Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.
Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.
Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.
Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.
Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.
Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan Cinta
POV Paolo
Dua hari.
Selama itulah kami tinggal di Brasil melebihi yang seharusnya.
Dua hari lebih lama dari yang direncanakan… dan, meski begitu, tak cukup untuk mengembalikan pikiranku ke tempatnya.
Aku sudah tahu apa yang menantiku.
Luna.
Dan drama perpisahan yang tak terelakkan.
Ia tak akan mau pergi dengan mudah. Tidak setelah semua yang ia bangun di sini. Tidak setelah akhirnya menemukan sesuatu yang membuatnya tersenyum tanpa susah payah.
Teman-temannya.
"Saudari-saudarinya", seperti yang selalu ia sebut.
Dan aku tahu… itu akan sulit.
Tapi harus terjadi.
Tak ada pilihan.
Tak butuh waktu lama.
Begitu kami menyinggung soal kepulangan ke Italia, Luna bereaksi persis seperti dugaanku.
"Aku tidak mau!"
Suaranya menggema di seluruh ruangan.
"Luna…" Mama mencoba.
"Tidak, Mama! Aku tidak akan pergi dari sini tanpa mereka!"
Ia mondar-mandir, gelisah.
"Kalian tidak mengerti! Mereka… mereka segalanya bagiku!"
Ayah mengamati dalam diam.
Seperti yang selalu ia lakukan saat menimbang saat yang tepat untuk bertindak.
"Aku tidak akan sanggup jauh dari mereka," lanjutnya, dengan mata berkaca-kaca. "Mereka membantuku saat aku paling membutuhkan! Saat tak ada seorang pun yang mampu menjangkauku!"
Kuamati dirinya.
Aku tahu itu benar.
Aku tahu betapa pertukaran pelajar itu telah menyelamatkan adikku.
"Luna," ucapku, tegas. "Kau akan pulang."
Ia berbalik ke arahku, marah.
"Tidak mau!"
"Kau akan pulang."
"Aku bukan anak kecil, Paolo!"
"Tepat," jawabku. "Dan justru karena itu kau harus bersikap sebagai orang dewasa."
Ia terdiam sesaat.
Tapi tak mengalah.
"Aku tidak akan meninggalkan mereka."
Ayah lalu bangkit berdiri.
Dan itu… sudah cukup.
Keheningan langsung turun.
"Cukup."
Suaranya tidak keras.
Tapi mengandung wibawa yang cukup untuk menutup perdebatan apa pun.
"Kita selesaikan ini dengan cara yang benar."
Ia memandangku.
"Panggil Lutero. Pietro. Ibumu. Dan Luna."
Aku mengerti.
Ia akan mendahulukan segalanya.
Beberapa menit kemudian, semua orang berkumpul di ruang kerja.
Suasana tertutup.
Berat.
Formal.
Luna masih tampak jelas terguncang.
Ayah berdiri diam beberapa detik sebelum mulai bicara.
"Ada sesuatu yang perlu kalian ketahui."
Ia memandang Luna lebih dahulu.
Lalu Lutero.
"Bertahun-tahun lalu, aku membuat kesepakatan dengan ayah Lutero."
Hening total.
"Ketika kalian mencapai usia yang tepat… kalian akan menikah."
Reaksinya langsung.
Atau lebih tepatnya…
Ketiadaan reaksi.
Luna sama sekali tak bergerak.
Tanpa kata.
Tanpa reaksi.
Hanya menatap.
Lurus ke arah Lutero.
Aku tak pernah melihatnya seperti itu.
Kehilangan suara.
Kehilangan dorongan.
Terpaku.
Lutero, sebaliknya, tetap menjaga sikapnya.
Tegar.
Seperti biasa.
Tapi aku cukup mengenalnya untuk menangkap ketegangan di rahangnya.
Kekerasan tipis pada tatapannya.
"Kalian harus kembali ke Italia," lanjut Ayah. "Ada tanggung jawab yang harus diemban."
Ia berpaling ke Lutero.
"Kau akan menempati jabatan consigliere."
Kulirik Pietro dari sudut mata.
Ia hanya mengangguk.
Hal itu sudah ditetapkan.
"Pietro akan menjabat sebagai capo," sambung Ayah.
Keheningan kembali.
Lebih berat.
Lebih pekat.
Saat itulah Lutero maju selangkah.
"Permisi."
Ayah membuat isyarat singkat.
"Bicaralah."
Lalu…
Hal yang tak terduga terjadi.
Lutero memandang Luna.
Bukan sebagai seorang prajurit.
Bukan sebagai seorang bawahan.
Melainkan sebagai seorang lelaki.
Ia mendekat.
Menggenggam tangan Luna.
Dengan hati-hati.
Dengan hormat.
Lalu berbicara.
"Aku perlu mengatakan sesuatu."
Suaranya… tegar.
Tapi berat dengan perasaan.
"Aku selalu mencintaimu."
Udara di ruangan itu berubah.
"Sejak lama sekali… bahkan sebelum aku memahami arti perasaan ini."
Luna mulai gemetar.
"Ketika kau menyatakan perasaanmu padaku… bertahun-tahun lalu…" ia melanjutkan, "itu adalah hari tersulit dalam hidupku."
Aku melihatnya.
Kulihat di matanya.
Itu benar.
"Aku terpaksa menolakmu."
Genggaman Luna mengerat pada tangannya.
"Bukan karena aku tak merasakan hal yang sama… melainkan karena aku tak bisa."
Hening.
"Kau adalah adik Dom-ku. Dan aku… tak boleh melampaui batas itu."
Ia menarik napas dalam.
"Tapi sekarang…"
Ia melangkah sedikit lebih dekat.
"Sekarang aku tahu bahwa perasaan ini tak pernah keliru."
Mata Luna berkaca-kaca.
"Dan mengetahui bahwa ada ikatan janji di antara kita… bukanlah sebuah beban."
Ia berhenti sejenak.
"Itu sebuah kehormatan."
Hal itu… menyentuh semua orang.
Bahkan aku.
"Tapi aku perlu tahu…" ucapnya, lebih pelan. "Apakah perasaan yang dulu kaurasakan padaku… masih ada."
Keheningan menjadi total.
Berat.
Pekat.
Lalu…
Luna runtuh.
Ia memeluk Lutero.
Tanpa ragu.
Tanpa takut.
"Aku tak pernah berhenti mencintaimu…"
Suaranya keluar di sela-sela air mata.
"Tak pernah sedetik pun…"
Ia mengeratkan pelukan.
"Yang paling menyakitiku… adalah anggapan bahwa kau tak akan pernah merasakan hal yang sama…"
Rahangku menegang.
Itu…
Nyata.
Mentah.
Tanpa saringan.
"Ini hari paling bahagia dalam hidupku…"
Ia menjauh hanya secukupnya untuk memandang Lutero.
Lalu ia memandang Ayah.
"Boleh aku…?"
Ayah menarik napas dalam.
Dan mengangguk.
"Jangan berlebihan."
Ia kembali menatap Lutero.
Lalu menciumnya.
Tanpa tergesa.
Tanpa takut.
Dan Lutero membalasnya.
Tapi, seperti biasa…
Dengan kendali.
Dengan hormat.
Ia menjauhkan diri.
Tangannya naik ke wajah Luna.
Dengan lembut.
"Aku mencintaimu, putriku."
Suaranya… pelan.
Tapi tegar.
Luna kembali menangis.
"Aku juga mencintaimu… pangeranku…"
Ayah berdehem.
Menarik kembali perhatian.
"Baiklah."
Semua orang kembali ke kenyataan.
"Karena kita sudah sepakat… pernikahan akan dilangsungkan tiga bulan lagi."
Langsung.
Seperti biasa.
Mama, yang sejak tadi mengamati dalam diam, bangkit berdiri.
Menghampiri Luna.
Dan memeluknya.
"Mama sangat bahagia untukmu…"
Suaranya lembut.
Terharu.
"Mama selalu tahu…"
Ia menangkup wajah adikku.
"Selalu tahu bahwa kau mencintainya."
Ia memandang Lutero.
"Dan Mama tahu ia akan menjagamu sebagaimana yang kau pantas dapatkan."
Lutero mengangguk, penuh hormat.
"Dengan taruhan nyawaku."
Kuamati semua itu dalam diam.
Menganalisis.
Menyerap.
Hal itu menyelesaikan banyak persoalan.
Luna akan pulang.
Dengan sebuah tujuan.
Dengan seseorang di sisinya.
Seseorang yang kupercaya.
Seseorang yang kuhormati.
Namun, meski begitu…
Ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Aku tahu apa itu.
Atau lebih tepatnya…
Siapa itu.
Maria Cecília.
Pikiran itu datang tanpa peringatan.
Tanpa izin.
Dan, dari caranya bertahan…
Aku tahu.
Ini belum berakhir.
Dan, berbeda dari segala hal yang pernah kuhadapi…
Ini bukan sesuatu yang bisa kuselesaikan dengan strategi.
Atau kendali.
Ini sesuatu yang…
Aku masih belum tahu bagaimana menghadapinya.