Indonesia
NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Saluran yang Terputus, Air Mata Rama, dan Luka di Balik Pesan Singkat

Alee melangkah pulang dari kedai seblak di tepi jalan dengan dada yang terasa amat sesak. Bayangan raut wajah Rama saat menancap gas motornya tadi terus membayang-bayang di benaknya. Wajah sang Ketua Kelas yang biasanya selalu tenang, teduh, dan penuh kendali itu tidak hanya terlihat dingin—ada kilat kepanikan yang teramat sangat, matanya tajam namun gelisah, seolah-olah ia sedang dikejar oleh bayangan sesuatu yang menakutkan.

Sesampainya di kamar, Alee tak sanggup lagi menahan rasa penasaran dan kecemasan yang membuncah. Dengan jemari yang agak gemetaran, ia merogoh ponselnya dari tas sekolah. Pesan-pesan centang biru semalam masih dibiarkan mengambang tanpa jawaban. Tanpa memedulikan gengsinya lagi, Alee kembali menari-naratifkan jemarinya di atas layar.

> Alee: Rama! Lu kenapa sih?! Tadi gue panggil di pinggir jalan kok malah bablas gitu aja?!

> Alee: Tumben banget lu sombong gini sama gue?! Gue ada salah apa coba?!

Alee melempar ponselnya ke atas kasur, lalu berjalan bolak-balik di kamarnya dengan gelisah. Menit-menit terasa berjalan sangat lambat. Hingga lima belas menit kemudian, nada dering notifikasi ponselnya berbunyi nyaring. Alee menyambar benda itu seketika.

Ada balasan dari Rama. Namun, dua kalimat singkat yang tertera di layar justru membuat darah Alee mendadak berdesir dingin.

> Rama:nCoba kamu pikirin lagi apa kesalahanmu.

> Rama: Dan aku ada tambahan masalah lain yang lumayan parah.

Setelah pesan itu terkirim, status WhatsApp Rama langsung menjadi offline. Alee mencoba menelponnya, namun panggilan selulernya langsung dialihkan ke nada sibuk. Telepon WhatsApp-nya pun hanya memanggil tanpa pernah diangkat.

"Masalah lain yang lumayan parah...?" gumam Alee lirih. Suaranya bergetar. Hatinya makin tak tenang. Ia tahu betul Rama bukan tipe orang yang suka melebih-lebihkan masalah. Jika seorang Ramaditya menyebut suatu masalah itu "lumayan parah", artinya dunia cowok itu sedang benar-benar guncang.

Tanpa membuang waktu lagi, Alee langsung mencari nama Zikri di kontak teleponnya sahabat karib Rama sejak kelas 10 yang paling mengerti luar dalam kehidupan Rama.

"Halo, Zik!" seru Alee cepat begitu panggilan diangkat di seberang sana. Suaranya memburu, penuh kecemasan.

"Eh, Alee? Ada apa, Lee? Kok suara lu panik gitu?" sahut Zikri dari seberang telepon.

"Zik, lu lagi sama Rama nggak?!" Alee mencecar tanpa basi-basi. "Tadi pas gue makan seblak di tepi jalan, gue lihat Rama naik motor kencang banget. Wajahnya panik dan kaku banget, Zik! Terus pas gue chat, dia cuma balas kalau dia ada masalah lain yang lumayan parah, habis itu nomornya nggak aktif! Lu tahu enggak Rama kenapa?!"

Di seberang sana, Zikri sempat hening sejenak. "Hah? Rama ada masalah? Setahu gue tadi pas pulang sekolah dia biasa aja, Lee... tapi tunggu deh, suara lu beneran panik banget. Ya udah, gue sekarang langsung tancap gas ke rumah Rama! Entar kalau ada apa-apa gue kabarin lu secepatnya!"

Panggilan terputus. Alee terduduk kaku di tepi tempat tidurnya. Jam dinding terus berdetak, mempermainkan detak jantung Alee yang kian tak menentu.

---

Satu jam terasa bagaikan satu keabadian bagi Alee. Ia tak berhenti melihat layar ponselnya, menunggu kabar dari Zikri. Hingga akhirnya, nama Zikri kembali berkedip di layar ponsel Alee.

Alee langsung menyambar dan menggeser tombol hijau. "Halo, Zik?! Gimana?! Rama kenapa?!"

Suara Zikri di seberang sana terdengar sangat berat, napasnya terengah-engah seolah baru saja menyaksikan kejadian yang mengguncang jiwanya sendiri. "Lee... gue... gue udah di rumah Rama sekarang."

"Terus Rama gimana, Zik?! Ngomong yang jelas!" teriak Alee, air matanya mulai menetes tanpa bisa ditahan.

"Lee... gue nggak pernah lihat Rama kayak gini seumur hidup gue," bisik Zikri dengan nada gemetar. "Pas gue sampai rumahnya, kamar Rama dikunci dari dalam. Pas gue paksa masuk... Rama lagi duduk di pojokan lantai, Lee. Dia nangis... Rama menangis sesenggukan sampai napasnya tersengal-sengal. Gue yang kenal dia dari SMP nggak pernah sekalipun lihat seorang Ramaditya nangis kayak gitu..."

Hati Alee bagaikan dihantam palu godam yang amat berat. Rasanya hancur berkeping-keping. Bayangan Rama yang selalu kuat, tenang, dan menjadi pelindungnya kini terpuruk menangis sendirian di pojok kamar membuat dada Alee terasa sesak luar biasa.

"Kenapa, Zik...? Kenapa Rama sampai nangis gitu?" bisik Alee terisak.

Zikri menghela napas panjang, penuh kedukaan. "ATM Rama, Lee... ATM yang isinya seluruh tabungan dia berjut-juta buat persiapan biaya kuliah dan beasiswanya... dibobol orang tak dikenal tadi sore. Uangnya ludes hampir tak tersisa. Makanya tadi dia bawa motor kaya orang kesetanan, dia baru pulang dari bank dan kantor polisi..."

Darah Alee terasa berhenti mengalir. Dunia seolah runtuh di atas kepalanya. Tabungan yang dikumpulkan Rama dengan begitu keras, hasil kerja keras dan kedisiplinannya selama bertahun-tahun untuk masa depannya, hilang begitu saja dalam hitungan jam.

Namun, kalimat Zikri selanjutnya justru menjadi sembilu yang paling tajam menancap tepat di ulu hati Alee.

"Dan Lee... ada satu hal lagi yang harus gue sampein ke lu," suara Zikri melambat, terdengar begitu serba salah. "Gue saranin... untuk saat ini, mending lu jauhin Rama dulu."

Alee terpaku, tangisannya tertahan sejenak. "M-maksud lu apa, Zik...? Kenapa gue harus jauhin Rama di saat dia lagi hancur gini?!"

"Karena Lee... Rama tadi sempat ngomong sama gue di antara tangisnya," ungkap Zikri pelan. "Dia merasa... semua kesialan dan musibah ini bertubi-tubi datang karena fokusnya pecah. Dia merasa cemburu sama Hanafi, emosinya labil, dia nggak konsentrasi jaga barang-barangnya... semuanya terjadi gara-gara pikiran dia cuma tertuju ke lu beberapa hari ini. Dia ngerasa dekat sama lu malah bikin hidupnya yang serba teratur jadi kacau dan penuh masalah. Mending lu kasih dia jarak dulu, Lee..."

Deg.

Kalimat itu memotong habis seluruh pertahanan Alee. Hati Alee teriris sakit yang amat dalam. Perasaan bersalah, sedih, dan penyesalan yang membakar menyatu menjadi gelombang histeris. Jadi... apakah dirinya adalah pembawa kesialan bagi Rama? Apakah kedekatan manis yang selama ini ia banggakan justru menjadi penyebab hancurnya hidup cowok yang sangat dicintainya itu?

Panggilan telepon terputus. Alee melempar ponselnya ke kasur, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan menangis sejadi-jadinya. Tangisnya pecah menggelegar di dalam kamar yang sepi.

Di antara Isak tangisnya yang membumbung, dengan mata yang kabur oleh air mata dan jari yang gemetaran hebat, Alee kembali meraih ponselnya. Ia tak peduli pada saran Zikri. Ia tak bisa membiarkan Rama sendirian menanggung beban sehancur ini. Dengan sisa kekuatan yang ada, Alee terus mengirimkan pesan beruntun (spam chat) ke nomor Rama, berharap ada satu keajaiban di mana cowok itu membalas dan mengizinkannya hadir untuk memeluk seluruh lukanya.

> Alee: Rama... maafin gue... demi Allah maafin gue...

> Alee: Tolong balas chat gue Rama... tolong jangan jauhin gue...

> Alee: Gue mohon Rama... angkat telepon gue...

Namun di ujung sana, layar ponsel Rama tetap gelap, meninggalkan pesan-pesan Alee terkubur dalam keheningan malam yang teramat dingin dan mencekam.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!