Sequel Menikahi Sopir Kaya
Namanya Cantika, tetapi tak seperti penampilannya yang jauh dari kata cantik.
Keseharian Cantika bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga yang memiliki dua orang Tuan Muda, yaitu Mr. Culun dan Mr. Perfect.
Akankah di masa depan Cantika mengalami keberuntungan yang tak pernah ia mimpikan sebelumnya? Atau kehidupannya tak akan pernah lepas dari hinaan orang-orang kepada dirinya yang jelek, miskin dan culun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Sukendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Makan Malam
Thoriq sudah berada di lokasi syutingnya hari ini di dampingi oleh Ricardo.
"Thor, coba kau lihat disana! Dia Tamara, aktris cantik yang sedang naik daun. Rupanya dia akan menjadi lawan main mu kali ini. Bukankah dia sangat menarik?" Ricardo memberitahukan keberadaan sosok Tamara yang akan menjadi lawan main Thoriq.
Thoriq hanya melirik sebentar kemudian melanjutkan aktifitas nya yang tengah bermain game online sambil menunggu giliran nya tiba.
Dikejauhan, hal yang sama diakukan oleh Tamara dan asisten nya. Mereka tengah membicarakan sosok Thoriq yang begitu istimewa. Tak ada aktris wanita yang akan menolak jika di pasangkan dengan Thoriq. Bahkan mungkin ada yang sampai rela tak di bayar hanya karena mereka ingin sekedar berdekatan dengan orang yang mendapat julukan Mr. Perfect itu.
.
.
.
.
"Bagaimana penampilan ku? Apa semuanya terlihat sempurna?" Tamara bertanya kepada sisten nya.
"Tentu saja, tak ada yang bisa mengalahkan pesona mu hari ini, Temi! Apa kau lihat Mr. Perfect dan asistennya sejak tadi terus saja memperhatikan mu?" Kiky, asisten Tamara yang berjenis kelamin laki-laki tetapi bergaya seperti perempuan itu menjawab dengan membanggakan majikannya.
Tamara tersipu senang ketika mengetahui seorang Mr. Perfect saat ini sedang memperhatikannya. "Kiky, bisakah kau menemui asistennya kemudian membuat janji makan malam? Katakan saja, aku ingin menjalin chemistry dengan bos nya, karena sebuah peran akan tampak baik jika para tokohnya memiliki chemistry yang kuat." Tamara membuat alasan agar bisa lebih dekat dengan Thoriq.
"Aw..aw..aku rasa, itu ide bagus Temi. Akan aku pastikan! Malam ini, Mr. Perfect itu akan jatuh kedalam pelukan mu!" Kiky yang telah memiliki ide di kepalanya berkata yakin.
.
.
.
.
.
Ketika Thoriq dan Tamara sedang beradu akting, Kiky menghampiri Ricardo untuk menyampaikan maksudnya.
Ricardo yang sangat mengidolakan Tamara, cukup antusias menerima undangan makan malam itu tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Thoriq.
"Katakan pada si cantik Tamara, kami akan datang! Berikan saja alamatnya!"
Kiky memberikan selembar kertas yang bertuliskan alamat tempat ia mengundang Thoriq.
Di tempat lain, Thoriq dan Tamara sedang beradu akting. Mereka berdua berperan sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai.
Thoriq melakukan pekerjaannya secara profesional, sebetulnya ia sangat tidak menyukai jika harus melakukan adegan sebuah ciuman dengan lawan mainnya. Tetapi, bukan Mr. Perfect namanya, jika ia tak bisa melakukan adegan itu dengan baik dan penuh penghayatan.
Di sisi lain, Tamara sangat terhanyut oleh perasaan nya sendiri yang mulai tergila-gila dengan Thoriq. Ketika adegan ciuman itu dilakukan, Tamara sangat antusias dan melakukannya dengan sepenuh hati dan penuh dengan gairah. Sayangnya, kenikmatan yang tengah di rasakan oleh Tamara harus berhenti ketika sang Sutradara berseru lantang, "Oke, Cut...!!"
Tamara pura-pura tak mendengar perintah Sutradara dan ingin melakukan adegan ciuman itu lebih lama, tetapi sayangnya Thoriq lebih dulu melepaskan diri dan kembali ke tempatnya.
Ricardo segera menyerahkan tisyu yang biasa di minta Thoriq setiap kali ia selesai beradegan mesra dengan lawan mainnya, kemudian Thoriq mengelap bibir nya yang beberapa saat lalu ia gunakan untuk berciuman dengan Tamara, "Cih, aku benar-benar tak menyukai adegan tadi!" Dengus kesal Thoriq.
"Thor, bagaimana Tamara menurut mu? Sepertinya, kalian berdua sangat menikmati adegan tadi, hem?" Bukannya menyadari ekspresi jijik Thoriq, Ricardo malah menggodanya.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Thoriq.
Ricardo mengangguk cepat, "Tentu saja! Kalian bagaikan Romeo dan Juliet di adegan tadi." Jawab Ricardo.
"Jika kau menyukainya, aku akan meminta mu menggantikan ku untuk melakukan adegan itu di lain waktu."
Tentu saja Ricardo mengetahui hal itu tidak mungkin terjadi, karena jelas-jelas dia bukan seorang aktor, apalagi jika harus menggantikan peran Thoriq. Tak akan ada produser yang mau membuat tayangan seperti itu.
Ricardo teringat undangan makan malam dari Tamara akhirnya memberi tahu Thoriq. "Oya, aku sampai melupakan sesuatu. Tamara mengundang mu untuk makan malam bersama nya. Asisten nya bilang, hal itu perlu dilakukan untuk membangun Chemistry diantara kalian berdua."
Thoriq tak menanggapi pemberitahuan dari Ricardo, apalagi membantah nya. Hal itu membuat Ricardo beranggapan bahwa Thoriq bersedia menerima undangan itu.
'Sudah ku duga, Thoriq tak mungkin menolak undangan dari wanita secantik Tamara.' Batin Ricardo.
.
.
.
.
.
Pekerjaan Thoriq hari ini telah selesai. Ricardo kembali mengingatkan akan janji makan malam bersama Tamara.
"Apa aku benar-benar harus memenuhi undangan nya?" Thoriq bertanya kepada Ricardo.
"Ya, tentu saja! Tamara adalah wanita istimewa. Banyak pria yang selama ini berlomba untuk menjadi kekasihnya. Jika kau sampai berhasil membuat gadis itu jatuh kedalam pelukan mu, aku yakin popularitas mu akan semakin naik." Sahut Ricardo.
"Wanita istimewa? Benarkah dia seperti itu?" Tanya Thoriq mengaskan.
Ricardo menganguk meyakinkan ucapannya, setelah itu, Ricardo memberikan satu stel pakaian yang akan Thoriq gunakan untuk memenuhi undangan Tamara.
"Baiklah, aku bersedia menerima undangan nya karena ingin membuktikan ucapan mu tentang sosok Tamara yang kau anggap istimewa itu!" Thoriq menerima pakaian yang diberikan Ricardo kemudian mengenakan nya.
.
.
.
Alamat yang diberikan Kiky ternyata ada di sebuah Hotel bintang lima yang tak jauh dari lokasi syuting mereka hari ini.
Ricardo melihat Kiky yang tengah melambaikan tangan nya di depan pintu lobby kemudian menghampirinya, sedangkan Thoriq, harus menunggu aba-aba dari Ricardo setelah memastikan semuanya aman dan tak ada satu pun wartawan yang berada disana.
Setelah mendapat jaminan dari Kiky tentang keamanan disana, Ricardo menjemput Thoriq dan memberikan sebuah topi dan masker untuk Thoriq kenakan.
"Pakailah ini untuk berjaga-jaga jika ada para penggemar mu di dalam sana!"
Thoriq mengenakan topi dan masker penutup wajah, serta kaca mata hitam yang diberikan Ricardo, kemudian mereka berjalan mengikuti Kiky melewati jalur khusus yang memang tersedia untuk para pengunjung VVIP.
Langkah Kiky berhenti di depan kamar bernomor 101 yang berada di lantai itu. Mereka menebak, dikamar itulah Tamara sedang menunggu Thoriq untuk menghabiskan makan malam bersama.
"Tamara pasti sudah menunggu kita. Ayo kita masuk!" Ricardo yang antusias merasa tak sabar ingin bertemu dengan idolanya itu.
Kiky menghadang Ricardo dengan tangannya, "Tunggu! Hanya Mr. Perfect yang boleh masuk! Dan kau?" Kiky memberi kedipan mata kepada Ricardo, "Kau akan makan malam bersama ku di lantai dasar."
Ricardo merasa tertipu karena Kiky telah memanfaatkannya, bulu kuduknya seketika berdiri ketika melihat tatapan Kiky, si banci yang seakan ingin sekali menerkamnya itu.
Ricardo mendengus kesal, "Cih..!! Makan malam saja sana bersama Nenek mu! Aku tidak sudi dan lebih baik menghabiskan malam ku dengan menelpon para wanita cantik yang selama ini mengejar ku!"
"Thor, aku menunggu mu di dalam mobil Hubungi aku jika kau sudah selesai!" Ricardo meninggalkan Thoriq dan Kiky dengan wajah kesal.
***
Dukung Author dengan selalu menekan like pada setiap Bab yang selesai kalian baca. Berikan juga vote berupa koin maupun poin sebanyak-banyaknya yah..hehe
Bersambung...
semangat author nulisy 🌹🌹🌹🌹