Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 12
Setelah menidurkan Elang dengan hati-hati di ranjangnya yang berseprai biru muda, Dilara melangkah pelan keluar kamar. Ia bergegas menuju kamar mandi pengasuh untuk mengobati luka di bahu kirinya. Sudut tajam balok kayu tadi ternyata merobek sedikit kulit bahunya, meninggalkan bekas memar kebiruan yang mengeluarkan tetes darah segar.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Dilara membersihkan luka itu menggunakan alkohol dan menempelkan kasa steril. Rasa perihnya menggigit, namun tak setetes pun air mata jatuh. Bagi Dilara, rasa sakit fisik ini tak ada apa-apanya dibanding badai emosional yang baru saja ia lewati bersama masa lalunya.
Setelah membalut lukanya dan mengganti atasan gamisnya dengan kain katun yang lebih bersih, Dilara kembali ke kamar Elang. Ia duduk di kursi busa dekat jendela, mengambil ponselnya, lalu mulai membuka berbagai platform media sosial dan artikel ilmiah tentang child parenting.
Dilara sadar, latar belakang Sarjana Ekonomi yang ia miliki tidak membekalinya ilmu langsung untuk menghadapi balita dengan trauma kehilangan orang tua. Apalagi Elang kecil menyaksikan sendiri kejadian tragis yang menimpa kedua orang tuanya. Karena dia juga turut berada di dalam mobil itu, namun selamat karena di dekap erat oleh ibu yang melindunginya.
Di tambah lagi dia belum punya anak sehingga dia tidak begitu tahu cara menghadapi anak-anak, apalagi dengan trauma yang seperti ini. selama ini dia hanya bermian dan mengajari adik-adiknya saja di panti. Ia membaca dengan teliti mengenai toddler grief syndrome, metode gentle parenting, serta cara meredakan tantrum akibat rasa kehilangan (separation anxiety).
"Mengalihkan emosi, bukan menekan... Berikan validasi pada rasa sedihnya, bukan memintanya berhenti menangis..." bisik Dilara pelan, mencatat poin-poin penting itu di aplikasi catatan ponselnya.
Saking fokusnya menyerap materi dan menonton video edukasi dari para ahli psikologi anak, Dilara tidak menyadari pendar cahaya koridor di luar kamar. Pintu kamar yang sedikit terbuka menampilkan bayangan tegap seorang pria.
Elian berdiri di luar ambang pintu. Pria itu baru saja hendak mengantarkan kotak obat yang ia ambil dari ruang kerja, merasa sedikit terganggu oleh rasa bersalah yang mengganjal dadanya sejak tadi. Walau dia bukan pria yang bisa bersikap manis dan cenderung dingin juga tegas selama ini. Mungkin karena dia dan kakaknya sama-sama laki-laki jadi cenderung tegas. Di tambah lagi dengan beban pekerjaan di perusahaan yang hampir sepenuhnya dia tanggung, termasuk tanggung jawabyang dulu di pegang kakaknya. Walau ada ayah yang membantunya. Namun langkahnya terhenti saat melihat Dilara dari celah pintu.
Wanita itu tampak sangat serius, jemarinya cekatan mengetik catatan di ponsel, sesekali mengusap keningnya yang berpeluh karena Ac di kecilkan, sembari menyimak video pembelajaran parenting dengan penuh konsentrasi. Di samping meja, buku catatan kecil tempat Dilara menuliskan jadwal makan dan alergi Elang sudah terisi rapi dengan tulisan tangan yang sangat indah sesuai informasi yang dia dapatkan dari Bu Melani.
Dilara tidak hanya mencari pekerjaan cepat dan tempat tinggal untuk melarikan diri dari Adam selama proses perceraiannya. Namun, dia juga benar-benar serius dengan oekerjaan barunya sebagai baby sitter.
Cklek.
Elian memutar knop pintu sedikit lebih lebar. Derap langkah kakinya membuat Dilara terperanjat dan langsung mendongak.
"Pak Elian?" panggil Dilara kaget, bergegas menyimpan ponselnya dan bangkit berdiri.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak? Elang masih tidur nyenyak."
Elian berdiri kaku di dekat pintu. Matanya melirik ponsel di tangan Dilara, lalu beralih ke kotak p3k kecil di genggamannya sendiri.
"Kamu... sedang apa?" tanya Elian dingin, mencoba menutupi rasa canggungnya.
"Saya sedang membaca artikel dan menonton video tentang cara menangani tantrum pada anak yang kehilangan orang tua, Pak," jawab Dilara jujur dan santun.
"Saya ingin belajar lebih banyak agar ke depannya bisa merawat dan membasuh rasa sedih Elang dengan lebih baik."
Elian membeku di tempatnya. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Dilara tanpa ada niat pamer atau mencari simpati. Pria itu menatap Dilara intens, seorang wanita yang baru beberapa jam bekerja, baru saja dihantam mainan hingga berdarah, namun reaksi pertamanya di sela waktu istirahat justru belajar demi keponakannya.
Bahkan dari belasan pengasuh yang selama ini pernah bekerja untuk merawat Elang tak ada satupun yang setenang dan seserius Dilara bahkan belajar cara parenting khusus untuk anak yang memiliki trauma. Mungkinkan Sarjana Ekonomi di depannya itu akan berhasil mengasuh Elang yang akan bisa tiba-tiba tantrum tanpa sebab?
"Bukannya lulusan cumlaude harusnya sudah tahu segalanya?" sindir Elian pelan, meski nada tajamnya sudah jauh berkurang dibanding tadi sore.
Dilara mengulas senyum tipis yang sangat anggun. "Gelar akademis cuma membuktikan kita pernah belajar teori di kampus, Pak Elian. Tapi ilmu kehidupan dan ketulusan merawat manusia... itu pelajaran yang harus diulang setiap hari."
Elian mendadak kehilangan kata-kata. Ia memindahkan kotak p3k di tangannya ke atas meja kecil di samping Dilara dengan gerakan yang agak kasar untuk menutupi rasa gengsinya.
"Obat merah dan salep memar," ucap Elian singkat sambil memalingkan wajah.
"Jangan sampai ibuku melihat bahumu terluka, nanti dia mengira saya yang menyiksa pengasuh di rumah ini. Apalagi nanti Papa juga pulang, akan repot urusannya,"
Dilara melirik kotak obat itu, lalu menatap Elian dengan binar mata yang hangat. "Terima kasih banyak, Pak Elian. Bapak ternyata sangat perhatian pada penghuni rumah ini."
Wajah Elian seketika tegang. Ujung telinganya merona merah mendengar balasan tulus itu.
"Jangan asal bicara," potong Elian cepat dengan suara berdeham keras.
"Saya cuma tidak mau reputasi saya buruk. Dan satu lagi... bersihkan sisa mainan di ruang tengah kalau Elang sudah bangun."
"Baik, Pak. Sudah saya rapikan sebagian tadi," jawab Dilara lembut.
Elian berbalik hendak meninggalkan kamar, namun langkahnya tertahan di ambang pintu. Pria itu menoleh sedikit, melirik Dilara yang mulai mengoleskan salep ke bahunya dari balik kerudung.
"Kalau butuh buku-buku psikologi anak milik almarhumah ibunya Elang..." ujar Elian tanpa menatap langsung ke arah Dilara.
"Ada di lemari perpustakaan lantai dua. Kamu bisa ambil dan baca kapan saja."
Dilara tertegun sejenak, lalu tersenyum sangat tulus. "Terima kasih, Pak Elian. Itu akan sangat membantu."
Tanpa menjawab lagi, Elian melangkah pergi melintasi koridor dengan dada yang bergemuruh aneh. Pria dingin yang selama ini menolak kehadiran pengasuh mana pun itu, kini harus mengakui dalam hati bahwa wanita berhijab krem itu perlahan-lahan mulai merobohkan benteng pertahanannya.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛