Indonesia
NovelToon NovelToon
GADISKU SEORANG BAR-BAR

GADISKU SEORANG BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romantis / Komedi
Popularitas:901
Nilai: 5
Nama Author: Icita

GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni Berbau Mesiu dan Darah Sang Pendiri

Bau amis minyak pelumas mesin, karat basah, dan air laut asin menyengat hidung Senja saat kesadarannya perlahan kembali. Kelopak matanya terasa seberat timah. Kepala bagian belakangnya berdenyut hebat—sisa efek samping dari gas tidur militer yang disemprotkan Detektif Surya di bunker bawah tanah.

Ketika matanya akhirnya mampu menyesuaikan diri dengan remang cahaya, Senja mendapati dirinya berada di sebuah dok kapal kering (dry dock) terbengkalai di bawah kompleks Pelabuhan Ujung. Dinding-dinding beton raksasa yang berlumut menjulang tinggi, menahan ribuan ton air laut di luar sana. Di tengah ruangan raksasa itu, sebuah lampu sorot industri tergantung miring, memancarkan cahaya kuning terang yang menyorot lurus ke arah tempatnya berada.

Kedua tangan Senja terantai ke atas, terikat pada sebuah tiang penyangga besi berkarat. Kakinya menyentuh lantai beton yang dingin dan basah.

“Gal…” bisik Senja parau, tenggorokannya terasa gatal dan kering. “Gala…”

“Nja! Kamu sudah sadar?!”

Suara teriak balasan itu datang dari jarak sepuluh meter di depannya. Senja menoleh sekuat tenaga. Gala terikat di sebuah kursi kayu tebal dengan tali tambang kapal yang melilit dada dan lengannya rapat-rapat. Pipi Gala memar, dan kemeja putihnya sudah kotor oleh noda oli, namun matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa saat melihat Senja bergerak.

Di sebelah kursi Gala, kotak titanium hitam Protokol Broto tergeletak di atas koper taktis berpendar merah. Layar timernya terus berkedip tanpa kompromi: 18:14:02... 18:14:01...

“Siska mana, Gal?” tanya Senja dengan suara tertahan.

Gala menggerakkan kepalanya ke arah lantai mezanin di atas mereka. Di balik dinding kaca tebal ruangan kontrol balkon, tubuh Siska terbaring di atas meja operasi portabel. Dua teknisi berjas laboratorium sedang memasangkan tabung infus dan monitor medis ke tubuh agen yang masih tak sadarkan diri itu.

“Siska ditahan di atas. Mereka butuh dia hidup-hidup buat diekstrak memorinya,” bisik Gala cepat. “Nja, Surya…”

Pintu besi tebal dok kering itu berderit keras. Dua pasang langkah kaki bergema membelah keheningan ruangan beton tersebut.

Detektif Surya melangkah masuk lebih dulu. Tangan kanannya memegang koper diplomatik perak yang berat—pembayaran sepuluh juta dolar yang dijanjikan. Wajah polisi tua itu memucat, napasnya memburu, dan tatapan matanya menghindari kontak dengan Senja maupun Gala.

Di belakang Surya, melangkah seorang wanita yang menebarkan aura kematian yang begitu pekat hingga membuat udara di ruangan itu terasa membeku.

Wanita itu bertubuh jangkung, mengenakan jas taktis berwarna merah marun memotong rapi yang diserasikan dengan celana kulit hitam. Rambut merah darahnya dipotong pendek asimetris, menyingkap tato garis-garis baris kode di sepanjang leher kirinya. Di pinggangnya terselip dua bilah pedang khukri melengkung yang berkilau tajam.

Lilia. The Red Reaper.

“Kerja yang bagus, Detektif,” suara Lilia jernih, dingin, dan memiliki aksen Eropa Timur yang kental. “Setiap sen dari sepuluh juta dolar ini adalah hakmu.”

Surya menggenggam koper perak itu erat-erat dengan jarinya yang gemetar. “Urusan kita selesai, Lilia. Gue mau keluar dari kota ini sekarang.”

Lilia berhenti melangkah tepat di samping koper Protokol Broto. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Surya dengan senyuman tipis yang sangat mengerikan.

“Tentu saja, Surya. Di Vanguard, kami selalu menghormati pengkhianat,” kata Lilia lembut. Ia meletakkan tangannya di bahu Surya. “Tapi kamu lupa satu hal kecil dalam protokol kami.”

CRACK!

Tanpa ada gerakan persiapan sama sekali, tangan kiri Lilia berputar melingkari leher Surya. Dengan satu sentakan siku yang presisi dan bertenaga tinggi, tulang leher polisi tua itu patah seketika. Surya bahkan tidak sempat menjerit. Matanya melotot, kopernya terlepas menghantam lantai beton, dan tubuhnya ambruk tak bernyawa bagaikan boneka kain yang putus talinya.

Gala menelan ludah dengan wajah pucat pasi. “Anjir… dia membunuh polisinya sendiri tanpa berkedip…”

Lilia melangkahi mayat Surya tanpa penyesalan sedikit pun, lalu berjalan perlahan mendekati Senja. Sepatu bot taktisnya mengetuk lantai beton berirama monoton. Ia berhenti setengah meter di depan Senja, mengangkat dagu Senja menggunakan ujung jarinya yang dingin.

“Mirip sekali,” gumam Lilia, memindai garis wajah Senja dengan mata abu-abunya yang tanpa emosi. “Mata yang tajam, rahang yang keras, dan kebodohan idealis yang sama. Kau benar-benar putri kandung Broto.”

Senja meludah ke arah wajah Lilia. Tetesan ludah bercampur darah mengenai pipi Lilia, namun wanita berambut merah itu hanya mengelapnya santai dengan saputangan sutra.

“Sebut nama ayahku sekali lagi pakai mulut busukmu itu, dan aku pastikan bakal mencabut lidahmu,” desis Senja, matanya menyala penuh amarah.

Lilia tertawa pelan. Tawa yang bergema dingin di dinding-dinding beton dry dock.

“Kau tidak tahu apa-apa tentang ayahmu, Little Bird,” kata Lilia sambil berjalan memutar mengelilingi tiang tempat Senja terikat. “Kau pikir Broto itu pahlawan? Kau pikir dia mendirikan Vanguard untuk membela keadilan dunia?”

“Bapak gue mantan marinir yang jujur!” tegar Senja.

“Bapakmu adalah seorang jagal!” potong Lilia, suaranya mendadak meninggi dan memotong keheningan bagai sabetan pisau. “Tiga puluh tahun lalu, Broto bukan cuma mendirikan Vanguard bersama The Architect. Dialah yang merancang program pencucian uang internasional, dialah yang melatih kami cara membunuh tanpa meninggalkan jejak, dan dialah yang mengeksekusi lima puluh pejabat korup di Asia Tenggara dalam waktu satu malam!”

Dada Senja berdegup kencang. “Bohong…”

“Dia tidak bohong, Nja,” sela Gala dari kursinya. Gala menatap Lilia tajam. “Tapi ada yang belum lo ceritain, kan, Lilia? Pak Broto keluar dari Vanguard dan menciptakan Protokol Broto karena dia sadar The Architect mau memakai Vanguard buat mengontrol pemerintah, bukan buat memberantas penjahat!”

Lilia melirik Gala dengan pandangan tertarik. “Cerdas juga jurnalis kecil ini. Tepat sekali. Broto menjadi sentimental setelah ibumu melahirkanmu, Senja. Dia ingin menjadi 'pria baik-baik'. Dia ingin minum kopi di teras, merawat burung berkutut, dan berpura-pura bahwa tangannya tidak berlumuran darah ribuan orang.”

Lilia mencabut salah satu pedang khukri-nya dari pinggang. Logam dingin itu mengilap saat ia menempelkan bilahnya ke leher Senja.

“Broto mencuri kunci master aset kami, menyembunyikan enkripsinya di dalam struktur DNA-mu, lalu melarikan diri,” lanjut Lilia. “Dan selama dua puluh tahun, kami mencari kunci itu. Sekarang, The Architect ingin mengambil kembali apa yang menjadi haknya.”

“Kalau begitu ambil darahku sekarang dan selesaikan ini!” teriak Senja, menekan lehernya ke bilah khukri hingga benang darah tipis muncul di kulitnya. “Toh kamu cuma butuh sampel DNA-ku buat membuka kotak itu, kan?!”

Lilia menurunkan pedangnya, menggelengkan kepala pelan dengan senyum penuh keunggulan.

“Tidak sesederhana itu, Manis,” kata Lilia. “Kunci biometrik di dalam kotak itu bukan sekadar tetesan darah biasa. Kunci itu merespons kadar adrenalin dan enzim stres spesifik yang hanya diproduksi oleh tubuh keturunan Broto saat berada dalam kondisi bertarung antara hidup dan mati. Jika kami mengambil darahmu saat kau pingsan atau menyerah, kotak itu akan menganggapnya sebagai paksaan dan memicu self-destruct.”

Lilia memutar tubuhnya ke arah empat pria bertubuh raksasa yang berdiri di sudut gelap dok kering. Para pria itu mengenakan pelindung dada tebal, helm besi taktis, dan memegang tongkat pemukul baja.

“Maksudmu…” kata Gala, matanya melotot saat menyadari niat jahat Lilia. “Lo mau memaksa Senja bertarung?!”

“Aku ingin melihat apakah darah sang jagal masih mengalir deras di urat nadimu, Senja,” Lilia menjentikkan jarinya.

Dua pengawal maju dan membuka kuncian rantai di tangan Senja. Tubuh Senja merosot ke lantai, memegang pergelangan tangannya yang lecet dan berdarah.

Lilia melemparkan sepasang hand wrap kain hitam ke depan kaki Senja.

“Kalahkan empat petarung terbaikku dalam waktu sepuluh menit,” perintah Lilia dingin. “Jika kau menang dan kadar adrenalinmu mencapai puncaknya, kau boleh menyentuh kotak itu untuk mematikan timernya. Tapi jika kau kalah… atau jika kau menolak bertarung…”

Lilia mengarahkan pistol Glock berperedam suara ke kepala Gala.

“…aku akan menembak lutut suamimu satu per satu sampai kau memohon untuk bertarung.”

Gala berteriak frustrasi, meronta-ronta di kursinya. “Nja! Jangan dengerin dia! Jangan mau diperalat!”

Senja perlahan bangkit berdiri dari lantai beton yang dingin. Ia tidak menatap Lilia, tidak menatap empat raksasa yang mulai melangkah mendekatinya dengan tongkat baja, dan tidak menatap mayat Detektif Surya.

Senja menatap Gala. Di dalam mata wanita itu, rasa takut, kebingungan tentang masa lalu ayahnya, dan kelelahan fisik seketika terbakar habis, digantikan oleh kobaran api yang sangat murni.

Senja berlutut, mengambil kain hand wrap hitam itu, dan melilitkannya ke jemari serta tangannya yang memar dengan gerakan rapat dan mantap. KREK. Ia memutar pergelangan tangannya.

“Gal,” suara Senja tenang, teramat tenang di tengah situasi gila itu. “Ingat kata-kataku di KUA?”

Gala menahan napasnya, menatap istrinya. “Apa?”

“Kekacauan aku adalah satu-satunya rumah yang mau kamu tinggali,” Senja tersenyum tipis—sebuah senyuman bar-bar yang sangat merindukan pertarungan. “Jadi duduk yang manis di situ, dan lihat gimana caraku menghancurkan anak buah wanita ini.”

Raksasa pertama menerjang maju, mengayunkan tongkat bajanya ke arah kepala Senja dengan kecepatan mematikan!

Senja tidak menghindar ke belakang. Ia melangkah maju menembus jarak tebas (in-fight), menunduk di bawah ayunan tongkat, dan mendaratkan pukulan kombinasi left hook tepat di rusuk musuh, disusul oleh upper cut beruntun yang menghancurkan pelindung dagu besi pria raksasa itu.

BAM! BAM! CRACK!

Tubuh berbobot seratus kilogram itu tumbang menghantam lantai seperti pohon tumbang.

Melihat itu, tiga petarung sisanya menyerang secara bersamaan dari tiga sudut berlawanan. Pertarungan di dok kering itu berubah menjadi panggung pembantaian fisik yang brutal dan cepat. Senja memanfaatkan kelincahan tubuh stuntwoman-nya—melompat ke dinding beton untuk melakukan wall-kick, memutar leher musuh kedua dengan kuncian kaki (scissors takedown), dan merebut tongkat baja musuh ketiga untuk mematahkan tulang keringnya.

Gala menonton dari kursinya dengan dada bergelombang keras. Meski tubuh Senja dipenuhi luka sayatan baru dan memar tebal, gerakan istrinya begitu indah, presisi, dan mematikan.

Empat menit berlalu. Empat raksasa itu kini tergeletak tak berdaya di lantai beton, erangan kesakitan mereka bergema di ruangan.

Senja berdiri di tengah arena, napasnya memburu deras. Keringat dan darah menetes dari dagunya. Ia menatap Lilia dengan mata menyala-nyala.

“Adrenalinku sudah cukup tinggi buatmu, Lilia?!” teriak Senja meledak-ledak.

Lilia tersenyum puas. Ia melihat ke arah layar monitor kecil di tangannya yang mencatat kadar hormon biometrik Senja melalui pemindai udara. Indikator layar berubah dari kuning menjadi hijau menyala.

“Sempurna,” kata Lilia. Ia menggeser koper Protokol Broto mendekati Senja. “Sekarang, tempelkan telapak tanganmu ke panel biometrik. Matikan hitung mundurnya, atau seluruh data Vanguard akan meledak ke publik.”

Senja melangkah mendekati koper itu, mengulurkan tangannya yang gemetar bercampur darah ke atas panel pemindai.

Namun, tepat saat jemari Senja berada satu sentimeter dari kaca pemindai, sebuah suara kekehan pelan terdengar dari atas balkon kontrol.

BZZZZT!

Sistem pencahayaan dok kering mendadak mati total. Lampu sorot utama padam, menyisakan ruangan dalam kegelapan pekat. Suara sirens darurat internal berbunyi memekakkan telinga: WOOOO! WOOOO! WOOOO!

Melalui pengeras suara dok kering, suara mekanis yang sangat familiar bergema, memotong kegelapan:

“Interupsi keamanan. Penggunaan sistem biometrik tanpa izin WO dikenakan denda pelanggaran hak cipta sebesar lima ratus juta rupiah. Proses identifikasi dibatalkan secara sepihak.”

“Siska?!” teriak Gala kegirangan di tengah kegelapan.

Di lantai mezanin, kaca tebal ruang kontrol hancur berkeping-keping. Sosok Siska—yang bahunya masih terbalut perban tipis namun kini memegang dua senapan mesin ringan MP5—melompat turun dari ketinggian delapan meter dengan gaya mendarat sempurna tanpa suara.

“Senja! Ambil kotaknya! Gala, lari ke kanan!” teriak Siska sambil melepaskan rentetan tembakan ke arah Lilia dan para pengawal yang tersisa di kegelapan!

RATATATATATATATA!

Di tengah hujan peluru dan kilatan bunga api senjata, Lilia tertawa histeris, mencabut kedua pedang khukri-nya dan menerjang masuk ke dalam kegelapan menuju posisi Siska. Dua agen elit Vanguard akhirnya bertabrakan dalam pertarungan hidup dan mati!

Senja memanfaatkan kekacauan itu untuk menyambar koper titanium Protokol Broto, lalu berlari cepat memotong tali pengikat Gala menggunakan pisau bekas musuh.

“Gal! Kamu bisa berdiri?!”

“Bisa! Tapi Nja, lihat layarnya!” Gala menunjuk ke panel koper titanium yang dipegang Senja.

Di tengah kegelapan yang dihiasi kilatan tembakan, layar koper itu tidak lagi menunjukkan timer hitung mundur. Karena proses biometrik Senja terputus secara mendadak saat adrenalinnya tinggi, sistem Protokol Broto salah menafsirkan situasi dan mengaktifkan fungsi rahasia ketiga.

Sebuah peta lokasi holografik berwarna biru terproyeksi dari atas koper, menampilkan sebuah koordinat GPS di tengah hutan terpencil pegunungan Jawa Barat, disertai sebuah pesan singkat bertulisan merah:

LOKASI SUBJEK MASTER (PAK BROTO) TERDETEKSI.

STATUS SUBJEK: DALAM TAWANAN THE ARCHITECT.

SISA WAKTU EKSEKUSI SUBJEK: 12:00:00.

Senja membeku, matanya menatap koordinat itu dengan rasa syok yang mendalam.

Ayahnya tidak pernah ikut lomba burung di Garut. Pak Broto telah ditangkap oleh The Architect dua hari lalu, dan kotak ini bukan sekadar kunci aset… melainkan petunjuk arah untuk menyelamatkan nyawa ayahnya sebelum dieksekusi mati!

“Gal…” suara Senja bergetar, menatap Gala di tengah hujan peluru. “Bapak…”

Gala memegang bahu Senja erat-erat, menatap mata istrinya tanpa ada keraguan sedikit pun. “Kita jemput bapak kamu, Nja. Kita hancurkan The Architect sampai ke akar-akarnya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!