Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 13
DDRRTTTT
DRRRTTTT
DRRRTTTT
Getaran panjang dari ponsel yang diletakkan di atas meja kecil mengejutkan Dilara. Layar ponselnya menyala di tengah keremangan kamar, menayangkan deretan notifikasi pesan yang masuk tanpa henti dari satu nama yang sangat familiarnya: Mas Kevin.
Dilara tertegun sejenak. Jemarinya yang baru saja selesai mengoleskan salep memar menggantung di udara. Dengan helaan napas pendek, ia meraih ponsel tersebut.
Layar terkunci itu dipenuhi belasan pesan singkat yang dikirimkan Kevin sejak sore tadi:
"Dilara, kamu di mana? Tolong angkat teleponku..."
"Kita harus bicarakan masalah perceraian kita dan harta gono gini,"
"Kita berdua juga belum menjelaskan kepada orang tuaku... Kita harus menjelaskannya bersama-sama Dilara... Walau aku tahu aku salah dan aku yakin papa dan mama akan memarahi aku. Tapi, setidaknya kamu menyaksikan aku di marahi oleh mereka, agar bisa membuat rasa sakit di hatimu sedikit berkurang..."
"Astagfirullah... Kenapa Mas Kevin malah ribet begii? Lagian tinggal bicara sama orang tuanya, kenapa harus berdua... Walau mereka sebenarnya baik, tapi Mas Kevin sudah menentukan pilihan masa depannya. Begitupun dengan aku... Maaf mas, aku sudah berjanji tak akan lagi melihat ke belakang," ucap Dilara tanpa berniat membalas pesan dari Kevin.
Dilara membaca deretan kalimat itu dengan sorot mata yang amat tenang. Tidak ada lagi desir kehangatan, tidak ada lagi rasa sakit yang membakar. Yang tersisa hanyalah kepasrahan yang dingin dan kini perasaan cintanya untuk Kevin yang baru saja bertumbuh mulai berguguran. Air matanya juga sudah enggan keluar, karena sudah dia tumpahkan di hari-hari terburuknya. Setiap kata penyesalan yang dikirimkan Kevin kini terasa seperti gema di dalam ruang kosong, terlambat dan tak lagi bermakna. Apalagi secara agama mereka bukan lagi suami istri. Rasanya tak ada kewajiban bagi dia untuk patuh dan menuruti semua keinginan Kevin.
Saat jemari Dilara hendak mematikan layar, pintu kamar ketuk pelan. Elian melangkah masuk kembali membawa sebuah buku tebal bercover kulit cokelat di tangannya.
"Ini buku psikologi anak yang saya katakan tadi..." Kalimat Elian terhenti.
Mata tajamnya menangkap layar ponsel Dilara yang masih menyala terang, memantulkan deretan pesan beruntun dan nama pemanggil yang terus bergetar. Dilara bergegas menekan tombol daya, mematikan layar ponselnya hingga gulita kembali, lalu mengusap wajahnya pelan.
Elian memicingkan mata, menangkap riak lelah dan bayang-bayang duka di wajah pengasuh baru keponakannya itu. Pria tegap itu melangkah mendekat, meletakkan buku tebal tersebut di meja.
"Seseorang mengganggumu?" tanya Elian singkat dengan suara beratnya, melirik ponsel di genggaman Dilara.
Dilara mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang amat santun. "Hanya urusan masa lalu yang lupa kalau pintunya sudah dikunci, Pak Elian."
Elian menatap Dilara intens selama beberapa detik. Ada ketegaran luar biasa yang ia tangkap dari cara wanita itu menguasai emosinya. Pria kaku itu berdeham pelan, lalu menyilangkan tangan di dada.
"Kalau masa lalu itu mengganggu konsentrasimu merawat Elang," ucap Elian datar namun tersirat nada protektif yang tegas.
"Berikan nomornya padaku. Saya bisa minta tim hukum perusahaan untuk mengurus orang itu agar tidak mengganggumu lagi."
Dilara tertegun mendengar tawaran tak terduga itu, lalu kekeh halus lolos dari bibirnya. "Terima kasih banyak atas tawarannya, Pak Elian. Tapi tidak perlu. Saya bisa menyelesaikannya sendiri."
Dilara kemudian menggeser pintasan layar ponselnya, mengusap nama Kevin, lalu menekan tombol Blokir Kontak tanpa keraguan sedikit pun. Layar ponsel itu kembali padam selamanya untuk nama pria masa lalunya.
Elian memperhatikan gerakan mantap Dilara dengan sudut bibir yang terangkat amat tipis hampir tak terlihat.
"Bagus," komentar Elian pendek.
"Sekarang fokus pada buku ini. Besok pagi saya tidak mau mendengar Elang menangis lagi karena pengasuhnya terdistraksi hal tidak penting."
"Baik, Pak Elian. Terima kasih bukunya," jawab Dilara lembut.
Elian berbalik melangkah keluar kamar. Namun di ambang pintu, langkahnya tertahan sejenak. Tanpa menoleh, suara beratnya kembali terdengar di koridor yang sunyi.
"Istirahatlah. Bahumu butuh pulih untuk besok."
Pintu kamar tertutup pelan. Dilara menatap buku psikologi anak di mejanya, lalu membuang napas lega. Malam ini, ia menyadari satu hal: pintu masa lalunya benar-benar telah tertutup rapat, dan lembaran baru dalam hidupnya baru saja dimulai.
Di tempat lain, di dalam rumah mewah yang mendadak terasa teramat luas dan asing, Kevin duduk terpaku di tepi ranjang kamar utama. Lampu kamar sengaja dibiarkan mati, menyisakan pendar redup dari cahaya lampu jalan yang menerobos celah gorden.
Di tangannya, layar ponsel yang terus menampilkan tulisan 'Panggilan Ditolak' perlahan berubah gelap.
"Kenapa tidak diangkat, Dilara..." bisik Kevin parau, jemarinya bergetar hebat saat mencoba menekan tombol panggil sekali lagi. Namun kali ini, hanya suara nada sibuk bernada tunggal yang terdengar, disusul pemberitahuan otomatis bahwa nomor tujuan tidak dapat dihubungi.
Nomornya telah diblokir.
"Aaghh!"
Kevin mengerang frustrasi. Ia melempar ponselnya ke atas kasur empuk di sampingnya, lalu menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Buatan rasa bersalah, kepanikan, dan keraguan yang membakar kini menghantam dadanya tanpa ampun. Mentalak Dilara semalam dan mengizinkannya melangkah pergi pagi tadi rasanya seperti keputusan paling bodoh yang pernah ia buat sepanjang hidupnya.
Bayangan saat Dilara mengemas pakaiannya tanpa setetes pun air mata, senyuman ikhlas yang diberikan istrinya di tengah luka, hingga ucapan perpisahan yang begitu lembut namun membunuh, semuanya berputar bagai kaset rusak di kepala Kevin.
Cklek.
Pintu kamar mendadak terbuka tanpa ketukan. Asha melangkah masuk dengan gaun tidurnya, membawa secangkir teh hangat. Wajahnya dihiasi senyum tipis yang sengaja dibuat semanis mungkin untuk menutupi kebohongan soal 'sakit' dadanya tadi pagi.
"Kev... kamu kenapa melamun di tempat gelap begini?" tanya Asha lembut, melangkah mendekat dan meletakkan cangkir itu di meja nakas. Ia mencoba menyentuh bahu Kevin.
"Sudahlah... jangan dipikirkan lagi wanita itu. Dia yang memilih pergi sendiri, kan? Besok kita bisa mulai mengurus berkas perceraian kalian ke pengadilan..."
"Jangan sentuh aku, Asha!"
Sentakan keras Kevin membuat tangan Asha mengudara. Pria itu berdiri mendadak, menatap Asha dengan sorot mata merah padam yang penuh kilat kemarahan dan penyesalan.
Asha terperanjat, matanya membelalak tak percaya. "Kev? Kamu membentakku lagi?! Aku ini cuma perhatian sama kamu!"
"Perhatian?!" Kevin tertawa sumbang, suara tawa yang begitu menyedihkan.
"Kamu pikir aku tidak tahu sandiwara tadi pagi di teras?! Kamu pura-pura pingsan dan menuduh Dilara yang bukan-bukan!"
Wajah Asha seketika pucat pasi, namun dengan cepat ia berusaha membela diri.
"Aku... aku tidak pura-pura, Kev! Dadaku memang mendadak sesak karena wanita itu bicara kasar padaku saat kamu belum keluar!"
"Cukup, Asha! Berhenti berbohong!" potong Kevin dengan nada tinggi, menunjuk wajah Asha dengan telunjuknya yang bergetar.
"Dilara bukan wanita seperti itu! Satu tahun dia jadi istriku, tidak pernah sekalipun dia bicara kasar atau meninggikan suara, bahkan saat aku bersikap dingin padanya! Dan kamu... kamu datang... Rasanya itu terlalu cepat... Aku sebenarnya ingin pisah dengan cara baik-baik dengan Dilara, Asha..."
"Ini semuanya bukan salah kamu, Kevin... Dia saja yang terlalu berlebihan menanggapi semua keputusan kamu... Aku adalah wanita yang kamu sayang dan citai, kevin. Kita akan bahagia setelah ini... Maaf kalau sebelumnya aku melakukan kesalahan, karena membuat kamu salah faham dengan rasa sakit aku. Aku hanya tidak mau menyakiti hati kamu... Sekarang aku kembali, Kevin... Apa kamu mencintai Dilara?"
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛