Indonesia
NovelToon NovelToon
Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.

Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.

Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 – Hari yang Mengantar Pulang

“Ada hari ketika seseorang diantar pulang ke tanah, dan pada hari yang sama, sebagian hati orang-orang yang ditinggalkannya ikut terkubur bersama.”

--

Pagi itu langit kembali mendung saat matahari belum benar-benar naik. Udara masih menyimpan sisa hujan semalam, dingin dan lembap, membuat halaman rumah keluarga Pradana dipenuhi aroma tanah basah dan bunga melati yang diletakkan di sudut-sudut teras.

Rumah itu dipenuhi pelayat sejak subuh, suara salam bersahutan pelan, bercampur isak tangis yang sesekali pecah dari dalam rumah. Karangan bunga memang tidak berjajar seperti pemakaman pada umumnya, tetapi wajah-wajah kehilangan tampak dimana-mana.

Alina berdiri di dekat pintu ruang tamu dengan saling menggenggam erat. Jemarinya dingin, matanya sembab karena semalaman hampir tidak tidur. Sejak tiba tadi, ia belum berani melangkah lebih jauh ke dalam ruangan tempat jenazah Raka disemayamkan sebelum dishalatkan.

Hendra berjalan pelan mendekatinya, pria itu mengenakan baju koko putih sederhana, tetapi wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding beberapa hari lalu. “Ayo,” ucapnya lirih dan dibalas anggukkan oleh Alina.

Langkahnya terasa berat ketika memasuki ruangan itu. Di atas pembaringan sederhana yang telah ditutupi kain putih, terbaring Raka dengan wajah tenang, terlalu tenang hingga Alina merasa dadanya diremas. Sulit dipercaya bahwa pria yang beberapa hari lalu masih tertawa di meja makan kini terdiam tanpa suara.

“Kak Raka…” suara itu pecah sebelum sempat selesai.

Alina teringat begitu banyak hal kecil tentang kakak iparnya. Cara Raka yang selalu membawakan makanan kesukaannya sepulang perjalanan dinas, cara ia diam-diam memperbaiki keran bocor tanpa diminta, dan ia memanggilnya ‘adik’ dengan nada yang begitu tulus hingga Alina sering lupa bahwa mereka tidak sedarah.

“Aku belum sempat bilang terima kasih,” bisiknya pelan. “Karena kakak sudah bikin Kak Keira bahagia.” Tangisnya semakin keras. Hendra menepuk pundaknya pelan, sementara Birendra berdiri tidak jauh dari sana dengan tatapan tertunduk.

Bagi Birendra, kehilangan itu juga nyata. Raka bukan sekedar calon kakak ipar, mereka telah bertahun-tahun berbagi banyak hal, mulai dari pekerjaan, perjalanan, bahkan mimpi tentang masa depan keluarga mereka. Namun pagi itu tidak ada seseorang pun yang benar-benar punya waktu untuk tenggelam dalam kesedihannya sendiri.

Menjelang waktu dzuhur, jenazah dibawa ke masjid untuk dishalatkan. Langit semakin mendung ketika takbir pertama berkumandang. Alina berdiri di saf perempuan seraya menahan tangis yang terus naik ke tenggorokannya.

Setiap do’a yang dibacakan imam terasa seperti perpisahan yang perlahan dipaksakan masuk ke dalam hatinya. Usai sholat, jenazah Raka diberangkatkan ke pemakaman, hujan turun rintik-rintik ketika tanah pertama mulai diturunkan ke liang lahat.

Suara cangkul yang mengenai tanah basah terdengar begitu jelas di tengah keheningan para pelayat. Hendra berdiri cukup lama di tepi makam sebelum akhirnya menundukkan kepala. “Terima kasih sudah menjaga Keira,” bisiknya lirih dengan suara yang begitu parau.

Kalimat sederhana itu membuat Alina kembali menangis. Ia memalingkan wajah karena tidak sanggup melihat ayahnya mengucapkan selamat tinggal seperti itu. Birendra berdiri sedikit di belakang mereka, membiarkan hujan membasahi bahunya. Tatapannya tertuju pada gundukan tanah merah yang masih basah, dan didalam hatinya ia juga sedang menguburkan seorang sahabat.

Sore hari mereka kembali ke rumah Maheswari sebelum bergantian menuju rumah sakit. Rumah itu terasa berbeda begitu pintu dibuka. Di meja makan masih ada taplak yang dipakai pada malam sebelum kecelakaan, kursi yang biasa ditempati Keira tampak kosong, dan pemandangan sederhana itu justru membuat dada Alina semakin sesak.

Ia berjalan perlahan menuju kamar kakaknya, pintu kamar masih setengah terbuka. Di atas meja rias terdapat foto pernikahan Keira dan Raka yang tengah tersenyum hangat ke arahnya. Gaun pengantin putih, jas hitam, dan tatapan penuh cinta yang kini terasa begitu jauh. Alina mengambil bingkai foto itu dengan tangan gemetar.

“Kak Raka, aku harus bilang apa nanti kalau kakak bangun?” bisiknya dengan suara isak tangis. Tidak ada jawaban selain suara hujan yang kembali turun pelan di luar jendela.

Menjelang malam, Alina dan Birendra kembali ke rumah sakit. Lorong ruang intensif masih dipenuhi cahaya putih yang dingin. Dokter mengatakan kondisi Keira stabil, tetapi ia masih berada dalam pengaruh obat dan belum sadar.

Ada sedikit kelegaan dalam hati Alina ketika mendengar kata ‘stabil’ dari dokter, meski kelegaan itu tidak mampu menghapus rasa takut yang terus mengendap di dadanya, dan ia diizinkan masuk sebentar ke ruang intensif.

Keira terbaring diam di atas ranjang, wajahnya pucat dengan perban di pelipis, dan suara monitor berdetak pelan mengiringi napasnya. Alina duduk di samping ranjang dan menggenggam tangan kakaknya yang dingin.

“Kak…hari ini kak Raka pulang.” Air mata Alina kembali jatuh dan suaranya hampir hilang ditelan tangis. Ia mengusap rambut Keira perlahan. “Aku nggak tahu bagaimana caranya memberitahu kakak nanti. Aku juga nggak tahu apa aku cukup kuat melihat kakak menangis.” Ucapnya lagi di sela isak tangisnya.

Alina menunduk hingga dahinya hampir menyentuh tangan kakaknya, dadanya terasa begitu sesak. “Tapi aku janji kak, aku bakal ada disini.” Janji itu kembali keluar, janji yang keluar dari hati, dari rasa sayang yang lebih besar dari pada ketakutannya sendiri.

Setelah beberapa menit, perawat memberi isyarat bahwa waktu kunjungan selesai. Alina melepaskan genggaman itu perlahan, dan berdiri dengan langkah berat. Di luar ruangan, Birendra menunggunya seraya membawa segelas air hangat.

“Gimana?” tanyanya pelan.

“Masih belum sadar.” Birendra menyerahkan gelas itu tanpa berkata apa-apa lagi. Keduanya berdiri berdampingan di depan pintu ruang intensif, sama-sama memandangi kaca buram yang memisahkan mereka dari Keira.

Untuk sesaat, Alina ingin bersandar di bahu lelaki itu seperti biasanya, namun rasa lelah membuat tubuhnya bahkan tak punya tenaga untuk bergerak. Malam semakin larut, satu per satu suara di rumah sakit mereda, hanya langkah perawat yang sesekali terdengar dari ujung lorong.

Alina menatap pintu ruang intensif sekali lagi sebelum menundukkan kepalanya. Di balik pintu itu, Keira masih tertidur panjang, belum mengetahui bahwa pria yang ia tunggu tidak akan pernah datang lagi.

Di lorong rumah sakit yang dingin itu, Alina diam-diam berharap ketika kakaknya membuka mata nanti, Tuhan memberi mereka kekuatan untuk menghadapi kenyataan yang bahkan belum sanggup ia terima sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!