Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Kota Angin Lembayung dan Pasar Gelap Jiwa
Gerbang besar Kota Angin Lembayung berdiri megah dengan arsitektur batu hitam setinggi sepuluh meter yang dipahat dengan ukiran pola awan melingkar. Di sekitar pintu masuk, antrean panjang pedagang keliling, pengembara bebas, dan para kultivator dari berbagai sekte tampak mengular. Aroma rempah-rempah eksotis, wangi pil obat tingkat rendah, dan deru suara percakapan bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer keramaian khas kota perdagangan netral yang tidak pernah tidur.
Gu Yan-Zhi, Gu Ruoxi, dan Gu Chen menuntun kuda mereka perlahan di tengah kerumunan tersebut. Di bahu kanan Gu Yan-Zhi, Hu Yijie menyamar sempurna sebagai anak anjing putih berbulu lebat yang sedang tidur nyenyak, mengabaikan kebisingan di sekitarnya. Meskipun demikian, insting predator ras Singa Surga tetap waspada, memindai setiap fluktuasi energi spiritual dari para penjaga gerbang yang berdiri di pos pemeriksaan.
"Berhenti. Tunjukkan token identitas atau bayar biaya masuk sebesar tiga keping batu spiritual kelas rendah per orang," ujar seorang penjaga gerbang berbadan tegap mengenakan zirah besi hitam. Matanya menatap tajam ke arah Gu Yan-Zhi dengan sikap arogan khas tentara bayaran yang terbiasa menghadapi berbagai macam orang di perbatasan.
Gu Yan-Zhi tidak terkejut. Di dunia kultivasi, uang dan kekuatan adalah bahasa universal. Tanpa ragu, ia merogoh kantong jubahnya dan mengeluarkan beberapa keping batu spiritual yang memancarkan pendar cahaya putih lembut, lalu menyerahkannya kepada penjaga tersebut. Batu-batu itu diperoleh dari rampasan barang bawaan pengawas Klan Bai sebelumnya—sebuah kebetulan kecil yang sangat berguna di saat awal perjalanan.
Penjaga itu menerima batu spiritual tersebut, menimbangnya sebentar di telapak tangannya untuk memastikan keaslian kualitasnya, lalu mengangguk puas. "Baik, kalian bertiga diizinkan masuk. Ingat, hukum Aliansi Pedagang berlaku mutlak di dalam kota ini. Segala bentuk perkelahian tanpa izin di jalan utama akan dihukum buang ke jurang luar. Silakan lewat."
Gerbang besi pun dibuka lebar, menyambut kedatangan mereka ke dalam jantung Kota Angin Lembayung.
Begitu melewati gerbang, pemandangan di hadapan mereka langsung berubah drastis. Jalanan utama terbuat dari batu pipih yang lebar, diapit oleh deretan bangunan bertingkat dua dari kayu jati tua dan batu pualam. Berbagai macam kedai obat, toko senjata, paviliun pelelangan, hingga los bazar terbuka berjejer rapi di sepanjang sisi jalan. Para kultivator dengan berbagai atribut sekte—mulai dari jubah putih bersih hingga jubah hitam bersulam simbol binatang buas—lalu-lalang dengan ekspresi serius di wajah mereka.
"Wah... tempat ini sangat besar, Kakak," bisik Gu Ruoxi takjub, matanya berbinar menatap deretan bangunan megah dan spanduk kain warna-warni yang berkibar tertiup angin di atas toko-toko obat. Selama hidupnya di Klan Gu, ia tidak pernah melihat konsentrasi kultivator mandiri sebanyak ini di satu tempat.
Gu Yan-Zhi tersenyum tipis, menepuk pelan pundak saudarinya. "Ini baru permulaan, Ruoxi. Kota Angin Lembayung adalah titik temu para pencari kekuatan dari berbagai penjuru wilayah utara. Di sini, segala hal bisa diperjualbelikan—mulai dari pil peningkat kultivasi, peta harta karun kuno, hingga informasi rahasia tentang reruntuhan sekte purba."
"Tuan muda, di mana sebaiknya kita mencari tempat tinggal sementara?" tanya Gu Chen sambil mengawasi sekitar dengan waspada. Meskipun kota ini diklaim netral, naluri pelayannya tetap siaga terhadap potensi ancaman terselubung.
"Kita tidak langsung mencari penginapan mewah," jawab Gu Yan-Zhi tenang sambil melangkah menyusuri gang sisi timur yang agak lengang. "Langkah pertama kita di sini adalah mendatangi Pasar Gelap Jiwa, sebuah tempat tersembunyi di balik distrik herbal. Kita perlu menukarkan beberapa barang rampasan dari Klan Bai dengan pil obat pemulihan kualitas tinggi, sekaligus mencari bahan langka untuk menyempurnakan sirkulasi Qi kita."
Di bawah bimbingan insting dan ingatan logis Gu Yan-Zhi yang tajam, mereka menyusuri lorong-lorong kecil yang berliku hingga akhirnya tiba di sebuah pelataran belakang yang tampak sepi, diapit oleh dinding batu tua yang ditumbuhi lumut hijau. Di sana, terdapat sebuah pintu kayu kusam dengan tanda ukiran simbol timbangan gantung—tanda pengenal tidak resmi bagi para pedagang pasar gelap independen.
Gu Yan-Zhi mengetuk pintu kayu itu dengan pola khusus: tiga ketukan lambat, dua ketukan cepat.
Tok... tok... tok... tok-tok.
Beberapa saat kemudian, lubang intip kecil di tengah pintu terbuka. Sepasang mata tua yang tajam mengintip keluar, memindai penampilan Gu Yan-Zhi dan rombongannya dari atas ke bawah.
"Mencari barang apa di sini, anak muda? Tempat ini bukan pasar rempah biasa," suara serak seorang pria tua terdengar dari balik pintu.
Gu Yan-Zhi mengangkat tangan kanannya, membiarkan pendar tipis energi Qi keemasan dari tahap Pemusatan Qi Tingkat Dua terpancar samar di ujung jarinya, cukup untuk menunjukkan bahwa ia bukan kultivator amatiran sembarangan. "Aku tidak mencari rempah murahan. Aku ingin menjual sisa pil obat tingkat menengah dan membeli informasi tentang jalur pegunungan utara."
Pintu kayu itu berderit pelan, terbuka lebar menampilkan seorang kakek tua bungkuk berambut abu-abu berantakan yang mengenakan jubah tambal sulam. Sang penjaga pasar gelap tersenyum sinis, memperlihatkan beberapa giginya yang tanggal. "Silakan masuk. Di dalam, hukum luar tidak berlaku. Selama kalian punya harga yang pas, semua rahasia di Benua Dewa bisa dibeli."
Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam ruangan remang-remang yang dipenuhi aroma dupa herbal pekat dan tumpukan kotak kayu misterius. Di sudut ruangan, beberapa kultivator bertopeng sedang melakukan transaksi rahasia dalam kebisuan total.
Gu Yan-Zhi tahu, langkah kecil ini adalah fondasi awal dari perjalanan panjang mereka. Di tengah dunia kultivasi yang kejam ini, ia tidak hanya akan bertahan hidup, tetapi perlahan-lahan merangkak naik hingga namanya disegani di seluruh penjuru Benua Dewa.
"Yijie, bersiaplah," bisik Gu Yan-Zhi dalam hati pada anak singa di bahunya, sementara tangannya merapat pada gulungan manuskrip kuno di dalam jubahnya, menyongsong babak baru petualangan slow burn yang penuh misteri di hadapan mereka.