Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Putri Mahkota

Transmigrasi Ke Tubuh Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Fantasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐

Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.

Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 12: Bukan lagi 'bidak' yang lemah

Usai urusan riasan dan busana selesai, aroma harum kayu manis dan rebusan beras mulai tercium samar dari arah lorong penghubung. Kemudian, salah satu pelayan muda membungkuk hormat di hadapan Shen Yue.

"Nona Sulung, hidangan sarapan sedang disiapkan oleh tim dapur baru dan akan disajikan di meja paviliun dalam beberapa saat lagi," lapornya dengan nada penuh keseganan.

Shen Yue mengangguk pelan. "Bagus. Biarkan saja di sana dulu. Aku ingin melihat-lihat area luar."

Tanpa menunggu balasan dari para pelayan yang kebingungan, Shen Yue melangkah melewati ambang pintu.

Begitu kakinya menapak di atas selasar kayu berukir yang mengelilingi Paviliun Barat, hembusan angin pagi yang hangat langsung menyambut wajahnya. Matahari mulai meninggi di ufuk timur, memancarkan sinar keemasan yang menerangi seluruh sudut kediaman.

Shen Yue menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung, lalu berjalan santai keluar menembus halaman terbuka.

"Suasana saat siang pun tidak kalah bagus," batinnya terpukau.

Pemandangan di sekeliling Paviliun Barat sungguh luar biasa. Pohon-pohon bambu hijau menjulang tinggi di sisi kiri, membiarkan dedaunannya bergesek merdu ditiup angin.

Di tengah halaman, terdapat kolam ikan teratai dengan jembatan batu melengkung, serta bebatuan alam yang disusun artistik. Cahaya matahari pagi membuat embun di atas dedaunan berkilau bagaikan hamparan berlian.

Namun, yang paling menyita perhatian bukan pemandangannya, melainkan cara berjalan Shen Yue.

Ia berjalan menelusuri taman dengan gaya langkah khas dunia modern: tegap, santai, dan penuh rasa percaya diri. Tumitnya menapak mantap di atas jalan setapak berbatu, badannya lurus, dan bahunya terbuka dengan rileks.

Gerakannya luwes, efisien, dan memancarkan dominasi yang sangat kuat, sebuah ritme langkah dari seorang atlet beladiri dan wanita independen yang terbiasa menguasai ruang di sekitarnya.

Gaya berjalan ini berbanding terbalik 180 derajat dengan pemilik tubuh asli. Dalam ingatan masa lalu, Shen Yue yang asli selalu melangkah dengan ragu-ragu, seolah takut menapak bumi.

Langkah kakinya begitu pelan, tidak berkekuatan, dan bahunya selalu tertekuk ke dalam karena rasa cemas yang kronis.

Bahkan, akibat tekanan mental dari Jiang Xiuwei, gadis lemah itu hampir tidak pernah menampakkan batang hidungnya keluar kamar jika tidak dipaksa.

Dua orang pelayan wanita baru yang mengikutinya dari jarak lima langkah saling berbisik penuh ketakutan dan keheranan.

"Lihat cara melangkah Nona Muda..." bisik pelayan berpakaian merah muda. "Sangat tegap... sama sekali tidak seperti orang yang baru sembuh dari sakit parah."

"Benar," sahut rekannya. "Bahkan para prajurit pengawal di kediaman depan pun tidak memiliki ketenangan dan wibawa sejelas itu saat berjalan."

Shen Yue mendengar bisikan-bisikan itu, namun ia berpura-pura tuli. Ia menghentikan langkahnya di atas jembatan batu yang melengkung, ia menatap pantulan dirinya dan bayangan awan di permukaan air kolam yang jernih.

"Gadis kasihan..." gumam Shen Yue pelan pada bayangannya sendiri di air. "Tempat secantik ini kau jadikan penjara hanya karena takut pada manusia-manusia jahat itu. Tapi tenang saja, mulai sekarang, tempat ini bukan lagi penjaramu... melainkan markas utamaku."

_____

Saat Shen Yue sedang menikmati pemandangan taman, dari arah gerbang kayu Paviliun Barat terdengar langkah kaki yang ramai dan terburu-buru.

Tiga orang pelayan wanita berpakaian jubah abu-abu tua, pakaian khusus pelayan senior dari Kediaman Utama milik Jiang Xiuwei, melangkah masuk tanpa membungkuk hormat.

Di depan mereka berjalan seorang wanita paruh baya bertubuh gempal dengan wajah ketat penuh keangkuhan. Namanya Pelayan Deng, tangan kanan kedua Jiang Xiuwei yang terkenal lebih kejam dan bermulut tajam daripada Pelayan Bi.

Melihat kehadiran Shen Yue yang berdiri santai di atas jembatan batu, Pelayan Deng menyunggingkan senyuman sinis.

"Oho! Ternyata Nona Sulung benar-benar sudah sadar dan bisa berjalan-jalan menikmati matahari!" seru Pelayan Deng dengan suara nyaring yang sengaja ditinggikan agar terdengar oleh para pengawal di kejauhan.

Shen Yue tidak membalikkan badannya secara drastis. Ia hanya memutar tubuhnya perlahan di atas jembatan, bersedekap dada, lalu menatap tiga pelayan dari Kediaman Utama itu dengan mata yang memicing.

"Siapa lagi dia," gumam Shen Yue. "Siapa yang mengizinkanmu masuk ke Paviliun Barat tanpa melapor lebih dulu?" serunya.

Pelayan Deng terkekeh geli mendengar seruan Shen Yue yang terkesan berani, lalu melangkah mendekati tepi jembatan tanpa rasa takut.

"Nona Muda, jangan berpura-pura lupa. Nyonya Besar adalah penguasa seluruh Kediaman Shen ini. Kami, para pelayan Kediaman Utama, memiliki hak untuk memeriksa setiap sudut paviliun kapan saja atas perintah Nyonya Besar!"

Dua pelayan baru yang mengawal Shen Yue mendadak pucat. Mereka tau betul betapa berkuasanya Pelayan Deng di rumah ini.

Namun Shen Yue hanya menyunggingkan senyuman tipis yang penuh ejekan hingga membuat Pelayan Deng mendadak merasa tidak nyaman.

"Penguasa seluruh kediaman?" ulang Shen Yue sambil melangkah turun dari jembatan batu.

Setiap langkah kakinya begitu tenang, namun tekanan energinya membuat tiga pelayan di depannya refleks menahan napas. "Seingatku, semalam Ayahku, sang Jenderal pemilik sah klan ini, telah menetapkan bahwa Paviliun Barat sepenuhnya berada di bawah kendaliku. Apakah kau sedang menyiratkan bahwa perintah ibu tiriku lebih tinggi daripada keputusan Jenderal Shen Longwei?"

Wajah Pelayan Deng sempat berubah tegang mendengar nama sang Jenderal disebut dengan begitu tegas. Namun, mengingat kebiasaan Shen Yue yang selalu gampang diintimidasi, Pelayan Deng mencoba menekan balik.

"Nona Muda! Jangan memutarbalikkan perkataan!" bentak Pelayan Deng, seraya membusungkan dadanya dan mengacungkan jarinya ke arah wajah Shen Yue. "Nyonya Besar mengutus kami ke sini untuk membawa kembali peralatan minum teh milik Kediaman Utama yang ada di kamar Anda! Lagipula, Pelayan Bi melapor bahwa Anda bertindak kasar semalam. Nyonya Besar menyuruh kami memeriksa apakah pikiran Anda sedang terganggu!"

Jari yang diacungkan Pelayan Deng melayang hanya beberapa sentimeter di depan hidung Shen Yue.

Dalam dunia modern Shen Yue, mengacungkan jari ke wajah seorang ahli bela diri adalah bentuk ancaman langsung yang memicu reaksi defensif otomatis.

Sret!

Tanpa ada peringatan sama sekali, tangan kanan Shen Yue melesat cepat bagaikan sabetan cambuk!

Klak!

Sebelum Pelayan Deng sempat menyadari apa yang terjadi, jemari lentik Shen Yue telah mencengkeram dua jari Pelayan Deng yang teracung tadi, lalu memutarnya ke belakang dengan tekanan tepat pada persendian!

"AAAKKKHK!" jerit Pelayan Deng histeris. Tubuh gempalnya seketika meliuk ke bawah, dan berlutut terpaksa di atas tanah berkerikil demi menahan rasa sakit pada jarinya yang hampir patah.

Dua pelayan pembantu di belakang Pelayan Deng membelalak terkejut dan hendak maju membantu.

"Coba saja melangkah satu tindak lagi," ancam Shen Yue tanpa menoleh pada dua pelayan pembantu tersebut.

Sorot matanya yang sehitam malam mengunci rapat Pelayan Deng yang mengaduh di bawahnya. "Akan kupastikan jari-jari tumpuan tangan kalian patah sebelum kaki kalian menyentuh tanah ini."

Aura membunuh yang begitu pekat memancar dari tubuh Shen Yue. Dua pelayan pembantu itu pun membeku seketika, kaki mereka terpaku di atas tanah bagai ditancapkan paku besi.

"N-Nona! Ampun! Jari hamba mau patah! Ampun!" tangis Pelayan Deng sambil memegangi pergelangan tangannya sendiri, wajah kejamnya kini berganti menjadi raut rasa sakit dan ketakutan yang alami.

Shen Yue kemudian menunduk sedikit, dan menatap pelayan tua itu dari atas dengan tatapan hinaan.

"Dengar baik-baik, anjing peliharaannya Jiang Xiuwei," bisik Shen Yue. "Mulai detik ini, jika ada satu saja pelayan dari Kediaman Utama yang berani menginjakkan kaki di Paviliun Barat tanpa izin tertulisku atau izin langsung dari Ayah... aku tidak akan sekadar memutar jari kalian. Aku akan mematahkan kaki kalian dan melempar kalian keluar dari gerbang kediaman ini. Sampaikan pesan ini pada tuanmu."

Plak!

Shen Yue melepaskan kuncian jarinya sambil menepis lengan Pelayan Deng dengan kasar, hingga membuat wanita paruh baya itu tersungkur menyium tanah taman.

"Pergi!" bentak Shen Yue.

Pelayan Deng dan dua anak buahnya merangkak bangun dalam kepanikan yang luar biasa. Sambil memegangi tangannya yang membengkak, Pelayan Deng berlari terbirit-birit keluar dari gerbang Paviliun Barat bersama anak buahnya, dan tidak berani menoleh ke belakang sedikit pun.

Taman Paviliun Barat pun kembali hening. Hembusan angin pagi memutar dedaunan kering di atas tanah setapak, dan menciptakan suasana yang menenangkan.

Dua pelayan baru yang menyaksikan kejadian itu dari awal hingga akhir berdiri mematung di dekat kolam teratai. Mulut mereka sedikit menganga, mata mereka membelalak tak percaya.

Kecepatan gerakan, ketegasan, dan kejamnya teknik kuncian tangan yang ditunjukkan oleh Nona Sulung mereka sungguh berada di luar nalar seorang wanita bangsawan!

Shen Yue mengibaskan kedua tangannya santai, seolah-olah baru saja mengusir seekor lalat yang mengganggu. Ia membalikkan badan dan menatap dua pelayan barunya yang masih syok.

"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Shen Yue lalu tersenyum tipis. "Apakah ada yang salah?"

Pelayan berpakaian merah muda langsung tersadar dari terpukaunya. Ia dan rekannya bergegas membungkuk dalam-dalam hingga dahi mereka hampir menyentuh dada.

"T-tidak, Nona Muda! Hamba sekalian... hamba sekalian sangat kagum atas ketegasan Anda!" cicitnya dengan suara yang gemetar.

Jika sebelumnya mereka melayani Shen Yue hanya karena takut pada perintah Jenderal Shen Longwei, kini di dalam hati mereka tumbuh rasa hormat dan kesetiaan yang murni pada sosok Nona Sulung ini.

Di era yang kejam ini, memiliki majikan yang kuat dan berani melindungi wilayahnya adalah sebuah keberkahan bagi para pelayan bawah.

Shen Yue menepuk-nepuk tangannya untuk membersihkan debu tipis. "Bagus. Sekarang bawa aku ke meja makan. Aku sudah cukup lapar untuk menghabiskan seluruh sarapan pagi ini."

"Baik, Nona muda! Silakan lewat sini!" seru kedua pelayan itu dengan semangat baru, kemudian membimbing jalan menuju aula dalam Paviliun Barat.

Saat melangkah menuju ruang makan, Shen Yue mendongakkan kepalanya dan menatap langit biru yang cerah. Ia menyunggingkan senyuman cukup lebar yang penuh dengan kepuasan.

"Langkah pertama untuk merebut kendali atas hidupku sudah selesai," batin Shen Yue modern dengan semangat yang menyala-nyala. "Jiang Xiuwei pasti akan makin panik setelah ini. Dan Putra Mahkota Zhao Xiao... kita lihat bagaimana reaksimu saat mendengar bahwa 'bidak lemah' ini telah menggigit tangan orang-orang di kediaman ini."

Bersambung...

1
Dewi Habibah
😍😍😍
Dewi Habibah
bagus ceritanya
Dewi Habibah
lagi donk😍
Aurora: Siap... othor up besok ya... 🤗
total 1 replies
merry
gpp si lkimu agk pengecut dan buta gk tau mn tipu muslihat,, asal ceraikan selir jgn ambil selir ckp satu istri sah ajjj🤭🤭🤭🤭
Aurora: di jamannya punya istri banyak itu sudah biasa, apalagi keluarga kerajaan 😅🤭
total 1 replies
merry
jgn smpai kmu ksh kesucian kmu putri gk ikls wlpun hak mslhnya lkimu pyn bini muda,,, 🤭🤭🤭🤭licik lggg
merry
moga cerai lh sm suami mu yg pengecut bodoh itu 🤭🤭🤭🤭
merry
penghianat ap cb bos kau ajj nikh istri mu sexgus nkhin kekasih gelapmu,, mls dech sm kmu atrnn she Yue nkh sm kakak mu itu
merry
tumis rebung enk bgtt ap lg yg ada ruas ya itu 🤭🤭🤣🤣
Aurora: bener, renyah n lembut...🤗
total 1 replies
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
aku lanjut baca lagi nanti . Kren k👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!