Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biar Aku Tanggung Rasa Sakit Ini
"Kamu terlalu berbuat baik padanya, Revan. Lama-kelamaan wanita rendahan ini ngelunjak." Suara Bu Arum terdengar jelas di telinga ini.
Kepalaku masih terasa pening, tapi aku telah sadar. Kejadian tadi masih terekam jelas di otakku. Hantaman keras pada kepalaku membuatku tidak sadarkan diri dan tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.
Aku sudah sadar, tapi kelopak mata ini masih sulit untuk dibuka. Aku merasakan alat stetoskop yang menekan bagian dada. Dinginnya besi itu mampu meresap ke dalam kulit. Kak Revan yang sedang memeriksa kondisiku.
Ah, sulit sekali untuk membuka mata ini.
"Sudahlah, Mbak Rum. Alya juga yang menyelamatkan Revan dari runtuhan atap." Terdengar suara Bu Rahayu, lembut seperti biasa.
"Mbak heran deh sama kamu, Rahayu. Kenapa bisa kamu memilih wanita dari keluarga rendah itu untuk dijadikan istri Revan? Kenapa tidak Aira, yang sudah jelas-jelas dari keluarga yang terpandang, yang setidaknya setara dengan kita?"
Aku masih bisa mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Bude Arum, sangat tajam menusuk hati. Memang pada kenyataannya, aku bukanlah dari keluarga kaya seperti mereka, dengan ayah yang hanya seorang sopir keluarga ini.
"Aku percaya pada Alya, Mbak. Tolong hargai keputusanku. Saya tahu yang terbaik untuk putraku. Jika Mbak tidak bisa menghargai Alya di rumah ini, setidaknya Mbak berbagi posisi saya sebagai ibu mertuanya, Alya."
Perkataan dari Bu Rahayu mampu membuat hati ini hangat sekaligus perih. Melihat pada kenyataannya, aku bukanlah wanita yang diinginkan oleh putranya.
"Revan, pastikan kondisi Alya. Kalau misalkan belum juga sadar, sebaiknya kamu bawa dia ke rumah sakit."
Terdengar suara langkah kaki pergi, seperti Bu Rahayu pergi meninggalkan tempat ini. Aku belum tahu pasti posisi tempat aku terbaring. Kelopak mata ini masih sangat berat untuk dibuka.
"Kak Revan, jika Kak Aira melihat Kak Revan perhatian seperti ini kepada dia, pasti Kak Aira sangat sakit hati. Menurutku, Kak Revan harus jaga jarak dengan wanita ini, sebelum Kak Revan kehilangan orang yang Kak Revan sangat cintai."
Suara Dona, ternyata wanita itu ada di sini. Sedari tadi aku tidak mendengar suara Kak Revan. Di mana dia? Pemeriksaan stetoskop tadi sudah selesai.
Perlahan aku merasakan cekalan pelan pada pergelangan tangan, kemudian terasa ada tekanan pada bagian denyut nadi.
"Denyut nadi masih lemah. Jika seperti ini, aku harus membawanya ke rumah sakit," gumam Kak Revan pelan.
"Kak Revan!" pekik Dona.
"Apa yang salah? Aku dokter, Dona. Aku harus memastikan keselamatan hidup seseorang."
"Biarkan Revan mengurusnya, Dona. Bude ingatkan Revan, jangan terlalu berlebihan berbuat baik padanya atau menolongnya. Wanita itu tidak setara dengan keluarga kita."
Perlahan aku membuka kelopak mata yang masih terasa berat. Pening dan sedikit mual kini yang aku rasakan. Pandangan masih terlihat hitam dan buram. Aku memicingkan mata, melihat Kak Revan yang masih duduk di pinggiran ranjang.
"Benar dengan apa yang dikatakan Bude, Kak..." Suaraku pelan, membuat Kak Revan menoleh padaku.
"Kamu jangan terlalu berbuat baik padaku... kamu takut aku mengharap balasan perasaan dari kamu, kan?"
Aku mulai menggerakkan tubuh, berusaha untuk bersandar pada kepala ranjang. Kak Revan masih sibuk dengan alat medisnya, membuka kain kasa dan cairan alkohol.
Tanpa aba-aba, pria itu mendekat dan menarik rambut kering yang menempel pada keningku yang terluka. Rasa perih sangat terasa.
Kemudian pria itu membersihkan lukanya dengan cairan alkohol. Perih tiada tanding.
"Kak, kamu tahu, kan, jika aku menyukaimu..." Aku menatap wajah Kak Revan dengan jarak yang semakin dekat. Bahkan hembusan napasnya dapat kurasakan, menerpa lembut permukaan wajahku. Guratan wajah yang sempurna itu terpampang jelas di mataku.
"Untuk itu... aku sangat takut, kebaikan yang kamu lakukan padaku akan semakin membuat rasa cinta ini kuat di dalam hati."
Aku mendengar hembusan napas kasar dari Kak Revan. Pria itu menarik jarak setelah menempelkan plester pada keningku.
Rahangnya mengatup rapat, sorot matanya tajam disertai dengan kerutan di dahinya. Apa pria itu marah karena aku telah lancang mengutarakan isi hatiku?
"Jangan salah mengartikan sebuah kebaikan, Alya. Posisimu saat ini hanyalah seorang pasien, tidak lebih. Bahkan aku tidak mengingat jika kamu ini adalah istriku."
Perih, sangat perih. Dada ini terasa diiris oleh sembilu tajam. Aku harus kuat. Dan tidak akan ada air mata yang mengalir untuk saat ini. Badai kali ini cukup kuat, berarti pelangi yang datang akan lebih indah.
"Baiklah, Pak Dokter. Terima kasih sudah mengobati pasienmu dengan sangat baik."
"Dokter Revan memang keren sekali," pujiku dengan tawa getir.
Terlihat anggukan samar dari Kak Revan. Pria itu menunduk sambil membereskan semua alat medisnya. Kemudian ia berdiri, tapi segera aku tahan.
"Apa seorang dokter sering mengabaikan kesehatan dirinya sendiri?" Aku masih mencekal erat lengan Kak Revan, membuat pria itu mengerutkan alisnya bingung.
"Terlalu sibuk mengurus pasiennya, sampai lupa akan rasa sakit pada tubuhnya sendiri. Tanganmu terluka, Kak. Biarkan pasienmu ini mengobati. Anggap saja perlakuan ini sebagai hubungan timbal balik."
Kak Revan kembali menghempaskan tubuhnya di sisi ranjang, menyerahkan kotak P3K itu padaku. Aku menegakkan tubuh, walau kepalaku masih terasa pening.
Aku mulai membersihkan luka pada lengan Kak Revan, berupa luka baretan, bukan hanya satu saja. Entah mengapa air mata ini tiba-tiba mengalir begitu saja. Rasa sayangku pada Kak Revan terasa semakin dalam walau sudah aku tahan.
Ternyata mencintai pria baik hati dan perhatian, tapi hatinya sudah dimiliki oleh wanita lain itu lebih menyakitkan dibandingkan dengan mencintai pria arogan yang membalas perasaan.
"Kak..." Aku mendongakkan wajah, suaraku sedikit tertahan karena rasa sesak yang semakin menghimpit dada. Pandangan kami beberapa detik bertemu.
Entah keberanian dari mana, aku memeluk erat tubuh Kak Revan. Rasa syukur aku ucapkan karena pria yang aku sayangi ini tidak memiliki luka yang sangat parah.
Kak Revan tidak bergeming saat aku peluk. Seolah dia mengizinkan pelukan ini melingkar pada tubuhnya.
"Maafkan saya, Alya."
"Bukan salahmu, Kak. Biarkan saja aku yang menanggung rasa sakit ini."
Bersambung....
Jangan lupa like dan komen ya....