tegas Lucien dengan penuh kelembutan. "Jika ada hal yang membuatmu ragu padaku, katakanlah... Aku tidak sanggup jika kamu mencurigai cintaku."

Lucien hanya diam mematung. Manik mata birunya menatap wajah cantik Rosalie tanpa kedip. Jika ini terjadi beberapa hari lalu, Lucien pasti akan langsung merasa bersalah dan memeluk wanita ini erat-erat. Namun kini, bayangan suara hati Eliana tentang racun di dalam sup, pertemuan rahasia dengan Gerald, hingga pembantaian yang disiapkan Rosalie terus memutar ingatan dingin di kepalanya.

Namun, Lucien adalah seorang pemimpin perang yang ulung. Ia tahu betul bahwa menunjukkan kartu as-nya sekarang hanya akan membuat musuh merubah taktik dan bergerak melukainya lebih cepat.

Lucien menghembuskan napas panjang, meredam seluruh amarah dan kebencian yang berkecamuk di dadanya. Wajahnya melunak perlahan, berpura-pura luluh oleh air mata buatan sang kekasih.

"Maafkan aku, Rosa," ujar Lucien datar, menyapu air mata di pipi Rosalie dengan ibu jarinya. "Pekerjaan kerajaan belakangan ini membuat pikiranku terlalu kacau. Aku percaya padamu."

Rosalie tersenyum lega dan kembali memeluk erat tubuh Lucien, menyembunyikan senyum kepuasan yang terukir di bibirnya. Tanpa Rosalie sadari, di atas bahunya, mata Lucien menatap kosong ke arah pintu ruangan menyusun rencana pembalasan dendam yang jauh lebih dingin dan mematikan di balik keheningan istana.

1
Uthie
Lanjut menyimak 👍😁
Uthie
Pas.. lagi seneng cerita yg soal bisa membaca Pikiran 😁👍👍👍
Noveni Lawasti Munte
kurang jeli nih si pangeran mahkota masa ga da pengawal bayangan untuk eliana🙄
Inez Putri
gmn nasibnya alianaa... smga slmat
JasmineA
mereka keluar istana terus adik nya Lucien si Althea gi mana? masa ditinggal sm predator sih...kasian pasti dia depresi gara2 kakak nya meninggoy
Nyai mardianti
ka aku Suka bangat sama novel kaka yg satu ini apakah ini masih on going
Retno Isma
ini kerjaan modern kan. kenapa ga pake lampu aja. masih pake obor Kya jaman purba.
Retno Isma
🌹🌹🌹🌹
Talita Rafifah artanti
ceritanya bagus, menarik untuk dibaca.
Anita Rahayu
Yg banyak dan panjang thor buat cerita👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Wahyuningsih
q mampir thor dpt bonus ruang dimensi gk thor biar makin sru n buat eliana badaz abiz
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!