Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi Kantin
Ada prinsip dasar dalam dunia detektif fiksi yang selalu aku anggap menarik: kebohongan yang baik bukan soal seberapa meyakinkan kamu berbohong, tapi seberapa konsisten kamu menjaga celah-celah kecil supaya tidak ada yang saling bertabrakan.
Cahaya, sayangnya, tidak pernah belajar prinsip ini.
Aku menyadarinya hari Senin, dua hari setelah kunjungan kami ke toko action figure kecil di daerah Kemang yang — meski tidak direncanakan sebagai destinasi resmi, hanya mampir setelah urusan lain — berakhir dengan Cahaya mengoreksi penjaga toko soal urutan rilis figure dari satu waralaba yang bahkan aku sendiri harus mengecek ulang di ponsel untuk memastikan dia benar.
Dia benar, ternyata. Persis.
Aku belum sepenuhnya memproses implikasi dari hal itu ketika Sasa, pada Senin siang itu, duduk di kursi kantin dengan posisi yang menurutku terlalu tegak untuk seseorang yang biasanya bersandar total begitu duduk.
"Ada yang aneh," katanya, tanpa basa-basi, sambil meletakkan nampan makan siangnya dengan bunyi yang sedikit lebih keras dari biasa.
Cahaya, yang sedang mengunyah, mengangkat alis. "Apa?"
"Kamu."
"Aku kenapa?"
Sasa menyipitkan mata, menatap Cahaya seperti sedang membaca laporan forensik. "Sabtu kemarin kamu bilang mau ke Kemang beli sepatu. Terus tadi pagi aku liat story Instagram si Nadya, dia posting foto kalian berdua di depan toko yang jelas-jelas bukan toko sepatu."
Aku, yang duduk di sebelah Cahaya sambil membuka bekal, tidak berkomentar. Ini bukan wilayahku untuk ikut campur — belum, setidaknya, sampai ada indikasi jelas bahwa aku perlu terlibat.
"Itu... toko lain yang kebetulan sederet," jawab Cahaya, terlalu cepat untuk terdengar meyakinkan.
"Nadya bilang kalian di dalam toko itu hampir satu jam."
"Nyari sepatu kan butuh waktu."
"Di toko action figure?"
Hening sesaat.
"Toko itu juga jual sepatu," kata Cahaya, dengan nada yang mulai kehilangan kepercayaan diri di setiap suku kata.
Sasa menatapnya lama, lalu menoleh ke arahku. "Rendy. Toko itu jual sepatu?"
Aku mempertimbangkan apakah aku harus menjawab jujur atau membiarkan Cahaya menangani situasinya sendiri. Tapi mengingat aku secara teknis tidak pandai berbohong dan ekspresiku kemungkinan sudah membocorkan sesuatu sejak awal Sasa bertanya, aku memutuskan kejujuran adalah opsi paling efisien.
"Tidak."
Cahaya menoleh ke arahku dengan tatapan yang bisa aku terjemahkan sebagai pengkhianatan tingkat tinggi.
"Aku tidak bisa berbohong dengan baik," jelasku. "Ekspresiku sudah membocorkannya bahkan sebelum aku bicara."
"Kamu bisa saja diam saja," gerutu Cahaya.
"Sasa bertanya langsung."
"Terus kamu harus jawab langsung?"
"Itu bagaimana percakapan bekerja."
Sasa mengetuk-ngetuk meja dengan sendoknya, matanya bergantian menatap kami berdua dengan ekspresi seseorang yang sedang menyusun potongan puzzle. "Oke. Jadi. Kalian berdua ke toko action figure. Bukan toko sepatu. Kenapa itu perlu ditutup-tutupi?"
"Enggak ditutup-tutupi," bantah Cahaya, meski nadanya semakin lemah. "Cuma... enggak penting buat diceritain."
"Cahaya."
"Apa."
"Kamu enggak pernah ke toko kayak gitu. Seumur hidup aku kenal kamu, kamu enggak pernah nunjukin minat sama sekali ke hal-hal begituan."
Aku memperhatikan reaksi Cahaya dengan cukup detail sekarang — bahu yang sedikit menegang, tangan yang berhenti mengunyah, mata yang bergerak sebentar ke arahku sebelum kembali ke Sasa. Sesuatu yang aku kenali sebagai pola yang sama dengan yang aku lihat dua hari lalu, waktu ia berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan handuk masih di kepala.
"Aku cuma nemenin Rendy," katanya akhirnya, memilih jalan yang menurutku secara strategis masuk akal — parsial benar, cukup untuk mengalihkan fokus tanpa harus membuka seluruh cerita.
"Nemenin doang? Terus kenapa kamu yang koreksi orang toko soal urutan rilis produk?"
Cahaya membeku.
Aku mengangkat pandangan dari bekalku. "Kamu lihat itu?"
"Aku enggak lihat langsung," kata Sasa, "tapi si Nadya kirim video ke aku. Katanya lucu banget liat orang toko sampe bengong."
Cahaya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Jadi." Sasa menyandarkan diri sekarang, puas dengan posisinya sebagai orang yang memegang kendali interogasi. "Cahaya Kusuma Dewi. Bintang angkatan kita. Yang punya lebih banyak koneksi organisasi kampus daripada siapapun yang aku kenal. Bisa koreksi detail produksi action figure ke pegawai toko yang jual barangnya sendiri."
"Berhenti," rintih Cahaya dari balik tangannya.
"Sejak kapan?"
"Sasa."
"Sejak kapan, Cahaya?"
Aku menyaksikan pertarungan batin yang terjadi di wajah Cahaya — antara mempertahankan rahasia yang sudah ia jaga bertahun-tahun dengan menghadapi kenyataan bahwa Sasa, sahabat terdekatnya sejak SMA, kini duduk di depannya dengan ekspresi yang tidak akan puas sampai mendapat jawaban.
"SMP," jawabnya akhirnya, suaranya nyaris tidak terdengar.
"SMP kelas berapa?"
"...Tiga."
Sasa terdiam beberapa detik, memproses informasi itu dengan ekspresi yang perlahan berubah dari investigatif menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan kebingungan tulus. "Empat tahun. Kamu nyembunyiin ini dari aku selama empat tahun?"
"Bukan dari kamu doang."
"Dari siapa lagi?"
Cahaya melirikku sekilas. Aku memilih untuk fokus pada bekalku, meski aku tahu itu tidak sepenuhnya menyelamatkan Cahaya dari situasi ini.
"Dari semua orang," kata Cahaya akhirnya. "Kecuali Rendy. Dan itu juga baru dua hari lalu."
"DUA HARI LALU?" Suara Sasa naik cukup keras sampai dua orang di meja sebelah menoleh sebentar sebelum kembali ke urusan mereka sendiri. Sasa menurunkan volume, tapi intensitasnya tidak berkurang. "Jadi aku kenal kamu dari SMA, empat tahun, dan Rendy baru tau dua hari lalu, tapi tetep aku yang paling terakhir tau?"
"Bukan gitu—"
"Itu persis gitu, Cahaya."
"Aku enggak tau harus mulai dari mana kalau cerita ke kamu."
"Kamu bisa mulai dari, 'Sasa, aku suka anime dan bikin kostum sendiri.' Itu kalimat yang enggak terlalu susah."
Cahaya menggeram pelan, frustrasi terlihat jelas di wajahnya. "Ini bukan soal susah atau enggaknya kalimat itu. Ini soal—" Ia berhenti, mencari kata yang tepat, dan aku memperhatikan proses pencarian itu dengan minat yang lebih besar dari yang seharusnya aku tunjukkan di depan umum. "Ini soal aku enggak pernah nemu momen yang pas. Dan aku takut orang-orang mikir aku aneh."
"Kenapa aku bakal mikir kamu aneh?"
"Karena—" Cahaya menunjuk ke arahku tanpa menoleh. "Karena hal-hal kayak gini biasanya urusan dia. Bukan aku."
Sasa menoleh ke arahku, seolah baru menyadari aku ada di meja yang sama sejak awal percakapan ini dimulai. "Rendy. Kamu tau soal ini dari kapan?"
"Dua hari lalu. Aku cari charger, ketemu kotak kostum di bawah ranjangnya."
"Kotak kostum?"
"Ada beberapa," kata Cahaya, akhirnya menyerah sepenuhnya dan menurunkan tangan dari wajahnya. "Bukan cuma satu."
Sasa menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. "Berapa banyak?"
"...Empat."
"EMPAT?"
"Volumenya kecil-kecil."
"Itu enggak menjawab pertanyaannya."
Aku memutuskan ini adalah momen yang tepat untuk memberi konteks tambahan, karena sepertinya Cahaya butuh sedikit bantuan dalam menghadapi gelombang pertanyaan yang datang. "Kostum yang aku lihat itu Kaito Amagi. Dari Stellar Requiem."
"Aku enggak tau apa itu," kata Sasa, cepat, seperti sedang mempertahankan posisinya sebagai orang normal di antara dua orang yang jelas-jelas tidak normal dalam hal ini.
"Anime yang cukup niche," jelasku. "Rilis sekitar enam tahun lalu. Fokus ke cerita tentang—"
"Enggak perlu penjelasan lengkap," potong Sasa, mengangkat tangan. "Aku cuma pengen tau kenapa sahabatku sendiri bisa punya rahasia sebesar ini selama empat tahun tanpa aku curiga sama sekali."
Cahaya menghela napas panjang, bahu turun seperti seseorang yang akhirnya menyerah mempertahankan benteng yang sudah runtuh. "Karena aku pinter nyembunyiin."
"Itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan, Cahaya."
"Aku enggak bangga. Cuma jelasin fakta."
Sisa waktu makan siang berjalan dengan Sasa mengajukan pertanyaan yang, jujur saja, semakin lama semakin terasa seperti sesi wawancara jurnalistik daripada percakapan santai antar teman.
"Jadi kamu bikin sendiri semua kostumnya?"
"Iya."
"Belajar dari mana?"
"YouTube. Sama trial and error."
"Berapa lama satu kostum?"
"Tergantung. Yang paling ribet tiga bulan."
"TIGA BULAN?" Sasa menaruh sumpitnya dengan bunyi keras. "Kamu punya waktu buat ngerjain sesuatu selama tiga bulan diam-diam, sementara aku tau semua drama kamu sama mantan gebetan SMA sampe detail terkecil?"
"Itu beda konteks."
"Enggak beda. Sama-sama kamu enggak cerita hal penting ke aku."
Aku, yang sejak tadi lebih banyak menjadi pendengar dalam percakapan ini, memutuskan untuk menambahkan satu observasi yang mungkin relevan. "Menurutku dia bukannya enggak mau cerita ke kamu secara spesifik. Lebih ke dia enggak pernah cerita ke siapa-siapa soal ini. Aku aja tau karena kebetulan."
Sasa menatapku, lalu menatap Cahaya. "Itu bener?"
Cahaya mengangguk pelan.
"Kenapa?"
Pertanyaan yang sama yang aku ajukan dua hari lalu, dan aku memperhatikan Cahaya kembali menghadapi kesulitan yang sama untuk menjawabnya — bukan karena tidak ada jawaban, tapi karena jawabannya menyentuh sesuatu yang lebih personal dari yang biasa ia bagikan bahkan ke sahabat terdekatnya.
"Karena ini personal," katanya akhirnya, memilih jawaban yang lebih singkat dari yang sebenarnya ia berikan padaku dua hari lalu. "Dan aku enggak yakin orang-orang bakal ngerti kenapa aku suka hal ini."
Sasa terdiam, menatap Cahaya dengan ekspresi yang perlahan melunak dari investigatif menjadi lebih lembut — meski masih ada residu kekesalan yang tersisa. "Cahaya. Aku sahabat kamu dari SMA. Kamu pikir aku bakal ngejudge kamu cuma karena kamu suka bikin kostum anime?"
"Enggak. Bukan itu."
"Terus apa?"
Cahaya menatap meja, jarinya memutar-mutar sedotan minuman tanpa benar-benar meminumnya. "Aku takut kalau aku cerita, orang-orang bakal mikir aku 'sok gaul' padahal diam-diam wibu. Kayak aku punya dua wajah."
"Itu bukan dua wajah," kataku, sebelum benar-benar berpikir apakah ini saatku untuk ikut bicara. "Itu cuma... dua hal yang kamu suka. Orang bisa suka lebih dari satu hal."
Cahaya menoleh ke arahku, dan untuk beberapa detik kami berdua saling menatap dengan cara yang membuat aku merasa perlu mengalihkan pandangan lebih dulu — meski aku tidak sepenuhnya paham kenapa momen sesederhana itu terasa seperti butuh diinterupsi.
"Lagian," kata Sasa, memecah momen itu dengan nada yang lebih ringan dari sebelumnya, "kalau kamu takut orang mikir kamu 'sok gaul terus diam-diam wibu', harusnya kamu lebih takut lagi kalo tau aku juga nonton drama Korea sambil baca webtoon romance tiap malam."
Cahaya mengangkat kepala. "Serius?"
"Serius. Kamu pikir aku ngapain tiap malam selain julid di grup chat?"
"Kenapa kamu enggak pernah cerita?"
"Karena kamu enggak pernah tanya," kata Sasa, dengan senyum kecil yang menunjukkan bahwa ia sengaja menunggu momen yang tepat untuk mengucapkan itu. "Poinnya, semua orang punya sisi yang enggak selalu mereka tunjukin ke semua orang. Enggak berarti itu perlu disembunyiin sampe empat tahun kayak kasus kamu."
Cahaya tertawa kecil — tawa yang lebih ringan dari sebelumnya, tanda ketegangan mulai mencair dari situasi ini. "Oke, poin diterima."
"Bagus. Sekarang," Sasa bersandar, menyilangkan tangan dengan ekspresi yang kembali serius, meski dengan nuansa berbeda dari sebelumnya, "aku mau liat kostumnya."
"Apa?"
"Kostumnya. Yang kamu bikin. Aku mau liat."
Cahaya melirik ke arahku, seperti mencari dukungan atau setidaknya konfirmasi bahwa permintaan ini masuk akal. Aku hanya mengangkat bahu.
"Kenapa?" tanya Cahaya lagi ke Sasa.
"Karena kamu habisin tiga bulan buat sesuatu, dan aku sahabat kamu, dan aku enggak pernah liat hasil kerja keras kamu selama itu. Itu enggak adil."
"Enggak adil buat siapa?"
"Buat aku, karena aku ketinggalan empat tahun drama kostum-kostuman kamu."
Cahaya menatap Sasa lama, lalu menghela napas dengan ekspresi yang campur antara pasrah dan lega. "Oke. Tapi jangan bilang siapa-siapa dulu."
"Aku enggak akan bilang. Tapi—" Sasa mengangkat satu jari, menunjukkan bahwa ada syarat tambahan. "Kamu harus cerita detail. Semua kostum. Semua proses. Aku enggak mau tau setengah-setengah kayak sekarang."
"Itu bakal makan waktu lama."
"Aku punya waktu. Kamu yang harus siapin waktu."
Selepas makan siang, waktu Cahaya sudah bergegas ke kelas berikutnya dan Sasa masih membereskan nampannya, aku sempat tertinggal beberapa langkah bersama Sasa di lorong kantin.
"Kamu tau soal ini duluan," katanya, bukan pertanyaan, lebih ke pernyataan yang sedikit menuduh.
"Kebetulan."
"Kebetulan yang cukup besar."
"Aku memang tidak sengaja menemukannya."
Sasa menatapku dengan ekspresi yang sulit aku baca — bukan curiga, tapi sesuatu yang lebih dekat dengan penilaian. "Reaksi kamu waktu tau?"
"Terkejut. Lalu—" Aku berhenti sebentar, memikirkan kata yang tepat. "Kagum, mungkin. Detail kerjaannya bagus."
"Cuma itu?"
Pertanyaan yang terasa seperti punya lapisan lain di baliknya, tapi aku tidak sepenuhnya yakin lapisan apa yang Sasa maksud.
"Apa maksudmu?"
Sasa menatapku beberapa detik lebih lama, lalu menggeleng pelan, seperti memutuskan untuk tidak melanjutkan apapun yang sedang ia pikirkan. "Bukan apa-apa. Cuma penasaran."
Kami berjalan dalam diam sebentar sebelum Sasa bicara lagi, kali ini dengan nada yang lebih ringan.
"Kamu tau enggak, dari semua orang yang mungkin bisa dia percaya duluan soal ini, dia pilih kamu."
"Aku menemukannya secara tidak sengaja," koreksiku. "Bukan dia yang memilih cerita duluan."
"Tapi dia enggak nyembunyiin kotak itu lebih rapat setelah kamu tau. Dia bisa aja pindahin ke tempat lain, atau minta kamu enggak cerita ke siapa-siapa dan tutup topiknya. Tapi dia malah nunjukin lebih banyak ke kamu — kan katanya kamu tau soal serialnya juga, dia jelasin detail-detail kecil kayak berapa lama ngerjain, kenapa dia mulai."
Aku tidak langsung menjawab, karena aku tidak sepenuhnya memikirkan hal ini dari sudut pandang itu sebelumnya.
"Itu enggak seperti orang yang cuma kebetulan ketauan," lanjut Sasa. "Itu lebih kayak... dia udah lama nunggu seseorang buat nemuin itu."
Kalimat itu menggantung di udara antara kami untuk beberapa detik, dan aku merasakan sesuatu yang familiar — perasaan yang sama seperti waktu aku duduk di lantai kamar Cahaya dua hari lalu, menatap kostum biru tua dengan detail emas itu, mencoba memproses implikasi dari sesuatu yang lebih besar dari yang terlihat di permukaan.
"Aku enggak tahu soal itu," kataku akhirnya, karena itu jawaban paling jujur yang bisa aku berikan.
Sasa menatapku sekali lagi, dengan ekspresi yang kali ini aku kenali sebagai sesuatu yang dekat dengan rasa kasihan, meski aku tidak sepenuhnya paham untuk siapa rasa kasihan itu ditujukan.
"Ya," katanya pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke aku. "Kayaknya emang enggak."
Ia mempercepat langkahnya sebelum aku sempat bertanya apa maksud dari kalimat itu, meninggalkan aku berdiri di tengah lorong kantin dengan perasaan bahwa aku baru saja melewatkan sesuatu yang penting — sesuatu yang, kalau aku lebih teliti, mungkin sudah ada tanda-tandanya sejak lama.
Tapi aku tidak cukup teliti untuk hal semacam itu. Belum, setidaknya.
Sore harinya, di kamarku sendiri, aku menerima pesan dari Cahaya yang berisi foto — bukan foto kostum, tapi foto dirinya dan Sasa duduk berdampingan di kamar Cahaya, dengan kotak-kotak kostum terbuka di sekitar mereka dan ekspresi Sasa yang, dari foto itu saja, terlihat jauh lebih antusias dari yang aku bayangkan berdasarkan reaksi awalnya di kantin tadi siang.
"Sasa suka banget ternyata," tulis Cahaya di bawah foto itu. "Dia bahkan nanya bisa enggak dia coba bikin sendiri juga."
Aku mengetik balasan. "Bagus. Berarti dia enggak ngejudge."
"Enggak sama sekali. Malah minta diajarin jahit."
"Kamu ngajarin?"
"Lagi nyoba. Tapi dia lebih parah dari aku waktu pertama kali. Benangnya kusut mulu."
Aku tersenyum sendiri membaca itu, membayangkan Sasa yang tadi siang bersikeras dengan nada investigatif kini duduk dengan jarum dan benang di tangan, berjuang dengan sesuatu yang sepenuhnya baru baginya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanyaku, karena entah kenapa pertanyaan itu terasa penting untuk ditanyakan.
Jeda cukup lama sebelum balasan datang.
"Lega," tulisnya akhirnya. "Enggak nyangka bakal selega ini."
"Kenapa?"
"Karena sekarang enggak cuma kamu yang tau. Rasanya kayak beban yang aku pikul sendirian selama ini jadi lebih ringan."
Aku menatap kalimat itu cukup lama, memikirkan kembali apa yang Sasa katakan di lorong kantin tadi siang — tentang bagaimana Cahaya tidak menyembunyikan lebih rapat setelah aku tahu, tentang bagaimana ia justru membuka lebih banyak.
"Aku senang kamu enggak perlu nyimpen sendirian lagi," ketikku, meski aku merasa kalimat itu tidak sepenuhnya menangkap apa yang sebenarnya ingin aku sampaikan.
"Makasih, Ren."
"Buat apa?"
"Buat enggak bikin ini jadi aneh. Buat masih di sini."
Aku menatap kalimat terakhir itu — buat masih di sini — dan merasakan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa aku definisikan, sesuatu yang mengambang di antara rasa nyaman dan rasa penasaran yang belum menemukan bentuknya.
"Aku enggak akan ke mana-mana," balasku akhirnya, karena itu adalah jawaban yang paling jujur dan paling sederhana yang bisa aku berikan.
Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi — pola yang sudah sangat aku kenal.
Kemudian hanya satu stiker yang masuk. Karakter yang sama dengan yang ia kirim dua hari lalu — yang tersenyum kecil dengan latar belakang warna hangat.
Aku menutup ponsel, merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berputar di antara detail-detail hari ini: Sasa yang berubah dari investigator menjadi murid jahit dadakan, Cahaya yang mengaku merasa lega, dan satu kalimat dari Sasa di lorong kantin yang masih mengambang di kepalaku tanpa mau benar-benar pergi.
Itu lebih kayak dia udah lama nunggu seseorang buat nemuin itu.
Aku tidak sepenuhnya tahu harus melakukan apa dengan kalimat itu. Jadi, seperti biasa, aku menyimpannya di suatu tempat di kepala dan melanjutkan hari seperti biasa — tidak menyadari bahwa penyimpanan semacam itu, kalau dilakukan terlalu sering terhadap hal yang terlalu banyak, pada akhirnya akan menumpuk menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa aku tangani sekaligus.
Tapi itu, seperti biasa, adalah pikiran untuk lain waktu.