Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Seminggu setelah kembali dari rumah sakit, Lorenzo akhirnya menjalani pemeriksaan lanjutan. Alina menemaninya ke rumah sakit. Selama pemeriksaan berlangsung, wanita itu beberapa kali mencuri pandang ke arah suaminya.
Lorenzo memang sudah jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali pulang. Wajahnya tidak lagi sepucat sebelumnya, luka-luka di tubuhnya juga mulai mengering, dan kakinya sudah bisa digunakan untuk berjalan meskipun masih harus berhati-hati.
Setelah beberapa pemeriksaan selesai dilakukan, dokter kembali melihat hasil pemindaian dan beberapa catatan medis di tangannya.
Senyum dokter terlihat cukup meyakinkan. "Hasil pemeriksaannya sangat bagus. Kondisinya berkembang sesuai harapan."
Alina yang duduk di samping Lorenzo langsung mengembuskan napas lega.
"Syukurlah. Setidaknya tidak ada masalah baru."
Lorenzo mengangguk kecil. Setelah beberapa saat, dia justru mengajukan pertanyaan yang sejak tadi ingin dia tanyakan.
"Dok, apa aku sudah boleh pergi bekerja?" tanya Lorenzo.
Alina langsung menoleh.
"Bukannya menikmati masa pemulihan? Kenapa orang ini malah sudah ingin bekerja?"
Dokter terkekeh kecil sebelum menjawab.
"Tentu saja boleh. Dengan melakukan kegiatan harian yang sering dilakukan dahulu, bisa merangsang ingatan," jelas dokter.
"Benarkah? Kalau begitu, semakin cepat Lorenzo kembali melakukan aktivitasnya, semakin besar kemungkinan ingatannya kembali. Itu kabar yang sangat bagus."
Mata Alina langsung berbinar. Bukan karena dia khawatir Lorenzo akan terlalu lama berada di rumah. Hanya saja ada satu hal yang sangat ingin Alina kembali dengar dari suaminya.
Lorenzo yang duduk di sebelahnya langsung menoleh tajam. Wajah pria itu berubah kecut.
Sejak kecelakaan, entah sudah berapa kali dirinya mendapatkan julukan "kulkas" di dalam pikiran istrinya sendiri.
Yang membuatnya lebih kesal adalah Alina selalu terlihat begitu baik di depannya. Wajahnya lembut, suara sopan, sikapnya perhatian, tetapi isi kepalanya benar-benar tidak bisa dipercaya.
"Istri mana di dunia ini yang malah ingin diceraikan oleh suaminya?"
Lorenzo mendengus pelan.
Alina menoleh. "Kenapa?" tanyanya.
"Tidak apa-apa."
"Kamu kelihatan kesal."
"Aku memang sedang kesal."
Alina mengerutkan kening. "Kenapa?"
Lorenzo hampir saja menjawab, "Karena kamu berharap aku segera mengingat perceraian kita."
Namun, dia buru-buru menahannya. "Entahlah. Mungkin aku masih pusing."
"Oh." Alina langsung mengangguk. Tidak ada rasa curiga sedikit pun.
Lorenzo justru semakin kesal. Bagaimana bisa wanita ini begitu mudah percaya? Padahal dirinya baru saja berbohong terang-terangan.
Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil cukup tenang. Alina duduk di kursi penumpang sambil memandangi pemandangan di luar jendela. Jalanan kota yang mereka lewati tampak ramai. Toko-toko mulai dipenuhi pelanggan, kendaraan berlalu-lalang, dan beberapa pejalan kaki terlihat terburu-buru mengejar aktivitas masing-masing.
Alina memperhatikan semuanya dengan santai. Namun, semakin dekat dengan rumah, senyum di wajahnya justru semakin lebar. Tanpa sadar, ujung jarinya mengetuk-ngetuk paha mengikuti irama lagu yang terputar dari radio. Kemudian, Alina mulai bernyanyi di dalam hatinya.
"Na na na ...."
Lorenzo meliriknya. Dia mengangkat satu alis. Dia bahkan tidak tahu lagu apa yang dinyanyikan istrinya. Yang dia tahu, ekspresi Alina terlihat seperti seseorang yang baru saja memenangkan hadiah utama sebuah undian.
"Sepertinya kamu sedang senang?" tanya Lorenzo akhirnya.
Alina langsung berhenti bernyanyi. "Senang?" ulang wanita itu dengan alis mengkerut.
"Iya."
"Kenapa aku harus senang?"
Lorenzo meliriknya sebentar. "Karena sejak tadi kamu tersenyum terus."
Alina refleks menyentuh bibirnya sendiri. Kemudian dia kembali melihat ke luar jendela.
"Aku cuma senang karena kondisi kamu sudah membaik."
Lorenzo terdiam. Kalau saja dia tidak bisa mendengar isi kepala istrinya, jawaban itu terdengar begitu tulus.
"Semoga si kulkas ini bisa segera pulih ingatannya dan segera mengurus gugatan perceraian."
Lorenzo langsung memalingkan wajah ke depan. Dia menarik napas panjang.
"Ternyata memang tidak tulus."
Sementara itu, Alina kembali bersenandung dengan lagu yang berbeda.
Lorenzo meliriknya lagi. "Kenapa kamu bernyanyi terus?"
"Eeee, sejak tadi aku diam," balas Alina heran.
"Kamu sedang bahagia?"
Alina mengangguk kecil. "Iya."
"Karena aku sudah sembuh?"
Alina menoleh. Kemudian dia tersenyum manis. . "Salah satunya."
Lorenzo mendengarkan isi pikirannya.
"Karena kalau kamu sudah sehat, berarti ingat semuanya. Termasuk perceraian."
Lorenzo memejamkan mata sebentar. Dia mulai curiga bahwa istrinya sedang merencanakan sesuatu.
Begitu mobil berhenti di halaman rumah, Alina segera turun. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seseorang di depan pintu rumahnya.
1. dia selingkuh selama pernikahan, berniat menceraikan istrinya demi menikahi wanita lain, membiarkan istrinya diperlakukan semena-mena dikeluarganya, tapi tidak dihargai dirumah, 2.Alin dibuat bertahan 3 tahun dengan suami yang dingin, tidak menghargai istri dan selingkuh dengan pacarnya, sekaligus tekanan dari keluarga suami, tidak punya Sandaran, mengurus rumah dan sekaligus masih bekerja dikantor suami yang mana entah itu privat / disembunyikan.
coba kesampingkan humor tentang membaca pikiran, yg aku tangkap dari rumah tangganya itu semua, rasanya terlalu mudah dimaafin, padahal untungnya cuma Alin gak cinta, dan Lorenzo gak celap celup. sisanya kalo dipikir sakit ya
nyesel lho klo beneran Lorenzo lari k wanita lain, apalagi dia skarang mulai menyukai kaaaamu....