Indonesia
NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:949
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Tanda Tangan Kedua

...#...

...Bima tidak langsung menjawab. Ia menatap nama itu sampai huruf-hurufnya terasa seperti bergerak sendiri di atas kertas. Matteo Vieri. Tinta birunya agak pudar di bagian tengah, seolah pena yang dipakai menekan terlalu pelan, atau tangan yang menulisnya tidak lagi kuat....

..."Itu bukan tanda tangan saya," katanya....

..."Saya tahu."...

..."Terus kenapa ada di situ?"...

...Hendar menutup map biru itu dengan dua jari, perlahan, seperti menutup buku di perpustakaan. "Karena surat kuasa ini memang dibuat untuk ditandatangani orang lain. Yang tanda tangan di kolom atas itu sudah meninggal. Kamu tinggal menerima hak yang ditinggalkannya."...

..."Bapak saya nggak pernah punya gudang."...

..."Ayahmu tidak punya gudang. Ayahmu punya pekerjaan di gudang."...

...Bima menarik napas dan merasakan perih di lengan kirinya menjalar sampai ke leher. Ia mengepalkan tangan kanan, lalu membukanya lagi. "Saya mau pulang."...

..."Silakan." Hendar memiringkan kepala sedikit. "Tapi pintunya tidak akan terbuka untukmu seperti sekarang. Ada kewajiban pajak lahan, ada sewa dermaga yang jatuh tempo bulan depan, dan ada orang-orang yang sudah mengurus semua itu atas namamu. Kamu tinggal tanda tangan di kolom kosong, lalu semuanya beres."...

..."Dan kalau saya nggak tanda tangan?"...

...Hendar tersenyum, tapi kali ini senyumnya tidak sampai ke mata. "Kalau kamu tidak tanda tangan, warungmu tetap berdiri. Adikmu tetap sekolah. Ibumu tetap memasak nasi goreng. Tidak ada yang berubah, kecuali bahwa semua orang akan tahu kamu menolak sesuatu yang sudah menjadi milikmu."...

...Perempuan muda di belakang meja pura-pura sibuk dengan keyboard. Jarinya tidak menekan apa-apa....

...Bima melangkah ke meja dan mengambil kertas kuasa itu. Ia membaliknya, mencari sesuatu yang bisa ia pegang selain nama Vieri. Di bagian bawah ada kolom saksi. Satu nama sudah tertulis dengan tulisan tangan yang tergesa....

...*Darto S.*...

...Tangannya berhenti....

..."Pak Darto saksinya?" tanyanya pelan....

..."Iya," jawab Hendar. "Dia yang paling lama mengurus lahan itu sebelum kamu."...

..."Dia nggak pernah bilang."...

..."Kamu juga tidak pernah tanya."...

...Bima meletakkan kertas itu dengan hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah. Ia menatap Hendar, dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruko itu, ia bisa melihat laki-laki di depannya sedikit gelisah. Jari Hendar mengetuk sisi map, dua kali, lalu berhenti....

..."Siapa perempuan yang tadi sama saya?" tanya Bima....

..."Kamu sudah tahu."...

..."Saya mau dengar dari Bapak."...

...Hendar tertawa kecil, tanpa suara. "Dia belum memperkenalkan dirinya dengan benar padamu?"...

..."Dia nggak mau."...

..."Itu sudah jawaban yang cukup bagus." Hendar merapikan lengan jasnya. "Dia tidak suka diperkenalkan. Biasanya orang yang memperkenalkannya akan kehilangan sesuatu. Mungkin kamu juga akan kehilangan sesuatu, Bima. Tapi itu bukan urusanku."...

..."Terus urusan Bapak apa?"...

..."Memastikan kertas-kertas ini rapi."...

...Bima menatap map biru itu sekali lagi, lalu berbalik ke pintu. Perempuan muda di meja memanggilnya dengan suara kecil, "Pak, ini fotokopinya belum..." tapi Bima tidak menoleh....

... ...

...Udara di luar lembap dan asin. Matahari sudah condong ke barat, dan jalan di depan ruko ramai oleh truk pengangkut kontainer yang lewat satu per satu. Bima berjalan cepat ke arah gerbang pelabuhan, tangan kanannya masuk ke saku jaket, menggenggam fotokopi formulir yang kini terasa berat....

...Rico tidak ada. Mobil hitam juga tidak....

...Ia baru sadar sudah berjalan lima menit ketika mendengar motor di belakangnya. Bunyi mesinnya pelan, mengikuti dari jarak yang tidak terlalu dekat. Bima tidak menoleh. Ia hanya mempercepat langkahnya dan menyeberang ke arah pasar ikan yang masih ramai....

...Bau amis langsung menghantam. Lantai pasar basah dan licin oleh air es yang menetes dari bak-bak besar. Penjual ikan berteriak menawarkan dagangan, ember-ember plastik berderit di atas semen, dan seorang ibu-ibu menawar cumi dengan suara melengking. Bima menyelip di antara mereka, bahunya membentur keranjang, dan ia mendengar seseorang mengumpat di belakang....

...Ia berhenti di belakang tumpukan kardus kosong, mengatur napas, dan mengintip ke arah gerbang....

...Motor itu masuk pelan. Pengendaranya memakai jaket hitam dan helm yang tidak diangkat. Ia berhenti di depan bak es, menoleh ke kiri dan kanan, lalu turun dan berjalan masuk ke antara lapak dengan langkah santai, seperti orang yang sedang mencari ikan terbaik untuk makan malam....

...Bima menggeser tubuhnya ke belakang kardus. Lengan kirinya berdenyut keras, dan ia menggigit bibir supaya tidak bersuara. Dari celah kardus ia melihat sepatu orang itu melewati genangan air, lalu berhenti tepat di depan lapak tempat Bima tadi berdiri....

..."Mas Bima?" panggil orang itu, pelan dan hampir ramah. "Keluar, Mas. Saya cuma mau bicara."...

...Bima tidak bergerak....

...Penjual ikan di lapak sebelah menoleh, lalu buru-buru menunduk ke ember-embernya. Ia tahu cara orang kecil menghindari masalah. Diam dan pura-pura sibuk....

...Orang itu melangkah lebih dekat. Bima melihat tangannya masuk ke saku jaket. Ia tidak tahu apa yang ada di sana, tapi ia tahu tangan itu tidak akan mengeluarkan kacang goreng....

...Ia meraih ember kosong dari tumpukan di sebelahnya, lalu melemparkannya ke arah kepala orang itu....

...Ember itu tidak mengenai, hanya menghantam bahu. Orang itu menoleh dan mengumpat. Bima sudah berlari ke arah lorong di antara bak es. Sepatunya tergelincir di genangan, tubuhnya oleng, dan lengan kirinya menghantam tepi bak. Ia menahan teriakan. Es yang tumpah ke lantai membasahi celananya sampai lutut....

..."Berhenti!"...

...Bima tidak berhenti. Ia menabrak keranjang cumi, menerobos sekelompok ibu-ibu yang menjerit, dan hampir jatuh ketika ujung sepatunya menginjak tutup kardus. Ia mendengar langkah berat di belakangnya, lebih cepat sekarang....

...Di ujung lorong, ada tangga semen menuju jalan. Bima memanjatnya dengan satu tangan, dan di atas ia hampir menabrak sebuah mobil yang baru berhenti....

...Pintu belakang terbuka dari dalam....

..."Masuk," kata suara yang sudah ia kenal....

...Bima menoleh. Di kursi belakang, perempuan itu menatapnya dengan rahang mengeras dan rambut yang berantakan oleh angin. Di sebelahnya, Rico sudah menggenggam setir sambil melirik ke tangga pasar....

...Di belakang Bima, sepatu kulit menuruni anak tangga dengan tergesa....

..."Bima!" bentak perempuan itu. "Masuk sekarang!"...

...Bima melompat masuk. Pintu menutup, dan mobil langsung melaju sebelum ia sempat duduk dengan benar. Dari kaca belakang ia melihat orang berjaket hitam berdiri di tepi jalan, menatap mobil itu sambil menyeka keringat dari wajahnya....

... ...

...Mobil berbelok ke jalan besar. Bima menyandarkan kepala ke jok dan memejamkan mata. Denyut di lengannya seperti palu yang tidak mau berhenti....

..."Kamu pergi sendiri," kata perempuan itu....

..."Iya."...

..."Setelah aku bilang jangan."...

..."Mbak nggak bilang apa-apa tadi pagi."...

..."Aku bilang jangan telepon Darto. Aku tidak bilang jangan keluar."...

..."Itu sama aja."...

..."Tidak."...

...Bima membuka mata. Ia menoleh ke arah perempuan itu, dan melihat tangannya di pangkuan mencengkeram tas kecil, cukup keras sampai kuku-kukunya memutih....

..."Mereka tahu saya ke ruko itu," kata Bima. "Mereka nunggu saya di pasar."...

..."Aku tahu."...

..."Mbak tahu dari awal?"...

...Perempuan itu tidak menjawab. Ia menatap jalan, lalu berkata pelan, "Dia tidak seharusnya ikut menyapamu hari ini."...

..."Siapa?"...

..."Orang yang duduk di meja pojok ruko."...

..."Saya nggak ketemu orang itu."...

..."Kamu ketemu Hendar."...

...Bima mengangguk pelan. Ia merogoh saku dan mengeluarkan fotokopi formulir. Kertasnya sudah lembek karena keringat. Ia membukanya di atas paha, lalu menunjuk kolom bawah....

..."Di sini ada nama Mbak," katanya....

...Perempuan itu menoleh. Hanya sedikit, tapi cukup untuk membuat Bima melihat ekspresinya berubah. Tidak kaget. Lebih seperti orang yang mendengar nama tempat lama yang tidak ingin ia kunjungi lagi....

..."Nama apa?"...

..."Nggak tahu. Saya cuma tahu Om Gio pernah manggil Mbak pakai nama itu." Bima menelan ludah. "Alessia."...

...Hening....

...Rico berhenti menyetir di lampu merah. Jalan di depan mereka penuh motor yang berhenti sambil menunggu lampu hijau. Seorang pengendara ojek menoleh ke mobil mereka, lalu kembali menatap jalan....

..."Om Gio bilang itu di pelabuhan," lanjut Bima. "Dia bilang Mbak dulu nggak sekeras ini."...

..."Om Gio sudah terlalu banyak bicara."...

..."Itu nama Mbak?"...

...Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia menatap jendela, lalu tangannya bergerak ke pangkuan, menyembunyikan tangan kanannya di balik tas....

..."Itu nama yang dulu," katanya akhirnya....

..."Sekarang?"...

..."Sekarang orang memanggilku dengan gelar yang tidak perlu kamu pakai."...

..."Saya nggak pernah manggil Mbak pakai gelar apa-apa."...

..."Aku tahu. Itu sebabnya aku tidak keberatan dengan 'Mbak'."...

...Bima menatap sisi wajahnya. Ada bekas lelah di bawah mata, dan rambut yang tadi tertiup angin masih menempel di pelipisnya. Ia ingin marah. Ia ingin bertanya kenapa perempuan ini membawanya ke gudang, ke kapal, ke ruko, dan tidak pernah sekali pun menjelaskan apa-apa dengan jujur. Tapi yang keluar justru pertanyaan lain....

..."Kenapa nama Matteo Vieri ada di surat kuasa itu?"...

...Perempuan itu menoleh cepat. Kali ini ada sesuatu yang benar-benar berubah di wajahnya. Matanya menyipit, dan napasnya tertahan sepersekian detik....

..."Kamu lihat itu?"...

..."Hendar yang nunjukin."...

..."Dia tidak seharusnya menunjukkan itu."...

..."Dia bilang itu bukan buat ditanda tangani. Cuma buat dibaca."...

..."Dan kamu percaya?"...

..."Saya nggak percaya siapa pun." Bima memegang fotokopi itu lebih erat. "Tapi tanda tangannya Vieri itu tinta biru. Tanggalnya sama dengan telepon yang Ibu terima. Dan Ibu bilang bapak saya meninggal dua belas tahun lalu."...

..."Ayahku juga meninggal dua belas tahun lalu."...

...Suaranya tidak keras. Justru itu yang membuat Bima terdiam. Perempuan itu menatap lurus ke depan, ke punggung Rico, ke lampu lalu lintas yang akhirnya berubah hijau....

..."Di pelabuhan," katanya pelan. "Di jalan tol. Aku lihat mobilnya terbakar dari seberang."...

...Mobil mulai berjalan. Bima tidak tahu harus bicara apa....

..."Mbak lihat sendiri?"...

..."Aku lihat sebagian. Yang lain aku dengar dari orang."...

..."Dari siapa?"...

..."Dari orang yang bilang dia sudah menaruh tanda tangan ayahku di kertas yang sama dengan tanda tangan ayahmu."...

...Bima merasakan dadanya menegang. Ia membuka formulir itu di pangkuan, lalu menatap kolom pemberi kuasa, nama Matteo Vieri dengan tinta biru yang memudar. Ia membayangkan tangan yang menulis itu. Tangan yang menggenggam pena di sebuah ruangan yang tidak pernah ia lihat, sebelum terbakar di jalan tol....

...Atau tangan yang sama sekali bukan milik laki-laki yang sudah mati....

..."Kalau ayah Mbak sudah mati," kata Bima perlahan, "terus siapa yang tanda tangan ini bulan lalu?"...

...Perempuan itu tidak menjawab. Tangannya keluar dari balik tas, dan untuk pertama kalinya Bima melihat jari-jarinya gemetar sangat halus, seperti senar yang baru saja dipetik dan belum berhenti bergetar....

...Ponsel Bima bergetar di saku jaket....

...Ia mengeluarkannya dengan tangan kanan. Satu pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan, dan hanya berisi satu foto. Foto lembar kuasa itu, difoto dari atas meja ruko, dengan tangan seseorang di tepinya. Tangan itu memakai cincin tipis di jari manis....

...Di bawah foto, satu baris pesan....

...*Dia sudah tahu namamu sejak dia masih di kapal.*...

...Bima membalik layar ke arah perempuan itu tanpa bicara. Perempuan itu menatapnya sebentar, lalu menatap foto itu lama, dan wajahnya perlahan kehilangan warna....

..."Itu tangan siapa?" tanya Bima pelan....

...Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya menatap cincin di jari itu, seolah baru pertama kali melihatnya, dan dari kursi depan Rico menoleh dengan wajah yang tidak bisa Bima baca....

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa tuh penasaran banget deh.. kenapa jadi misterius ya.. 🤔🤔🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu judes sekali sih mbak.. 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: waahh kayak siapa ya.. 🤔😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah terus yang katanya sudah meninggal terus dimandikan itu jenazah siapa dong? 🤔🤔🤔 wah ini yang aku suka dari novel kak Andri.. selalu tidak tertebak... kadang aku suka salah tebak..😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bisa aja kak... 😂😂😂 apanya uang mau digadaikan 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
tegang cuy... 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ya ampun bu.. kenapa juga mesti ditampar sih.. 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu suka ngeyel klau dibilangin tuh Bima ih... kalau kamu bisa bela diri, minimal kamu bisa menolong orang tanpa menyusahkan orang lain.. sedangkan ini, kamu sendiri saja hampir mati tadi kan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa bedanya sama orang yang sudah tahu api memilih diam...apakah itu masih sama 🤔🤔🤔
tania Weh
Kakkkkk 😭❤️ bikin deg-degan aja! Aku bingung mau nyelametin Axel atau meluk Kenzo duluan 😩🔥 Tapi kalau Kak Author yang nyulik hati aku, aku nggak mau diselamatkan deh, maunya langsung dibawa ke pelaminan! 🤭💋🤣❤️
Silva Ggggjg
luar biasa... cerita terbaik
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu juga kan berdiri.. seperempat berdiri 😅😅 kalau bungkuk kan setengah berdiri... 😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
nah itu berarti kapal nya ayahnya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
gila tegangan tinggi cuy.. 😱😱😱
tuti raniati
oalah nenek plenger rupanya Thor 🤭
EVandri Beloved❤❤: iya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
Mungin maksudnya tikus negara kali ya...😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
terus nama yang cocok buatnya siapa kira² menurut kamu Bima... apakah Surti.. Siti... satu.. 😂😂
EVandri Beloved❤❤: atau siapa???
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu sepertinya yang disimpan di belakang pinggangnya pasti cuman pistol yang keluar gelembung kan.. 😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan siapa dia 😂😂😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mau kaget tapi malah jadi pengen ketawa... kamu jawabnya watados sekali mbak... 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bukan.. yang sama mah mangtados.. baru adik kaka mereka 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh pasti malu banget deh 😅😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
baru tahu. ternyata mobil bisa terpeleset.. aku kir hanya manusia saja.... kak authornya bisa ae.. 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan hanya kak author yang bisa seperti itu 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
jawaban yang pintar😂😂 ditanya pucat karna hanya tersorot lampu jalan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siapa tuh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!