Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab13: Damai yang Rapuh dan Bayang Kembali

Sisa malam itu berlalu dalam kehangatan yang perlahan mulai menyembuhkan luka di antara kami. Setelah memastikan Ayah kondisinya membaik dan kembali terlelap, Arga mengantarku kembali ke kamar—kamar yang kini bukan lagi penjara, melainkan tempat istirahat yang damai. Ia duduk di tepi tempat tidur, tak segera pergi, seakan takut jika beranjak sesaat, semua ini hanyalah mimpi belaka.

"Kau tahu, Freya..." bisiknya pelan, jemarinya menyisir lembut rambutku. "Saat aku mendengar isi hatimu—ketakutanmu, kesedihanmu, dan bagaimana kau tetap bertahan meski aku menyakitimu... aku sadar, selama ini aku buta. Aku terlalu terjebak dalam kebohongan dan prasangka, hingga tak melihat wanita yang sebenarnya ada di hadapanku."

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, menghirup aroma wangi yang menenangkan. "Tak apa, Arga. Yang penting sekarang kita sama-sama tahu kebenarannya. Dan kita berjuang bersama mulai saat ini."

Malam itu ia tidak pergi. Ia berbaring di sampingku, menggenggam tanganku erat sepanjang tidur, seakan menjadi jaminan bahwa tak ada lagi yang bisa memisahkan kami. Untuk pertama kalinya sejak aku terjaga di dunia ini, aku tidur tanpa dihantui mimpi buruk tentang kematian atau pengkhianatan.

Namun kebahagiaan itu terasa begitu rapuh.

Pagi itu, udara cerah menyapa jendela. Cahaya matahari masuk berkilauan, menghapus sisa-sisa hujan kemarin. Rumah terasa lebih tenang, lebih ringan, seakan beban berat telah diangkat dari pundak semua orang. Pelayan yang dulu menunduk dan menghindariku kini menyapa dengan hormat dan senyum tulus. Ayah bahkan sudah bisa duduk dan berbicara sedikit, menyampaikan permohonan maafnya karena sempat meragukanku.

"Kau anak yang baik, Freya," ucapnya lembut sambil menepuk punggung tanganku. "Terima kasih telah bertahan demi keluarga ini."

Arga tersenyum bangga di sampingku, menggenggam tanganku erat. Semuanya terasa begitu sempurna. Terlalu sempurna. Dan itu justru yang membuat hatiku tak henti merasa gelisah. Laras pergi dengan dendam yang membara. Ucapannya sebelum pergi—"Kau akan menyesal!"—terus bergema di kepalaku seperti peringatan yang tak bisa kuabaikan.

Siang harinya, saat Arga sedang bekerja di ruang kerjanya, aku berjalan menuju taman untuk menghirup udara segar. Bunga-bunga bermekaran indah, namun pandanganku tak bisa lepas ke arah gerbang utama tempat Laras pergi kemarin. Apakah ia benar-benar sudah pergi? Atau ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk kembali?

Langkah kaki pelan terdengar mendekat. Bukan pelayan, dan bukan pula Arga. Aku berbalik cepat, jantungku berpacu kencang. Namun yang berdiri di sana hanyalah Bu Siti, pelayan yang sudah lama bekerja di rumah itu, dengan wajah pucat dan cemas.

"Nyonya..." suaranya bergetar pelan. "Saya... saya mendengar kabar yang membuat saya khawatir."

"Apa itu, Bu?" tanyaku mendekat, firasat buruk mulai menjalar.

"Tadi pagi ada orang yang terlihat berkeliaran di sekitar rumah... sepertinya Nona Laras. Dan saya mendengar percakapan dua orang pria di dekat gerbang, menyebutkan nama Tuan Arga dan Nyonya... seakan sedang merencanakan sesuatu yang buruk."

Darahku terasa berhenti mengalir. "Apa kau yakin itu Laras?"

"Wajahnya tertutup kerudung, tapi suaranya... saya takkan pernah lupa suaranya, Nyonya. Dan tatapan matanya... penuh kebencian. Seakan ia takkan berhenti sampai ia menghancurkan kalian berdua."

Aku segera berlari kembali ke dalam rumah, menuju ruang kerja Arga. Ia harus tahu. Ia harus waspada. Namun saat aku mendorong pintu ruang kerjanya, Arga sedang berdiri menatap jendela dengan wajah tegang, tangan mengepal erat di sisi tubuhnya.

"Arga!" panggilku terengah. "Laras... dia belum pergi. Dia ada di sekitar sini, dan dia membawa orang lain!"

Arga berbalik perlahan. Wajahnya serius, namun tak terlalu terkejut. "Aku tahu, Freya. Tadi penjaga baru saja melaporkannya. Mobil mencurigakan sudah berputar di sekitar rumah tiga kali dalam dua jam terakhir. Dan salah satu wajah penumpangnya... adalah Laras."

Ia mendekatiku, lalu meraih bahuku dengan tatapan tajam namun penuh perhatian. "Dengar aku. Dia tidak akan membiarkan kita hidup tenang. Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Aku sudah memanggil pengawal tambahan, dan polisi sudah diberitahu. Namun aku ingin kau berjanji padamu—jangan pergi ke mana-mana sendirian. Tetap di dalam rumah, dan jika kau keluar, kau harus bersama seseorang yang kupercaya. Kau paham?"

"Aku paham," jawabku tegas. "Tapi aku tak mau hanya berdiri diam dan menunggu serangan datang. Aku juga bisa membantu, Arga. Kita hadapi ini bersama."

Arga menatapku lama, lalu tersenyum tipis—campuran antara kekaguman dan kekhawatiran. "Kau memang istriku yang paling berani. Baiklah. Kita hadapi bersama. Tapi janjikan padamu, kau akan tetap aman. Bagiku, keselamatanmu adalah segalanya."

Namun takdir sering kali bergerak lebih cepat dari peringatan. Belum sempat Arga menyelesaikan ucapannya, terdengar suara ledakan kecil di luar—bukan ledakan dahsyat, namun cukup keras hingga membuat kaca jendela bergetar. Diikuti teriakan-teriakan panik dan bunyi klakson yang berisik.

Wajah Arga berubah pucat. Ia langsung menarikku ke belakang punggungnya, melindungiku sepenuhnya.

"Mereka sudah datang," gumamnya dingin, matanya menyala penuh amarah dan kewaspadaan. "Dan kali ini... aku takkan membiarkan mereka lolos lagi."

 

Lanjut ke Bab 14? 😱 Laras kembali dengan rencana yang jauh lebih berbahaya! Suasana makin tegang dan penuh bahaya! Mau dilanjutkan? 🔥

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!