Indonesia
NovelToon NovelToon
MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WANITA DI BALIK TELEPON

Sejak percakapan singkat di ruang tengah malam itu, sikap Ratih terhadap Anyara perlahan berubah. Ia tidak lagi sering mencela, tidak lagi banyak membanding-bandingkan Anyara dengan menantu ideal impiannya. Sebaliknya, ia mulai lebih sering memperhatikan gerak-gerik Juned dengan mata yang berbeda—mata seorang ibu yang mulai meragukan anaknya sendiri.

Pagi itu, saat Juned sedang mandi, ponselnya berdering di meja ruang tamu. Ratih yang kebetulan lewat, melirik layar itu—nama "Sayang ❤️" muncul jelas di sana.

Ratih terdiam, tangannya nyaris terulur untuk mengangkat panggilan itu, tapi ia menahan diri. Ia menunggu, mengamati dari jarak sedikit jauh sampai panggilan itu berhenti sendiri karena tidak diangkat.

Ketika Juned keluar dari kamar mandi, Ratih sudah menunggunya di ruang tamu dengan ponsel di tangan.

"Juned, tadi ada yang telepon, namanya 'Sayang'. Siapa itu?"

Wajah Juned seketika pucat. "Itu... itu cuma nama julukan temen kantor aja, Bu. Iseng nyimpen nama gitu."

"Temen kantor kok disimpen 'Sayang'? Kamu pikir Ibu bodoh, Juned?" Untuk pertama kalinya, suara Ratih terdengar tegas ke arah anaknya sendiri, bukan ke arah Anyara.

Juned terdiam, tidak bisa langsung menjawab, matanya melirik ke arah Anyara yang berdiri di ambang pintu dapur, menyaksikan semuanya dalam diam.

"Bu, ini bukan seperti yang Ibu pikirkan," ucap Juned akhirnya, suaranya mulai gemetar.

"Terus kayak apa? Jelasin ke Ibu sekarang!" Ratih mendesak, air matanya mulai menggenang, campuran antara marah dan kecewa yang sudah lama ia tahan.

Juned menghela napas panjang, tampak terjepit antara mempertahankan kebohongan atau mulai mengakui sebagian kebenaran. "Bu, itu... itu emang bukan cuma temen kantor biasa. Tapi aku nggak—"

"Selingkuh?" potong Ratih cepat, suaranya bergetar.

Hening sejenak. Juned tidak menjawab, tapi diamnya sudah menjadi jawaban yang paling jelas.

Anyara berdiri di ambang pintu, menyaksikan momen yang selama ini ia tunggu—pengakuan, meski belum sepenuhnya utuh—tapi anehnya, ia tidak merasakan kelegaan seperti yang ia bayangkan. Yang ada hanya rasa hampa, dan luka yang kini benar-benar terkonfirmasi tanpa bisa disangkal lagi oleh siapa pun.

"Juned," suara Anyara akhirnya keluar, tenang meski dalam hati bergejolak hebat, "udah berapa lama?"

Juned menoleh, wajahnya penuh rasa bersalah, tapi tidak juga langsung menjawab.

"Udah berapa lama, Mas?" Anyara mengulangi, kali ini lebih tegas.

"Sekitar... delapan bulan," jawab Juned akhirnya, suaranya nyaris tidak terdengar.

Delapan bulan. Anyara merasa dadanya semakin sesak mendengar angka itu. Delapan bulan ia hidup dalam kebohongan, delapan bulan ia terus dipersalahkan atas hal-hal kecil di rumah, sementara suaminya sendiri menjalani kehidupan ganda tanpa rasa bersalah yang berarti.

"Siapa dia?" tanya Anyara lagi.

"Namanya Dinda. Rekan kerja satu divisi," jawab Juned, menunduk, tidak berani menatap mata istrinya.

Ratih yang mendengar semua itu, tiba-tiba terduduk lemas di sofa, wajahnya pucat pasi. "Delapan bulan, Juned? Kamu udah nikah sama Anyara, tapi masih tega selingkuh delapan bulan? Ibu... Ibu malu sama diri sendiri, udah percaya penuh sama kamu, sampe nyalahin Anyara terus."

Untuk pertama kalinya, Anyara melihat Ratih menangis—bukan tangisan drama seperti biasa, melainkan tangisan penyesalan yang tulus, seorang ibu yang baru sadar telah membela kesalahan anaknya sendiri sekian lama.

Juned mencoba mendekati Anyara, tangannya terulur meski ragu. "Ra, aku... aku minta maaf. Aku nggak tau harus ngomong apa lagi."

Anyara mundur selangkah, menghindari sentuhan itu. "Maaf doang nggak cukup, Mas. Delapan bulan itu bukan waktu yang singkat."

"Aku janji, aku bakal putusin dia. Aku nggak mau kehilangan kamu, Ra," ucap Juned, suaranya mulai terdengar putus asa.

Anyara menatap suaminya lama, mencoba mencari sisa perasaan yang dulu pernah ia miliki untuk pria di hadapannya ini. Tapi yang ia temukan hanya kekosongan, seolah semua rasa itu sudah habis terkikis oleh delapan bulan kebohongan yang baru saja terungkap.

"Aku butuh waktu sendiri, Mas," ucap Anyara akhirnya, suaranya datar tapi tegas. "Aku nggak bisa langsung mikirin apa-apa sekarang."

Ia berbalik, berjalan menuju kamar, meninggalkan Juned yang masih berdiri terpaku di ruang tamu, dan Ratih yang masih terisak di sofa, menyesali kebutaan yang selama ini menutup matanya sendiri.

Di dalam kamar, Anyara duduk di tepi ranjang, tangannya gemetar mengambil ponsel, membuka percakapan dengan Hans.

"Pak Hans, Mas Juned baru aja ngaku. Udah selingkuh delapan bulan sama temen kantornya."

Balasan datang cepat, seolah Hans langsung merespons begitu pesan itu terkirim.

"Astaga, Mbak. Mbak sekarang gimana? Baik-baik aja?"

"Saya nggak tau harus ngerasa apa, Pak. Campur aduk banget."

"Wajar, Mbak. Itu bukan hal kecil. Mbak nggak perlu buru-buru mikirin langkah selanjutnya sekarang. Yang penting Mbak tenangin diri dulu."

Anyara menatap layar itu, air matanya mengalir tanpa suara. Untuk pertama kalinya sejak kebenaran itu terungkap, ia merasa diizinkan untuk benar-benar merasa hancur, tanpa perlu menjaga image atau menahan diri demi siapa pun—dan anehnya, satu-satunya orang yang memberi izin itu bukanlah keluarganya sendiri, melainkan seorang pria yang baru ia kenal beberapa minggu lalu di sebuah gang sempit yang tidak pernah ia duga akan mengubah jalan hidupnya.

1
Heny
Apa anyana gk punya tlp orang kantor bisa di tanya kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!