Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARISAN KELUARGA BESAR
Acara arisan keluarga besar di rumah Bude Tuti akhirnya tiba. Anyara sudah bersiap sejak pagi, membantu Ratih memilih baju terbaik yang akan dipakai, meski untuk dirinya sendiri, ia hanya mengenakan baju yang sama seperti biasa—satu-satunya baju agak layak yang masih tersisa di lemarinya.
"Anyara, kamu pake baju itu-itu aja ya ke acara keluarga besar? Nanti dikira Ibu nggak ngasih uang belanja lho," celetuk Ratih sambil bercermin, memakai kalung emas kesayangannya.
Anyara tersenyum tipis, menahan diri untuk tidak membalas sesuatu yang lebih tajam. "Nggak apa-apa, Bu, yang penting rapi."
Di rumah Bude Tuti, suasana sudah ramai oleh keluarga besar Juned—paman, bibi, sepupu, semua berkumpul dengan obrolan riuh dan tawa yang menggema di ruang tamu yang luas.
"Eh, Anyara! Lama nggak keliatan," sapa Bude Tuti, memeluknya sekilas. "Gimana kabarnya jadi menantu di sana? Betah?"
"Alhamdulillah, Bude, baik," jawab Anyara, tersenyum ramah meski hatinya menyimpan banyak hal yang tidak bisa ia ceritakan di tempat seramai ini.
Juned langsung berbaur dengan para sepupu lelakinya, tertawa lepas, sesekali melirik ponselnya dengan senyum kecil yang tidak luput dari perhatian Anyara.
Di tengah acara, salah satu sepupu Juned, Mbak Rina, duduk di sebelah Anyara sambil membawa piring berisi kue.
"Anyara, kamu tau nggak, si Juned itu emang dari dulu deket banget sama temen-temen kantornya. Apalagi katanya ada satu yang deket banget, namanya... siapa ya, aku lupa. Yang jelas sering keliatan bareng katanya, di acara-acara kantor."
Anyara menoleh cepat, jantungnya berdebar. "Deket gimana maksudnya, Mbak?"
"Ya, deket aja, temenan biasa kali. Tapi kata sepupuku yang kerja satu kantor sama Juned, orangnya cantik, sering banget diajak makan siang bareng. Kamu nggak curiga apa-apa, Ra?"
Anyara tersenyum kaku, mencoba menyembunyikan gejolak di dalam dadanya. "Nggak, Mbak. Mungkin emang temen kerja biasa."
Mbak Rina mengangkat bahu, tidak terlalu memperpanjang topik itu, beralih ke obrolan lain. Tapi bagi Anyara, informasi kecil itu menjadi satu lagi kepingan yang memperkuat gambaran yang sudah mulai terbentuk jelas di kepalanya—bahwa perselingkuhan Juned bukan sekadar sekali dua kali, melainkan sesuatu yang sudah berlangsung dan diketahui, meski samar-samar, oleh orang-orang di sekitarnya.
Menjelang sore, ketika sebagian besar keluarga sudah pulang, Ratih tiba-tiba menarik Anyara ke sudut ruangan, wajahnya terlihat serius.
"Anyara, tadi Bude Tuti sempet nyeletuk sesuatu ke Ibu. Katanya dia pernah liat Juned di mall, jalan sama cewek, mesra banget. Ibu langsung bilang itu pasti salah orang, tapi... Ibu jadi kepikiran lagi soal struk hotel itu."
Anyara menatap mertuanya, sedikit terkejut mendengar nada suara Ratih yang kali ini tidak lagi terdengar membela penuh seperti sebelumnya, melainkan mulai menyimpan keraguan sendiri.
"Bu, saya nggak mau maksa Ibu percaya apa-apa. Tapi kalau memang banyak orang yang lihat hal yang sama, mungkin memang ada benarnya."
Ratih terdiam lama, matanya menerawang, seperti sedang bertarung dengan dirinya sendiri antara mempertahankan keyakinan lamanya atau mulai menerima kemungkinan yang tidak ingin ia hadapi.
"Ibu... Ibu nggak tau harus percaya siapa lagi," ucap Ratih akhirnya, suaranya melemah, jauh berbeda dari nada tegas yang biasa ia tunjukkan.
Anyara tidak menjawab apa-apa, hanya menepuk pelan punggung tangan mertuanya—sebuah gestur kecil yang entah kenapa terasa tulus, meski selama ini hubungan mereka jauh dari harmonis.
Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil yang dikendarai Juned, suasana terasa hening. Ratih duduk di kursi depan, sesekali melirik ke arah anaknya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Juned," Ratih akhirnya bersuara, "tadi Bude Tuti bilang, dia pernah liat kamu di mall sama cewek. Bener apa nggak?"
Juned yang sedang menyetir, tangannya sedikit mengencang di setir. "Ah, Bude Tuti salah liat kali, Bu. Aku jarang ke mall."
"Tapi ini udah kedua kalinya ada yang bilang gitu, Juned. Pertama struk hotel, sekarang ini. Ibu mulai bingung."
"Bu, aku serius, itu semua salah paham. Kenapa sih Ibu jadi gampang percaya omongan orang?" Juned terdengar defensif, nada suaranya sedikit meninggi.
Anyara yang duduk di kursi belakang hanya diam, menatap keluar jendela, membiarkan Ratih untuk pertama kalinya benar-benar mempertanyakan sesuatu pada anaknya sendiri tanpa campur tangannya sama sekali.
Sesampainya di rumah, suasana masih terasa canggung. Juned langsung masuk kamar tanpa banyak bicara, sementara Ratih duduk termenung di ruang tengah, wajahnya menunjukkan keraguan yang jelas belum pernah Anyara lihat sebelumnya.
"Anyara," panggil Ratih pelan, sebelum Anyara sempat masuk kamar. "Kalau... kalau memang benar Juned selingkuh, apa yang bakal kamu lakuin?"
Anyara terdiam sesaat, mempertimbangkan jawabannya dengan hati-hati. "Saya belum tau pasti, Bu. Tapi yang jelas, saya nggak akan diem aja terus kalau itu bener."
Ratih mengangguk pelan, tidak melanjutkan pembicaraan itu lebih jauh, tapi raut wajahnya menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya, ia mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa anaknya sendiri memang bersalah—sebuah pergeseran kecil yang mungkin akan menjadi awal dari keretakan yang lebih besar dalam waktu dekat.