Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:796.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14 - Klinik Kecil

Kabar Ratna tinggal di kamar klinik menyebar lebih cepat daripada jadwal posyandu.

Pagi-pagi, sebelum ia sempat membuka tirai, sudah ada tiga ibu berdiri di depan pintu dengan alasan berbeda. Bu Rini membawa lontong sayur. Bu Tati mengaku ingin cek gula darah. Bu Ningsih datang dengan cucunya yang "mungkin masuk angin", padahal anak itu berlari-lari sehat di halaman.

Ratna membuka pintu klinik dan menatap mereka.

"Kalau mau berobat, masuk satu-satu. Kalau mau tanya rumah tangga saya, ambil nomor antrean khusus gosip. Tapi hari ini nomornya habis."

Bu Rini langsung tertawa canggung. "Bu Dokter ini bisa saja."

Bu Tati pura-pura batuk. "Saya betul mau cek gula."

"Puasa?"

"Belum."

"Besok pagi datang lagi sebelum sarapan."

Bu Tati mati gaya.

Bu Ningsih menggendong cucunya yang menolak digendong. "Anak ini semalam panas, Bu."

Ratna menyentuh dahi anak itu. Normal.

"Panas karena dikejar neneknya supaya bisa jadi alasan ke sini."

Anak kecil itu tertawa. Bu Ningsih memerah.

Mereka akhirnya masuk juga. Ratna tetap memeriksa dengan profesional. Tekanan darah Bu Rini agak tinggi karena, kata Ratna, terlalu banyak makan asin dan terlalu banyak ingin tahu urusan orang.

Bu Rini memegang dadanya. "Aduh, kena juga saya."

Ratna tersenyum kecil.

Di luar, dua motor berhenti. Pasien sungguhan datang. Pembicaraan tetangga pelan-pelan berubah menjadi antrean biasa. Ada yang batuk, ada yang minta surat rujukan, ada yang luka tangannya terkena pisau saat memotong ikan. Ratna bekerja seperti hari-hari sebelumnya.

Namun mata orang berbeda.

Mereka menatap kamar kecil di belakang klinik, koper di sudut, baju yang dijemur di tali dekat jendela. Mereka menahan pertanyaan di bibir, tetapi telinga mereka terbuka.

Menjelang siang, Pak RT datang.

Ia pria lima puluhan, berkumis, selalu memakai peci hitam kalau keluar rumah. Namanya Pak Mahmud. Ia duduk di kursi pasien, padahal tidak tampak sakit.

"Bu Ratna, saya dengar ada masalah keluarga."

Ratna menulis catatan stok obat. "Dengar dari siapa?"

Pak Mahmud batuk kecil. "Namanya kampung, Bu. Susah ditutup."

"Kalau susah ditutup, berarti tidak perlu saya buka."

Pak Mahmud tersenyum tidak enak. "Begini, Bu. Saya tidak mau ikut campur. Tapi kalau ada masalah dengan Pak Bambang, mungkin bisa dimusyawarahkan. Jangan sampai masuk pengadilan. Nanti jadi omongan."

Ratna meletakkan pulpen.

"Pak RT, kalau rumah warga kemalingan, Bapak menyarankan jangan lapor polisi karena nanti jadi omongan?"

"Itu beda."

"Kenapa beda?"

"Ini rumah tangga."

"Rumah tangga juga bisa dicuri."

Pak Mahmud terdiam.

Ratna tidak marah. Ia hanya lelah mendengar kata musyawarah dipakai untuk meminta perempuan menelan luka.

"Saya sudah mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama," katanya.

Pak Mahmud terkejut. "Sudah?"

"Sudah."

"Waduh, Bu Ratna..."

"Kalau Bapak datang sebagai RT untuk memastikan tidak ada keributan, terima kasih. Saya juga tidak mau keributan. Tapi kalau Bapak datang untuk menyuruh saya rukun tanpa tahu apa yang terjadi, saya tidak bisa mengikuti."

Pak Mahmud mengusap lututnya.

"Pak Bambang kemarin ke rumah saya. Dia bilang Ibu sedang emosi."

Ratna tersenyum tipis. "Tentu dia bilang begitu."

"Dia juga bilang ada salah paham dengan Bu Sari."

"Pak RT percaya?"

Pak Mahmud tidak menjawab.

Ratna mengambil map tipis dari laci, mengeluarkan fotokopi kuitansi kavling makam, lalu meletakkannya di meja. Ia tidak mengeluarkan semuanya. Cukup satu.

Pak Mahmud membaca dua nama di sana. Wajahnya berubah.

"Astagfirullah..."

Ratna mengambil kembali kertas itu.

"Saya tidak ingin menyebar. Tapi saya juga tidak mau dianggap perempuan tua yang cemburu tidak jelas."

Pak Mahmud menunduk. "Saya minta maaf, Bu."

"Tidak apa-apa."

"Kalau butuh surat pengantar atau saksi alamat, bilang saya."

Ratna mengangguk. "Terima kasih."

Setelah Pak Mahmud pergi, suasana kampung berubah lebih cepat lagi.

Sore harinya, grup WA RT mendadak ramai tanpa menyebut nama. Ada yang menulis, "Kalau laki-laki sudah tua masih cari cinta lama, obatnya apa ya?" Ada yang membalas dengan stiker tertawa. Ada yang menulis, "Jangan menyebar aib." Lalu ada yang menjawab, "Aib kok pesan makam berdua."

Ratna tahu karena Bu Rini menunjukkan layar padanya sambil membeli obat maag.

"Bu, saya tidak ikut komentar, sumpah."

"Tapi ikut membaca?"

Bu Rini tertawa malu. "Membaca kan tidak dosa besar."

Ratna menggeleng, tetapi tidak marah.

Malam itu, Melati datang membawa makanan.

Ia masuk ke kamar belakang klinik dan langsung menangis melihat tempat tidur sempit ibunya.

"Bu, Ibu tidak pantas tidur di sini."

Ratna membuka rantang. "Sayur asem?"

"Bu, aku serius."

"Ibu juga serius. Ini sayur asem buatanmu?"

"Beli."

"Pantas rapi."

Melati hampir tertawa, tetapi air matanya jatuh lebih dulu.

Ia duduk di samping Ratna.

"Mertuaku sudah dengar."

"Tentu."

"Mama mertua bilang, seharusnya Ibu sabar. Katanya laki-laki kalau sudah tua kadang butuh teman nostalgia. Selama tidak membawa pulang penyakit, tidak perlu sampai cerai."

Ratna membuka tutup rantang satu per satu.

"Lalu kamu jawab apa?"

Melati menunduk.

"Aku diam."

Ratna mengangguk. "Setidaknya kamu tidak ikut menyuruh Ibu sabar."

"Aku ingin membela Ibu. Tapi mulutku seperti terkunci."

"Melati, membela orang lain memang sulit kalau kita masih takut kehilangan kenyamanan sendiri."

Melati menangis lagi. "Ibu marah padaku?"

"Ibu kecewa. Tapi marahnya tidak sebesar dulu."

"Dulu?"

"Dulu Ibu berharap anak perempuan Ibu akan langsung mengerti. Sekarang Ibu sadar kamu juga punya ketakutan."

Melati menggenggam tangan Ratna. "Aku akan belajar, Bu."

Ratna menatap tangan anaknya.

"Belajarlah untuk dirimu sendiri juga. Jangan sampai suatu hari kamu baru berani bicara setelah umur enam puluh."

Melati mengangguk sambil menangis.

Mereka makan bersama di kamar sempit itu. Sayur asem, tempe, sambal terasi. Bukan makan malam nyaman, tetapi untuk pertama kalinya sejak konflik meledak, Ratna dan Melati berbicara tanpa saling memaksa.

Setelah Melati pulang, Ratna membersihkan rantang.

Di luar klinik, angin malam membawa suara tawa pemuda dari warung kopi. Dari rumah utama, lampu ruang tengah masih menyala. Bambang mungkin sedang duduk sendiri, mungkin menelepon Sari, mungkin merokok sambil merasa dirinya korban.

Ratna tidak ingin tahu.

Ia merebahkan diri di tempat tidur kecil. Punggungnya sedikit pegal. Kamar itu sempit, tetapi pintunya bisa ia kunci dari dalam.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor tidak dikenal.

Nomor itu mengirim satu kalimat:

Bu Ratna, saya dengar Ibu menggugat cerai. Kalau Ibu pikir setelah ini hidup Ibu tenang, Ibu salah.

Ratna menatap pesan itu.

Tidak ada nama.

Tetapi ia tahu.

Sari.

Ratna mematikan layar ponsel.

Besok ia akan menyimpan pesan itu untuk Farida.

Malam ini, ia memilih tidur.

Untuk pertama kalinya, ancaman orang lain tidak lebih kuat dari rasa lelahnya sendiri.

Keesokan paginya, Ratna tetap membuka klinik tepat pukul delapan.

Ia sengaja melakukannya.

Kalau ia terlambat, orang akan bilang ia takut. Kalau ia tutup, orang akan bilang ia terpukul. Kalau ia menangis, orang akan bilang ia menyesal. Di kampung, perempuan yang sedang terluka selalu diberi tafsir oleh orang lain.

Maka Ratna memakai kerudung bersih, menyeduh teh tawar, dan menata kartu pasien seperti biasa.

Saat pasien pertama masuk, ia berkata dengan suara sama seperti hari-hari sebelumnya, "Keluhannya apa?"

Pasien itu menatapnya hati-hati, lalu akhirnya menjawab, "Pusing, Bu."

Ratna mengambil tensimeter.

Pusing orang lain masih bisa ia ukur.

Pusing hidupnya sendiri, pelan-pelan akan ia urus.

Menjelang siang, Pak Hasan datang membawa singkong rebus.

"Ini dari kebun, Bu. Tidak usah bayar."

Ratna hendak menolak, tetapi Pak Hasan sudah meletakkannya di meja.

"Saya tidak pandai bicara," katanya pelan. "Tapi kalau Bu Dokter butuh orang untuk membetulkan kunci pintu belakang, panggil saya. Perempuan tinggal sendiri harus hati-hati."

Setelah ia pergi, Ratna menatap singkong rebus itu lama.

Tidak semua mata yang melihatnya ingin menghakimi.

Ada juga yang diam-diam menjaga.

Ratna membagi singkong itu menjadi dua. Separuh ia makan dengan teh tawar, separuh lagi ia simpan untuk malam.

Hidup barunya sederhana sekali.

Tetapi sore itu, sederhana terasa cukup.

1
Suyati
tenang banget bu Ratna y
Suyati
bu Ratna cakep sikapmu
Betty Sulasmono
berkerudung atau bersanggul?
vinn17
ayo guys boleh di baca 👍🏻
vinn17
author, buku ini bagus sekali. hangat dan mudah di baca, aku baca dalam 1 hari. Ada beberapa bagian yang menyentil sedikit, ada juga bberapa yg buat terharu sampai menangis. Ku tunggu karya selanjutnya, sukses selalu👍
Mr. AgusFy
masyaallah salut dengan kisahya meski saya loncat baca banyak hikmah yg disematkan disetiap episode tetap 💪ya thor ditunggu karya ² selanjutnya🙏🙏🙏
Anonim
cerita ini menarik krn baru kali ini ada cerita lansia kembali dilamar mikyarder biasa nya cerita ttg cantik2 yg wajah msh mulus, fresh, kenceng kulit nya tp ini cerita ttg lansia tp sayang nya komunikasi nya kaku jd terkesan semua pake bahasa yg baku dan tidak natural seperti kata2 dannkalimat nya terjemahan dari bhs asing… jd pembaca kurang rileks membacanya kaku dan tidak natural dlm kehidupan…, tegas boleh, judes jg boleh tp bukan kaku dg bhs yg baku…
Anonim
awal cerita masih masuk nalar, tp mulai ketemu Arman dan Sari selalu tau gerak gerik Ratna, cerita mulai agak aneh…, setiap ada kejadian pd Ratna, Arman sll ada begitu jg dg Sari sll tau apa gerak gerik Ratna kaya pd punya CCTV sendiri…😂
Nur Aini: namanya juga dunia halu kak
total 1 replies
Anonim
kok Sari bisa langsung tau sih ? katanya Sari tinggal nya di kampung sebelah, kok semua tentang Ratna si Sari langsung tau ya ? aneeh….
Anonim
diusia 60 thn adlh usia pensiun, dari kerja kantoran (kecuali dokter, pengacara) krn diusia itu fisik kita jg sdh tdk muda lg, tinggal menikmati hsl kerja dan menikmati hari tua dg bahagia, tp seperti dr Ratna kasus nya beda, masa tua bersama pasangan (suami) yg sehrs nya menikmati kebahagiaan, malah menjd masa tua yg menyakitkan, lbh ikhlas ditinggal mati pasangan drpd ditinggal krn perselingkuhan dan perceraian 😢
Tien Tien
merasakan rasaaanya .masuk banget ..kita ditinggal atw juta meninggalkan .semoga yg tersisa kebaikan. dan tidak ada penyesalan .
dwi sulastri
episode sebelumnya bu ratna pakai jilbab, ini kok disanggul ya
Wirly Pena
Semangat thor, karya yang bagus 👍

halo temen2, dukung dan baca " aku istrimu, bukan babu mu "

terimakasih 🙏
AlviAlva
coba kamu Mita ke bapakmu Mel
Amarilys
dari muda sampai tua masih plin plan seperti itu?? /Drowsy/
echa purin
👍👍👍
ceyee
bahasanya kayak terjemahan. apa ini novel terjemahan? berarti copas
Rochsdha Andriani
nah itu dia...
Sabrina Sheron
novel paling bagus yg pernah saya baca.
semua ada di kisah nyata bukan khayalan layaknya dunia novel biasa. semangat buat penulisnya💪
Rochsdha Andriani
kebaya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!