Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Ting... neng... jreng!

Distorsi gitar elektrik yang sangat gahar meledak dari speaker mahal di atas meja kerja Pak Barata.

Pria paruh baya itu terlonjak kaget hingga punggungnya menabrak sandaran kursi dengan keras.

"Lagu macam apa ini?!" seru Pak Barata dengan mata terbelalak sempurna.

Emosi kemarahan dan agresi dari vokal Clara menembus telinganya seperti peluru tajam.

Aransemen rock-orkestra itu disusun dengan sangat rapi, megah, dan tanpa celah sedikit pun.

Sebagai seorang musisi senior, Pak Barata tahu betul bahwa lagu ini adalah sebuah mahakarya mutlak.

"Gawat, jika lagu ini sampai ke telinga panitia pusat, anak didik Surya pasti akan hancur lebur," gumam Pak Barata dengan keringat dingin.

Ia segera menggerakkan kursor mousenya ke arah tombol Tolak berwarna merah di layar monitornya.

Namun, sebelum jari telunjuknya sempat menekan tombol klik, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka.

Krieeet...

Seorang wanita muda yang merupakan anggota panitia seleksi pusat melangkah masuk dengan setumpuk kertas.

"Pak Barata, saya membawakan berkas... astaga, lagu siapa ini?!" teriak wanita itu dengan nada takjub.

Pak Barata buru-buru menekan tombol jeda pada komputernya, membuat ruangan itu kembali hening seketika.

"Ah, ini... ini cuma lagu dari peserta indie biasa yang berisik," jawab Pak Barata dengan senyum canggung.

"Biasa bagaimana, Pak? Aransemen gitarnya sekelas musisi internasional!" protes wanita itu dengan mata berbinar-binar.

"Siapa nama pesertanya, Pak? Kita harus langsung memasukkannya ke daftar peserta unggulan audisi langsung!"

Pak Barata menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa sepahit empedu.

Ia tidak mungkin menolak peserta ini sekarang tanpa dicurigai oleh panitia lain.

"N-namanya The Zeros," jawab Pak Barata dengan suara yang terdengar sedikit bergetar.

"Luar biasa, tolong segera kirimkan surat kelulusan tahap pertama ke email mereka ya, Pak."

Wanita itu meletakkan berkas di atas meja lalu keluar ruangan sambil terus bersenandung dengan nada kagum.

Pak Barata mengusap wajahnya dengan kedua tangan secara kasar.

"Sialan, Surya pasti akan membunuhku jika tahu saingan terberat anak didiknya lolos seleksi," umpat Pak Barata dengan sangat frustrasi.

Keesokan siangnya, di area taman belakang Institut Musik Nusantara yang sepi.

Stevan sedang berjalan santai menyusuri jalan setapak berbatu di antara semak belukar yang rimbun.

Ia ingin mencari sedikit udara segar setelah seharian penuh memoles lirik lagu cadangan di studio kumuhnya.

Srak... srak...

Tiba-tiba, telinga Stevan yang memiliki kemampuan Pendengaran Absolut menangkap suara bisikan.

"Bagaimana bisa kau meloloskan mereka, Pak Barata?!"

Suara itu sangat pelan, namun Stevan langsung mengenali nada angkuh dan sombong milik Dion.

Langkah kaki Stevan terhenti seketika di atas jalan setapak itu.

Ia merundukkan tubuhnya perlahan dan menyelinap mendekati sumber suara tanpa menimbulkan gesekan sedikit pun.

Di balik pohon beringin besar, Dion terlihat sedang mencengkeram kerah kemeja Pak Barata dengan wajah memerah.

"Pak Surya sudah membayarmu ratusan juta untuk menyingkirkan lalat-lalat indie itu!" bentak Dion dengan suara tertahan.

Pak Barata menepis tangan Dion dengan kasar dan merapikan kemejanya yang kusut.

"Jaga sikapmu, anak muda! Kau pikir aku sengaja meloloskan mereka?!" balas Pak Barata dengan nada sangat kesal.

"Lagu The Zeros itu terlalu bagus dan terlanjur didengar oleh anggota panitia pusat lainnya."

"Jika aku memaksakan diri menolaknya, mereka akan curiga dan melakukan audit pada riwayat penjurianku."

Dion mendecakkan lidahnya dengan kasar dan menendang kerikil di dekat kakinya.

"Lalu bagaimana sekarang? Mereka akan benar-benar tampil di audisi langsung minggu depan!" rutuk Dion sambil mengacak rambutnya.

"Jika mereka menyanyi sehebat di rekaman internet itu, posisiku dan Natasha akan hancur lebur."

Pak Barata tersenyum licik, memamerkan deretan giginya yang kekuningan karena sering merokok.

"Kau tidak perlu panik seperti anak kecil, aku masih menjadi ketua dewan juri mutlak di audisi langsung nanti."

Di balik pohon, Stevan segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana.

Ia menyalakan fitur perekam suara secara diam-diam dan mengarahkannya ke sumber suara mereka.

"Apa rencanamu, Pak Tua?" tanya Dion dengan nada yang meremehkan namun penasaran.

"Saat The Zeros naik ke atas panggung, aku akan menyuruh teknisi mematikan jalur mikrofon utama mereka dari ruang kendali."

"Mereka akan terlihat seperti peserta amatir bodoh yang lupa menyalakan mikrofon di panggung besar."

Dion mulai tersenyum sangat lebar mendengar rencana kotor yang menguntungkannya itu.

"Dan setelah penonton mulai menyoraki mereka, aku akan langsung menekan tombol bel merah besar untuk mendiskualifikasi," lanjut Pak Barata dengan sangat bangga.

"Mereka bahkan tidak akan punya kesempatan untuk menyelesaikan lirik bait pertama."

"Hahaha, itu baru rencana yang brilian, Pak Barata!" tawa Dion dengan sangat puas.

"Buat mereka hancur berkeping-keping dan menangis memohon belas kasihan di atas panggung itu."

Pak Barata menepuk bahu Dion dengan sikap yang dibuat seakrab mungkin.

"Tenang saja, panggung audisi itu adalah wilayah kekuasaanku secara penuh."

"Tidak ada yang bisa mengalahkan uang dari Mega Bintang Sejahtera di industri ini."

Stevan menekan tombol berhenti pada perekam suara di ponselnya dengan senyuman yang sangat dingin.

Bukti rekaman ini terekam dengan sangat jernih berkat fitur penyaring kebisingan pasif dari Sistem Pintar.

"Sabotase audio? Trik murahan yang sudah sangat klasik," batin Stevan dengan tatapan merendahkan.

Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan melangkah pergi dari taman itu seolah tidak terjadi apa-apa.

Setengah jam kemudian, Stevan membuka pintu studio kumuh di sayap barat kampusnya.

Krieeet...

Clara sedang duduk di kursi kayu sambil menggigit kuku jarinya dengan wajah yang terlihat sangat tegang.

"Kak Stevan! Kau sudah lihat email balasan dari panitia festival pusat?!" seru Clara sambil berdiri dengan gerakan cepat.

Stevan mengangguk pelan dan berjalan tenang menuju meja laptop usangnya.

"Kita lolos ke audisi langsung minggu depan, Kak! Lagu Mahkota Kepalsuan kita diterima bulat-bulat!" ucap Clara dengan nada kegirangan.

Gadis penakut itu tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit menjadi dua garis lengkung yang manis.

Namun, senyuman Clara perlahan memudar saat melihat ekspresi Stevan yang tetap datar.

Stevan mengambil ponselnya, mengetik beberapa kalimat dengan cepat, lalu menunjukkannya pada Clara.

"Kita memang lolos tahap pertama, tapi dewan juri utama telah disuap oleh label milik Dion."

Mata Clara seketika membulat sangat lebar membaca pesan buruk tersebut.

"A-apa? Disuap? Lalu bagaimana nasib kita nanti di audisi langsung, Kak?" tanya Clara dengan suara yang mulai bergetar karena panik.

Demam panggung gadis itu sepertinya sedikit meronta kembali mendengar adanya ancaman ketidakadilan ini.

Stevan mengetik lagi dengan ibu jarinya yang bergerak sangat lincah di atas layar kaca ponselnya.

"Mereka berencana mematikan mikrofonmu secara sengaja saat kau mulai bernyanyi."

"Mereka ingin mempermalukan kita di depan ribuan penonton audisi dan langsung mendiskualifikasi kita dengan bel merah."

Clara langsung jatuh terduduk ke kursi kayunya dengan wajah yang berubah pucat pasi.

"Lalu... kita harus menyerah saja, Kak? Kita tidak mungkin bisa melawan panitia pusat di panggung mereka sendiri," lirih Clara dengan nada putus asa.

Stevan langsung memukul permukaan meja kayunya dengan sangat keras.

Brak!

Goncangan meja itu membuat Clara tersentak kaget dan refleks mendongak menatap seniornya.

Stevan menatap mata Clara dengan pandangan sangat tajam yang seolah bisa menembus jiwa gadis penakut itu.

Ia mengetik pesan panjang dengan kecepatan penuh dan menyodorkannya tepat di depan wajah Clara.

"Kita tidak akan pernah menyerah apalagi mundur selangkah pun."

"Mereka ingin bermain kotor dengan sistem audio panggung? Biar aku yang mengurus masalah teknisnya nanti."

"Tugasmu hanya satu untuk minggu depan, Clara."

"Saat mikrofon utamamu sengaja dimatikan, kau tidak boleh berhenti bernyanyi meskipun hanya sedetik."

"Keluarkan suara S-Rank milikmu sepenuhnya dan bernyanyilah sekeras mungkin sampai suaramu merobek gendang telinga mereka."

Clara membaca rentetan kalimat bernada perintah itu dengan dada yang naik turun dengan sangat cepat.

"Tapi Kak, tanpa mikrofon menyala, suaraku tidak akan terdengar di panggung auditorium sebesar itu," protes Clara dengan mata berkaca-kaca.

Stevan justru tersenyum sangat mengerikan di balik masker medis hitamnya.

[TING!]

[Tuan rumah berencana menggunakan Keterampilan Peretasan Tingkat Mahir untuk mengambil alih sistem pusat panggung.]

[Sistem akan memberikan dukungan penuh untuk membobol frekuensi radio nirkabel pada hari audisi kelak.]

Stevan mengetik pesan terakhirnya untuk hari ini dan menunjukkannya dengan postur tubuh yang penuh percaya diri.

"Kau hanya perlu bernyanyi tanpa keraguan, Clara."

"Aku berjanji padamu, pada hari itu suaramu akan menggema lebih keras dari petir dan menghancurkan semua kepalsuan mereka."

Melihat tekad dan keyakinan mutlak di mata tajam Stevan, rasa takut di hati Clara perlahan kembali menguap.

Gadis itu menghapus sisa air mata di pelupuk matanya lalu menganggukkan kepalanya dengan sangat kuat.

"Baik, Kak. Aku akan percaya padamu sepenuhnya," ucap Clara dengan suara yang kembali terdengar mantap.

Audisi langsung Festival Musik Nusantara akan menjadi saksi bisu kehancuran awal dari kesombongan Dion.

Stevan Alvaro telah menyiapkan panggung eksekusi yang paling sempurna untuk musuh-musuhnya di depan mata publik.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!