Indonesia
NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12 — Kalung yang Hilang

Kunci ruang sewa itu ringan, hanya dua buah pada gantungan plastik merah.

Nara memutarnya, mendorong pintu, dan mencium bau cat dinding yang belum sepenuhnya hilang.

Ruangan itu berada di lantai dua bangunan kecil. Di bawah ada percetakan; di atas, satu ruang utama dengan jendela lebar, kamar mandi, dan ruang belakang yang cukup untuk tempat tidur lipat. Pemilik menyewakannya sebagai ruang kerja yang boleh ditinggali sementara. Nara sudah menanyakan hal itu dua kali sebelum membayar uang muka.

Ia membayar dengan sisa hasil penjualan lukisan dan tabungannya sendiri.

“Kecil,” katanya ketika Maya masuk membawa kardus.

“Jendelanya bagus.” Maya meletakkan barang di lantai. “Cahayanya dari sini. Lo selalu cerewet soal cahaya.”

Nara tersenyum.

“Pagi bagus. Sore harus pakai tirai.”

“Ya beli tirai. Jangan berdiri di sini minta maaf sama tembok karena ruangannya kecil.”

Nara tertawa untuk pertama kalinya hari itu.

Mereka baru memindahkan alat lukis, buku, dan dua karya yang tidak dibeli kantor Adrian. Pakaian dan barang sehari-hari Nara masih di rumah. Ia belum memberitahu Dimas bahwa tempat ini juga bisa dipakai tidur.

Maya menatap sudut belakang yang kosong.

“Kalau lo butuh pergi beberapa hari, rumah gue ada kamar.”

Nara merobek selotip kardus terlalu cepat.

“Nggak usah.”

“Na, serius. Daripada lo sendirian di sini. Tempat tidur aja belum ada.”

“Bisa beli yang lipat dulu.”

“Lo selalu begini kalau ditawarin bantuan.”

Nara menunduk membongkar buku. Ia membayangkan keluar dari kamar tamu rumah Maya pagi-pagi, menemukan Adrian di dapur dengan rambut belum rapi. Mendengar langkahnya malam hari, mengetahui kamar mana yang ditempatinya bersama istrinya.

Ia tidak bisa tinggal di sana.

Bukan karena ia cukup kuat untuk tidak membutuhkan siapa pun.

Justru karena ia tahu ia akan menunggu semua kesempatan kecil itu.

“Gue butuh tempat sendiri, May.”

Maya tidak mendesak lagi.

“Oke. Tapi kalau takut malam-malam, telepon gue.”

Nara mengangguk, semakin merasa bersalah. Maya menawarkan tempat tinggal, bahkan siap ditelepon tengah malam, sedangkan ia masih memikirkan suami perempuan itu.

* * *

Maya mengangkat satu kardus lagi dari tangga.

Pergelangan tangan Nara masih memiliki tanda samar. Tidak mencolok, bisa saja bekas tertindih tas. Tetapi Maya tahu bagaimana Dimas memegangnya di galeri.

Maya melihat sendiri kejadian itu. Dan Dimas datang setelah ia meneleponnya.

Maya meletakkan kardus pelan-pelan. Ia telah mengulang pembenaran yang sama sejak malam pameran: Dimas suaminya, suami boleh datang, Maya tidak menyuruhnya menarik tangan siapa pun.

Tetap saja, ketika melihat Nara membeli tirai untuk sebuah ruang yang mungkin akan menjadi tempat berlindung dari rumahnya sendiri, pembenaran itu terdengar menjijikkan.

“Gue bantu bayar rak, ya?”

Nara langsung menggeleng.

“Lo sudah bantu angkut. Jangan semua mau lo bayar.”

Maya memaksakan senyum.

Ia ingin mengatakan maaf. Ia tidak tahu bagaimana mengatakannya tanpa harus menerangkan untuk apa.

* * *

Di dasar kardus buku, Nara menemukan amplop cokelat berisi foto-foto lama.

“Lihat rambut lo.”

Maya mendekat. Dalam foto, mereka duduk di bangku kayu, Nara masih berseragam sekolah dasar, Maya sudah mengenakan seragam SMP. Poni Maya dipotong terlalu pendek.

“Jangan mulai. Yang motong siapa?”

“Lo sendiri.”

“Karena lo bilang bisa dirapikan pakai gunting kertas.”

Nara tertawa sampai harus duduk di lantai.

“Gue waktu itu percaya diri banget.”

“Sampai nyokap gue nyari lo ke rumah.”

Mereka memandangi foto itu. Nara ingat sore ketika Maya menangis karena poninya, lalu tertawa lagi setelah Nara memotong sedikit poninya sendiri agar tampak sama buruk.

Maya mengeluarkan foto lain. Kali ini mereka berdiri di dekat kios es, masing-masing memegang kantong plastik kecil.

Nara menyentuh sesuatu pada dadanya dalam foto.

“Kalung ini.”

Jari Maya berhenti pada tepi kertas.

“Yang bulan kecil?”

“Iya. Gue cari waktu pindahan dulu, nggak pernah ketemu.”

“Bukannya hilang waktu di jembatan?”

Nara menoleh.

Maya segera menumpuk foto itu dengan yang lain.

“Dulu lo pernah cerita.”

Nara mencoba mengingat. Hari hujan, lututnya kotor, tali yang putus entah tersangkut apa. Ada seseorang yang perlu dibantu, suara orang-orang memanggil dari jalan. Ia pulang tanpa menyadari lehernya kosong sampai ibunya bertanya.

“Oh, iya.”

Maya berdiri.

“Gue beli minum dulu. Dari tadi lo belum minum.”

“Masih ada air.”

“Gue mau yang dingin.”

Nara mengangguk, memasukkan foto ke dalam amplop. Ia tidak memperhatikan Maya menatap amplop itu sekali lagi sebelum keluar.

* * *

Mereka makan siang di lantai, menggunakan tutup kardus sebagai alas.

Maya mengeluh soal pelanggan yang minta seluruh bunga diganti dua jam sebelum acara. Nara mengingatkan bahwa Maya pernah membuatnya mengganti warna poster kelas empat kali hanya karena tidak cocok dengan pita rambut panitia.

“Itu namanya konsisten.”

“Itu namanya nyebelin.”

Maya menyenggol lututnya.

Nara membalas dengan siku, dan untuk sesaat mereka kembali menjadi dua anak yang berbagi makanan setelah menghabiskan uang jajan untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan.

Setelah makan, Maya mengambil kain dan membersihkan rak bekas yang baru diturunkan kurir.

“Lo nggak harus kerjain itu,” kata Nara.

“Lo juga nggak harus mengerjakan semuanya sendiri.”

Nara memandang punggung sahabatnya.

Ia ingin berhenti memikirkan Adrian. Sungguh. Ia ingin menerima bantuan Maya tanpa harus menyembunyikan betapa rindunya ia kepada suami sahabatnya sendiri.

Maya berbalik membawa kain kotor.

“Udah. Tinggal diisi.”

Nara menghampiri dan memeluknya.

Maya sempat terkejut, kemudian membalas dengan erat.

“Makasih,” kata Nara.

Maya menekan dagu ke bahunya.

“Iya.”

Mereka saling memeluk lebih lama. Nara lega Maya masih mau sedekat ini dengannya. Maya pun lega mereka masih bisa akrab seperti dulu, meski rasa bersalahnya belum hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!