Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Di Tanah Anarki

Takdir Cinta Di Tanah Anarki

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:52k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Makan Malam

Komandan Kaivan langsung membawa Silvana ke rumahnya yang berada di sebrang rumah Silvana. Gadis yang baru turun dari boncengan itu tampak sangat lelah.

"Ayo masuk." Ajak Komandan Kaivan. Silvana mengangguk kemudian berjalan mengikuti Komandan Kaivan.

Begitu masuk, indra penciumannya di sambut dengan aroma wangi yang menenangkan. Rasa tidak nyaman yang sedari tadi mengungkungnya, perlahan mulai sirna.

"Silahkan duduk. Saya hangatkan nasinya sebentar." Ujar Komandan Kaivan yang kembali di jawab anggukan oleh Silvana.

Sepeninggal si empunya rumah, Silvana mengedarkan pandangannya. Ia menelisik setiap bagian rumah yang tertata rapi. Tak hanya rapi, rumah minimalis yang hanya memiliki satu kamar itu juga sangat bersih.

Sama seperti rumahnya yang hanya memiliki satu kamar, rumah Komandan Kaivan pun hanya memiliki satu kamar. Namun, rumah Komandan Kaivan tak sekosong rumahnya. Ada cukup banyak perabotan, salah satunya adalah sofa yang ia duduki.

Namun, di rumah itu Silvana tak melihat adanya alat elektronik seperti televisi, kulkas atau alat penanak nasi, sama seperti di rumahnya.

Dari dapur, terdengar suara kompor yang sedang di nyalakan. Di tempatnya duduk, Silvana sedikit gelisah karena tak enak hati. Ia hanya berdiam diri, sedangkan Komandan Kaivan justru sibuk di dapur.

"Aduh, gimana, ya?" Batin Silvana.

Ia melirik beberapa kali ke arah dalam, sebelum melangkah dengan yakin untuk menghampiri Komandan Kaivan yang berada di dapur.

"Ada yang bisa saya bantu, Ndan?" Tanya Silvana sambil mengintip ke arah Komandan Kaivan dari ambang pintu dapur dan ruang tengah.

"Tidak usah. Saya hanya menghangatkan nasi dan memasak lauk." Jawab Komandan Kaivan.

"Duduk saja, disana." Ujar Komandan Kaivan yang di akhiri dengan ulasan senyum tipis.

Silvana mendadak sedikit oleng ketika melihat senyuman Komandannya. Meski senyuman itu begitu tipis, namun Silvana bisa melihatnya dengan jelas. Komandannya itu terlihat makin tampan ketika tersenyum.

"Kamu kuat berdiri?" Celetuk Komandan Kaivan tanpa menoleh ke arah Silvana.

"Eh. Iya, Ndan." Jawab Silvana yang kemudian duduk di kursi meja makan.

Ia duduk sembari menatap bahu lebar Komandan Kaivan yang terbungkus kaos. Pria itu tampak sangat cekatan saat berada di dapur.

"Komandan bisa masak?" Tanya Silvana.

"Hanya bisa masak lauk dan sayur sederhana saja." Jawab Komandan Kaivan sembari menoleh sedikit ke arah Silvana.

"Sejak kapan?" Tanya Silvana.

"Sejak saya menjadi anggota Militer." Jawab Komandan Kaivan.

"Tidak hanya belajar bela diri dan strategi. Kami juga di bekali cara bertahan hidup, termasuk memasak." Jawab Komandan Kaivan.

Suara baritonnya terdengar santai, namun sama sekali tak mengurangi nuansa ketegasan.

"Komandan juga tidak punya alat elektronik?" Tanya Silvana.

"Ada hape dan laptop." Jawab Komandan Kaivan yang langsung mengundang senyuman di bibir Silvana.

"Bukan. Maksud saya itu, lemari es, penanak nasi atau tv." Kata Silvana yang merasa tergelitik dengan kepolosan Komandannya.

"Oh, itu." Komandan Kaivan menjeda ucapannya. Ia meletakkan satu mangkuk besar berisi nasi dan sepiring sayur kangkung di atas meja makan.

"Saya memang sengaja tidak membeli peralatan itu." Ujar Komandan Kaivan sembari mengambil piring berisi telur dadar yang sudah di potong-potong.

"Kenapa, Ndan?" Tanya Silvana penasaran.

Komandan Kaivan meletakkan sebuah piring di depan Silvana kemudian duduk berhadapan dengan Dokter Cantik yang bekerja di Klinik Markas Batalyon itu.

"Saya rasa itu tidak terlalu penting." Jawab Komandan Kaivan sembari memberikan sendok dan garpu pada Silvana.

"Lagi pula, tenaga listrik di sini cukup terbatas. Kurang bijak rasanya, jika saya menggunakan banyak peralatan elektronik, sementara orang lain banyak yang gelap-gelapan di malam hari." Jawab Komandan Kaivan yang cukup menohok.

Silvana merasa tertampar dengan jawaban Komandan di depannya. Ia langsung teringat dengan kejadian saat ia hendak menitip untuk di belikan kulkas dan alat penanak nasi.

"Silahkan dimakan." Ujar Komandan Kaivan yang di jawab anggukan oleh Silvana.

"Lalu, setiap hari, Komandan belanja dimana?" Tanya Silvana. Ia semakin ingin mengorek keseharian Komandan Kaivan. Mungkin akan ada pelajaran yang bisa ia terapkan selama tinggal di sini.

Silvana kemudian menuangkan air minum ke dalam gelas dan meletakkannya di dekat piring Komandan Kaivan. Setelahnya, ia kembali menuangkan air untuknya sendiri.

"Saya jarang berbelanja. Biasanya hanya satu minggu sekali, paling sering dua kali dalam satu minggu." Jawab Komandan Kaivan.

Silvana tampak mengernyitkan dahi ketika mendengar jawaban dari Komandan Kaivan. Tentu aneh jika Komandannya itu jarang berbelanja, sementara tak ada lemari es yang bisa membuat bahan masakan tetap awet.

"Kamu harus bisa memilah bahan yang memiliki ketahanan di suhu ruang." Ujar Komandan Kaivan yang menjawab segala pertanyaan di benak Silvana.

"Kalau sayuran dan cabai, saya ada beberapa tanaman di kebun belakang. Biasanya saya beli telur atau sarden kemasan kaleng untuk lauk yang bisa di simpan dalam waktu lama. Sementara itu, perbawangan cukup awet di simpan di suhu ruang dalam beberapa hari."

"Saya biasa belanja bawang dalam jumlah yang sedikit, kira-kira cukup untuk satu minggu. Kalau baru belanja, saya juga biasa beli tempe dan tahu. Tempe langsung di masak, sementara tahu biasa saya rebus dan akan di olah keesokan harinya." Kata Komandan Kaivan yang menjelaskan kiat berbelanja pada Silvana.

Silvana mengangguk mengerti. Ia merasa jika mengobrol dengan Komandan Kaivan, bisa memberinya pembelajaran.

"Masakan Komandan enak." Puji Silvana. Tak bisa di pungkiri, masakan Komandan Kaivan memang terasa cukup lezat meskipun sederhana.

"Terima kasih." Ucap Komandan Kaivan dengan singkat dan tak ada ekspresi berlebihan saat menjawab pujian dari Silvana.

Keduanya kembali berbincang sembari menikmati makan malam mereka. Tepatnya, Silvana justru mendapat banyak pembelajaran dari Komandannya.

"Biar saya cuci, Ndan." Kata Silvana saat membereskan bekas alat makan mereka.

"Tidak usah. Biar besok saya cuci." Jawab Komandan Kaivan yang melarang Silvana.

"Tidak apa-apa, Ndan." Kukuh Silvana.

"Lebih baik kamu beristirahat. Besok kita harus mendistribusikan bantuan yang sudah kita ambil kemarin." Kata Komandan Kaivan yang tetap melarang Silvana melakukan pekerjaan di rumahnya.

Anehnya, Silvana tak bisa lagi membantah ucapan Komandan Kaivan ketika menatap netra Komandannya itu. Silvana pun mengangguk dan menurut saja dengan Komandannya.

"Gak apa-apa, kalau saya langsung pulang, Ndan?" Tanya Silvana.

"Memangnya kamu mau menginap di sini?" Komandan Kaivan justru balik bertanya hingga membuat Silvana meringis.

"Ya tidak apa-apa. Memang saya yang menyarankanmu untuk segera beristirahat." Ujar Komandan Kaivan kemudian.

"Oh iya, Ndan. Riki dan Miko, bagaimana?" Tanya Silvana ketika ia dan Komadan Kaivan melangkah menuju ke bagian depan rumah.

"Mereka sudah kembali sejak tadi." Jawab Komandan Kaivan.

"Motornya bisa menyala?" Tanya Silvana.

"Belum. Mereka menarik motor yang mogok sampai ke Markas." Jawab Komandan Kaivan.

Silvana terdiam sejenak. Ia merasa tak enak karena kembali merepotkan Riki dan Miko yang tentu sudah lelah dengan pekerjaan mereka.

"Tidak usah merasa bersalah. Saya akan lebih merasa bersalah kalau sampai kamu kenapa-napa." Ujar Komandan Kaivan yang kembali bisa membaca apa yang sedang di pikirkan oleh Silvana.

Mendengar itu, tiba-tiba wajah Silvana terasa memanas.

"Saya permisi dulu, Ndan. Terima kasih makan malamnya. Assalamualaikum." Ucap Silvana yang kemudian keluar dari rumah Komandan.

"Sama-sama. Waalaikumsalam." Jawab Komandan Kaivan.

1
Murti Puji Lestari
ya ampun tegang banget pas bacanya, tapi seru..
duh penasaran bin penisirin ini
Murti Puji Lestari
semoga itu komandan kaivan bersama anggotanya
rizky tria
bu Dokter ga nurut sama Komandan jd kan 🙄😞
Zuny Achmad
lanjut kak 💪💪💪
Dewi kunti
masih up LG kan ya,kan udah gak mendua
ika
karya othor emang jos jis
ika
ngeri juga ya...
Ebhot Dinni
bagus ceritanya
Nice1808
wah dokter sisil di sandera, jgn takut dokter komandan pasti menyelamatkanmu
Chandhitha Priyanika
jd ikutan tegang neh , mudah²an yg dateng komandan ya
This Is Me
Pintet banget potomg ceritanya disini, jadi bikin makin penasaran
pendekar angin barat
seru....semoga pak komandan yg dtg ya
lia juliati
bukannya seorang dokter untk turun k medan konflik hrs ada pelatihan dasar dlu ya.... baik fisik atau perlindungan diri....
Faqisa Sakila
Waduh.. Dosil dlm bhaya,,
Ayo komandan cpet datang...
jgn smpae ad prtumpahan darah y thor 😡😡😡
Tosari Agung
thor komandan kaivan punya sisi lain gak thor
Munas Tuti
bakalan seru ni mbak Fre 👍👍
Rahmawati
komandan gentle bgt, sudah minta ijin dulu sama ayah dosil
¢ᖱ'D⃤ ̐𝙽❗𝙽 𝙶 ᴸᵁᴾᴵ
hadir kak.....
semangat untuk terus berkarya kak, selalu keren untuk ceritamu, semoga selalu diberi kesehatan agar selalu bisa berkarya 🫰
Murti Puji Lestari
pak komandan satu ini garcep juga, langsung nembung ke ayah doksil, romantisnya emang beda mereka tuh
ika
mamas aka ma Nty cim udah tamat aja, nungguin dokter Sisil ma komandan aja dl, sambil ngebut ryuga
semangat Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!