Menikah karena perjodohan, membuat Shera meminta perceraian setelah dua tahun menikah.
Begitu juga dengan Daren yang menuruti, lantaran keduanya tidak memiliki ketertarikan dan tidak adanya benih cinta yang tumbuh.
Namun semua terasa berbeda setelah tiga tahun perceraian itu.
apakah keduanya akan memiliki ketertarikan dan cinta setelah bertemu kembali???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PMI_BAB 13
Daren menunggu didepan pintu ruangan klinik rumah sakit. Wajahnya tampak panik, sesekali mengintip dari kaca pintu.
Tak pernah terpikirkan jika Shera akan jatuh pingsan, sejak kemarin Shera tampak berbeda, wajahnya sedikit pucat, namun wanita itu berhasil menutupinya, bahkan Daren sempat bertanya dan Shera tampak menghindari.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka, seorang dokter jaga wanita keluar.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Daren dengan khawatir.
Khawatir?
Tentu saja dia khawatir mengingat Shera adalah karyawan sekaligus sekertaris nya.
"Pasien mengalami anemia, yang menyebabkan pasien jatuh pingsan. Untuk saat ini pasien masih dalam perawatan, dan harus di rawat." Jelas dokter wanita itu.
Daren mengusap wajahnya kasar, semua karena dirinya.
"Boleh saya masuk."
"Silahkan, tapi pasien harus istirahat."
Daren mengangguk, seteleh dokter pergi, Daren masuk kedalam dan mendapati Shera yang terbaring pucat diatas tepat tidur. Daren mendekat, duduk disisi ranjang yang terdapat kursi.
"Maaf Shera, aku terlalu memaksamu." Gumamnya dengan tatapan penyesalan.
Daren menatap wajah pucat Shera, tangannya mengusap kepala Shera dengan perasaan berkecamuk.
Drt...Drt...
Ponselnya berdering, asisten Erik menelpon. Daren berdiri dari duduknya, memilih menjauh dan berdiri didekat jendela.
"Halo.."
"Tuan, anda di mana? Nona Shera tidak ada di meja kerjanya." Ucap asisten Erik diseberang sana tampak sedikit panik.
"Saya di klinik kantor bersama Shera, dia jatuh tak sadarkan diri." Terang Daren sambil menatap Shera dari sana.
"Apa! Nona Shera jatuh pingsan! Lalu bagaimana dengan klien kita hari ini Tuan?" Tanya asisten Erik semakin panik.
Daren menatap lantai sejenak, lalu kembali memandang Shera di sana.
"Batalkan saja, berikan alasan yang sesungguhnya, saya tidak mungkin membawa Shera dengan keadaannya yang seperti ini." Jelas Daren.
"Tapi Tuan-"
"Lakukan, atau kau sendiri yang akan bertanggung jawab." Tegas Daren membuat asisten Erik mengiyakan.
Daren memasukkan ponselnya kedalam saku, berjalan mendekati ranjang dan kembali duduk.
Tak di sangka dia akan disini, menemani mantan istri yang kini menjadi bawahnya. Daren membenarkan selimut pada tubuh Shera, dan hanya duduk menatap wajah Shera yang masih terlihat cantik meskipun sedikit pucat.
"Wajah mu tidak pernah berubah, hanya saja kau semakin menarik." Gumam Daren.
***
Shera perlahan menggerakkan matanya, leguhan kecil terdengar dari bibirnya, Daren yang sejak tadi masih menunggu di sana mendekat, duduk disisi ranjang Shera.
"Shera, kamu sudah bangun?" Tanyanya yang melihat mata Shera mengerjap.
Shera belum merespon, cahaya lampu yang terang membuatnya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan.
"Mau minum?" Tawar Daren yang hanya di angguki oleh Shera.
Daren ngambil gelas berisi air putih, membantu Shera untuk duduk bersandar dan memberikan gelas minum.
"Kamu jatuh pingsan, karena kelelahan." Ucap Daren setelah menaruh gelas di atas nakas.
"Maaf, sudah membuat mu sakit." Daren berkata dengan rasa penuh sesal.
"Untuk selanjutnya, biar Erik yang menghandle, kamu bisa fokus pada pekerjaan mu." Daren menatap Shera yang masih terdiam.
"Bagaimana dengan klien hari ini kak, pasti mereka kecewa." Shera menatap khawatir dan panik membuat Daren menggenggam tangan Shera.
"Kamu sedang sakit, masih bisa memikirkan klien." Daren menghela napas.
Shera mengerucutkan bibir, "Tapi klien itu begitu penting, dan kata asisten Erik sulit mendapatkan kerja sama dengannya, dan-"
"Sttt... kamu tidak perlu memikirkan pekerjaan dulu, lebih baik kamu pikirkan agar kembali sehat."
Shera hanya mengangguk, "Kak Daren nggak ke kantor?" Shera menatap jam yang ternyata sudah malam.
Daren menggelengkan kepalanya, "Sejak kamu tak sadarkan diri aku disini." Jujurnya dengan senyum tipis. Yang mana justru membuat Shera terpaku.
"Papa mu sedang dinas ke luar kota, mama mu juga sedang bersama beliau, jadi aku tidak bisa meninggalkan kamu sendiri disini." Terangnya lagi.
Shera tahu jika kedua orangtuanya pergi sejak kemarin dan akan pulang masih hari esok.
"Kak Daren pulang saja, biar aku di temani Jo." Shera meraih ponselnya yang di letakkan di atas nakas.
"Jo?" Tanya Daren dengan kening berkerut.
Shera yang masih sibuk dengan ponselnya, menatap Daren. "Em..Dia teman ku saat di Prancis, dan sudah beberapa minggu dia datang." Terang Shera dengan senyum.
Yang justru membuat ekspresi Daren masam. Nama Jo yang disebut Shera jelas nama seorang laki-laki, jadi Shera meminta bantuan teman laki-lakinya untuk menemani.
Jika sama-sama laki-laki kenapa tidak dirinya saja. Batin Daren kesal.
Sedangkan Rindu yang sore tadi berkunjung saja ia tolak dan suruh pulang. Tidak di ijinkan menjenguk Shera yang belum bangun.
Padahal Rindu juga menawarkan diri untuk menemani Shera agar Daren bisa kembali ke kantor jika sibuk.
"Dia akan datang." Shera menunjukan pesan Joli yang bersedia datang.
"Aku tidak sibuk, aku bisa menemanimu di sini." Daren membenarkan posisi duduknya tegak, seolah enggan untuk pergi.
"Sejak kapan CEO D'She nggak sibuk?" Shera berdecak, "Kak Daren pulang saja, aku sudah lebih baik." Shera menunjukan jika dirinya baik-baik saja.
"Ck, kamu mengusirku." Daren menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya sendiri.
"Tidak mengusir, aku hanya tidak mau karena aku pekerjaan kak Daren terbengkalai." Shera menatap tak percaya.
Daren membuang napas kasar, berdiri dan mencondongkan wajahnya didepan wajah Shera.
"Jadi apa kalau tidak mengusir, hm..?" Daren semakin mendekatkan wajahnya pada Shera, mata keduanya saling tatap. "Apa kamu takut jika teman mu datang ada aku disini." Ucapnya lagi dengan tatapan intens. "Kamu takut?"
Napas Shera tercekat, matanya bertemu dengan mata Daren yang menatapnya intens, Shera tak bisa mengatakan apapun, selain terpaku dengan napas hangat Daren yang menerpa wajahnya.
Sedangkan Daren menelan ludah kasar, berada dalam jarak dekat dengan wajah Shera seperti ini membuatnya semakin ingin lebih mendekat, bibir yang sudah berwarna tidak sepucat tadi ingin rasanya ia cicipi.
Shera memejamkan matanya saat sentuhan lembut dan hangat menempel di bibirnya, untuk sekian detik udara terasa terhenti, seperti mimpi namun nyata saat sentuhan itu berubah menjadi kecupan.
Daren memundurkan wajahnya, melihat perlahan mata Shera terbuka, rasanya manis dan membuatnya tak puas hanya mengecup saja. Dengan sadar jemari Daren menyentuh dagu Shera, kembali mendekatkan bibir mereka dan merasai sebuah ciuman.
Hingga tiba-tiba pintu ruangan terbuka, membuat keduanya menoleh terkejut.
"Upsss... Sorry!" Joli meringis dengan wajah kaku.
Berbeda dengan Shera yang membulatkan kedua matanya menahan malu. Bahkan rona diwajahnya berubah merah karena malu.
Ehem
Daren berdehem, terlihat santai meskipun tadi sempat terkejut karena takut jika yang memergoki ibunya.
"Kamu mau makan apa? biar aku belikan." Daren mengusap pucuk kepala Shera lembut, sebelum mundur dan menjaga jarah.
"Aku datang tidak tepat waktu." Ucap Joli yang kini berani melangkah masuk.
"Bu-bukan begitu Jo, semua tidak seperti yang kamu lihat." Shera tampak gugup dan malu.
Joli tersenyum meledak, "Tuan mantan suami, sepertinya anda boleh pulang. karena saya sudah datang." Joli menatap Daren dengan berani.
Daren menatap Joli dan Shera bergantian, lalu tersenyum mengingat kebodohannya.
"Jadi Jo itu perempuan." Batin Daren.