Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji di Pagi yang Berat
Pagi itu, langit di luar rumah sakit tampak pucat.
Awan tipis menutupi matahari yang baru mulai naik, membuat cahaya yang masuk melalui jendela kamar terasa redup dan dingin. Alya masih terbaring di ranjang dengan mata setengah terbuka. Selang infus di punggung tangannya membuat gerakannya terbatas, sementara tubuhnya terasa lelah seolah ia tidak tidur sama sekali.
Namun tangan Arga masih menggenggam jemarinya.
Alya menatap genggaman itu.
Tangan suaminya besar, hangat, dan sedikit gemetar.
“Mas belum tidur?” tanyanya pelan.
Arga mengangkat wajah. Matanya tampak lelah, dengan lingkaran gelap yang semakin jelas di bawahnya. “Sudah sedikit.”
“Tidak ada yang tidur dengan cara begitu.”
“Kamu juga belum tidur nyenyak.”
Alya tersenyum kecil. “Aku sakit.”
Arga tidak menjawab.
Ia hanya menggeser kursinya sedikit lebih dekat. Tangan yang lain mengambil gelas air dari meja, lalu menyodorkannya kepada Alya.
“Minum dulu.”
Alya menatap gelas itu. “Mas mau menyusui aku juga?”
Arga terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Kalau kamu mau.”
Alya tertawa kecil. Tawa itu lemah, tetapi cukup untuk membuat Arga merasa lega. Dalam beberapa hari terakhir, ia hampir tidak pernah mendengar Alya tertawa.
“Nggak usah,” katanya. “Aku bisa minum sendiri.”
Arga tetap membantu menopang gelas tersebut hingga Alya selesai minum. Setelah itu, ia meletakkannya kembali di meja dan mengambil selimut yang sedikit terlepas dari bahu Alya.
“Mas,” panggil Alya.
“Hm?”
“Mas serius nggak akan pergi hari ini?”
Arga menatapnya.
Pertanyaan itu terdengar seperti permintaan seorang anak kecil, bukan seorang istri yang telah menikah selama tiga tahun. Alya sendiri tampak menyadari hal itu. Ia segera menunduk, seolah ingin menarik kata-katanya kembali.
“Lupakan. Aku cuma—”
“Aku serius.”
Alya mengangkat wajah.
“Hari ini aku tidak akan pergi,” ucap Arga tegas. “Kecuali dokter menyuruh aku pergi.”
Alya menatapnya lama.
“Kalau Keisya telepon?”
“Kalau dia telepon, aku akan bilang aku sedang menemani istriku.”
“Kalau dia minta Mas datang?”
“Aku akan bilang tidak.”
“Kalau dia menangis?”
Arga terdiam.
Alya menunggu jawaban itu dengan napas yang tertahan. Ia tahu pertanyaannya terlalu jujur, terlalu menyakitkan. Namun ia tidak ingin lagi berharap pada janji yang tidak jelas.
“Kalau dia menangis,” kata Arga akhirnya, “aku akan tetap di sini.”
Alya menatap suaminya.
“Mas yakin?”
“Aku tidak tahu apakah aku yakin dengan semuanya,” jawab Arga jujur. “Tapi aku yakin hari ini aku tidak mau meninggalkan kamu.”
Alya menunduk.
Air matanya menggenang, tetapi kali ini ia tidak menangis. Ia hanya memejamkan mata, seolah ingin menyimpan kalimat itu di dalam ingatannya sebelum kenyataan datang dan meruntuhkannya kembali.
“Terima kasih,” bisiknya.
Arga menggenggam tangannya lebih erat.
“Jangan berterima kasih untuk hal yang seharusnya sudah aku lakukan sejak dulu.”
***
Pukul delapan, seorang perawat masuk membawa tray berisi sarapan.
“Selamat pagi, Bu Alya,” sapanya ramah. “Dokter menyuruh Ibu makan sedikit dulu sebelum pemeriksaan.”
Alya melihat isi tray tersebut. Ada bubur ayam, potongan buah, dan segelas air putih. Makanan sederhana yang seharusnya tidak sulit untuk dimakan. Namun begitu mencium aromanya, perutnya langsung terasa tidak nyaman.
“Nanti saja,” ucapnya.
“Bu, Ibu harus makan,” kata perawat lembut.
“Aku nggak bisa.”
Arga segera berdiri dari kursinya. “Kenapa?”
“Mual.”
“Mual karena penyakit atau karena belum makan?” tanya perawat.
Alya menatap piring itu. “Dua-duanya mungkin.”
Arga menatap Alya dengan khawatir. Ia mengambil sendok, lalu mengaduk bubur pelan-pelan.
“Coba satu sendok,” katanya.
Alya menatapnya. “Mas, aku—”
“Satu sendok saja.”
Nada suaranya lembut, tetapi tidak bisa dibantah.
Alya akhirnya membuka mulut.
Bubur itu masuk perlahan. Ia mengunyahnya dengan mata terpejam, berusaha menahan rasa mual yang terus naik. Setelah menelan, ia menggeleng pelan.
“Tidak bisa lagi.”
Arga tidak memaksa. Ia meletakkan sendok itu kembali di piring.
“Cukup,” katanya. “Nanti kita tanya dokter.”
Perawat mencatat sesuatu di papan catatan. “Kalau Ibu terus mual, kami beri obat sesuai anjuran dokter. Jangan dipaksakan.”
Arga mengangguk. “Tolong segera.”
“Baik, Pak.”
Setelah perawat keluar, ruangan kembali sunyi.
Alya menatap piring bubur yang hampir tidak tersentuh. “Maaf.”
“Untuk apa?”
“Aku bikin Mas repot.”
Arga menatapnya. “Alya, kamu sedang sakit. Ini bukan soal merepotkan.”
“Aku tahu.” Alya menunduk. “Tapi Mas selalu bilang aku terlalu sensitif kalau aku minta ditemani. Sekarang aku sakit, Mas tinggal di sini terus. Aku takut nanti Mas capek, lalu nanti Mas marah lagi.”
Wajah Arga berubah.
Ia tidak marah.
Justru tampak seperti seseorang yang baru diberi tahu bahwa dirinya telah menjadi sumber ketakutan bagi orang yang seharusnya ia lindungi.
“Aku tidak akan marah karena kamu sakit,” katanya pelan.
“Mas bilang begitu sekarang.”
“Alya.”
Alya mengangkat wajah.
Arga menatapnya serius. “Aku tahu kamu tidak bisa langsung percaya. Aku tahu aku sudah membuat kamu takut untuk meminta apa pun. Tapi aku tidak mau kamu terus merasa harus mengalah hanya supaya aku nyaman.”
Alya memejamkan mata sebentar.
“Mas nggak tahu betapa lama aku menunggu Mas bilang begitu.”
Arga menarik napas panjang.
“Aku tahu.”
“Tidak.” Alya menggeleng. “Mas baru tahu sekarang.”
Kali ini, Arga tidak memperdebatkannya.
Ia hanya duduk kembali di kursi, lalu menggenggam tangan Alya yang tidak terpasang infus.
“Maka mulai sekarang,” katanya, “aku akan belajar mendengar.”
***
Pukul sembilan lewat sepuluh menit, pintu kamar terbuka.
Dokter hematologi masuk bersama seorang perawat. Dokter itu perempuan berusia sekitar lima puluh tahun, berpakaian jas putih rapi dengan ekspresi tenang. Namun ketika membuka map hasil pemeriksaan Alya, wajahnya berubah serius.
“Selamat pagi, Bu Alya, Pak Arga,” sapanya.
“Pagi, Dok,” jawab mereka bersamaan.
Dokter itu duduk di kursi dekat ranjang. “Saya sudah melihat hasil pemeriksaan dari tim di IGD dan laboratorium. Kondisi Ibu memang perlu ditangani lebih serius.”
Alya merasakan jantungnya berdebar.
“Sakit saya apa, Dok?” tanyanya langsung.
Dokter itu menatapnya sejenak. “Kami belum bisa memastikan diagnosis pasti hanya dari pemeriksaan awal. Namun hasil darah Ibu menunjukkan penurunan yang cukup signifikan pada sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.”
“Artinya?” Arga bertanya cepat.
“Artinya tubuh Ibu Alya tidak memproduksi sel darah sebagaimana mestinya, atau ada proses yang menghancurkan sel darah lebih cepat dari biasanya.” Dokter itu menatap Alya. “Karena itu, kami perlu pemeriksaan sumsum tulang.”
Alya menatap dokter tanpa berkata apa-apa.
Sumsum tulang.
Kali ini, kata itu terdengar lebih nyata.
Lebih dekat.
Lebih menakutkan.
“Apakah saya harus menjalani biopsi?” tanyanya pelan.
“Kami akan melakukan aspirasi sumsum tulang dan kemungkinan biopsi pada tulang pinggul. Prosedur ini membantu kami melihat kondisi sel-sel pembentuk darah secara langsung.” Dokter menjelaskan dengan tenang. “Sebelum prosedur, kami akan memberi obat penenang dan anestesi lokal.”
“Sakit?” Alya bertanya.
“Ada rasa tekanan dan nyeri sesaat. Tapi tim kami akan membantu Ibu melalui prosesnya.”
Alya menunduk.
Arga menatap istrinya. Ia melihat jemari Alya mencengkeram selimut hingga mengetat. Tanpa berkata apa-apa, ia menggenggam tangan itu.
“Kapan prosedurnya?” tanya Arga.
“Kami jadwalkan hari ini sore, setelah persiapan selesai.”
“Bisakah besok?” tanya Alya.
Dokter menatapnya dengan simpati. “Saya memahami Ibu takut. Tetapi kondisi Ibu perlu segera dievaluasi. Menunda terlalu lama dapat membuat penanganannya lebih rumit.”
Alya menelan ludah.
“Baik, Dok.”
Dokter itu menatap Arga. “Pak Arga, keluarga boleh menemani sebelum prosedur dimulai. Namun selama prosedur berlangsung, Ibu Alya harus berada di ruang tindakan bersama tim medis.”
“Baik,” jawab Arga.
Setelah dokter dan perawat keluar, Alya menatap jendela.
Di luar, kota bergerak seperti biasa. Orang-orang berjalan, mobil melintas, kehidupan terus berjalan tanpa peduli bahwa di salah satu kamar rumah sakit, seseorang sedang menunggu kabar yang mungkin akan mengubah hidupnya.
“Aku takut, Mas,” kata Alya.
Arga menatapnya.
“Aku tahu.”
“Kalau hasilnya buruk, aku nggak tahu harus gimana.”
“Kita hadapi bersama.”
Alya menertawakan dirinya sendiri dengan lemah. “Mas selalu bilang begitu.”
“Karena itu yang ingin aku lakukan.”
“Tapi Mas pernah bilang kita harus hadapi apa-apa yang terjadi di pernikahan ini, lalu Mas tetap pergi.”
Arga menunduk.
Alya tidak berhenti.
“Aku nggak mau lagi ditinggal di tengah jalan, Mas. Aku nggak mau lagi berharap Mas akan balik, lalu ternyata Mas memilih orang lain.” Suaranya mulai bergetar. “Kalau Mas memang mau ada, Mas harus benar-benar ada.”
Arga menggenggam tangannya lebih erat.
“Aku akan ada.”
Alya menatap suaminya.
“Mas bilang begitu sebelumnya.”
“Kali ini aku tidak hanya bilang.”
“Lalu Mas mau bukti apa?”
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam.
Ia tidak punya bukti besar. Ia tidak bisa langsung menghapus Keisya dari hidupnya hanya dengan satu kalimat. Ia tidak bisa mengembalikan tiga tahun yang telah Alya lewati sendirian.
Namun ia bisa memilih.
Saat ini.
Hari ini.
“Aku akan menemanimu sampai prosedurnya selesai,” kata Arga. “Aku akan menunggu di luar. Setelah itu, aku akan menemanimu lagi. Aku tidak akan menerima telepon dari siapa pun. Aku tidak akan pergi ke mana-mana.”
Alya menatapnya.
“Kalau Keisya butuh Mas?”
“Dia bisa menunggu.”
“Kalau keluarga Mas butuh Mas?”
“Mereka juga bisa menunggu.”
“Kalau Mas sendiri merasa capek?”
Arga menatap Alya lama.
“Kalau aku capek, aku tetap tidak akan meninggalkan kamu sendirian.”
Air mata Alya akhirnya jatuh.
Arga mengangkat tangannya dan menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. Sentuhan itu lembut, ragu-ragu, seolah ia tidak yakin masih memiliki hak untuk menyentuh perempuan yang selama ini ia sakiti.
“Alya,” panggilnya pelan.
“Iya?”
“Aku minta maaf.”
Alya tidak menjawab.
Arga melanjutkan, “Aku minta maaf karena baru sekarang aku belajar menjadi suami.”
Alya menatap wajah lelaki itu.
Ada air mata di mata Arga.
Alya tidak pernah melihat suaminya menangis.
Dulu, lelaki itu selalu tampak kuat. Tegas. Dingin. Tidak mudah goyah. Ia selalu tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus dikatakan, dan bagaimana membuat orang lain mengikutinya.
Namun hari ini, Arga tampak rapuh.
Dan anehnya, Alya tidak merasa senang melihatnya begitu.
Ia hanya merasa sedih.
Karena penyesalan Arga datang ketika tubuhnya sendiri mulai terasa tidak kuat.
Karena cinta yang ia inginkan akhirnya berusaha datang ketika ia sudah terlalu lelah untuk mempercayainya.
“Mas nggak perlu menangis,” bisik Alya.
“Kenapa?”
“Karena aku nggak tahu lagi apakah air mata Mas bisa mengembalikan waktu.”
Arga mengatupkan rahang.
Ia tidak menjawab.
Karena Alya benar.
Tidak ada air mata yang bisa mengembalikan tiga tahun.
Tidak ada kata maaf yang bisa menghapus setiap malam Alya menunggu sendirian.
Tidak ada janji yang bisa langsung membuat perempuan itu percaya lagi.
Namun Arga tetap menggenggam tangannya.
Dan sore itu, ketika perawat datang untuk membawa Alya ke ruang tindakan, Arga berjalan di samping ranjangnya sampai pintu ruang tindakan.
Alya menoleh kepadanya.
“Mas janji nggak pergi?”
Arga menatapnya.
“Tidak.”
Alya menarik napas dalam-dalam.
“Kalau aku nggak bangun, Mas jangan lupa bilang ke orang tuaku bahwa aku cinta mereka.”
“Alya.”
“Dan jangan biarkan Keisya datang ke rumah kita.”
Arga menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Aku tidak akan biarkan.”
Alya tersenyum tipis.
“Jangan bohong.”
“Tidak,” jawab Arga. “Aku tidak akan bohong lagi.”
Pintu ruang tindakan terbuka.
Perawat mendorong ranjang Alya masuk.
Tepat sebelum pintu tertutup, Alya mengulurkan tangannya ke arah Arga.
Lelaki itu segera menggenggamnya.
“Mas tunggu aku,” bisik Alya.
Arga menatapnya.
“Aku tunggu.”
Pintu tertutup.
Dan untuk pertama kalinya, Arga benar-benar berdiri di luar pintu—bukan karena ia dipaksa menunggu, tetapi karena ia memilih untuk tidak pergi.