Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Keputusan untuk Pergi
Tiga hari setelah pertarungan melawan Mo Yin, luka di lengan Lin Mu sudah mulai mengering berkat ramuan yang diracik langsung oleh Tetua Qing, namun luka yang lebih dalam—kesadaran bahwa Aula Bayangan kini benar-benar mengincarnya—tak semudah itu untuk sembuh.
Ia duduk di ruang formasi bawah tanah bersama Tetua Qing, membahas apa yang harus dilakukan selanjutnya.
"Mo Yin akan kembali," Tetua Qing berkata serius, "dan kali ini kemungkinan besar tidak sendirian. Jika Tuan Bayangan mereka benar-benar tertarik pada kemungkinan bahwa Dewa Pedang telah bangkit kembali, mereka tidak akan berhenti hanya dengan satu kegagalan."
"Aku tahu," Lin Mu menjawab, menatap pecahan Penakluk Fajar yang tergeletak di pangkuannya. "Dan selama aku tetap di sini, seluruh Klan Lin ikut berada dalam bahaya karena keberadaanku."
Ia sudah memikirkan ini sejak malam pertarungan itu berakhir. Tinggal di kota kecil ini, betapapun nyamannya, hanya akan menjadi ancaman berkelanjutan bagi orang-orang yang mulai ia pedulikan—Lin Wan, Tetua Qing, bahkan Lin Hao dan Lin Kai yang perlahan mulai menerimanya kembali sebagai keluarga.
"Aku memutuskan untuk pergi ke Sekte Awan Putih lebih cepat dari jadwal ujian penerimaan," katanya akhirnya. "Bukan hanya untuk mencari kekuatan lebih besar, tapi juga untuk menjauhkan bahaya ini dari klan."
Tetua Qing terdiam lama, memikirkan keputusan itu dengan seksama sebelum akhirnya mengangguk. "Keputusan yang bijak, meski berat. Sekte besar seperti Awan Putih setidaknya punya kekuatan untuk melindungi muridnya dari ancaman sekelas Aula Bayangan—sesuatu yang tidak bisa kutawarkan lagi padamu di sini."
Kabar kepergian Lin Mu menyebar cepat di kediaman utama Klan Lin. Lin Wan adalah yang paling terpukul mendengarnya, menemui adiknya di kebun obat pada malam terakhir sebelum keberangkatannya, matanya sudah basah sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun.
"Kenapa secepat ini?" tanyanya, suaranya bergetar. "Kau baru saja kembali diterima klan ini. Kau baru saja... menjadi dirimu yang sebenarnya."
"Justru karena itu aku harus pergi, Kak," Lin Mu menjawab lembut, menggenggam kedua tangan kakaknya. "Ada bahaya yang mengincarku, bahaya yang jauh lebih besar dari sekadar Klan Zhao. Jika aku tetap di sini, cepat atau lambat bahaya itu akan menyentuh kalian juga."
Ia menceritakan sebagian—tidak semuanya, belum saatnya—tentang Aula Bayangan dan pertarungan malam itu. Cukup untuk membuat Lin Wan memahami bahaya sesungguhnya, meski wajahnya tetap dipenuhi kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.
"Berjanjilah kau akan kembali," katanya akhirnya, memeluk adiknya erat-erat.
"Aku berjanji," Lin Mu menjawab, membalas pelukan itu dengan tulus. "Dan kali ini, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun merenggut apa yang berharga bagiku lagi—tidak seperti tiga ratus tahun lalu."
Lin Wan mengerutkan kening mendengar kalimat terakhir itu, tak sepenuhnya memahami maksudnya, namun memilih untuk tidak bertanya lebih jauh malam itu.
Keesokan paginya, sebelum matahari sepenuhnya terbit, Lin Mu berdiri di gerbang utama Klan Lin dengan ransel sederhana berisi bekal secukupnya, pecahan Penakluk Fajar terikat aman di pinggangnya, dan token awan pemberian Yun Zhi tersimpan di saku dalam jubahnya.
Lin Hao dan Lin Kai turut mengantar kepergiannya, ekspresi keduanya jauh berbeda dari beberapa bulan lalu—kini dipenuhi rasa hormat yang tulus, bukan lagi rasa malu yang dulu selalu menyertai nama Lin Mu.
"Klan ini akan selalu menjadi rumahmu," Lin Hao berkata, suaranya penuh emosi yang jarang ia tunjukkan sebagai kepala klan. "Kembalilah kapan pun kau butuh, Lin Mu."
"Aku akan mengingatnya, Ayah," Lin Mu menjawab, membungkuk hormat.
Tetua Qing melangkah maju terakhir, menyerahkan sebuah gulungan kecil yang diikat rapi dengan tali sutra. "Catatan-catatan yang berhasil kukumpulkan selama enam puluh tahun tentang sejarah Puncak Pedang, Aula Bayangan, dan legenda-legenda lama yang mungkin berguna dalam perjalananmu. Tidak banyak, tapi mungkin cukup untuk membantumu menyambung kembali kepingan masa lalumu yang hilang."
Lin Mu menerima gulungan itu dengan hormat mendalam. "Terima kasih untuk segalanya, Tetua. Tanpamu, aku mungkin masih terkubur dalam kebingungan tentang siapa diriku sebenarnya."
"Pergilah," Tetua Qing berkata, tersenyum tipis meski matanya berkaca-kaca. "Dan buktikan pada dunia bahwa Dewa Pedang Sembilan Langit bukan sekadar legenda yang telah lama mati."
Lin Mu mengangguk sekali terakhir pada seluruh keluarganya, lalu berbalik, melangkah menyusuri jalan berdebu yang membentang jauh ke arah pegunungan tempat Sekte Awan Putih berada—jalan yang akan membawanya semakin jauh dari kota kecil tempat kehidupan barunya dimulai, dan semakin dekat pada rahasia-rahasia besar yang telah menantinya selama tiga ratus tahun.
semngat thor/Determined/