H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Sebelum berangkat menemui Bu Aura siang tadi, Mahika sempat mengirimkan pesan singkat kepada Reno. Ia sengaja mengabarkan bahwa pertemuannya dengan CEO Aura Fashion itu akan memakan waktu cukup lama sekitar lima jam karena ada pembahasan draf koleksi utama dan evaluasi tahunan. Mahika bahkan meminta Reno untuk menjemputnya di restoran tersebut pada pukul empat sore.
Reno, yang mengira calon istrinya sedang sibuk berjam-jam bersama sang atasan, menyambut kabar itu dengan gembira. Bagi Reno, itu adalah celah sempurna untuk menuntaskan urusan pribadinya tanpa pengawasan.
Namun, pertemuan Mahika dan Bu Aura di restoran fine dining itu ternyata berlangsung cepat dan efisien. Hanya dalam waktu dua jam, seluruh kesepakatan strategis mulai dari pengamanan hak cipta hingga rencana kepindahan rahasia Mahika ke studio privat di Bandung telah rampung ditandatangani.
Pukul setengah tiga sore, taksi online yang membawa Mahika melaju memasuki gang rumah orang tuanya.
Saat mobil pelan-pelan berhenti di depan pagar, matanya langsung tertangkap pada sebuah pemandangan yang tak asing. Sedan hitam milik Reno sudah terparkir rapi di halaman rumah.
Mahika menyunggingkan senyum dingin di balik maskernya. Lima jam, ya? "Kamu pikir aku masih di restoran," Reno, batinnya seraya membayar ongkos taksi.
Mahika melangkah turun tanpa menimbulkan suara. Ia mendorong pintu pagar yang sengaja tak dikunci rapat, lalu melangkah pelan menaiki anak tangga teras. Saat jemarinya hendak menyentuh gagang pintu utama yang sedikit terbuka, bentakan keras dan jeritan emosi dari arah ruang tamu mendadak memecah keheningan rumah.
"Kalian ini benar-benar tidak bisa pakai otak ya?!" suara Pak Bambang menggelegar murka, suaranya sarat akan emosi yang ditahan rapat-rapat. "Bapak kan sudah bilang, jalani hubungan kalian itu diam-diam di belakang Mahika! Kenapa sampai kebobolan begini, Gisel?!"
Mahika menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Dadanya berdesir tajam.
"Bapak jangan bentak-bentak Gisel terus!" sahut Bu Maya memotong dengan nada membela yang tak kalah tinggi. "Gisel juga tidak mau kejadiannya seperti ini! Lagian Reno juga harus tanggung jawab."
"Bukan cuma tanggung jawab, Maya!" bentak Pak Bambang panik, mukanya merah padam. "Bapak ini bingung mau ditaruh di mana muka kita kalau sampai ketahuan orang luar! Dua puluh tujuh hari lagi Mahika sama Reno mau nikah. Semua undangan sudah siap! Kalau Gisel hamil begini, bagaimana skenario kita, hah?."
"Ya batalin saja pernikahan sama Mahika!" jerit Gisel terisak keras, bernada histeris secara manipulatif. "Batalin pernikahan itu, Pak! Gisel enggak mau anak di dalam kandungan Gisel lahir tanpa ayah! Gisel yang lebih butuh Reno sekarang, bukan Mahika!"
"Gisel, kamu pikir membatalkan pernikahan H-30 itu gampang?!" semprot Pak Bambang lagi, walau nadanya jelas bingung dan panik setengah mati memikirkan nasib anak kesayangannya. "Kalau dibatalkan sekarang, Mahika pasti curiga dan ngamuk! Terus rumah baru dan uang pernikahan yang sudah Mahika keluarkan bagaimana?."
"Pak... tolong pelankan suara Bapak," suara Reno terdengar bergema panik, penuh ketakutan. "Jangan sampai tetangga dengar. Saya janji... saya bakal tanggung jawab sama Gisel."
Pemandangan di dalam ruang tamu itu benar-benar menyerupai lingkaran setan yang sedang panik atas kebusukan dan kecerobohan yang mereka ciptakan sendiri.
Mahika tidak sudi menanti lebih lama di luar. Dengan gerakan perlahan namun tegas, ia mendorong pintu kayu utama hingga terbuka lebar.
Klek.
Suara engsel pintu memecah keributan di ruang tamu.
Seketika, suasana ruangan menjadi hening mencekik. Empat pasang mata di dalam sana membelalak sempurna, membeku bagai patung.
Di tengah ruang tamu, Pak Bambang berdiri dengan napas kempas-kempis dan muka merah padam. Bu Maya berdiri di samping sofa dengan raut pias. Dan di sudut ruangan, Gisella sedang pasang badan berdiri memeluk erat lengan Reno, sementara Reno merangkul pinggang Gisella penuh perlindungan.
Ketegangan yang teramat pekat mendadak melingkupi udara ruangan.
Mahika berdiri anggun di ambang pintu, merapikan letak blazer kremnya dengan sangat tenang. Ia memandangi satu per satu wajah manusia di depannya tanpa ada riak emosi atau air mata.
"Wah, wah..." Mahika menghembuskan napas pelan, mengulas senyum paling dingin yang pernah mereka lihat. "Rupanya aku sedang ada di tengah-tengah lingkaran setan yang sedang bertengkar."
Wajah Reno mendadak pucat pasi, seperti mayat yang kehabisan darah. Cengkeramannya di pinggang Gisella mendadak terlepas refleks karena panik yang luar biasa.
"Ma-Mahika?!" suara Reno bergetar hebat, gagap dan ketakutan setengah mati. Pria itu melangkah maju satu tindak, mencoba mendekati Mahika dengan tangan terulur. "Kamu... kok kamu sudah pulang? Katanya pertemuannya lima jam?"
"Kenapa, Ren?" potong Mahika datar, matanya menatap lurus manik mata tunangannya. "Kaget karena skenario perzinahan kalian terbongkar lebih cepat dari perkiraan?"
"Mahika, dengarkan aku dulu! Ini enggak seperti yang kamu lihat!" cerocos Reno panik, air mata kecemasan mulai menggenang di matanya. Pria itu mencoba meraih jemari Mahika. "Aku bisa jelaskan semuanya, Sayang! Tolong dengarkan aku dulu!"
Plak!
Mahika menghempas tangan Reno dengan sekali sentakan keras, menatap pria itu dengan pandangan penuh jijik.
"Jangan pernah sentuh aku pakai tangan kotor kamu itu, Reno," tegur Mahika sehalus sutra namun tajam menembus dada. "Aku tidak butuh penjelasan murah dari seorang penipu. Aku sudah tahu semua kelakuan busuk kalian. Semua orang di rumah ini."
Brak!
Kata-kata Mahika menghantam kesadaran mereka bagai bom yang meledak. Pak Bambang tersentak kaget, mundur satu langkah dengan wajah syok. Bu Maya dan Gisella membelalak tak percaya.
"Ka-kamu... sudah tahu semuanya, Mahika?" bisik Pak Bambang dengan suara bergetar kelam.
"Iya, Pak. Aku tahu," jawab Mahika menatap ayahnya lurus-lurus. "Aku tahu Reno dan Kak Gisel sudah main gila selama dua tahun di belakangku. Dan aku tahu Bapak sama Ibu ikut menyembunyikan dan mendukung perbuatan mereka."
Reno yang ketakutan setengah mati kembali berlutut di dekat kaki Mahika, meraih ujung blazer wanita itu. "Mahika, tolong... maafkan aku! Kita bisa perbaiki ini! Pernikahan kita tinggal tiga puluh hari lagi, Mahika! Aku cinta sama kamu."
Namun sebelum Mahika sempat membalas, Bu Maya mendadak melangkah maju. Raut pias di wajah wanita tua itu secara ajaib berganti menjadi raut wajah dingin, angkuh, dan pasang badan membela Gisella.
"Baguslah kalau kamu sudah tahu semuanya, Mahika!" potong Bu Maya dengan nada suara keras dan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Pak Bambang yang tadinya bingung dan panik, kini ikut melangkah maju berdiri di samping istrinya dan Gisella, memilih pasang badan membela anak kesayangannya.
"Iya! Karena kamu sudah tahu semuanya, Mahika..." timpal Pak Bambang dengan nada tegas dan dingin, "jadi sudah seharusnya kamu merelakan acara pernikahan yang sudah kamu susun itu buat Kakakmu."
Dada Mahika berdenyut kencang. Miris, mual, kesal, dan amarah luar biasa berkecamuk menjadi satu di dalam kepalanya. Kedua orang tua kandungnya sendiri... secara terang-terangan dan kompak memintanya mengalah menyerahkan calon suami dan acara pernikahannya kepada sang kakak yang hamil di luar nikah.
"Gisel ini sedang hamil anak Reno, Mahika!" lanjut Bu Maya dengan wajah menuntut yang teramat picik. "Anak dalam kandungannya itu cucu kami! Kamu kan selama ini selalu mengalah buat Kakakmu! Sekali ini saja... relakan Reno dan acara pernikahan itu buat Gisel! Biar Gisel yang naik ke pelaminan gantikan kamu."
"Betul kata Ibumu," tambah Pak Bambang tanpa dosa. "Kamu itu masih muda, Mahika. Kamu masih bisa cari laki-laki lain nanti. Tapi Kakakmu butuh Reno sekarang untuk menyelamatkan nama baiknya dan anak di kandungannya!"
Gisel yang mendengar pembelaan penuh dari kedua orang tuanya perlahan menegakkan tubuhnya, menatap Mahika dengan binar mata menantang yang dipenuhi harapan rakus.
Mahika berdiri mematung di tengah ruangan.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, rasa ingin murka dan berteriak memaki manusia-manusia iblis ini hampir tak tertahankan. Namun, Mahika menarik napas panjang, membiarkan dinginnya logika menguasai seluruh aliran darahnya.
Mengamuk sekarang hanya akan membuang tenaganya dan memberi mereka waktu untuk menyusun rencana perlarian.
Mahika menyunggingkan senyum tipis sebuah senyuman paling sinis dan sarat akan ironi yang belum pernah disaksikan seisi rumah.
"Merelakan pernikahan ini buat Kak Gisel?" ulang Mahika pelan, suaranya tenang namun sarat akan ancaman terselubung. "Baik. Kalau itu yang Ibu, Bapak, Kak Gisel, dan Reno mau... aku persilakan."
Reno terbelalak kaget mendengar jawaban Mahika yang mendadak pasrah. "Ma-Mahika? Kamu... kamu serius?"
Gisel, Pak Bambang, dan Bu Maya bernapas lega, merasa bahwa Mahika kembali menjadi anak penurut yang mudah ditindas seperti biasanya.
Tanpa membalas pertanyaan Reno atau menatap wajah orang tuanya lagi, Mahika berbalik arah dengan langkah anggun menuju kamarnya.
Ia membuka pintu kamar, meraih dua koper besar abu-abu gelap milik pribadi yang sudah ia pak rapi sejak semalam, lalu menyeretnya keluar dari kamar.
Klek. Sret... sret...
Suara roda koper yang diseret di atas lantai keramik kembali bergema di ruang tamu. Empat orang di sana menatap Mahika dengan bingung dan cemas.
"Kamu... kamu mau ke mana bawa koper-koper itu, Mahika?!" tanya Pak Bambang menatap adiknya yang siap melangkah pergi.
Mahika menghentikan langkahnya tepat di pintu depan. Ia memutar tubuhnya sedikit, menatap keluarga toxic dan calon mantan tunangannya itu dengan sorot mata yang begitu dingin bagai es malam.
"Aku pergi dari rumah ini," ucap Mahika tegas dan jernih. "Ambil saja pria brengsek ini, Kak Gisel. Ambil saja seluruh susunan acara pernikahan itu, Bu, Pak."
Mahika melirik Reno yang berdiri membatu. "Tapi ingat satu hal... apa pun yang kalian impikan dan rencanakan di atas penderitaanku... tidak akan pernah berjalan sesuai dengan kemauan kalian."
"Mahika! Jangan pergi dulu! Kita bahas ini baik-baik!" jerit Reno hendak mengejar.
Namun Mahika mengangkat satu tangannya, menghentikan langkah Reno secara mutlak.
"Jangan pernah cari aku lagi," tegas Mahika dingin.
Dengan memegang erat kedua gagang kopernya, Mahika berbalik dan melangkah mantap menembus pintu rumah, meninggalkan ruang tamu yang kini dicekam oleh ketakutan dan kepanikan yang mendalam.
Di luar, angin sore bertiup kencang membelai hijabnya. Kalea Mahika melangkah meninggalkan rumah tua yang penuh kepalsuan itu tanpa menoleh lagi. Panggung jebakan sudah dipasang, dan ia akan menyaksikan kehancuran mereka semua dari jarak aman yang tak tersentuh.
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂