Indonesia
NovelToon NovelToon
LANGIT Dan BUMI

LANGIT Dan BUMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.

Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.

Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Bumi melanjutkan ceritanya dengan nada suara yang datar, seolah kepedihan itu sudah lama mati rasa.

"Mayang dan Tedi, dua anak kandung ibu angkatku ibu Nanik, tidak pernah mau mengalah," ujar Bumi. Suaranya monoton, tanpa intonasi, mirip operator mesin otomatis.

"Apapun kesalahan yang mereka perbuat di rumah atau di sekolah, selalu aku yang disalahkan. Aku merasa menjadi tempat sampah untuk semua masalah mereka."

Langit menatap profil samping wajah Bumi. Tidak ada air mata, tidak ada kerutan amarah. Justru kekosongan itulah yang membuat dada Langit terasa sesak.

"Bahkan saat Tedi memecahkan vas bunga kesayangan ibunya," Bumi menambahkan, masih dengan nada datar yang sama. "Dia bilang vas itu melompat sendiri ke arahku karena aku punya medan magnet pembawa sial. Dan mereka percaya."

Langit menelan paksa makanan di mulutnya, lalu berdehem. "Tunggu. Medan magnet? Dia pikir kamu Magneto di film X-Men?"

"Mungkin," jawab Bumi pendek. "Aku sempat berpikir untuk memakai helm besi hari itu, siapa tahu bisa menahan tuduhannya."

Langit menggeleng-gelengkan kepala, mencoba mengusir rasa sedih yang sempat menyergapnya.

Lalu Langit bertanya pada Bumi apa yang terjadi sampai akhirnya hidup di jalanan. "Terus, gimana ceritanya dari pangeran tempat sampah rumah tangga, kamu bisa berakhir menggelandang di sini sama aku?"

Bumi menghela napas pelan, "Puncaknya waktu Tedi menghamili_" Bumi menggantung kalimatnya.

Langit membelalak. "Wah, gila! Menghamili anak orang?!"

"Bukan," potong Bumi cepat.

"Menghamili kucing persia tetangga sebelah yang harganya dua puluh juta. Kucing itu ras murni, dan Tedi membiarkan kucing kampung sekampung masuk ke halaman belakang."

Langit tersedak ludahnya sendiri. "Uhuk! Kucing?! Kamu hampir membuatku jantungan, Bumi!"

"Pemilik kucing itu mengamuk, menuntut ganti rugi besar karena bayinya nanti jadi blasteran tidak jelas," lanjut Bumi, wajahnya tetap lempeng tanpa dosa.

"Tedi bilang ke Ibu kalau aku yang membuka gerbang dan mengundang kucing-kucing kampung itu dengan mantra pemanggil hewan. Ibu langsung mengambil sapu ijuk. Hari itu, aku memutuskan kalau mantra terbaikku adalah mantra menghilang."

"Mantra menghilang?"

"Ya. Aku jalan kaki keluar dari rumah, bawa baju dua pasang, dan pergi"

Langit tidak bisa menahan tawa ringkihnya. Gaya bicara Bumi yang dingin dan sarkas, dikombinasikan dengan analogi-analogi absurdnya, selalu berhasil memecah ketegangan.

"Kamu ini ya, hidup menderita tapi kok ceritanya kayak film komedi" ujar Langit sambil kembali menyendok nasinya.

"Tapi serius, Pertama kali kamu tidur di jalanan, apa yang kamu rasain?"

Bumi terdiam sejenak, menatap langit malam yang tertutup polusi kota. "Satu hal yang pasti. Nyamuk di jalanan lebih punya tata krama daripada Tedi dan Mayang."

"Kok bisa?"

"Nyamuk kalau mau menyedot darahku, mereka permisi dulu pakai suara dengungan. 'Nguuuung', begitu. Jadi aku punya waktu untuk bersiap-siap atau menepuknya. Kalau Tedi dan Mayang? Mereka menusuk dari belakang tanpa sinyal. Tahu-tahu aku sudah dituduh mencuri uang SPP yang sebenarnya mereka pakai untuk beli voucer game online."

Langit tertawa terbahak-bahak sampai bahunya terguncang. "Hahaha! Sialan! Jadi kamu lebih menghormati nyamuk sekarang?"

"Secara etika profesi sebagai parasit? Iya, nyamuk jauh lebih profesional," sahut Bumi lempeng.

"Aduh, perutku sakit," Langit memegangi perutnya yang kram karena tertawa. "Lalu, bagaimana dengan urusan makan? Kamu kan dulu anak rumahan. Pasti kaget harus mengais-ngais atau nunggu kebaikan orang."

Bumi menoleh ke arah Langit, menatap bungkus nasi yang dipegang temannya itu.

"Hari pertama, aku tidak makan dua hari. Hari ketiga, aku melihat lowongan kerja di sebuah warung makan. Syaratnya, jujur, pekerja keras, dan berpenampilan menarik. Aku masuk dengan percaya diri."

"Terus? Diterima?" tanya Langit antusias.

"Pemilik warung menatapku dari bawah ke atas, lalu berkata, 'Mas, kami cari yang berpenampilan menarik, bukan yang berpenampilan menarik simpati'. Aku diusir sebelum sempat menyebutkan namaku."

Tawa Langit kembali meledak. Suara tawanya menggema di lorong sepi emperan toko itu. "Hahaha! Parah banget! Tapi muka kamu emang kadang-kadang mirip orang yang perlu didoakan di pengajian, suram banget!"

"Itu namanya struktur wajah melankolis estetis," bela Bumi dengan nada yang tetap se datar penggaris.

"Hanya orang-orang berjiwa seni tinggi yang paham. Pemilik warung itu cuma paham bakso dan tetelan."

"Oke, oke, melankolis estetis," Langit meredakan tawanya, menyeka air mata yang keluar di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.

"Tapi setelah itu kamu langsung pinter nyari duit di jalanan kan?, secara kamu kan otaknya encer, mantan anak sekolah formal."

Bumi mendengus tipis, reaksi paling ekspresif yang bisa dia tunjukkan malam ini. "Encer di jalanan itu tidak berguna kalau tidak punya otot. Minggu pertama, aku mencoba jadi juru parkir di depan minimarket. Bermodal peluit yang kubeli dari sisa uang di kantong."

"Wah, cocok itu. Gimana hasilnya?"

"Gagal total. Aku tidak tahu kalau lahan parkir itu ada penguasanya. Seorang pria bertato naga di lengan yang lebih mirip cacing tanah menurutku mendatangiku. Dia bertanya, 'Kamu anak buah siapa?, Aku bingung, lalu menjawab dengan jujur."

"Kamu jawab apa?" Langit menatap Bumi dengan mata berbinar, siap menerima lelucon berikutnya.

"Aku bilang, 'Aku anak buah Ibu angkatku, tapi sekarang sudah dipecat karena kasus kucing persia'."

Langit tersedak lagi, kali ini benar-benar parah sampai harus memukul dadanya sendiri. "Uhuk! Uhuk! Uhuk! Demi apa kamu jawab gitu ke preman?!"

"Demi keselamatan jiwaku yang saat itu langsung terancam," kata Bumi tanpa ekspresi.

"Pria itu terdiam lama sekali. Mungkin otaknya sedang mencerna apa hubungannya premanisme jalanan dengan kehamilan kucing, memanfaatkan momen bingungnya, aku langsung lari secepat atlet dasteran kalau ada tukang sayur lewat. Peluitku tertinggal. Modal utamaku amblas."

Langit tertawa

"Bumi, Bumi! Kamu tuh beneran idiot atau jenius sih? Preman ditantang pakai cerita kucing!"

"Aku tidak menantang, aku mengedukasi dia tentang kerasnya dunia penangkaran hewan," sahut Bumi, membuat Langit semakin tidak bisa berhenti tertawa.

Suasana malam itu menjadi begitu hangat oleh tawa Langit. Gaya dingin Bumi yang dikombinasikan dengan keluguan jalanannya menjadi hiburan terbaik bagi Langit yang biasanya harus menghadapi kerasnya hidup dengan urat tegang.

"Tapi ya, Setelah semua kekonyolan itu, kamu akhirnya ketemu aku"

"Hem, malah semakin pusing." Jawab Bumi cepat

"Sialan kamu," Langit melempar gumpalan kertas tisu bekas ke arah Bumi, yang dengan mudah dielakkan oleh pemuda itu hanya dengan kemiringan kepala beberapa derajat saja.

Jangan lupa Komen ya gaes, LIKE, VOTE dan HADIAH nya.

1
Nurhartiningsih
fix bumi ketua mafia yg sedang menyamar
Nurhartiningsih
jadi penasaran siapakah bumi?
Akhila Davina
semangat kak💪❤️
Akhila Davina
mudah" tidak ada lagi hambatan
Nurhartiningsih
jangan2 bumi adl CEO yg sedang menyamar
Nurhartiningsih
seperti biasa...pengkhianatnya adl orang dekat
Nurhartiningsih
apakah ini juga ada kaitannya dg keluarga Nugraha????
Akhila Davina
good job Rian❤️
Akhila Davina
semangat 💪❤️
Siti Aisah
oh"sebenernya masih kurang karena penasaran menunggu besok.. tapi apalah daya jadi" terimakasih thor 🤣
Siti Aisah
bang bumi dan rian the best lah.. walaupun bergadang sampai pagi demi langit yg bisa tidur nyenyak😜
Siti Aisah
syukur lah bumi sudah memberikan ide untuk menyelesaikan masalah langit.. walaupun dgn ide yg nyeleneh😁
Kaa
sungguh tak sabar ingin tahu besok gimana Hendra ngadapin itu semua
Kaa
seru Thor aku suka gaya bicara bumi👍
Siti Aisah
thor kukira cuman satu bab 🤭penasaran akan kah langit dan bumi bisa mengatasi masalah yg terjadi??tpi yg penting mah langit bisa tidur sambil di peyuk bumi🤗
Kaa
bumi sungguh menghanyutkan
Akhila Davina
ditunggu
Susy Ariyani
semangat dalam berkarya
Susy Ariyani
semangat dalam berkarya
Akhila Davina
semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!