Indonesia
NovelToon NovelToon
Dijual Suamiku kepada Sang Don

Dijual Suamiku kepada Sang Don

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Dark Romance / Tamat
Popularitas:921
Nilai: 5
Nama Author: Dayane Castro

Malam itu, Lorena—seorang perawat yang lelah membanting tulang demi menghidupi rumah tangganya—menemukan seorang pria sekarat berlumuran darah di tepi jalan, dan memilih menyelamatkan nyawanya. Ia tak pernah tahu bahwa pria itu adalah Ravi Dumont: penguasa kasino, seorang Don mafia yang dingin, dan sejak malam itu, terobsesi hanya pada satu perempuan—dirinya.

Ketika suami Lorena yang kecanduan judi terjerat utang setengah juta euro, ia memberikan satu-satunya "harta" yang tersisa untuk melunasinya: istrinya sendiri. Dalam sekejap, Lorena berpindah dari pernikahan yang menghancurkan ke tangan pria yang bersumpah takkan pernah melepaskannya.

Ravi bisa mendapatkan apa pun yang ia mau. Ia membelikan Lorena rumah sakit, menaburinya dengan kemewahan, memujanya seperti ratu—tapi cinta tak bisa dibeli, dan hati Lorena penuh amarah pada pria yang menjadikannya barang dagangan. Di balik senyum tenang Ravi tersembunyi sisi tergelap seorang mafia: kejam pada dunia, namun memuja perempuannya dengan obsesi yang berbahaya.

Di antara kilau meja judi, ancaman para pengkhianat, rahasia keluarga, dan gairah yang perlahan membakar segala pertahanan, kebencian mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan: keinginan untuk tinggal.

Bisakah cinta tumbuh dari sebuah transaksi? Bisakah seorang perempuan yang pernah dijual belajar mencintai pria yang membelinya—dan bisakah sang Don yang tak kenal ampun membuktikan bahwa perempuannya bukan lagi harta yang dimiliki, melainkan satu-satunya hal yang tak sanggup ia hidupi tanpanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayane Castro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

POV Ravi

Aku menghentikan mobil di sebuah toko elektronik dan membiarkannya memilih apa pun yang dia mau, untuk mengganti ponsel yang tadi kubuang. Dia meraba semua perangkat, menilai satu per satu, lalu memilih model generasi terbaru, yang aku sangat yakin tak akan pernah mampu dibelikan si tolol itu untuknya.

"Mau sekalian ambil laptop juga? Silakan, jangan sungkan."

"Ya, aku mau. Karena kau membayarku untuk berada di sisimu, aku harus menerimanya." Dia membalikkan badan, tapi kucekal lengannya dan kupaksa menatapku.

"Aku tidak membayarmu untuk berada di sisiku. Aku memanjakanmu, menuruti semua keinginanmu, memberimu semua yang kau mau, karena seperti sudah kubilang, kau pantas mendapatkan segalanya. Suamimu menjualmu, tapi bukan berarti aku akan memperlakukanmu sebagai barang dagangan. Aku cuma ingin menyenangkanmu."

"Dia bilang yang sebenarnya, kan? Kau yang menghasut dia untuk datang ke kasinomu dan menghabiskan seluruh uangnya di sana."

"Aku mungkin melakukan sesuatu, tapi aku tak pernah memaksanya berjudi. Dan sejujurnya, dia sempat menang banyak sebelum mulai kalah dan berakhir berutang padaku. Malam ini aku ingin kau ikut ke kasino, supaya kau paham cara kerjanya di sana. Andai dia berhenti waktu menang, mungkin kau tak akan ada di sini sekarang."

Aku tersenyum menutupi kebohonganku, sebab andai pun Jorge tak pernah kembali, aku akan melakukan apa saja agar dia menyerahkan Lorena padaku. Lorena mengambil laptop itu juga, lalu kami menuju kasir. Ketika tiba gilirannya, kuserahkan sebuah kartu ke tangannya.

"Ini milikmu, pakai sesukamu, untuk apa pun yang kau mau." Dia menatap kartu itu beberapa saat, sampai kasir memanggilnya. Dia membayar, dan aku jadi penasaran apa yang dia pikirkan saat menatap kartu tadi. Dia mencoba mengembalikannya padaku setelah pembayaran diterima, tapi kutolak, menegaskan bahwa kartu itu miliknya.

Kami kembali ke mobil dan menuju rumah kami. Begitu tiba, kami ke ruang tamu, dan dia mulai mengatur ponsel dan komputernya. Tangannya begitu lembut, begitu indah, sampai aku tak bisa berhenti menatapnya. Dia menoleh padaku, dan aku tersenyum untuknya.

"Kenapa kau menatapku terus, Ravi?"

"Karena aku ingin bayanganmu selalu tersimpan di benakku. Kau perempuan tercantik yang pernah kulihat seumur hidupku, aku bertekuk lutut sepenuhnya padamu, Lorena."

"Kadang kau membuatku salah tingkah. Tapi aku suka kalau kau bicara begitu padaku. Cuma, aku tak tahu apakah itu khusus untukku saja."

"Tentu saja khusus untukmu. Aku tak perlu memuji perempuan mana pun, tak ada alasan untuk melakukannya. Tapi untukmu, aku selalu ingin mengatakannya."

"Kau tak mengatakan hal-hal itu pada Cibele waktu pertama kali bersamanya?" Aku menggeleng. "Aku tak percaya."

"Cibele itu wanita panggilan. Aku tak perlu melakukan apa pun selain datang ke klub tempatnya bekerja. Tapi, malam ini dia akan datang ke kasino, kita akan mengungkap kebenaran soal anak yang dia katakan itu."

"Lupakan saja, Ravi, dia benar-benar hamil, dan ini bisa membahayakan bayinya."

"Jangan khawatir, bayinya tak akan tersentuh. Tapi orang-orang perlu tahu siapa aku, dan bahwa mereka tak boleh main-main dengan namaku. Aku baik padamu karena kau mi amore, tapi tak ada orang lain yang akan mendapat kemurahan hatiku."

Dia terdiam, tapi dia toh akan melihat sendiri hal-hal yang kulakukan. Aku tak sebaik yang dia kira, aku punya sisi yang sangat gelap. Dia tak akan lari, dia tak bisa lagi kabur, satu-satunya pilihannya adalah bertahan dan menerima.

* * *

Malam pun tiba. Kami berganti pakaian dan berangkat ke kasino. Kugenggam tangannya, menarik perhatian semua orang di setiap tempat yang kami lewati. Aku tak pernah berjalan bergandengan tangan dengan perempuan mana pun, jadi ini pemandangan baru bagi para pegawaiku. Kami tiba di ruanganku, dan aku menelepon S20 untuk menjemput Cibele di rumahnya dan membawanya kemari ke kasino.

"Ravi, sudahlah, lupakan saja, aku percaya padamu."

"Aku senang kau percaya, tapi kalau tak kuhentikan sekarang, dia akan terus memakai namaku ke mana-mana. Coba pikir, sudah pada berapa banyak orang lain dia bilang bahwa bajingan kecil itu anakku?"

"Dia bisa keguguran kalau terlalu tegang. Kau tak mau menunggu sampai bayinya lahir dulu untuk bicara? Bayi itu tak bersalah, dia makhluk tak berdaya."

"S3, bawakan beberapa minuman untukku dan mia bella."

"Kenapa kau memanggil para pengawalmu dengan 'S' dan angka?"

"Karena lebih mudah mengenali mereka. Kalau kau perhatikan, di jas mereka ada nomornya. Jadi aku tak buang waktu menghafal nama mereka satu per satu. Bahkan yang tinggal di asrama pun punya nomor."

"Kau memperlakukan orang seperti binatang, padahal mereka manusia, Ravi. Coba bayangkan kalau aku memanggilmu '1'?"

"Jangan campuradukkan kelas, mia bella. Aku ini Don, bukan prajurit. Kau ini dama-ku, jadi kau juga tak akan dipanggil dengan nomor." Pengawal itu membawa minuman dalam sebuah ember dan meletakkannya di atas meja tengah. "Sini, kita amati keramaian kasino kita dari sini. Malam ini kita datang ke Berlian, karena ini favoritku, tapi nanti akan kubawa kau ke yang lain agar kau mengenal semuanya."

Dia mengambil botol kecilnya dan aku mengambil punyaku, lalu kami minum sambil mengamati lantai perjudian. Sampai akhirnya kulihat dari kejauhan S20 datang menyeret Cibele di lengannya. Dia jelas tak senang berada di sini, tapi kalau dia pikir permainannya dengan mia bella bisa berlalu begitu saja, dia sangat keliru. Sepertinya dia belum cukup mengenalku untuk tahu bahwa aku tak suka permainan semacam ini, tapi malam ini dia akan mengetahuinya.

Pintu terbuka, dan dia didorong masuk oleh S20 mendekati aku dan Lorena. Cibele mengangkat hidungnya menatap tunanganku, hendak mengintimidasinya. Kulihat Lorena sama sekali tak mengacuhkannya. Beginilah yang kusuka, calon istriku tak takut pada siapa pun.

"Cibele Ortiz, kau tahu kenapa kau ada di sini, kan?"

"Tidak tahu, Don, Anda kan melarangku datang ke sini."

"Baiklah, kalau begitu kau punya waktu 60 detik untuk mulai bicara, atau sebagian dari tubuh mungilmu akan mulai kupreteli. 59... 58... 57..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!