Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Cincin Nenek
...#...
...Bima menatap foto itu sampai layarnya meredup sendiri. Ia menekan tombol samping, dan layar menyala lagi, menampilkan tangan yang sama. Jari manisnya ramping, kukunya dipotong pendek dan rapi. Cincin tipis melingkar di sana, perak yang sudah agak kusam di bagian bawah....
...Perempuan di kursi belakang tidak bicara. Ia menatap layar itu tanpa berkedip, lalu tangannya yang tadi keluar dari balik tas perlahan kembali ke pangkuan, dan kali ini ia menggenggamnya sendiri....
..."Mbak kenal cincinnya?" tanya Bima....
..."Jangan tanya itu sekarang."...
..."Saya tanya sekarang."...
..."Aku tahu."...
...Rico menurunkan kaca jendela sedikit. Udara masuk, membawa bau aspal panas dan asap knalpot bus kota. Ia melirik spion, lalu spion samping, lalu spion lagi. Bima melihat itu, dan ia tidak perlu bertanya apa maksudnya....
..."Ada yang ikut lagi?" tanya Bima....
..."Motor abu-abu. Dua orang," jawab Rico. "Jaraknya tiga mobil."...
..."Tadi di pasar yang pakai jaket hitam bukan?"...
..."Bukan. Yang ini lebih sopan."...
...Bima menoleh ke belakang, tapi kaca belakang mobil itu gelap oleh pantulan langit yang mulai mendung. Ia hanya bisa melihat lampu motor yang berkedip di antara bus dan truk pengangkut semen....
..."Mbak mau ke mana?" tanyanya....
...Perempuan itu tidak menjawab. Ia mengangkat ponsel, menekan satu nomor, lalu menempelkannya di telinga kiri. Ia tidak bicara dulu. Hanya mendengarkan, dan Bima melihat jempol kirinya mengetuk-ngetuk sisi tas, pelan, berulang, seperti orang yang sedang menghitung sesuatu dalam kepala....
..."Kamu sudah sampai?" katanya akhirnya....
...Suara di seberang terdengar sayup. Bima tidak bisa menangkap kata-katanya, tapi ia mendengar nada yang naik sebentar, lalu turun lagi....
..."Pakai pintu samping. Jangan pakai lift," kata perempuan itu. "Dan jangan biarkan dia lihat jam tanganmu."...
...Ia menutup telepon....
..."Kita ke mana?" tanya Bima lagi....
..."Ke tempat yang aman."...
..."Itu jawaban yang dipakai semua orang di sini."...
..."Karena semua tempat di sini tidak aman."...
...Mobil berbelok ke jalan kecil di belakang pasar induk. Aspalnya retak dan berlubang, dan setiap kali roda menghantam lubang, kepala Bima terbentur sandaran jok. Lengan kirinya berdenyut setiap kali itu terjadi. Ia menggigit pipi bagian dalam dan menatap cincin di layar yang kembali meredup....
..."Ini tangan siapa?" tanyanya lagi, lebih pelan....
...Perempuan itu menoleh, sangat cepat, lalu menatap kursi depan, lalu kembali menatap Bima. Ada sesuatu yang bergerak di rahangnya, sebentar saja, lalu berhenti....
..."Berikan," katanya....
...Bima ragu, tapi menyerahkan ponsel itu. Perempuan itu memperbesar foto dengan dua jari. Ia memandang cincin itu lama, sampai Bima merasa jari-jarinya sendiri ikut tegang tanpa ia sadari....
..."Ini cincin nenekku," katanya....
..."Nenek Mbak?"...
..."Carla Vieri. Ibu dari ayahku." Ia mengembalikan ponsel itu dengan gerakan yang sangat hati-hati, seperti orang yang takut layarnya akan pecah di tangannya sendiri. "Dia tidak pernah melepas cincin itu sejak suaminya meninggal. Kecuali sekali."...
..."Kapan?"...
...Perempuan itu tidak langsung menjawab. Mobil melewati sebuah warung nasi dengan spanduk merah yang sobek di satu ujung. Seorang bapak tua sedang menyapu teras, dan ia mengangkat kepala ketika mobil lewat, lalu kembali menyapu....
..."Malam ayahku dibawa pulang," kata perempuan itu....
... ...
...Bima tidak bicara lagi selama beberapa menit. Ia menatap tangannya sendiri. Kukunya kotor oleh tanah dari gudang dan ada sisa darah kering di sela jari. Ia mencoba mengingat apakah ibunya pernah cerita soal nenek perempuan ini. Tidak ada. Ibunya hanya bilang keluarga Vieri itu "orang kota yang suka lihat-lihat" dan tidak pernah lagi....
..."Mbak sering ketemu Nenek?" tanyanya....
..."Jarang."...
..."Dia tahu Mbak lagi nyari saya?"...
..."Dia tahu semua yang aku lakukan. Tapi tidak selalu dia yang memerintah."...
..."Terus dia ngapain di foto itu? Kenapa tangannya ada di kertas surat kuasa?"...
..."Karena seseorang menaruh tangannya di sana." Perempuan itu menatap jalan. "Dan orang itu tahu cara membuat kertas terlihat seperti milik keluarga kami."...
..."Berarti Nenek Mbak yang nyuruh Hendar?"...
..."Aku tidak bilang itu."...
..."Tapi Mbak mikir itu."...
...Perempuan itu menoleh pelan. Matanya tidak marah, tapi lebih dingin dari tadi, dan Bima merasa seolah ia sedang diperiksa dari ujung rambut sampai ujung sepatu....
..."Kamu terlalu banyak mikir untuk orang yang baru dua hari keluar dari warungnya," katanya....
..."Saya udah kehilangan warung. Saya cuma mau tahu siapa yang ngambil."...
..."Kamu tidak kehilangan warung. Warungmu masih ada di bawah nama yang kamu tanda tangani sendiri."...
...Bima terdiam. Ia tidak tahu apakah itu ancaman atau kenyataan yang diucapkan dengan cara paling kasar....
... ...
...Mobil berhenti di belakang sebuah bengkel motor. Rico turun lebih dulu, membuka pintu belakang, dan menatap gang kecil di sisi bengkel dengan mata menyipit. Tidak ada orang di sana, hanya tumpukan ban bekas dan seekor kucing yang meringkuk di atas karung....
..."Motornya tadi belok ke jalan besar," kata Rico. "Tapi satu masih di belakang."...
..."Yang satu ngapain?"...
..."Nunggu."...
...Perempuan itu turun. Ia berjalan sampai ke sudut bengkel tanpa tergesa, berhenti di bayangan dinding, dan melirik ke ujung jalan. Bima melihatnya dari jendela mobil. Tubuhnya tenang, bahunya tidak tegang, tapi tangan kanannya ada di saku mantel, dan ia tidak melepasnya....
...Bima membuka pintu. Lututnya hampir tidak mau menopang saat kakinya menyentuh aspal....
..."Jangan keluar," kata Rico....
..."Saya mau lihat."...
..."Itu yang bikin kamu hampir mati dua kali hari ini."...
..."Saya masih hidup."...
...Rico mendengus, tapi tidak menghalangi. Bima berjalan ke sisi bengkel dan berdiri di sebelah perempuan itu, cukup dekat sampai bahu mereka hampir bersentuhan. Dari sudut ini ia bisa melihat motor abu-abu yang tadi mengikuti. Motor itu berhenti di ujung jalan, mesinnya masih menyala. Pengendaranya membuka helm, dan Bima melihat wajah laki-laki muda dengan rambut cepak. Laki-laki itu menoleh ke arah bengkel, lalu mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik....
...Ponsel perempuan itu bergetar di saku mantelnya. Ia tidak mengeluarkannya. Hanya menunggu sampai getarannya berhenti....
..."Dia cuma melapor," kata perempuan itu....
..."Melapor ke siapa?"...
..."Ke orang yang masih bisa dilaporin."...
..."Mbak nggak takut?"...
..."Kalau aku takut, kamu sudah lebih dulu lari."...
...Bima tidak tahu apakah itu hinaan atau pujian. Laki-laki di motor itu menyalakan mesin lagi, lalu berputar pelan dan pergi ke arah yang berlawanan dari pasar. Perempuan itu menunggu sampai bunyi motor itu hilang, baru ia menghembuskan napas pendek dari hidung....
..."Sekarang kita pulang," katanya....
..."Pulang ke mana?"...
..."Ke rumah."...
...Bima menoleh tajam. "Mbak nggak punya rumah di sini. Mbak bilang sendiri."...
..."Aku tidak bilang itu."...
..."Mbak bilang tadi malam, di ruko. Mbak bilang mansion itu bukan tempat yang bisa saya masuki."...
...Perempuan itu tidak membantah. Ia melangkah kembali ke mobil dan membuka pintu, lalu berhenti dengan satu tangan di gagang. Ia menatap Bima dari atas bahunya....
..."Itu bukan rumahku lagi," katanya pelan. "Sekarang itu rumah orang yang mengirim foto itu ke ponselmu."...
... ...
...Mereka duduk di mobil lagi dengan kaca belakang yang retak sebagian. Rico menyetir sambil sesekali menatap spion, dan tidak ada yang bicara sampai mobil melewati jalan tol kecil di dekat pelabuhan. Di luar, langit mulai benar-benar mendung. Angin laut membawa bau hujan yang belum turun....
...Bima menyandarkan kepala ke kaca dan memejamkan mata. Ia tidak tidur. Ia mendengarkan napas perempuan di sebelahnya, yang sekarang lebih berat dari biasanya, dan sesekali bunyi tas kecil yang digenggam jari-jarinya....
..."Mbak takut sama Nenek?" tanyanya tanpa membuka mata....
...Hening sebentar....
..."Aku tidak pernah takut padanya," jawab perempuan itu. "Aku cuma tidak pernah tahu apa yang dia pikirkan."...
..."Itu sama aja, kan?"...
..."Tidak. Takut itu kalau kamu tahu dia akan menyakitimu. Kalau tidak tahu, kamu hanya bisa menunggu."...
..."Terus Mbak lagi nunggu apa?"...
...Perempuan itu tidak menjawab. Bima membuka mata dan melihatnya menatap ke luar jendela, ke arah laut yang mulai abu-abu. Di pantulan kaca, wajahnya tampak lebih tua dari yang Bima lihat di warung, dan lebih sepi....
..."Malam itu di jalan tol," kata perempuan itu. "Nenek juga ada di sana."...
...Bima merasakan jantungnya berhenti sebentar....
..."Mbak lihat dia?"...
..."Aku lihat cincinnya. Dia mengangkat tangan waktu mobil ayahku dibakar. Seperti orang yang sedang melambai ke seseorang di seberang jalan."...
..."Ke siapa?"...
...Perempuan itu menutup matanya sebentar. Ketika membukanya lagi, pandangannya lurus ke depan, ke punggung Rico, ke kaca depan yang mulai basah oleh gerimis pertama....
..."Itu yang belum pernah aku tanyakan," katanya....
...Mobil melambat di depan gerbang besi tinggi. Ada pos jaga kecil di sisi kiri, dan satu lampu sorot menyala di atas pintu. Rico menurunkan kaca jendela, menunjukkan sesuatu ke penjaga, dan gerbang itu terbuka pelan dengan bunyi rantai....
...Di balik pagar, jalan masuk melengkung di antara pohon-pohon tua. Di ujungnya berdiri sebuah bangunan putih dengan jendela-jendela besar yang gelap. Satu lampu menyala di lantai dua, di balik tirai tipis....
...Lampu itu berkedip dua kali, lalu padam....
...Perempuan itu melihatnya. Bima melihat tangannya di pangkuan mengencang, dan jari-jarinya berhenti mengetuk tas....
..."Itu kamar siapa, Mbak?" tanya Bima pelan....
..."Kamar yang sudah lama kosong," jawabnya....
...Ponsel Bima bergetar di saku jaket. Ia mengeluarkannya, dan satu pesan muncul dari nomor yang tidak tersimpan. Kali ini tidak ada foto. Hanya satu baris, ditulis dengan huruf kecil semua....
...*Nenekmu sudah pulang. Dia ingin bertemu anak penjual sate itu.*...