Indonesia
NovelToon NovelToon
Dari Yatim Piatu Menjadi Ratu Mafia

Dari Yatim Piatu Menjadi Ratu Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Edina Gonçalves

Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.

Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.

Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.

Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.

Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.

Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta yang Tak Pernah Kulepaskan

POV Luna

Hatiku sudah tercekat bahkan sebelum semuanya dimulai.

Sejak kakakku bilang sudah waktunya pulang ke Italia, aku merasa seakan ada sesuatu yang dicabut paksa dariku.

Ini bukan sekadar soal pergi.

Ini soal meninggalkan segala hal yang menopangku tetap tegak beberapa tahun terakhir.

Cissa.

Ana.

Saudari-saudari jiwaku.

Orang-orang yang melihatku hancur… dan, meski begitu, tetap bertahan.

"Aku tidak mau!"

Kudengar suaraku sendiri menggema, lebih keras dari yang kumaksudkan.

Tapi aku tak sanggup mengendalikannya.

"Luna…" Mama mencoba menenangkanku.

"Tidak, Mama! Aku tidak akan pergi tanpa mereka!"

Aku mondar-mandir, merasakan keputusasaan yang kian membesar.

"Kalian tidak mengerti! Mereka segalanya bagiku!"

Dan itu benar.

Setelah semua yang kualami…

Setelah apa yang terjadi padaku…

Merekalah yang mengajariku bernapas lagi.

Tertawa tanpa takut.

Percaya.

"Aku tak akan sanggup jauh dari mereka," suaraku tercekat. "Aku tak bisa…"

Ketika Paolo bicara, aku sudah tahu ia tak akan mengalah.

"Kau akan pulang."

Aku berbalik ke arahnya, merasakan amarah naik.

"Tidak mau!"

"Kau akan pulang."

"Aku bukan anak kecil!"

"Kalau begitu berhenti bersikap seperti anak kecil."

Kata-kata itu menghantamku.

Tapi tak membuatku surut.

"Aku tidak akan meninggalkan mereka."

Saat itulah Ayah bangkit berdiri.

Dan dunia terhenti.

"Cukup."

Nada itu…

Aku mengenalinya.

Dan aku tahu tak ada yang bisa kukatakan untuk mengubah apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Kita selesaikan ini dengan cara yang benar."

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Ada sesuatu yang salah.

Sangat salah.

Beberapa menit kemudian, kami semua sudah berada di ruang kerja.

Aku.

Kedua orang tuaku.

Kedua kakakku.

Dan dia.

Lutero.

Aku tak sanggup langsung memandangnya.

Karena hanya dengan tahu bahwa ia ada di sana…

Jantungku sudah tak beraturan.

"Ada sesuatu yang perlu kalian ketahui," Ayah memulai.

Kurasakan sesuatu yang dingin merambat naik ke tulang punggungku.

"Bertahun-tahun lalu, aku membuat kesepakatan dengan ayah Lutero."

Ruangan menjadi sunyi.

"Ketika kalian mencapai usia yang tepat… kalian akan menikah."

Dunia… benar-benar terhenti.

Aku tak bisa bernapas.

Tak bisa berpikir.

Tak sesuatu pun.

Pikiranku kosong.

Dan satu-satunya yang bisa kulakukan…

Adalah memandangnya.

Lutero.

Ia ada di sana.

Tegar.

Tak bergerak.

Tapi aku mengenali tatapan itu.

Ada sesuatu di sana.

Sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Atau mungkin… selalu ada di sana dan aku tak pernah punya keberanian untuk memercayainya.

Jantungku mulai berdetak begitu keras sampai terasa sakit.

Menikah?

Dengannya?

Apa itu… nyata?

Atau aku sedang bermimpi?

Atau lebih buruk…

Apakah itu cuma satu kewajiban lagi?

Satu kesepakatan dingin lagi?

Satu keputusan lagi yang diambil orang lain?

Aku tak tahu.

Dan rasa takut mulai tumbuh di dalam diriku.

Karena, kalau itu hanya sebuah kesepakatan…

Kalau itu hanya kewajiban…

Aku tak akan sanggup menanggungnya.

Aku tak akan sanggup hidup di sisinya sambil tahu bahwa ia tak mencintaiku.

Saat itulah ia bergerak.

Selangkah maju.

"Permisi."

Suaranya…

Tegar.

Tapi berbeda.

Ayah mengizinkan.

Lalu…

Ia memandangku.

Lurus.

Tanpa mengalihkan pandang.

Dan, sebelum aku sempat memahami apa yang terjadi…

Ia menggenggam tanganku.

Dunia lenyap.

Aku merasakannya.

Sentuhannya.

Hangat.

Menenteramkan.

Nyata.

Jantungku berpacu.

"Aku perlu mengatakan sesuatu."

Aku nyaris tak bisa bernapas.

"Aku selalu mencintaimu."

Kata-kata itu… menggema di dalam diriku.

Seperti hantaman.

Seperti ledakan.

Kurasakan mataku seketika dipenuhi air mata.

"Sejak lama sekali… bahkan sebelum aku memahami arti perasaan itu."

Tanganku mengerat pada tangannya.

Tanpa kusadari.

"Ketika kau menyatakan perasaanmu padaku… bertahun-tahun lalu… itu adalah hari tersulit dalam hidupku."

Kupejamkan mata sesaat.

Luka itu…

Aku mengingatnya.

Seakan baru kemarin.

"Aku terpaksa menolakmu."

Hatiku tercekat.

Tapi aku tak melepaskan tangannya.

"Bukan karena aku tak merasakan hal yang sama… melainkan karena aku tak bisa."

Kubuka mataku.

Dan bertemu dengan matanya.

"Kau adalah adik Dom-ku… dan aku tak boleh melampaui batas itu."

Napasku tersendat.

"Tapi sekarang…"

Ia mendekat sedikit lagi.

"Sekarang aku tahu bahwa perasaan ini tak pernah keliru."

Air mata mulai berjatuhan.

Tak terkendali.

"Dan mengetahui bahwa ada ikatan janji di antara kita… bukanlah sebuah beban."

Ia mengeratkan genggaman pada tanganku.

"Itu sebuah kehormatan."

Hatiku…

Aku bahkan tak bisa menjelaskannya.

Rasanya seakan segala yang kurasakan bertahun-tahun…

Segala yang kusembunyikan…

Segala yang kukira hanya milikku sendiri…

Ada di sana.

Dikembalikan.

Utuh.

"Tapi aku perlu tahu…"

Suaranya menjadi lebih pelan.

Lebih akrab.

"Apakah perasaan yang dulu kaurasakan padaku… masih ada."

Aku tak tahan.

Sungguh tak tahan.

Aku memeluknya.

Dengan erat.

Tanpa berpikir.

Tanpa peduli siapa saja yang ada di sana.

"Aku tak pernah berhenti mencintaimu…"

Suaraku keluar terpatah-patah.

Di sela-sela air mata.

"Tak pernah sedetik pun…"

Kueratkan pelukanku.

"Yang paling menyakitiku… adalah anggapan bahwa kau tak akan pernah merasakan hal yang sama…"

Aku menjauh sedikit saja.

Cukup untuk memandangnya.

"Ini hari paling bahagia dalam hidupku…"

Dan memang begitu.

Tanpa ragu sedikit pun.

Aku memandang Ayah.

Aku membutuhkan izinnya.

Bukan karena kewajiban…

Melainkan karena hormat.

"Boleh aku…?"

Ia mengangguk.

"Jangan berlebihan."

Aku tersenyum di sela air mata.

Kembali menatap Lutero.

Dan menciumnya.

Dengan segala yang kurasakan bertahun-tahun.

Tanpa takut.

Tanpa malu.

Tanpa menyembunyikan apa pun.

Dan dia…

Ia membalasnya.

Dengan caranya sendiri.

Tegar.

Intens.

Tapi tetap… penuh kehati-hatian.

Ketika kami menjauh, ia membawa tangannya ke wajahku.

Dan hal itu…

Hal itu meruntuhkanku sepenuhnya.

"Aku mencintaimu, putriku."

Aku menangis lebih deras.

Tapi tersenyum.

"Aku juga mencintaimu… pangeranku…"

Aku begitu lama menanti momen itu.

Begitu lama…

Sampai rasanya mustahil ini benar-benar terjadi.

Ayah berdehem.

Menarik kembali perhatian.

"Baiklah."

Aku tertawa, masih sambil menangis.

"Karena kita sudah sepakat… pernikahan akan dilangsungkan tiga bulan lagi."

Tiga bulan.

Jantungku berpacu lagi.

Tapi kali ini…

Bukan rasa takut.

Melainkan kebahagiaan.

Mama bangkit berdiri.

Menghampiriku.

Memelukku.

"Mama sangat bahagia untukmu…"

Suaranya lembut.

Menenteramkan.

"Mama selalu tahu…"

Ia menangkup wajahku.

"Selalu tahu bahwa kau mencintainya."

Ia memandang Lutero.

"Dan Mama tahu ia akan menjagamu sebagaimana yang kau pantas dapatkan."

Aku memandang Lutero.

Dan aku melihatnya.

Di matanya.

Sebuah janji.

"Dengan taruhan nyawaku," ucapnya.

Dan aku memercayainya.

Tanpa ragu sedikit pun.

Karena, di tengah semuanya…

Di tengah luka.

Di tengah rasa takut.

Di tengah bertahun-tahun keheningan…

Cinta yang tak pernah kulepaskan…

Akhirnya…

Telah menemukan jalan kembali padaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!