Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: BATASAN MORTAL

​Sebelum cakar hitam korosif milik Penjaga Celah sempat mencengkeram dan meremukkan dada Mo Xie, Xue Qingyue telah melesat maju bagaikan kilatan cahaya perak yang membelah kegelapan malam.

​Pedang kristalnya menusuk udara dengan kecepatan yang nyaris tak kasat mata oleh pandangan fana.

​WUSH!

​Hawa dingin ekstrem yang luar biasa murni meledak dari ujung senjatanya. Dalam sekejap mata, lengan raksasa entitas Void yang hampir mencabik Mo Xie langsung membeku kaku, berubah menjadi es hitam yang rapuh sebelum akhirnya retak dan hancur berkeping-keping menjadi debu es di udara.

​"Cepat mundur, Mo Xie!" bentak Xue Qingyue tanpa menoleh sedikit pun.

​Tubuhnya tetap siaga memasang kuda-kuda bertarung yang presisi di depan Mo Xie, gaun perak-birunya memancarkan pendar Hukum Es pertahanan yang pekat.

​Mo Xie terkesiap. Hawa dingin ekstrem yang dilepaskan Xue Qingyue barusan sempat membuat bulu kuduknya meremang kaku, menyadarkannya dari lamunan instan tentang betapa ganasnya insting pembunuh entitas ini.

​Tanpa membuang waktu atau membiarkan egonya menghalangi pertimbangan rasional, Mo Xie melompat mundur beberapa langkah, menempatkan dirinya di posisi yang lebih aman untuk menganalisis arus pertempuran.

​"Kenapa Ketua Agung Han Wuyan mengutus kita ke neraka ini?!" tanya Mo Xie setengah berteriak di tengah deru angin badai, mata kirinya menatap tajam pada dua entitas Void lain yang kini mulai bergerak merayap mengepung mereka dari sisi kiri dan kanan.

​"Cih... kau belum sadar juga?" sahut Xue Qingyue, sudut bibirnya berkedut menahan ketegangan saat ia menepis terkaman cakar entitas kedua menggunakan pedang kristalnya.

​Setiap gerakannya terlihat anggun namun sangat mematikan.

​"Ini adalah ujian seberapa mampu kau bertahan hidup di garis depan! Ketua Agung ingin menyaksikan apakah kau hanya manusia fana yang menggembar-gemborkan dendam besar, atau kau benar-benar memiliki nilai untuk bertarung di perang yang sesungguhnya!"

​Mo Xie menggenggam gagang pedang hitam di tangan kanannya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih di balik balutan kain hitam. Di dalam rongga dadanya, jantungnya berdegup kencang—bukan karena rasa takut yang melumpuhkan, melainkan karena gejolak adrenalin yang meletup-letup liar.

​Ia sadar betul akan jurang perbedaan tingkat kekuatan ini.

​Xue Qingyue berada di ranah Awakened puncak, bergerak dengan presisi, kelincahan, dan pasokan Hukum Es yang jauh berada di atas dirinya. Sementara dirinya sendiri masih merangkak di ranah Mortal, mengandalkan kekuatan pinjaman dari Pedang Kehampaan yang sewaktu-waktu bisa mengikis kewarasan serta merusak fisiknya.

​Kesenjangan hirarki ini begitu nyata, begitu menekan hingga membuat napas Mo Xie terasa sesak dan berat.

​Namun, alih-alih merasa gentar atau tawar hati, seulas senyum liar dan penuh tekad perlahan terukir di bibirnya. Mata kirinya yang berwarna biru gletser mendadak berpendar jauh lebih terang, seolah merespons gejolak ketidaksudian di dalam jiwanya.

​Perbedaan kekuatan? Persetan dengan semua itu! batin Mo Xie murka.

​"Ujian garis depan, ya...?" gumam Mo Xie, suaranya kini terdengar sangat rendah, parau, dan berbahaya.

​Ia mengambil langkah lebar ke depan, menyejajarkan posisinya tepat di samping Xue Qingyue. Bilah pedang hitamnya kini kembali diselimuti oleh semburat ungu pekat yang meninggalkan jejak korosi di udara, mengikis lapisan salju di sekitar kakinya hingga meleleh menjadi cairan hitam.

​"Ini adalah kesempatan terbaik untuk bertarung dengan musuh yang lebih kuat dari raga fanaku! Jika aku bahkan tidak bisa melewati rintangan sekecil ini... bagaimana mungkin aku bisa menyeret para Dewa turun dari takhta langit mereka?!"

​Dengan dengusan yang sarat akan tekad mutlak, Mo Xie melesat maju, mengarahkan tebasan pedang hitamnya langsung ke arah entitas Void ketiga yang bersiap melompat menerjang mereka!

​BOOOOM!

​Sebuah ledakan energi ungu kemerahan menghantam tanah es, menciptakan kawah besar yang memuntahkan pecahan batu dan abu panas ke segala arah.

​Mo Xie terlempar beberapa meter ke belakang. Sepatu kainnya menyeret lapisan salju hitam hingga ia berhasil menancapkan pedang hitamnya ke tanah untuk menahan momentum dorongan.

​Napasnya memburu kasar, dadanya naik turun dengan cepat sementara keringat dingin bercampur abu belerang mengalir menetes di pelipisnya.

​Pertarungan ini benar-benar berada di tingkat yang sepenuhnya berbeda dari apa yang pernah ia hadapi di Lembah Yunlan. Entitas-entitas dari celah dimensi ini tidak mengenal rasa takut ataupun rasa sakit; setiap bagian jaringan tubuh mereka yang terputus seolah beregenerasi dengan cepat oleh pasokan Qi Kegelapan dari celah yang terbuka.

​"Mo Xie! Jangan biarkan fokusmu terpecah!" seru Xue Qingyue.

​Praktisi wanita itu melesat cepat di antara puing-puing es yang melayang. Gaun peraknya memantulkan pendar cahaya ungu dari langit yang retak saat ia melompat tinggi ke udara.

​Dengan gerakan memutar yang sangat presisi, Xue Qingyue merendahkan ujung pedang kristalnya ke bawah, menghujamkannya langsung ke tanah bersalju.

​CRACKKK!

​Kristal-kristal es murni berukuran raksasa mencuat dari dalam tanah, merambat cepat bagai akar pohon yang murka dan langsung melilit kaki serta tubuh masif sang Penjaga Celah.

​Hukum Es milik Xue Qingyue mengunci pergerakan entitas raksasa itu dengan kokoh. Namun, tekanan dari Qi Kegelapan yang dipancarkan Penjaga Celah begitu dahsyat hingga es murni tersebut mulai menunjukkan retakan-retakan halus dalam hitungan waktu.

​"Hanya ada waktu tiga tarikan napas, Mo Xie! Hancurkan intinya sekarang!" teriak Xue Qingyue, wajahnya menegang menahan beban Qi yang terus terkikis tajam.

​Tiga tarikan napas. Bagi praktisi biasa, waktu itu hanyalah sekejap mata yang berlalu tanpa arti.

​Namun bagi Mo Xie, yang kini mata kirinya bersinar biru gletser murni akibat resonansi pasif Inti Es Abadi, persepsi di sekelilingnya seolah melambat dan membeku.

​Melalui pandangan mata kirinya, Mo Xie mampu membaca setiap detail alur energi dengan sangat jelas.

​Ia melihat setiap retakan pada es pelindung Xue Qingyue, ia memetakan aliran energi ungu yang berpusat di rongga dada sang entitas, dan ia melihat celah kosong yang terbuka lebar di antara pelat zirah hitam yang membeku.

​Tarikan napas pertama...

​Mo Xie menarik kaki kirinya ke belakang, mengambil ancang-ancang dengan seluruh berat tubuhnya bertumpu pada otot-otot kaki kanan.

​Tarikan napas kedua...

​Ia menyalurkan sisa kehendak dan energinya ke lengan kanan. Pedang Kehampaan mendesis keras, memancarkan aura Qi Kegelapan pekat yang meliuk-liuk bagai ular kelaparan yang siap melumat mangsanya.

​Tarikan napas ketiga!

​"Tebasan Kehampaan!"

​Mo Xie melesat maju bagaikan bayangan hitam yang membelah badai salju. Dengan kecepatan penuh, ia melompati retakan es dan mengayunkan pedangnya dalam satu tebasan horizontal yang dahsyat, mengincar tepat pada titik kelemahan di dada entitas yang sedang terkunci tersebut.

​CRASHHH!

​Bilah Pedang Kehampaan milik Mo Xie menghantam presisi di pusat inti energi Penjaga Celah. Benturan dua kekuatan ekstrem—Qi Kegelapan milik Mo Xie dan Hukum Es murni milik Xue Qingyue—menciptakan reaksi berantai yang memekakkan telinga.

​BOOOOOM!

​Ledakan dahsyat kembali meletup, menghempaskan gelombang kejut yang meruntuhkan dinding-dinding es di sekitar lembah.

​Namun, di tengah kepulan asap hitam dan serpihan es yang berterbangan, raungan kemarahan Penjaga Celah justru kembali menggelegar, jauh lebih liar dan mengerikan dari sebelumnya.

​Pelat zirahnya memang telah hancur lebur, namun wujud bayangan hitamnya masih berdiri tegak, memancarkan pendar merah dari intinya yang kian tidak terkendali!

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!