Berawal dari bertemu kembali dengan anak majikan ibunya yang telah menikah-Alika, Maya yang sudah menjadi tukang jamu akhirnya terpaksa bekerja di rumah Alika sebagai pembantu.
Tanpa ia tidak tahu, pernikahan majikannya ini penuh dengan pertengkaran. Itu semua karena Alika sangat cemburuan. Bahkan sering terjadi, namanya disebut-sebut sebagai bahan pertengkaran. Sebagai puncaknya, Alika meminta Raka menikahi Maya demi agar bisa terus mengontrol suaminya. Tentu saja ide itu ditentang keras oleh Raka.
Maya yang terjepit di antara dua majikannya, tentu saja bimbang. Haruskah ia terus mengamini permintaan Alika, atau menentangnya demi kedamaian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Yang Lain
"Jadi menurutmu, saat istrimu reda dari amarahnya, ia akan berkata lain?" selidik abi penasaran.
"Eh, harusnya begitu ...." Raka sendiri tak yakin, walau sangat tahu Alika sangat ambisius melakukan semua yang ingin dikerjakannya. Ia berkata begitu hanya ingin kedua orang tuanya tidak cemas saja.
"Benar begitu?" Sekali lagi abi bertanya memastikan. Dahinya berkerut menatap anak bungsunya.
"Abi. Sudahlah, jangan khawatir." Pria tampan itu berusaha tersenyum walau ia sendiri tak tahu akan kebenarannya.
"Bagaimana dengan Maya?" Umi yang sejak tadi hanya mengamati, ikut bicara. "Katanya dia jadi sekretarismu?"
"Eh, iya." Raka berusaha tersenyum lebar dan tertawa yang terdengar sedikit aneh. "Aku hanya membantunya karena dia sempat jadi pembantu di sini. Biasalah, karena dia dekat dengan Alika."
"Tapi istrimu memintamu menikah dengan Maya. Kenapa? Rasanya aneh, istrimu memintamu menikah dengannya. Apa kamu selingkuh dengannya?" Kini umi dengan suara lembut menginterogasi anaknya, karena merasa ada yang janggal.
Kembali Raka mengangkat kedua tangan sambil menggoyang-goyangkannya. "Oh, tidak-tidak. Mana mungkin, Umi. Apalagi dengan anak pembantu, itu tidak mungkin," ucapnya mendengus meremehkan.
Namun kalimat terakhirnya malah memicu sang umi untuk marah padanya. "Kenapa memang kalau anak pembantu? Apa itu rendah? Umi tak pernah mengajarkanmu merendahkan manusia, siapapun itu!" ucapnya sedikit tegas.
Raka terkejut. Ia telah salah bicara hingga membuat sang ibu marah, sesuatu yang jarang ibunya lakukan.
"Allah saja tidak pernah memandang rendah manusia karena kelasnya, tapi karena perbuatannya. Kenapa kamu malah punya pikiran sepicik itu, Raka?
Kamu tahu Fatimah Az Zahra anak nabi Muhammad? Ia memilih menikah dengan Ali Bin Abi Thalib, pria miskin yang hanya bisa melamarnya dengan baju zirah pemberian nabi. Apa kamu tidak bisa meniru teladan keluarga nabi Muhamad itu, anakku Raka?" Wanita bertubuh gemuk dan berjilbab warna hijau tua itu berbicara dengan penuh penekanan. Ia berusaha menahan emosinya yang sempat tersulut karena merasa sama-sama wanita.
"Eh, bukan begitu maksudku, Umi." Pria itu panik.
"Kalau begitu, Umi ingin bicara padanya!" Umi seketika berdiri.
"Eh, tidak perlu, Umi."
"Kenapa?" Sang umi memandang ke arah anaknya. Ia melihat kedua bola mata sang anak yang terlihat kebingungan. Wanita itu mulai curiga. "Kalau kau tidak melakukan hal yang salah dengan wanita itu, kamu tak harus setakut itu 'kan?"
'Eh, benar juga ya? Kenapa aku bodoh!' Raka menggaruk-garuk kepalanya.
Maya kemudian turun mengikuti Alika. Wanita itu didandani dengan cantik oleh sang istri, tapi bukan itu masalahnya. Raka belum sempat bicara dengan Alika dan ia tidak ingin sang istri bicara yang tidak perlu di depan orang tuanya.
"Alika, kenapa kamu ingin menikahkan Raka dengan Maya?" tanya umi lembut, ketika Maya dan Alika duduk bersama dan Raka tak berani memotong pembicaraan ibunya.
"Mas Raka suka pergi, Umi, gak ingat pulang. Jadinya aku suruh dia mengganti sekretarisnya dengan Maya," jawab wanita cantik itu mengadu pada umi.
Kedua suami istri paruh baya itu saling berpandangan.
"Apa kamu curiga Raka berselingkuh di luar? Sebab setahu umi, pekerjaan dokter memang seperti itu." Umi memberi tahu.
"Dia memang dokter, tapi 'kan gak pernah praktek dokter karena pemilik rumah sakit. Apa gak ada alasan lain yang masuk akal kalau dia sering telat pulang ke rumah?"
"Tapi memang pekerjaannya seperti itu, Alika. 'Kan sebelumnya Abi yang memimpin rumah sakit itu," sahut pria paruh baya itu dan di sambut dengan wajah senang oleh Raka karena kedua orang tuanya membelanya. "Apalagi profesinya sebagai dokter yang menyebabkan dia terlibat lebih jauh lagi dengan para dokter-dokter karena selalu ada yang bisa dibahas."
"Tapi apa harus sampai larut malam? Apalagi sekretarisnya selalu cantik. Apa Abi juga dulu begitu?"
"Abi dulu selalu cari sekretaris yang berjilbab."
"Nah, itu!"
Kali ini Raka merasa terpojok. Sebenarnya dulu ia sempat ditawari mengelola pesantren milik orang tuanya tapi ia tak mau. Ia lebih memilih mengelola rumah sakit, apalagi ia sekolah kedokteran. Kakaknya Daksa kemudian mengalah dan kini mengelola pesantren bersama dengan orang tuanya.
"Tapi ... Kenapa kamu malah meminta suamimu menikah lagi?" tanya umi pelan. Ia masih belum mengerti jalan pikiran menantunya yang satu ini. Dari awal mengenal Alika, ia tak suka karena wanita ini sekilas terlihat asal-asalan dan selain cantik, ia tak punya keterampilan apa pun. Untung saja Alika punya orang tua yang sangat baik sehingga akhirnya ia menyetujui Raka menikah dengannya.
"Maya itu tak mungkin mengkhianatiku. Ia selalu patuh dengan yang aku katakan. Karena itu aku percayakan Mas Raka pergi ke mana-mana dengannya. Agar bisa menjadi mahramnya, lebih baik mereka menikah 'kan?"
Maya terkejut mendengar keterusterangan Alika soal dirinya. Pikirannya bercampur aduk mendengar itu dan ia sendiri masih bingung apa ia harus bangga mendengarnya.
"Lalu, kamu sendiri, Maya. Bagaimana pendapatmu?"
Wanita berparas ayu itu terperangah tak percaya, karena ibu Raka bertanya langsung padanya. Segera ia menundukkan kepala. "I-ibu, maaf. Saya bukan orang seperti itu. Mengambil suami orang, sungguh Saya tidak mau. Saya bisa menghidupi diri sendiri saja, rasanya sudah cukup. Saya belum ingin buru-buru menikah."
"Memangnya kapan kamu bercerai?"
"Mmh ... Sudah empat bulan lebih, Bu."
"Sudah selesai masa iddahnya ya?"
Maya mengangkat kepalanya sedikit karena terkejut. "Eh, iya, Bu."
"Berarti bisa menikah dengan Raka 'kan?"
Maya kembali terperangah. Ia mengangkat kepalanya menatap ibu Raka dengan takut-takut, sedang Raka, ia syok!
"Umi ...." ucap pria itu pelan pada ibunya. Kenapa ibunya malah mendukung istrinya? Dadanya terasa bergejolak tapi kakinya lemas. Ia seperti terkunci dan tak bisa melakukan apa pun.
"Raka," umi menatap ke arah anaknya. "Umi 'kan pernah bilang, menikahlah karena Allah bukan karena cinta. Wanita ini juga diceraikan karena mandul, karena itu ...."
"Eh, ibu, maaf." Maya terpaksa memotong pembicaraan ibu Raka karena sudah tak tahan. Ia harus mengatakan ini, sebelum mereka salah menilai dirinya. "Aku sebenarnya sedang hamil."
"Apa?" Umi dan Raka berucap bersamaan. Abi bahkan terkejut.
"Maya, kamu tidak bohong 'kan?" Alika mencondongkan tubuh dan menoleh pada teman sejak kecilnya itu dengan kening berkerut.
Maya memutar kepalanya ke samping. "Tidak. Aku baru saja mengetahuinya tadi. Sedari tadi aku mau bilang, tapi kalian tidak berhenti bertengkar, jadi bagaimana aku bisa mengatakannya?" ucapnya dengan suara pelan dan hati-hati. Ia takut ada yang tersinggung, apalagi ia sekarang jadi objek peristiwa di keluarga itu yang mana dirinya merasa tidak pantas bersanding dengan Raka.
Selagi semua diam menyelami apa yang harus dilakukan berikutnya, suami Alika malah memandangi Maya dengan lekat. "Apa kamu baru mencoba alat tes kehamilan?"
Maya terkejut Raka bertanya langsung padanya. "Eh? Oh iya, Pak."
"Kalau begitu kamu ikut aku sekarang!" Pria itu bangkit dan menuju ke pintu depan.
Sang mantan pembantu itu, walau masih dalam kebingungan yang nyata, mau tak mau mengikuti bosnya tanpa berani bertanya.
"Mas mau ke mana?" teriak Alika penasaran.
Raka memutar kepalanya ke belakang sambil bergegas keluar. "Aku harus memastikan kehamilan Maya agar tidak ada lagi yang salah paham!"
Maya tentu saja terkejut, tapi hal ini memang harus dipastikan agar tidak ada lagi praduga dan ia bisa keluar dari masalah Raka dan Alika.
Bersambung ....