Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
***
Pagi itu, atmosfer di ruang kesehatan pribadi Mansion Elard mendadak mendingin hingga ke titik beku. Bau alkohol medis yang menyengat bercampur dengan ketegangan yang merayap di setiap sudut ruangan. Nyonya Helena berdiri tegak di dekat ranjang pemeriksaan dengan tangan bersedekap, matanya menatap tajam ke arah Dr. Maya yang sedang merapikan peralatan medis.
Alana duduk di tepi ranjang dengan jubah tidur tipis melilit tubuhnya yang kian kurus. Wajahnya seputih kertas, bibirnya pucat tanpa warna.
"Bagaimana, Maya?" tanya Nyonya Helena dengan nada suara kaku dan menuntut. "Apakah sampel darah pagi ini sudah menunjukkan peningkatan hormon HCG?"
Dr. Maya helat napas pelan sebelum mematikan alat analisis digital di atas meja. "Pemeriksaan darah tidak perlu dilanjutkan hari ini, Nyonya Besar," ujar Dr. Maya dengan nada serak canggung. "Nyonya Alana baru saja melaporkan bahwa siklus menstruasinya datang pagi ini. Bercak darah pertama sudah keluar."
Deg.
Udara di dalam ruangan itu serasa disedot habis. Nyonya Helena membelalakkan matanya, raut wajah anggunnya seketika berubah menjadi topeng kemurkaan yang mengerikan.
"Apa kamu bilang?!" bentak Nyonya Helena, melangkah maju hingga berdiri tepat di hadapan Alana. "Datang bulan?! Bulan kedua... dan rahimmu masih memuntahkan darah sialan ini?!"
Alana menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas jemarinya yang dingin di atas pangkuan. "Maafkan saya, Ibu... saya—"
"Tutup mulutmu!" potong Nyonya Helena tanpa belas kasihan. "Dua bulan! Kami sudah menggelontorkan dana ratusan miliar untuk keluargamu yang tidak tahu diri itu, dan kamu memberikan hasil nol besar! Apakah rahimmu selemah dan sebutut itu sampai tidak bisa menampung benih Kenzo?!"
"Helena, tenanglah sedikit..." Dr. Maya mencoba menengahi, namun tatapan tajam Nyonya Helena langsung membungkamnya.
"Bagaimana saya bisa tenang, Maya?!" seru Nyonya Helena, matanya berkilat penuh amarah. "Kakek Hendra sudah menjadwalkan evaluasi saham Elard Group bulan depan! Jika wanita ini tidak kunjung hamil, posisi Kenzo sebagai Direktur Utama berada dalam bahaya besar!"
Nyonya Helena menoleh tajam ke arah Dr. Maya. "Saya tidak mau tahu! Suntikkan hormon kesuburan sintetis dosis tertinggi yang kamu miliki sekarang juga! Paksa rahimnya untuk siap melepas sel telur baru begitu siklus menstruasinya selesai!"
Dr. Maya ragu sejenak. "Nyonya Besar, hormon sintetis dosis tinggi pada hari pertama menstruasi bisa memicu efek samping yang amat menyiksa... kram rahim parah dan pendarahan hebat—"
"Lakukan, Maya!" perintah Nyonya Helena mutlak tanpa kompromi. "Keluarga Elard tidak membayar mahal untuk mendengar keluhan fisik wanita ini!"
Tanpa diberi kesempatan membela diri, Alana dipaksa berbaring kembali. Dr. Maya menyiapkan jarum suntik berisi cairan hormon pekat. Ketika mata jarum menusuk kulit lengannya dan cairan kimia itu masuk ke dalam pembuluh darahnya, reaksi instan langsung menghantam tubuh Alana.
"Nghh...!" Alana mengerang tertahan. Perut bagian bawahnya seketika mencengkeram melilit, bagaikan diremas oleh jemari besi dari dalam. Rasa panas dan nyeri yang teramat sangat menyebar hingga ke pinggang dan paha, memaksanya meringkuk memeluk perutnya sendiri dengan air mata yang menetes tanpa suara.
Nyonya Helena menatap tubuh Alana yang berguncang menahan sakit tanpa sedikit pun rasa iba. "Bibi Rika, perketat pengawasan medis harian! Catat setiap pad yang dia gunakan, dan pastikan dia menelan semua vitamin sore nanti!"
**
Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit Elard Group, suasana kerja berjalan bagaikan neraka bagi para karyawan.
Kenzo berdiri di balik dinding kaca besar ruang kerjanya, menatap pemandangan kota dari ketinggian dengan mata yang menggelap. Jas mewahnya sudah dilepas, menyisakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka. Tangannya meremas gelas kristal berisi whisky hingga buku-buku jarinya memutih.
Pesan singkat dari ibunya satu jam lalu terus berputar di kepalanya: Alana datang bulan lagi pagi ini. Hasil bulan kedua gagal.
Prang!
Kenzo melemparkan gelas kristalnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
Sekretaris pribadi Kenzo, Aris, yang baru saja melangkah masuk membawa tumpukan dokumen keuangan, mendadak membeku di ambang pintu dengan wajah pucat pasi.
"T-Tuan Kenzo... ini laporan keuangan dividen anak perusahaan—"
"Ulangi!" bentak Kenzo dengan suara berat yang menggelegar, berbalik menatap Aris dengan iris mata tajam penuh amarah. "Proyeksi keuntungan divisi tiga turun dua persen dan kamu berani membawanya ke meja saya?! Apakah kalian semua di kantor ini sudah tidak punya otak?!"
"M-maafkan kami, Tuan... tim analis sedang merevisi—"
"Saya tidak butuh kata maaf!" potong Kenzo sinis, melangkah tegap mendekati mejanya lalu menyapu tumpukan berkas hingga berserakan di lantai. "Jika laporan ini tidak rapi dalam waktu satu jam, kamu dan seluruh tim analis di lantai lima saya pecat!"
Pak Aris bergegas berlutut memunguti berkas-berkas itu dengan tangan bergetar. "Baik, Tuan! Baik, segera saya perbaiki!"
Emosi Kenzo berada di puncak tertinggi. Tekanan dari Kakek Hendra mengenai evaluasi jabatan berpadu liar dengan rasa frustrasi biologis yang mendadak menghimpit dadanya. Kebiasaan fisiknya dalam dua bulan terakhir—menumpahkan seluruh rasa lelah dan candu gairahnya pada tubuh Alana saban malam—kini harus terhenti secara mendadak selama seminggu penuh akibat siklus menstruasi istrinya.
Ketagihan fisik yang tertahan itu membuat fokus Kenzo berantakan, membakar kesabarannya hingga tak tersisa.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu ruang kerja Kenzo kembali terdengar, membuat pria itu menyipitkan matanya tajam. "Aris! Bukankah saya sudah bilang jangan ada yang mengganggu saya?!"
Namun, pintu itu terbuka perlahan bukan oleh sekretarisnya.
Seorang wanita berpenampilan sangat anggun melangkah masuk dengan santai. Langkah kakinya terdengar berirama dari ketukan sepatu high heels merah yang berkilau. Ia mengenakan gaun terusan warna maroon memeluk tubuh yang memperlihatkan lekuk jalang namun elegan, disempurnakan oleh rambut gelombang kecokelatan yang terurai indah di bahunya.
Wajah wanita itu sangat cantik, memancarkan pesona berani dan percaya diri yang amat berbeda dari ketenangan hampa Alana.
Wanita itu tersenyum manis, membiarkan Pak Aris yang masih panik buru-buru keluar dan menutup pintu ruangan dari luar.
"Masih sekasar dan se-tempramental dulu, hm... Kenzo?" suara wanita itu terdengar renyah, serak-serak basah dan teramat akrab.
Kenzo terpaku di tempatnya berdiri. Manik mata hitamnya melebar samar saat mengenali sosok wanita yang kini berjalan mendekat ke arah meja kerjanya tanpa rasa takut sedikit pun.
"Clara...?" bisik Kenzo dengan suara berat yang menegang.
Clara—mantan kekasih Kenzo yang pernah mengisi masa lalunya sebelum wanita itu menghilang ke luar negeri demi karier pemodelannya—menaruh tas mewahnya di atas sofa, lalu menyunggingkan senyum menawan yang sarat akan makna.
"Lama tidak bertemu, CEO Elard Group," ujar Clara halus seraya mengikis jarak, menatap tepat ke dalam mata Kenzo.
Bersambung....