Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Cemooh dan Keajaiban Kecil

Kabar mengenai insiden penyelamatan Rudi di jalan perkebunan sepi menyebar cepat bagaikan api menyambar jerami kering. Di pangkalan ojek, topik pembicaraan tidak lagi berkisar tentang tarif orderan atau musibah biasa, melainkan tentang sosok Dirga yang dianggap memiliki kemampuan tidak masuk akal. Sebagian pengemudi menatapnya dengan rasa takjub, namun lebih banyak yang memilih menjaga jarak karena merasa cemas dan asing.

Tidak berhenti di pangkalan, desas-desus bahwa Dirga "bisa meramal" akhirnya merembet hingga ke permukiman padat tempat tinggalnya. Senja baru saja jatuh ketika Dirga melangkah masuk ke gang rumah tuanya. Di pos ronda dekat persimpangan gang, beberapa tetangga sedang berkumpul, termasuk Bu Marni, tetangga persis di sebelah rumahnya, dan Pak RT.

"Nah, ini dia orangnya datang!" seru Bu Marni dengan nada suara melengking dan penuh cibiran saat melihat Dirga melintas.

Dirga menghentikan langkahnya, menoleh perlahan dengan raut wajah datar. "Ada apa, Bu Marni?"

Bu Marni melipat kedua tangannya di dada, menatap Dirga dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan jijik. "Kamu tidak usah berlagak polos, Dirga! Orang-orang di pangkalan ojol ramai membicarakan kamu yang katanya sekarang bisa melihat masa depan. Kamu pakai ilmu hitam apa, hah? Musyrik kamu!"

"Saya tidak pernah memakai ilmu hitam atau pesugihan apa pun, Bu Marni," jawab Dirga tenang, mempertahankan gaya bahasa formalnya tanpa terpancing emosi.

"Alasan!" sembur Bu Marni keras-keras agar didengar warga lain. "Dahulu kamu sok alim, tapi setelah dipecat dari pekerjaan dan rumahmu hancur, kamu malah main dukun! Ingat ya, Dirga, jangan membawa sial atau malapetaka di kampung ini dengan ajaran sesatmu itu!"

Pak RT yang duduk di samping pos ronda memegang pundak Bu Marni untuk meredakan situasi, lalu menatap Dirga dengan wajah prihatin. "Sudah, Bu Marni, tidak usah membesar-besarkan masalah."

"Tapi Pak RT, budak ini sudah gila!" tuding Bu Marni lagi.

Pak RT berdiri dan berjalan mendekati Dirga. Tangannya terangkat, menepuk bahu Dirga dengan gestur menasihati. "Dirga, Bapak paham kamu sedang mengalami masa-masa yang sangat berat. Kamu kehilangan pekerjaan, dihantam musibah rumah, dan ditinggal almarhumah ibumu. Tapi, jangan biarkan tekanan mental membuat pikiranmu melantur."

"Pak RT berpikir saya berhalusinasi?" tanya Dirga lurus, menatap matanya.

"Bapak hanya ingin kamu realistis," tutur Pak RT dengan nada membujuk. "Soal kejadian teman mu Rudi itu, bisa saja itu hanya kebetulan semata atau analisis logismu karena jalur itu memang rawan. Tidak ada manusia yang bisa tahu masa depan, Dirga. Jangan membual soal meramal nasib orang lain. Nanti warga makin menganggapmu gila."

"Saya tidak pernah meminta siapa pun untuk mempercayai saya, Pak RT," sahut Dirga dingin. "Saya juga tidak pernah menyebut diri saya seorang peramal."

"Bagus kalau kamu sadar," potong Bu Marni sinis dari belakang. "Awas saja kalau kamu menyebarkan rumor aneh-aneh pada anak saya, Rio!"

Dirga tidak melayani perdebatan itu lebih jauh. Ia menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk kesopanan formal, lalu berbalik dan melangkah menuju rumahnya. Di belakangnya, samar-samar masih terdengar gelak tawa dan cibiran dari warga yang berkumpul di pos ronda.

Malam harinya, hujan gerimis mengguyur kawasan pemukiman. Di dalam rumah panggung tua yang sebagian atapnya masih ditutupi terpal plastik, Dirga duduk bersila di atas tikar pandan yang kusam. Ia berusaha memejamkan mata untuk menenangkan pikiran dari segala tekanan, rasa sakit tubuh, serta hinaan warga.

Namun, saat ia mencoba mengatur napasnya perlahan, dahi Dirga mendadak berdenyut sangat kencang. Rasa sakit menusuk kembali menghantam kesadarannya, memaksa matanya terpicing rapat.

Denyutan itu memicu kilatan visi masa depan.

Keesokan harinya di pagi hari yang cerah. Dapur rumah Bu Marni yang terbuka kelihatan jelas. Sebuah teko aluminium berisi air mendidih baru saja diangkat dari kompor dan diletakkan di tepi meja kayu yang goyah. Rio, anak balita Bu Marni yang baru berusia tiga tahun, berlari kecil masuk ke dapur mengejar bola plastik. Tangan kecil Rio menggapai taplak meja, menariknya kuat-kuat hingga teko berisi air panas membara itu jatuh persis menyiram tubuh dan wajah anak kecil tersebut. Jeritan histeris Rio dan Bu Marni menggema tragis.

Brak!

Dirga membuka matanya seketika. Keringat dingin membasahi dahinya, dan napasnya memburu di tengah kegelapan kamar. Ia memegangi dadanya yang berdegup kencang.

"Anak Bu Marni... besok pagi air panas itu akan menyiram tubuhnya," gumam Dirga dengan suara bergetar.

Dirga memejamkan mata sejenak, mengingat kembali cibiran pedas dan tuduhan "musyrik" serta "gila" yang dilontarkan Bu Marni beberapa jam lalu padanya. Hatinya yang terlanjur terluka berbisik agar mengabaikan kejadian itu, biarkan wanita sombong itu menerima akibat dari perbuatannya. Namun, bayangan tubuh balita yang tak berdosa dan jeritan kesakitan anak itu membuat nurani Dirga berontak.

"Wanita itu boleh membenciku dan menghinaku sesuka hatinya," bisik Dirga pada kegelapan malam, matanya memancarkan keteguhan yang dingin. "Tapi anak kecil itu tidak bersalah. Aku tidak akan membiarkan musibah ini terjadi."

Keesokan harinya, fajar baru saja menyingsing di ufuk timur. Udara pagi masih terasa sangat dingin dan diselimuti kabut tipis. Permukiman warga masih sepi, hanya beberapa orang yang baru selesai menunaikan salat Subuh di masjid.

Pak RT, yang sedang berjalan santai menikmati udara pagi seraya membawa sangkur burung di dalam sangkar, menghentikan langkahnya di belokan gang. Matanya memicing saat melihat sesosok pria berjaket kusam bergerak mencurigakan di area dapur terbuka milik rumah Bu Marni.

"Lho... bukankah itu Dirga?" gumam Pak RT heran seraya bersembunyi di balik pohon nangka untuk mengamati dari kejauhan.

Di Dapur Bu Marni, teko aluminium yang baru saja mendidih di atas kompor gas telah dipindahkan oleh Bu Marni ke atas meja kayu tepi jalan sebelum ia melangkah ke dalam untuk mengambil pakaian. Pemandangan itu persis seperti yang ada di dalam pikiran Dirga.

Dengan langkah sangat cepat dan tanpa suara, Dirga menyelinap mendekati meja kayu tersebut. Matanya jelalatan memastikan tidak ada orang yang melihatnya dari dalam rumah.

"Maafkan saya, Bu Marni," bisik Dirga dingin seraya meraih gagang teko aluminium yang sangat panas menggunakan kain kusam.

Tanpa ragu sedikit pun, Dirga mengangkat teko tersebut dan sengaja menyenggolkan ujungnya ke tepi meja kayu hingga teko itu terjatuh dan menghantam lantai semen.

PRANG! PYAR!

Teko aluminium itu terpental, pecah pada bagian tutupnya, dan seluruh air mendidih di dalamnya tumpah ruah membasahi lantai semen dapur hingga mengeluarkan uap panas yang membumbung tinggi.

Dari balik pohon nangka di kejauhan, Pak RT melotot kaget melihat aksi Dirga. Tangannya memegang erat sangkar burungnya, raut wajahnya dipenuhi rasa terkejut dan ketidakpercayaan yang amat sangat.

"Astaga... apa yang dilakukan Dirga? Kenapa dia sengaja membuang dan memecahkan teko air panas milik Bu Marni?" bisik Pak RT heran seraya mengerutkan dahi dalam-dalam.

"Siapa itu?! Ada apa di luar?!" teriak suara Bu Marni histeris dari dalam rumah, terdengar langkah kakinya yang terburu-buru menuju area dapur.

Dirga tidak melarikan diri. Ia tetap berdiri tegap di samping tumpahan air panas itu, menatap pintu dapur yang terbuka dengan raut wajah yang sangat dingin dan tenang, menunggu sang pemilik rumah keluar menghadapi apa yang baru saja terjadi.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!