Indonesia
NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia CEO

Pewaris Rahasia CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aren Vely

Dia adalah Black Rose, pembunuh bayaran yang ditakuti dunia bawah tanah.

Dia adalah Adrian Virell, CEO dingin yang diam-diam merupakan pewaris dinasti mafia.

Lima tahun lalu, satu malam mempertemukan mereka tanpa nama dan tanpa janji.

Kini Black Rose kembali bersama seorang anak laki-laki bernama Noah.

Anak yang ternyata memiliki hubungan darah dengan sang CEO.

Namun Noah bukan anak biasa.

Di balik wajah polosnya, tersembunyi identitas lain yang bahkan tidak diketahui kedua orang tuanya.

Ketika masa lalu kembali memburu mereka, mampukah sang CEO melindungi pewaris yang selama lima tahun tidak pernah diketahuinya?

Dan sebenarnya...

siapa Noah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KELUARGA VIRELL

Keputusan untuk memperkenalkan Noah kepada keluarga besar Virell tidak diambil dengan mudah, dan Althea membutuhkan waktu berminggu-minggu sebelum akhirnya setuju, dengan syarat-syarat yang dia tetapkan sendiri untuk melindungi anaknya sebisa mungkin.

Pertemuan pertama diadakan di kediaman utama keluarga Virell, sebuah rumah besar yang lebih menyerupai istana kecil dibandingkan rumah tinggal biasa, dengan taman luas yang mengelilingi bangunan utama dan pagar tinggi yang dijaga ketat oleh petugas keamanan yang berpakaian rapi namun tetap terlihat waspada di setiap sudutnya.

Noah, yang biasanya penuh energi dan tidak pernah kehabisan kata-kata, tampak sedikit lebih pendiam ketika mobil yang membawa mereka memasuki gerbang besar itu, matanya yang lebar menatap keluar jendela dengan kekaguman yang bercampur sedikit kecemasan.

"Rumahnya besar sekali," bisiknya kepada Althea, menggenggam tangan ibunya lebih erat dari biasanya.

Ketika akhirnya keluarga Virell mengetahui keberadaan Noah, sebagian besar langsung menerimanya dengan hangat, meski dengan reaksi yang berbeda-beda sesuai karakter masing-masing.

Elena Virell, ibu Adrian, adalah orang pertama yang menyambut mereka di pintu masuk utama, dan begitu matanya menangkap sosok Noah yang berjalan malu-malu di belakang ibunya, wajahnya langsung berubah, air mata haru menggenang di sudut matanya yang selama ini selalu terlihat begitu terkendali di depan publik.

"Astaga," bisiknya, berjongkok pelan agar sejajar dengan tinggi Noah, tangannya terulur namun tidak langsung menyentuh, seolah takut anak itu akan menghilang jika dia bergerak terlalu cepat. "Kau benar-benar mirip Adrian waktu kecil."

Noah menatapnya dengan rasa ingin tahu yang khas, kepalanya sedikit dimiringkan seperti kebiasaannya ketika mengamati sesuatu yang baru. "Nenek menangis kenapa?" tanyanya polos, membuat Elena tertawa kecil di tengah air matanya.

"Karena Nenek bahagia sekali bisa bertemu denganmu," jawabnya, dan tanpa ragu lagi, dia merentangkan tangannya, menawarkan pelukan yang, mengejutkan semua orang termasuk Althea sendiri, langsung diterima Noah dengan antusias, seolah dia sudah mengenal wanita itu selama bertahun-tahun.

Sejak momen itu, Elena langsung menyayangi Noah dengan sepenuh hati, mulai merencanakan berbagai kegiatan yang bisa mereka lakukan bersama, dari membaca buku cerita sampai membuatkan kue-kue kecil di dapur yang jauh lebih besar dari apartemen tempat Noah biasa tinggal.

Namun kejutan yang lebih besar datang beberapa hari kemudian, ketika Adrian akhirnya memutuskan sudah waktunya membawa Althea dan Noah bertemu dengan sosok yang selama ini dianggap sudah tiada oleh sebagian besar dunia luar.

Sebastian Virell, yang selama ini dianggap telah meninggal beberapa tahun lalu akibat penyakit yang tidak pernah diungkap secara detail kepada publik, ternyata masih hidup, tersembunyi di sebuah sayap terpisah dari rumah utama yang jarang dikunjungi siapa pun kecuali orang-orang kepercayaan keluarga.

Althea membeku ketika Adrian pertama kali mengungkapkan kebenaran itu kepadanya. "Kenapa dunia mengira dia sudah meninggal?" tanyanya, insting lamanya sebagai Black Rose langsung waspada mendengar informasi serumit itu.

"Karena itu lebih aman baginya," jawab Adrian, nada suaranya berubah lebih serius. "Ada ancaman yang membuatnya harus menghilang dari pandangan publik. Hanya keluarga inti dan beberapa orang kepercayaan yang tahu kebenarannya."

Ketika mereka akhirnya bertemu, Sebastian duduk di kursi besar dekat jendela yang menghadap taman, tubuhnya terlihat lebih tua dan lebih rapuh dibandingkan foto-foto lama yang pernah dilihat Althea, namun matanya masih memancarkan kewaspadaan tajam yang sama seperti yang selalu diceritakan orang-orang tentang dirinya.

Dia mengamati Althea lama sekali sebelum akhirnya berbicara, seolah sedang membaca setiap detail tentang dirinya hanya dari cara dia berdiri dan bagaimana dia menjaga jarak protektif di dekat Noah.

"Black Rose," katanya akhirnya, suaranya serak namun tetap berwibawa. "Aku sudah menduga kau akan kembali suatu hari nanti."

Kata-kata itu membuat Althea tegang seketika, namun sebelum dia sempat merespons dengan kewaspadaan penuh, Sebastian melanjutkan, "Jangan khawatir. Aku bukan ancaman bagimu, atau bagi cucuku."

Noah, yang tadinya bersembunyi setengah badan di balik Althea, mendengar kata "cucu" dan tiba-tiba maju dengan rasa penasaran yang mengalahkan kecemasannya. Dia mendekati kursi Sebastian dengan langkah hati-hati, mengamati kakek yang baru pertama kali dia temui itu dengan tatapan seriusnya yang khas.

"Kakek kenapa duduk terus? Kaki Kakek sakit?" tanyanya polos, membuat Sebastian, yang jarang sekali tersenyum di hadapan siapa pun, tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar asing bahkan bagi telinganya sendiri.

"Kaki kakek memang sudah tidak sekuat dulu," jawabnya, nada suaranya melembut secara mengejutkan. "Tapi kepala kakek masih cukup kuat untuk mengenali anak pintar sepertimu."

Noah tersenyum lebar mendengar pujian itu, dan dalam waktu singkat, dia sudah duduk di dekat kaki kursi Sebastian, bercerita tentang pesawat luar angkasa gambarannya dengan penuh semangat, seolah tidak menyadari betapa jarangnya pemandangan seperti ini terjadi di rumah besar itu.

Namun tidak semua anggota keluarga menyambut kehadiran Noah dengan kehangatan yang sama.

Di sudut ruangan, berdiri agak menjauh dari kerumunan yang mengelilingi Noah dengan penuh kasih sayang, seorang pria muda mengamati semuanya dengan ekspresi yang jauh lebih sulit dibaca, matanya yang tajam mengikuti setiap gerakan Noah dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya menyerupai kehangatan yang ditunjukkan orang lain di ruangan itu.

Dialah Damien Virell, sepupu Adrian, dan meski dia tersenyum sopan setiap kali seseorang menoleh ke arahnya, senyum itu tidak pernah benar-benar mencapai matanya.

1
rifatin jihan
Thor aku mohon banyak kin episode nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!