Dari utara Italia, Fiorella diculik dan dijual ke sebuah klub gelap di Rusia—dunia tempat para mafia, polisi korup, dan pengusaha berkuasa membeli tubuh perempuan seperti membeli barang. Gadis tujuh belas tahun yang dulu punya sejuta mimpi kini hanya punya satu: bertahan hidup.
Lalu ia dibeli oleh Burian, bos mafia Rusia yang dingin, kejam, dan tergila-gila padanya sejak pandangan pertama. Di tangan Burian, Fiorella menemukan neraka sekaligus gairah yang tak pernah ia mengerti—cinta dan kebencian yang saling membakar, membelenggu keduanya lebih erat daripada rantai mana pun.
Tapi pengkhianatan, darah, dan luka mengubah segalanya. Ketika Fiorella akhirnya lolos dari cengkeraman sang mafia, ia tak kembali sebagai korban. Ia kembali sebagai Sang Ratu Putih—dan kali ini, dialah yang datang untuk menagih setiap utang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alendra rivero, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
CEMBURU
Fiorella
Saat aku tidur, kurasakan seseorang mengguncang bahuku. Kubuka mata dengan susah payah karena kelopaknya agak bengkak. Pandanganku kabur. Aku duduk di ranjang dan menggosok wajahku.
"Ini aku, Sonya," katanya.
"Ada apa? Aku masih mau tidur," sahutku.
"Jangan, Sayang. Bangun, makan dulu. Semalam kamu mengeluh kelaparan, jadi mandilah, lalu kita makan. Dua jam lagi klub buka."
"Vladimir tak memberiku makan. Memangnya aku harus makan apa?"
Aku mengernyit begitu sadar bahwa aku telanjang di depan Sonya.
"Tenang saja, kita sama-sama perempuan," ujarnya. "Soal makanan, tak lama tadi Burian datang lagi ke sini. Kamu harusnya lihat wajah Vladimir. Burian mengamuk hebat, menjejalkan pistol ke mulut Vladimir dan menegaskan bahwa kamu tak boleh kekurangan apa pun. Ia meninggalkan uang yang cukup supaya kamu hidup nyaman, hampir seperti ratu."
"Apa dia juga meninggalkan uang untuk Miya?" Aku tersenyum sinis.
Bahkan aku sendiri tak tahu kenapa aku bertanya begitu.
"Kamu urus saja kesejahteraanmu sendiri, jangan pedulikan yang lain," kata Sonya.
"Dia meninggalkan uang untuk Miya atau tidak?"
"Ya. Ia selalu meninggalkan sejumlah besar uang untuk Miya. Hidup perempuan itu dan anaknya sangat mahal, dan Burian yang menanggung semua biayanya." Sonya menatapku. "Kamu cemburu atau bagaimana?"
"Cuma bertanya saja," jawabku.
Kuakhiri percakapan itu, lalu bangun terbungkus seprai. Aku pergi ke kamar mandi dan mandi dengan air dingin. Aku kesal. Tapi kenapa? Aku baru dua kali bersamanya. Yang pertama ia bertingkah seperti bajingan tolol. Dan yang kedua? Apa aku menyukainya?
Apa mungkin aku cemburu pada perempuan itu?
Kuhentikan pikiran yang berlebihan itu, lalu pergi ke dapur di rumah tempat kami tinggal. Di sini kami semua tinggal bersama. Sebagian gadis hidup layaknya selebritas, sebagian lagi seperti pengemis. Aku termasuk golongan yang terakhir, sebab yang hidup nyaman adalah gadis-gadis yang paling banyak "bekerja", kalau boleh dibilang begitu.
"Nah, si jalang kecil datang!" seru Miya.
"Kamu bicara soal aku?" tanyaku.
"Menurutmu?" balasnya. "Dan jangan salah paham. Burian itu milikku, ia hanya mencintaiku. Aku yang akan pergi bersamanya, dan kamu yang tinggal di sini. Jangan pernah berpikir untuk terus tidur dengannya. Aku tak akan mengizinkannya."
Mendengar itu, aku menunduk lalu duduk di meja. Ia benar. Ialah kesayangan Burian. Kalau tidak, tentu Burian sudah membawaku pergi bersamanya.
"Sudahlah, hentikan omong kosong itu dan makan," potong Sonya. "Fiorella, kamu mau makan apa?"
"Babi makan sisa," sela Miya. "Suruh dia menunggu sampai kita selesai makan."
Aku bangkit dari meja dan pergi ke kamarku. Aku tak sudi terus mendengar hinaan.
Bagaimana ia bisa sekejam itu? Kami semua tiba di sini dengan cara yang sama. Ia pikir dirinya siapa?
Tak lama Sonya menyusul. "Ini, makanlah. Jangan hiraukan omongan bodoh Miya. Burian terlalu memanjakannya." Ia menghela napas. "Padahal ia bahkan tak punya hubungan apa-apa dengan Burian. Aku tak paham apa yang merasukinya sekarang."
Aku tak berkata apa-apa, hanya mendengarkannya sambil mulai memakan roti lapis yang ia bawakan.
Sebulan kemudian.
"Ayo bangun, dasar tak berguna," hardik Vladimir.
"Sedang apa kamu di kamarku?" tanyaku.
"Aku majikanmu, sialan. Bangun." Ia mendengus. "Beberapa hari ini kamu tak melakukan apa pun yang berguna. Cuma tidur seharian dan makan. Kamu tak menghasilkan untung untukku, hanya mendatangkan kerugian."
"Burian sudah membayarmu untukku, dan ia juga membayar makananku. Kerugian apa yang kaubicarakan?"
Begitu kata-kata itu keluar, kurasakan hantaman di pipiku. Vladimir menamparku, lalu menyeretku turun dari ranjang.
"Mulai hari ini kamu yang mengurus kebersihan kamar mandi klub," katanya. "Aku tak mau ada pemalas di bawah atapku. Burian harus melunasi pembayaran bulan ini, atau besok juga kamu mulai bekerja seperti semua serigala lain di klub."
Ia bahkan tak memberiku waktu untuk mandi. Aku memakai pakaian pertama yang kutemukan lalu keluar.
Kubersihkan semua kamar mandi, yang jumlahnya banyak sekali. Setelah itu aku harus membersihkan rumah sendirian, karena gadis-gadis lain sedang bersiap untuk bekerja di klub.
Aku sudah kelaparan. Tak sarapan, tak makan siang. Sudah pukul tujuh malam dan tak sesuap pun masuk ke mulutku.
Perutku menjerit minta makan. Belakangan ini aku makan berlebihan, tapi tak ada yang bisa memuaskan laparku.