Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.
Keesokan harinya, setelah berpamitan pada ayah dan ibunya, Alfa berangkat ke lokasi proyek yang akan menjadi tanggungjawab barunya. Berbeda dari proyek sebelumnya, area tersebut jauh lebih luas. Beberapa alat berat sudah berada di sana, serta sejumlah pekerja sibuk menyiapkan berbagai keperluan sebelum pengerjaan dimulai.
Alfa turun dari motornya, sambil menyandang tas ransel berisi perlengkapan kerja di punggungnya. Sesaat dia berdiri mengamati keadaan sekitar. Kali ini, dirinya bukan datang sebagai pekerja yang menunggu perintah, melainkan orang yang dipercaya mengawasi dan memastikan pekerjaan di lapangan berjalan sesuai rencana.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahunan, mengenakan rompi keselamatan menghampirinya.
“Mas Alfa, ya?” tanyanya memastikan
“Iya, benar,” jawab Alfa ramah.
“Saya Mino, bagian pelaksana lapangan. Pak Danu bilang, mulai hari ini Mas Alfa yang akan menangani pekerjaan di sini,” jelas pria itu lalu mengulurkan tangan.
Alfa menyambut uluran tangan tersebut. “Iya, Pak. Saya masih perlu banyak belajar, jadi mohon bantuannya selama kita bekerja sama.”
Mino tersenyum. “Santai saja, Mas. Sebelumnya saya sudah dapat arahan dari Pak Danu. Mari, saya tunjukkan kondisi di lapangan.”
Kemudian mereka berjalan menyusuri area proyek. Mino menjelaskan bagian-bagian yang sudah disiapkan, posisi penyimpanan material, serta pekerjaan yang akan dimulai dalam beberapa hari ke depan.
Alfa tidak sekedar mendengarkan. Sesekali dia berhenti untuk memperhatikan kondisi tanah, posisi material, dan jalur yang akan digunakan pekerja.
“Kalau material masuk dari sini, jalurnya jangan sampai tertutup,” ujarnya sambil menunjuk bagian sisi proyek. “Nanti kendaraan pengangkut akan kesulitan keluar-masuk.”
Mino memperhatikan arah yang ditunjuk Alfa, kemudian mengangguk. “Benar juga. Berarti area ini harus tetap kosong.”
“Untuk sementara, iya. Nanti setelah kebutuhan material berkurang, baru bisa kita manfaatkan,” jawab Alfa.
Setelah berkeliling, keduanya masuk ke ruangan kerja sementara yang digunakan tim proyek. Di atas meja sudah tersedia beberapa dokumen, termasuk denah kerja, daftar kebutuhan material, serta panduan pengerjaan.
Alfa duduk dan mulai memeriksa satu per satu. Dahulu, dokumen seperti itu hanya dia lihat sekilas ketika masih menjadi pemborong. Kini, dia harus memahami isinya dengan lebih teliti karena keputusan di lapangan akan berkaitan dengan pekerjaan banyak orang.
Mino berdiri di samping meja sambil menunjuk salah satu bagian denah kerja. “Untuk bagian ini, pengerjaannya dimulai minggu depan setelah persiapan selesai,” katanya.
Alfa mengangguk. “Berarti material harus sudah tersedia sebelum pengerjaannya dimulai.”
“Iya,” sahut Mino.
“Coba kita cek lagi jumlahnya. Jangan sampai nanti pekerjaan sudah berjalan, tapi materialnya belum lengkap," lanjut Alfa.
Mino segera mengambil catatan kebutuhan material. Keduanya kemudian mencocokkan data yang tersedia dengan rencana pekerjaan
Tidak lama kemudian, seseorang masuk ke ruangan. Rupanya dia adalah mandor proyek.
“Mas Alfa, saya Bowo. Saya yang pegang tim di bagian pekerjaan awal,” katanya memperkenalkan diri.
Alfa berdiri dan menjabat tangannya. “Baik, Pak Bowo. Untuk sementara kita saling koordinasi saja. Kalau ada kendala di lapangan, langsung sampaikan sama saya.”
“Siap, Mas,” jawab Bowo.
Hari pertama itu belum banyak pekerjaan fisik yang dilakukan. Namun, Alfa justru merasa hari tersebut lebih melelahkan daripada ketika dirinya bekerja sebagai pekerja bangunan.
Dia harus memperhatikan banyak hal sekaligus. Kesiapan tenaga kerja, ketersediaan material, urutan pekerjaan, sampai kemungkinan masalah yang bisa muncul ketika pengerjaan dimulai.
Menjelang siang, Alfa kembali turun ke lapangan. Beberapa pekerja sedang memindahkan material ke tempat yang telah ditentukan. Pria itu memperhatikan cara mereka bekerja, kemudian menghampiri mandor.
“Pak Bowo, untuk material yang ini jangan ditumpuk terlalu dekat dengan jalur kendaraan,” katanya sambil menunjuk lokasi tersebut.
Bowo melihat ke arah yang dimaksud. “Kalau dipindahkan ke sana bagaimana, Mas?”
Alfa mengamati sebentar lalu menjawab. “Boleh. Asalkan tidak mengganggu area pekerjaan berikutnya.”
“Baik, Mas. Nanti saya minta anak-anak memindahkannya.”
Alfa mengangguk lantas melanjutkan pemeriksaannya. Saat itulah dia menyadari satu hal. Menangani proyek bukan hanya soal memberi perintah. Dia harus memahami pekerjaan dari awal sampai akhir agar setiap keputusan yang diambil tidak akan menyulitkan orang lain.
***
Beberapa hari berikutnya, rutinitas Alfa mulai terbentuk. Pagi hari dia memeriksa rencana pekerjaan, kemudian turun ke lapangan untuk memastikan persiapan berjalan sesuai panduan kerja. Setelah itu, dia kembali memeriksa kebutuhan material dan berkoordinasi dengan mandor serta pelaksana lainnya.
Tidak jarang dia harus kembali membuka denah kerja ketika menemukan bagian yang belum dipahaminya.
Suatu sore, Bowo datang membawa kabar mengenai perubahan pekerjaan.
“Mas Alfa, ada sedikit masalah di bagian belakang,” katanya setelah menemukan Alfa sedang memeriksa catatan material.
“Apa masalahnya?” tanya Alfa, segera menutup catatannya.
“Posisi pekerjaan yang sudah ditentukan ternyata terlalu dekat dengan jalur masuk material. Kalau tetap mengikuti rencana awal, ruang untuk pengerjaannya jadi sempit. Selain itu, posisi bangunan di bagian ini bisa kurang pas dengan bagian yang sudah dikerjakan sebelumnya.”
Alfa tidak langsung menjawab. Dia mengambil denah kerja yang ada di meja, lalu memeriksa bagian yang dimaksud.
“Kalau posisinya kita geser sedikit ke sisi ini, masih bisa dikerjakan?” tanyanya sambil menunjuk gambar.
Bowo mendekat untuk melihat. “Sepertinya bisa, Mas.”
“Coba ukur dulu jaraknya. Saya tidak mau kita mengambil keputusan hanya berdasarkan perkiraan.”
“Baik.”
Bowo segera pergi untuk melakukan pengukuran. Alfa kembali memeriksa denah kerja sambil mempertimbangkan kemungkinan lainnya.
Tak lama kemudian, Bowo kembali membawa hasil pengukuran.
“Masih aman kalau digeser sekitar satu meter,” lapornya.
Alfa mengangguk. “Baik. Kita pakai cara itu. Tapi sebelum mulai, pastikan bagian lain tidak ikut berubah.”
“Siap, Mas.”
Masalah sederhana itu akhirnya bisa diselesaikan tanpa menghentikan pekerjaan.
Hari demi hari, Alfa semakin terbiasa dengan tanggung jawab barunya. Dia tidak hanya memikirkan bagaimana sebuah pekerjaan selesai. Dia juga harus memastikan setiap orang dapat bekerja sesuai tugasnya, material tersedia pada waktunya, dan setiap tahapan berjalan tanpa menimbulkan masalah bagi pekerjaan berikutnya.
***
Tiga bulan berlalu.
Suatu sore, Alfa berdiri di tepi area proyek sambil memperhatikan para pekerja yang sedang menyelesaikan bagian pekerjaan mereka. Dari kejauhan, Mino menghampirinya.
“Mas Alfa,” panggil Mino
Alfa menoleh. “Iya, Pak?”
“Pak Danu tadi menelepon. Beliau menanyakan perkembangan proyek.”
“Sudah saya kirim laporan tadi siang,” jawab Alfa.
“Iya. Beliau bilang hasilnya cukup bagus.”
Alfa hanya tersenyum tipis menanggapi pujian itu.
“Katanya, Mas Alfa sudah mulai terlihat seperti orang yang memang biasa menangani proyek,” lanjut Mino sambil terkekeh.
Alfa menggeleng kecil. “Saya masih dalam proses belajar, Pak.”
“Kalau terus bilang masih belajar, kapan merasa sudah bisa?” goda Mino.
“Kalau berhenti belajar, justru saat itu kita bisa mulai banyak salah,” kata Alfa lantas tertawa.
Mino mengangguk setuju. "Benar, setiap hal baru adalah proses pembelajaran untuk kita."
Alfa kembali memandang proyek yang ada di hadapannya. Bangunan itu memang belum menyerupai pusat perbelanjaan yang nantinya akan berdiri di sana. Namun, sedikit demi sedikit, pekerjaan mulai menunjukkan bentuknya.
Setelah sekian lama, dia merasa dirinya benar-benar sedang membangun sesuatu lagi. Bukan sekadar bangunan. Melainkan kehidupan yang pernah hancur dan kini perlahan dia susun kembali.