Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halo, Agnia!
Mendengar ucapan Reyna yang lugas dan menohok, raut wajah Bude Ambar seketika berubah merah padam. Matanya melotot tajam menatap keponakannya yang kini berani berdiri tegak menantang pandangannya.
"Kurang ajar kamu ya, Reyna!" bentak Bude Ambar seraya menunjuk wajah Reyna dengan jarinya yang gemetar.
"Masih untung Bude mau datang ke tempat kumuh kamu ini! Kamu ingat ya, kalau bukan karena saran Bude dulu, kamu nggak bakal bisa mandiri kayak sekarang! Kamu itu kacang lupa kulitnya!" maki Bude Ambar.
Reyna menyunggingkan senyum sinis yang sangat tipis, rasa takut pada sosok bibinya yang intimidatif itu telah lama menguap dan berganti dengan benteng pertahanan diri yang keras akibat tempaan penderitaan hidup.
"Saran, Bude?" pangkas Reyna dengan nada suara tenang namun tajam menembus ulu hati.
"Maksud Bude, saran untuk mengusir anak yatim piatu berumur belasan tahun dari rumah peninggalan orang tuanya sendiri? Atau saran untuk melepaskan tanggung jawab sebagai satu-satunya saudara kandung Ibu saya?" sindir Reyna.
Bude Ambar tersentak, tenggorokannya mendadak mengering. Ia tidak menyangka Reyna yang dulunya pemalu dan selalu menangis kini menyimpan ingatan yang begitu kelam dan berani menyuarakannya tanpa ragu.
"Dulu saat Ibu dan Ayah meninggal karena kecelakaan, Bude yang paling cepat menguasai surat-surat rumah di kampung," lanjut Reyna, melangkah satu tapak lebih dekat ke ambang pintu.
"Tapi saat aku minta tinggal sebentar sampai lulus SMA, Bude bilang rumah Bude bukan panti asuhan. Sekarang, setelah semua uang hasil penjualan rumah itu Bude habiskan bersama anak-anak Bude, Bude datang ke sini minta pinjaman uang?"
"Reyna! Jaga mulut kamu!" jerit Bude Ambar melengking dan mencoba menutupi rasa malunya dari tetangga sekitar kontrakan yang mulai mengintip dari balik jendela.
"Itu masalah lalu! Sekarang Bude lagi butuh uang buat bayar tunggakan apartemen sepupu kamu!"
"Uangku cuma cukup buat makanku sendiri sampai akhir bulan, Bude. Dan kalaupun aku punya uang lebih, aku nggak akan pernah memberikan satu rupiah pun untuk orang yang pernah menelantarkanku. Permisi, Bude. Aku mau istirahat," jawab Reyna dingin.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Bude Ambar untuk membalas, Reyna langsung menarik gagang pintu dan menutupnya rapat-rapat, suara kunci diputar dua kali berbunyi nyaring di tengah heningnya siang itu.
Dari luar, terdengar makian dan ketukan kasar Bude Ambar beberapa kali pada daun pintu kayu tersebut, namun Reyna sama sekali tidak memedulikannya. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu dan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
Gedoran di pintu akhirnya berhenti disambut langkah kaki Bude Ambar yang menyentak pergi seraya menyumpah serapah, Reyna melangkah kembali ke kasurnya. Ada sedikit getaran di dadanya, bukan karena takut, melainkan karena luka lama yang kembali tergaruk. Namun, Reyna tersenyum bangga pada dirinya sendiri karena hari ini, ia berhasil berdiri melindungi dirinya sendiri.
"Harusnya aku melakukan ini ke Bu Sandra juga ya, tapi kalau ke Bu Sandra nanti aku dipecat hehehe. Tenang, aku bakal cari kerja, jadi aku bisa keluar dari sana secepatnya," gumam Reyna.
...###...
Dua minggu berlalu begitu cepat seperti hembusan angin malam di Kota Bandung. Selama empat belas hari itu, kehidupan Reyna berjalan dalam ritme yang konstan dan monoton, bangun di pagi hari yang dingin, menghadapi tumpukan berkas kain impor, menahan sindiran halus Bu Sandra dan membimbing Clarissa yang makin mahir, lalu pulang ke kontrakan petaknya dengan tubuh remuk redam.
Namun, ada satu hal yang berbeda. Di meja kerjanya, kini selalu ada perhatian-perhatian kecil dari Clarissa. Kadang gadis muda itu membawakannya kopi favorit, kadang membagikan kudapan manis atau sekadar membantu menata map arsip tanpa diminta.
Ditengah pekerjaannya, tiba-tiba ponsel Reyna yang tergeletak di samping keyboard bergetar nyaring, layarnya menampilkan nama yang sudah dua minggu ini menghilang dari jangkauannya yaitu Agnia.
Reyna melirik ke arah ruangan Bu Sandra yang syukurnya sedang kosong karena atasannya itu sedang ada rapat di luar. Dengan cepat, Reyna menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
^^^[Halo, Agnia!] - Reyna^^^
[Reyna! Ya ampun, kangen banget! Aku baru banget mendarat di Bandung semalam, Rey! Liburan di Jepangnya seru banget, tapi capeeee banget. Gimana kabar kamu?] - Agnia
^^^[Aku baik, Ni. Luar biasa sibuk seperti biasa] - Reyna^^^
[Kasihannya sahabatku ini] - Agnia
^^^[Hehehe, oh ya selamat ya, udah pulang dari honeymoon. Foto-foto kamu di Jepang cantik-cantik banget, aku suka lihatnya] - Reyna^^^
[Iya kan! Nanti aku ceritain semuanya langsung sama kamu. Btw, kamu hari ini pulang jam berapa? Pokoknya malam ini kamu nggak boleh ada alasan ya, kita harus ketemu! Aku dibawain oleh-oleh banyak banget buat kamu, plus ada hal penting yang mau aku omongin!] - Agnia
Reyna melirik tumpukan berkas di mejanya yang untungnya sudah hampir selesai ia verifikasi bersama Clarissa.
^^^[Malam ini aku bisa, Ni. Pulang kantor jam lima sore aku bisa langsung meluncur, mumpung besok aku libur. Kita mau ketemu di mana?] - Reyna^^^
[Asyik! Kita ketemu di kafe dekat taman aja jam setengah tujuh malam, kamu tahu kan tempatnya?] - Agnia
^^^[Tahu, kok. Oke, jam setengah tujuh aku sampai sana ya, Ni] - Reyna^^^
[Sip! Sampai ketemu nanti malam, Reyna sayang!] - Agnia
Reyna mematikan sambungan telepon dengan senyum merekah di bibirnya, bertemu dengan Agnia selalu menjadi obat penawar lelah yang paling ampuh baginya.
Ketika jam menunjukkan pukul lima sore tepat, Reyna segera merapikan mejanya. Clarissa yang duduk di sebelahnya tersenyum manis, "Mbak Reyna mau ada janji ya? Kok kelihatan buru-buru banget?" tanyanya.
"Iya, Sa. Mau ketemu sahabatku yang baru pulang dari honeymoon," jawab Reyna seraya memasukkan dompet dan pengisi daya ponsel ke dalam ransel lusuhnya.
"Wah, seru banget! Ya sudah, Mbak Reyna hati-hati di jalan ya. Pekerjaan sisanya biar aku yang selesaikan," tawar Clarissa dengan tulus.
"Terima kasih banyak ya, Clarissa. Sampai ketemu dua hari lagi, selamat liburan," pamit Reyna dan melangkah keluar kantor dengan hati yang jauh lebih ringan.
Reyna pun mengendarai motornya menuju kafe yang dimaksud Agnia, hingga tak lama kemudian ia pun sampai di kafe dan segera memarkirkan motornya di pelataran parkir kafe. Kafe bernuansa kaca dan tumbuhan hijau itu tampak begitu elegan dan mewah, khas bangunan di kawasan atas Bandung. Reyna sempat merapikan kemejanya yang ia kenakan dan mengusap sedikit bedak di wajahnya sebelum melangkah masuk.
Suasana di dalam kafe begitu hangat, diiringi alunan musik akustik yang lembut. Bau harum biji kopi panggang dan aroma pastry segar memenuhi udara, Reyna mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan untuk mencari keberadaan Agnia.
.
.
.
Bersambung.....
buka hati n pikiran rey.... dikta pepet Reyna terus buat senyaman mungkin... sapa tau sering bareng jd kangen
tatap mata saya 🤣🤣🤣
tinggal reyna nya aja jgan berbelit ngomong nya😂
ayo saling jujur masing2, dikta jg usaha lah meyakinkan reyna
jadi kawan juga tau batasan.nggak seperti itu juga sih caranya...
smoga berjodoh..
😎
Reyna jg sudah dewasa tdk perlu berlebihan jd ilfil