Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
***
Langkah kaki Mutiara menghentak kasar di atas lantai keramik rumah Adhijaya. Dinding-dinding kayu yang biasanya menyerap keheningan kini bergetar menyalurkan amarah gadis remaja itu. Tas sekolahnya dilempar hingga menghantam meja makan porselen, menciptakan bunyi prak yang membentak ruangan.
"Kalian tahu apa yang aku lihat di mal tadi?!" jerit Mutiara, napasnya memburu dengan dada yang kian sesak. Air mata frustrasi melapisi sepasang matanya yang memerah. "Mbak Alana! Mbak Alana jalan-jalan santai, pakai baju mahal, beli barang-barang desainer, dikawal dua pengawal pribadi! Dia pamer kemewahan di depan teman-temanku!"
Ibu Rahma yang baru saja melangkah keluar dari dapur membawa baskom air hangat mendadak menghentikan langkahnya. Wajah wanita paruh baya itu pucat pasi, tangannya gemetar hebat hingga air di dalam baskom berkecak pelan.
"Mutiara... pelankan suaramu, Nak..." bisik Ibu Rahma gagap, matanya melirik cemas ke arah ruang tamu tempat Pak Surya duduk di kursi roda.
"Kenapa harus pelan?!" teriak Mutiara kian histeris. "Biar Ayah dengar! Biar Ayah tahu kalau anak kebanggaan kalian itu sudah lupa diri! Sementara kita di sini hidup kayak di kuburan, Mbak Alana malah bersenang-senang menikmati harta Keluarga Elard! Aku malu, Bu! Di sekolah aku diejek adik cewek bayaran!"
"Uhuk! Uhuk! Uhuk... khhh!"
Batuk keras yang berat dan menyakitkan mendadak terdengar dari ruang tamu. Pak Surya Adhijaya meremas dada kirinya dengan wajah yang mendadak membiru. Tubuhnya yang kurus bergoyang hebat di atas kursi roda, lalu dengan gerakan dramatis, ia memuntahkan sedikit bercak darah ke atas sapu tangan putih di genggamannya.
"Mas! Mas Surya!" jerit Ibu Rahma panik. Ia menjatuhkan baskomnya dan berlari menghampiri sang suami, memeluk bahu Pak Surya yang gemetar. "Tolong, Mas... tahan..."
Mutiara terpaku di ambang pintu. Kemarahannya seketika tertahan oleh rasa takut melihat sang ayah yang tampak begitu rapuh dan mengenaskan.
"Mutiara..." suara Pak Surya keluar parau, terputus-putus dan terdengar sangat lemah. Matanya yang sayu menatap Mutiara dengan pandangan penuh rasa bersalah yang dibuat-buat. "Jangan... jangan salahkan kakakmu... Ini semua... salah Ayah yang tidak berguna ini... uhuk!"
"Ayah, sudah... jangan banyak bicara dulu," tangis Ibu Rahma pecah, mengusap bibir suaminya dengan kain basah.
Pak Surya memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan dadanya naik turun tak teratur. "Ayah rela mati... daripada harus melihat kalian menderita seperti ini... Ayah merasa gagal..."
Mutiara mengepalkan tangannya rapat-rapat. Pemandangan sang ayah yang terkapar batuk darah dan meratapi kelemahannya kembali memancing rasa iba yang membutakan pikirannya. Di matanya, sang ayah adalah pahlawan yang teraniaya, sementara Alana adalah putri yang tega meninggalkan mereka demi gemerlap dunia.
Dengan napas yang masih memburu, Mutiara berjalan masuk ke kamar orang tuanya untuk mengambilkan selimut tebal dan obat-obatan tambahan. Namun, saat ia membuka lemari kayu di sudut kamar untuk mencari kotak obat, matanya menangkap sesuatu yang terselip di bawah tumpukan pakaian lama.
Sebuah amplop cokelat tebal berukuran besar tergeletak di sana.
Mutiara mengernyitkan dahi. Rasa curiga membimbing jemarinya untuk menarik amplop tersebut. Ketika ia membukanya, mata Mutiara membelalak lebar.
Di dalam amplop itu, terdapat tumpukan lembaran uang kertas seratus ribuan yang masih terikat rapi dari bank, lengkap dengan sebuah map biru berisi sertifikat kepemilikan tanah dan rumah tempat mereka tinggal—sertifikat yang kini bersih tanpa ada cap stempel penyitaan dari pihak bank.
"Ini... apa?" bisik Mutiara tak percaya.
Ia memegang sertifikat itu dengan tangan bergetar. "Kenapa rumah ini sudah tidak disita? Dan uang sebanyak ini... dari mana?"
Ibu Rahma yang baru saja melangkah masuk ke kamar untuk mengambil minyak kayu putih mendadak membeku di ambang pintu. Matanya membelalak horor melihat amplop dan sertifikat rumah berada di genggaman putri bungsunya.
"Mutiara! Kenapa kamu mengacak-acak lemari Ayah?!" bentak Ibu Rahma cepat, mencoba merebut berkas itu dengan wajah panik.
Mutiara refleks mundur, menghindar dari gapaian ibunya. Matanya menatap sang ibu dengan kejutan dan kekecewaan yang mendalam. "Bu! Jelaskan sama Mutiara! Katanya rumah kita mau disita minggu ini?! Katanya kita tidak punya uang sama sekali buat beli obat Ayah?! Lalu kenapa ada sertifikat asli dan uang ratusan juta di lemari ini?!"
Pak Surya yang menggerakkan kursi rodanya perlahan ke ambang pintu kamar menyela dengan suara parau yang sengaja dibuat bergetar. "Mutiara... dengarkan penjelasan Ibu..."
Ibu Rahma menelan ludah secara kasar. Otaknya berputar cepat mencari celah untuk menyelamatkan kebohongan dan nama baik suaminya. Wanita paruh baya itu mendadak menghembuskan napas panjang, merosot terduduk di tepi tempat tidur sambil menyapu air mata palsunya.
"Itu... itu uang belas kasihan terakhir dari Keluarga Elard, Mutiara," bisik Ibu Rahma dengan nada suara yang dirancang penuh kedukaan.
Mutiara mengernyit bingung. "Uang belas kasihan?"
"Iya, Nak..." sambung Pak Surya seraya menundukkan kepala dengan raut wajah yang amat tertekan. "Itu uang pembayaran terakhir untuk memutus hubungan kita dengan Alana. Keluarga Elard tidak ingin keluarga miskin seperti kita terus mengganggu atau mengungkit status Alana di mansion mereka. Mereka membeli rumah ini kembali atas nama Ayah dan memberikan uang itu agar kita diam dan tidak pernah muncul lagi di kehidupan Alana."
Mutiara terpaku. "Kenapa... kenapa Mbak Alana membiarkan mereka memperlakukan kita seperti ini?"
Pak Surya menghela napas berat, tatapannya menerawang seolah menahan kepedihan yang amat dalam. "Karena sejak awal... kakakmu sendiri yang menginginkan pernikahan itu, Mutiara."
Deg.
Mutiara menahan napasnya. "Apa... maksud Ayah?"
Ibu Rahma mengambil alih narasi, menyusupkan kebohongan baru yang kian beracun. "Dulu... waktu perusahaan Ayah berada di ambang kebangkrutan dan utang kita menumpuk, Ayah dan Ibu sudah pasrah untuk masuk penjara dan membiarkan rumah ini disita. Tapi Alana... Alana yang datang sendiri menemui utusan Keluarga Elard."
"Mbak Alana... yang mengajukan diri?" bisik Mutiara dengan nada tak percaya.
"Iya, Nak," bohong Ibu Rahma tanpa mengedipkan mata. "Alana yang mengajukan diri untuk melakukan perjanjian pernikahan transaksi itu. Dia tergiur dengan tawaran kemewahan hidup di Mansion Elard dan posisi sebagai istri CEO kaya raya. Dia menukar kebebasannya dengan hidup bergelimang harta di sana. Sementara Ayah dan Ibu... kami hanya bisa menangis pasrah karena tidak sanggup menahannya."
Pak Surya memegang dada kirinya lagi, menambahkan aksen kesakitan pada drama mereka. "Ayah batuk darah tiap malam bukan cuma karena sakit fisik, Mutiara... tapi karena Ayah malu dan sakit hati melihat kakakmu lebih memilih kemewahan Keluarga Elard daripada hidup sederhana bersama kita. Alana sudah menjual dirinya sendiri demi gaya hidup mewah itu!"
Kata-kata dari kedua orang tuanya masuk dan meracuni pikiran Mutiara dengan sangat sempurna. Kebohongan yang tersusun rapi itu menghancurkan sisa-sisa rasa hormat Mutiara pada sang kakak.
Sertifikat rumah dan tumpukan uang di tangannya kini diartikan Mutiara sebagai "uang lemparan" dari Alana yang sudah melupakan asal-usulnya demi menjadi Nyonya Elard yang bergelimang harta.
"Jadi... Mbak Alana sengaja meninggalkan kita demi hidup enak di sana?" suara Mutiara bergetar hebat, air mata amarah mengalir makin deras di pipinya. "Dia sok berpura-pura jadi pahlawan di depan kita, padahal dia sendiri yang kebelet ingin nikah sama orang kaya?!"
"Sudah, Mutiara... jangan dibahas lagi," ujar Ibu Rahma berpura-pura menenangkan seraya merebut kembali amplop cokelat itu dari tangan Mutiara. "Uang dan rumah ini adalah kompensasi terakhir dari Alana. Mulai sekarang, anggap saja kita tidak punya hubungan lagi dengannya."
Mutiara mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa benci dan jijik yang teramat sangat membakar dadanya. Ia menatap foto Alana yang masih tergantung di dinding ruang tamu dengan tatapan penuh dendam.
"Aku benci sama Mbak Alana..." bisik Mutiara dengan suara dingin yang dipenuhi racun kebohongan orang tuanya. "Mbak Alana benar-benar wanita egois yang tidak tahu diri!"
Di balik pintu kamar, Pak Surya dan Ibu Rahma saling bertukar pandang secara samar. Sebuah hembusan napas lega yang tersembunyi keluar dari dada mereka. Nama baik Pak Surya sebagai kepala keluarga tetap suci dan terhormat di mata Mutiara, sementara seluruh beban dosa, kebohongan, dan transaksi ratusan miliar itu kini sepenuhnya ditimpakan ke atas pundak Alana yang terkurung jauh di dalam sangkar emas Mansion Elard.
Bersambung