Indonesia
NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Pertumbuhan Tumbuhan, Dinginnya Rama, dan Mangkuk Seblak di Tepi Jalan

Libur semester ganjil usai, membawa Alee dan Rama menapaki tingkatan tertinggi dalam perjalanan seragam abu-abu mereka: kelas 12. Meski belum ada status ikatan "pacaran" secara resmi di antara mereka, dinamika manis yang telah terbangun sejak kelas 10 dan 11 tetap mengalir begitu hangat. Rama masih menjadi tempat Alee bersandar saat kepalanya pusing oleh pelajaran, dan Alee tetap menjadi riuh ceria yang selalu sanggup melunakkan raut kaku sang Ketua Kelas.

Namun, suasana kelas 12 MIPA 1 di minggu-minggu awal semester baru ini mendadak mengalami pergeseran kecil dengan hadirnya seorang murid pindahan bernama Hanafi. Cowok jangkung berparas ramah, mudah bergaul, dan memiliki tawa lepas itu diposisikan duduk di meja barisan depan, tepat bersebelahan dengan meja Alee dan Nara.

Pagi itu, jam pelajaran Biologi diampu oleh Pak Budi. Topik materi pertama kelas 12 adalah tentang Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan. Untuk pengambilan nilai praktek awal, setiap siswa diminta membuat percobaan media tanam basah menggunakan biji kacang hijau di dalam wadah plastik transparan, mengukur laju perkecambahan, serta mencatat pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan batang dan kinerja hormon auksin.

"Aduh, Alee! Ini kapasnya harus disiram sampai sebasah apa sih? Kok punya gue malah kerendam air dan benyek begini?" keluh Hanafi dari mejanya sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Tangan cowok itu tampak belepotan oleh air dan biji kacang hijau yang tercecer di atas meja.

Alee yang dasarnya memang supel dan sudah sangat paham materi praktek Biologi gara-gara sering diajari oleh Rama di laboratorium langsung tertawa renyah. "Aduuh, Hanafi! Itu mah kebanjiran namanya, bijinya malah busuk nanti pas berkecambah, bukannya tumbuh! Sini, sini, gue bantu benerin!"

Tanpa rasa ragu atau canggung, Alee menggeser posisi duduknya mendekati meja Hanafi. Dengan jemari yang telaten, Alee mengambil wadah plastik milik Hanafi, membuang genangan air yang berlebih, merapikan susunan kapas basah, lalu memindahkan biji-biji kacang hijau itu satu per satu menggunakan pinset dengan jarak yang presisi.

"Nah, harus ada celah udaranya gini, Naf. Biar bijinya bisa bernapas dan hormon auksinnya bisa bekerja maksimal pas kena atau lepas dari paparan cahaya," terang Alee panjang lebar dengan raut wajah bangga, menirukan persis gaya dan penjelasan Rama saat mengajarinya dulu.

Hanafi terkagum-kagum, matanya berbinar menatap Alee dari dekat. "Wah, makasih banyak ya, Alee! Lu hebat banget, paham detail Biologi sampai sebegininya!" Hanafi menyunggingkan senyum lebar lalu spontan menepuk bahu Alee pelan sebagai bentuk rasa terima kasihnya.

Alee terkekeh gembira membanggakan dirinya, tanpa menyadari bahwa beberapa meter di depan meja guru, sosok **Rama** sedang berdiri mematung. Rama yang semula berniat menghampiri meja Alee untuk menyerahkan lembar pengamatan kelompok, mendadak menghentikan langkahnya di tengah jalan. Jemari Rama memegang erat kertas di tangannya hingga agak terlipat. Dari balik kaca bening kacamatanya, binar mata yang biasanya sangat teduh dan hangat itu kini meredup, menyipit tajam menatap interaksi tawa dan sentuhan di bahu antara Alee dan Hanafi.

Ada rasa jengkel, sesak, dan gemuruh tak bertuan yang mendadak membakar dada Rama. Selama dua tahun ini, tawa lepas Alee saat belajar Biologi, binar kagum, dan gestur santai itu adalah wilayah khusus yang hanya dimiliki oleh dirinya. Melihat Alee begitu perhatian, telaten, dan dekat dengan murid baru itu secara spontan memicu gelombang cemburu yang teramat asing dan menusuk bagi sang Ketua Kelas.

Tanpa mengutarakan sepatah kata pun, Rama membalikkan badannya diam-diam. Ia berjalan kembali ke kursinya di sudut belakang dengan langkah kaku, meletakkan lembaran kertas itu di meja tanpa menyapa siapa pun.

---

Sore harinya, begitu bel tanda pulang sekolah bergaung, Alee yang merasa tidak ada masalah apa-apa berencana mengajak Rama pulang bersama. Namun saat Alee menoleh ke belakang, meja Rama sudah kosong bersih. Cowok berkacamata itu ternyata sudah merapikan tasnya dan menghilang lebih dulu dari kelas tanpa menunggu atau pamit seperti biasanya.

Rasa heran dan ganjal di hati Alee makin membuncah saat malam hari tiba. Alee duduk bersila di atas kasurnya, mengoyak layar ponselnya dan mengirimkan beberapa pesan *WhatsApp* ke nomor Rama.

> Alee: Ramaa, lu tadi pulang duluan ya? Kok nggak nungguin gue?

> Alee: Laporan praktek pertumbuhan kacang hijau tadi tabelnya udah digabung kan? Btw makasih ya catatan kemarin!

> Alee: Rama?? Kok cuma dibaca doang sih? (⁠_⁠;⁠)

Hingga jarum jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam, pesan-pesan Alee hanya menyisakan dua centang biru. Rama sama sekali tidak membalas, bahkan tidak mengetik sepatah kata pun. Sebuah fenomena langka yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah kedekatan mereka. Rama yang selalu responsif, selalu membalas pesannya dalam hitungan menit, dan selalu menghargai Alee, kini memilih bungkam total dan bersikap sangat dingin.

"Ih, Pak Ketua kenapa sih? Kesambet angin apa coba tiba-tiba begini?" gumam Alee kesal bercampur cemas sambil melempar ponselnya pelan ke atas bantal.

---

Keesokan harinya sehabis jam pelajaran terakhir usai, Alee yang merasa pikirannya ruwet dan perutnya lapar memutuskan untuk memutar jalan dan membeli **seblak pedas** langganannya di pinggir jalan utama menuju kompleks rumah. Alee duduk sendirian di atas bangku plastik pedagang kaki lima di tepi jalan, menyantap mangkuk seblak hangat sambil sesekali melirik lalu lintas kendaraan sore yang cukup ramai.

*Breeem...*

Suara deru mesin motor matic yang sangat familier di telinganya terdengar mendekat dari kejauhan. Alee mendongak cepat dan membelalakkan matanya saat mengenali jaket dan helm tersebut. Itu Rama! Cowok itu mengendarai motornya perlahan di tepi jalan raya, mengenakan jaket abu-abu dan kacamata hitam.

Mata Alee seketika berbinar gembira. Tanpa pikir panjang, Alee langsung berdiri dari bangkunya, melambaikan tangannya tinggi-tinggi di tepi jalan sambil berteriak memanggil. "Ramaaaa! Ramaaa! Berhenti dulu! Sini makan seblak!"

Rama yang sedang mengendarai motor sebenarnya jelas-jelas melihat Alee. Tatapan mata di balik kacamata hitamnya sempat melirik lurus ke arah Alee yang berdiri heboh di tepi jalan. Namun, bukannya menepi ke pinggir jalan atau menyunggingkan senyum hangatnya yang biasa, raut wajah Rama tampak begitu datar, tegang, dan dingin.

Rama justru menarik tuas gas dan menambah kecepatan motornya. Tanpa menoleh lagi, tanpa membalas lambaian tangan Alee sedikit pun, Rama melaju lurus begitu saja melewati Alee, meninggalkan cewek itu yang mematung sendirian di tepi jalan dengan tangan yang perlahan meluruh ke bawah.

Alee terpaku diam di tempatnya. Senyum gembiranya perlahan luntur, berganti dengan rasa sesak dan cemas yang mendalam di dadanya. Angin sore meniup pelan rambutnya yang terurai. Alee tahu Rama cemburu melihat kedekatannya dengan Hanafi saat membantu praktek pertumbuhan tanaman kacang hijau tadi pagi. Tapi, apakah sekadar rasa cemburu biasa sanggup membuat seorang Ramaditya—yang selama ini selalu menyayangi, menjaga, dan mengutamakannya di atas segalanya—berubah menjadi sebegitu dingin, asing, dan tega mengabaikannya begitu saja di tepi jalan?

Apakah sebenarnya ada rahasia besar atau alur masalah lain yang jauh lebih rumit yang sedang disembunyikan Rama di balik sikap dinginnya itu?

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!