Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.
Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Jangkar Kertas
Siang menjelang sore di gedung auditorium utama kampus tampak penuh oleh ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas serta masyarakat umum, meski sebagian besar lampu dibuat redup.
Di atas panggung, berdiri seorang wanita paruh baya berkebangsaan asing. Ia mengenakan jas biru muda dengan pin emas berlogo UNICEF yang tersemat di dada kirinya. Suaranya mengalun tenang dan hangat, memancarkan empati yang mendalam. Tiap kalimatnya terasa mengalir dari hati ke hati, bukan sekedar kata-kata manis tanpa makna.
Di sisi panggung, Nathan berdiri tegak satu langkah di samping sang narasumber.
Pandangannya lurus, telinganya fokus menyerap tiap artikulasi kalimat. Tanpa keraguan, setiap kata yang diucapkan pembicara langsung ia diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan jelas dan mengalir alami.
"Many of them live in situations we would never imagine before. Conflict zones, poverty that strips away childhood before they ever have the chance to live it. And forced to carry burdens no child should ever know."
Nathan diam sejenak, menarik napas dalam untuk menyelaraskan jiwanya dengan emosi narasi tersebut.
"Banyak dari mereka hidup dalam kondisi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Di zona konflik, hidup dalam kemiskinan yang merampas masa kecil mereka bahkan sebelum sempat mereka rasakan. Dan terpaksa memikul beban yang bahkan orang dewasa pun sulit bayangkan."
Sang narasumber melirik Nathan, tersenyum kecil mengapresiasi kemampuan mahasiswa tersebut. Pandangan wanita itu kemudian menyapu seluruh ruangan, lalu ia melanjutkan bicaranya dengan suara yang lebih lugas dan menohok.
"Yet they still hope. And that hope is real. So if we want to change the world, perhaps the most meaningful thing we can do... is to help them by fighting for the opportunities they deserve."
Nathan menerjemahkannya nyaris tanpa jeda. Nadanya berubah semakin tegas dan dalam, seolah sengaja memberi penekanan emosional agar maknanya meresap ke dalam kesadaran setiap orang yang hadir.
"Namun, mereka tetap berharap. Dan harapan itu sangat nyata. Jadi, jika kita ingin mengubah dunia, mungkin hal paling bermakna yang bisa kita lakukan... adalah membantu memperjuangkan kesempatan yang layak mereka dapatkan."
Prok! Prok! Prok!
Riuh tepuk tangan seketika memenuhi seisi auditorium, menggema dari barisan depan hingga tribun paling belakang. Bersamaan dengan itu, lampu-lampu utama ruangan perlahan kembali menyala terang, menandai berakhirnya sesi seminar kemanusiaan sore itu.
Nathan melangkah santai menuju area belakang panggung. Tak lama kemudian, seorang dosen wanita yang tak lain adalah dosen pembimbing skripsinya sekaligus salah satu narasumber acara tadi berjalan menghampirinya. Orang itu mengulurkan tangan dan menjabat tangan Nathan dengan hangat.
"Terima kasih banyak, Nathan. Kamu memang selalu luar biasa dari dulu," puji sang dosen bangga.
Nathan tersenyum kecil. Raut lelah tak sepenuhnya bisa tersembunyi dari wajahnya, tetapi tatapan matanya tetap terasa tenang dan teduh. "Sama-sama, Bu. Saya juga senang bisa membantu."
"Memang selalu bisa diandalkan. Tak salah ibu memilihmu," ucap dosen itu lagi sembari menepuk-nepuk ramah bahu Nathan.
Sesaat kemudian, dosen tersebut pamit melangkah kembali ke area panggung. Sementara itu, Nathan berjalan menuju area parkiran yang terletak tepat di belakang gedung auditorium.
Suasana di sepanjang koridor luar masih cukup ramai oleh lalu-lalang mahasiswa. Pandangan Nathan sempat menangkap beberapa peserta seminar tadi yang tengah berbisik sambil melirik ke arahnya. Entah karena kagum atau sekedar penasaran dengan seseorang yang bisa berbicara menerjemahkan bahasa inggris dengan fasih tanpa canggung sedikit pun di panggung tadi. Namun, Nathan tak ambil pusing dan memilih mengabaikannya.
Saat mendekati deretan kendaraan di area parkir, langkah Nathan mendadak terhenti. Sebuah suara dari arah belakang memanggil namanya. Terdengar pelan namun cukup jelas di telinganya. Dan entah mengapa, momen itu terasa seperti sebuah deja vu yang samar baginya.
"Kak Nathan."
Nathan menoleh perlahan. Seorang mahasiswi berdiri beberapa meter di belakangnya, lalu melangkah perlahan mendekat dengan senyum ceria di wajahnya.
Cewek itu tidak begitu tinggi, hanya sebatas bahu Nathan. Rambut hitam panjangnya terkuncir setengah lengkap dengan poni di dahi. Namun, makin rapat jarak di antara mereka, senyum cewek itu perlahan memudar berganti raut tegang, sementara gestur jemarinya memperlihatkan perasaan gelisah yang teramat sangat.
Nathan hanya terdiam. Ia tak sepenuhnya mengenali siapa mahasiswi di depannya ini. Namun, samar-samar ia mengingat bahwa ia cukup sering melihat cewek itu lalu-lalang di gedung fakultas yang sama dengannya.
Cewek itu ikut terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang agar detak jantungnya kembali normal. Namun, sorot matanya justru tampak makin gugup dibanding sebelumnya.
"Anu... Maaf, Kak, sebelumnya..." ucapnya berbata-bata dengan nada ragu.
Nathan tak bersuara, hanya menatap lurus ke arahnya yang justru makin membuat mahasiswi itu makin salah tingkah dan kebingungan.
"Anu... Aku cuman... aku cuman pengen bilang ke Kakak..." Suaranya mulai goyah. Keringat dingin perlahan muncul di pelipis wajahnya.
Cewek itu menunduk sebentar, memejamkan matanya, lalu kembali mendongak. Kali ini matanya mencoba memberanikan diri untuk mengutarakan maksud utamanya. Sementara itu, Nathan masih berdiri bergeming tanpa reaksi, menunggu sosok di depannya menyelesaikan kalimatnya hingga tuntas.
"Aku... aku suka sama Kakak!" ucap cewek itu dengan wajah yang kian merona merah. Ia begitu gugup hingga nada bicaranya sesaat meninggi. "Dan... aku nggak bisa terus-terusan menyimpan perasaan ini lebih lama lagi."
Nathan masih diam. Kelopak matanya berkedip pelan. Ia menatap mata cewek itu nyaris tanpa ekspresi, memancarkan aura yang terasa cukup dingin.
"Jadi, hari ini aku memberanikan diri buat ngomong langsung ke Kakak," lanjutnya. Setelah mengutarakan perasaannya, cewek itu kembali menundukkan kepala, meremas kedua tangannya yang gemetaran hebat sembari menunggu jawaban dari Nathan dengan dada berdebar kencang.
"Terima kasih," ucap nathan singkat. Nadanya begitu datar. Bukan kalimat langsung untuk menolak, tetapi jelas bukan pula untuk memberi harapan.
Tak berselang lama, cewek itu mengangguk pelan. Ia tetap berdiri menantikan perkataan Nathan, meskipun dalam hati sebenarnya ia sudah menebak akhirnya akan seperti apa.
Walau hanya untuk sesaat, keheningan menggantung di antara mereka seolah waktu pun ikut menahan napas.
Nathan menghela napas tipis, pandangannya masih terkesan dingin. "Jawabanku mungkin tak akan sesuai dengan harapanmu. Jadi..."
Mata cewek itu berkaca-kaca. Namun, senyum kecil yang dipaksakan tetap bertahan di bibirnya. Ia bahkan memotong kalimat tersebut sebelum Nathan sempat menyelesaikan jawabannya.
"Aku ngerti, Kak. Te-terima kasih atas waktunya," selanya terbata-bata.
Sekilas, Nathan melihat air mata mengalir membasahi pipi cewek itu. Tepat setelahnya, cewek itu membalikkan badan dan melangkah pergi dengan tergesa-gesa tanpa sekali pun berpaling. Tak ada isak tangis yang terdengar. Tak ada pula suara perlawanan yang pecah.
Nathan kembali terdiam. Dalam hati, ia tahu dan paham betul bahwa ucapannya barusan pasti menyakiti perasaan cewek tersebut. Namun, ia juga tahu tak ada kata lain yang bisa ia berikan sebagai jawaban selain itu tadi. Kejujuran yang menyakitkan selalu jauh lebih baik daripada memberi harapan palsu.
Nathan berbalik badan, kembali melangkah menuju motornya. Namun, di tengah area parkir yang berangsur sepi, terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang mendekat. Nathan hanya diam dan tak langsung menoleh.
Sosok itu kini sudah berdiri cukup dekat, tepat di belakang Nathan.
"Sudah yang keberapa cewek yang kau tolak, huh? Sejak dua tahun yang lalu sampe detik ini," suara cewek itu terdengar datar dengan nada nyaris sinis.
Nathan bergeming, tak menanggapi. Ia juga tak juga perlu repot-repot membalik badan. Hanya dari suaranya pun, ia tahu persis siapa orang yang sedang berbicara di belakangnya itu.
"Apa masih karena—" lanjut cewek itu memancing.
"Cukup, Mel," potong Nathan dengan nada sedikit meninggi. Tak ada kemarahan yang meledak-ledak, tetapi suaranya cukup tajam untuk memutus kalimat itu.
Carmela melipat tangan di dada, menatap tajam mata Nathan tanpa ragu, tanpa senyum. Sosok cewek berambut pendek sebahu dengan gaya pixie cut. Penampilannya terkesan cuek dan kurang feminin, tetapi tetap memancarkan pesona sendiri.
Keheningan membentang sesaat di antara mereka, hingga Nathan akhirnya kembali bersuara.
"Jangan kau mulai lagi. Kau sendiri ngerti, kan? Aku gak mau kau membahasnya lagi dan lagi. Dulu, sekarang atau kapanpun itu," suara Nathan perlahan melembut, tapi sorot matanya tetap terkesan serius.
"Kenapa? Coba kasih aku satu aja alasan yang masuk akal," tantang Carmela balik dengan dagu terangkat.
Nathan kembali terdiam dengan napasnya terengah-engah.
Carmela dan Nathan dulunya adalah teman yang cukup dekat, walau hubungan pertemanan mereka sekarang menjadi sedikit rancu. Mereka sudah saling kenal sejak masih duduk di bangku SMP. Seorang teman lama yang tak pernah benar-benar dekat, tapi juga tak pernah jauh.
Di antara semua orang yang mengenal Nathan, Carmela mungkin salah satu dari sedikit orang yang tahu bahwa cowok itu menyimpan terlalu banyak rahasia dalam sunyi.
Berbeda dari kebanyakan orang yang ragu-ragu, Carmela tidak pernah menebak-nebak. Ia langsung to the point dalam banyak hal. Bagi sebagian orang, sifat blak-blakannya itu mungkin terkesan berlebihan. Namun bagi Carmela, jika sebuah hal dianggap tak penting, maka ia bahkan takkan bicara sedikit pun.
Dari dulu mereka memang tak banyak berinteraksi, hanya sesekali saling berbicara di momen-momen tertentu. Sekedar dua orang yang saling tahu dan saling kenal, tak lebih dan tak kurang. Walau begitu, ada satu hal di masa lalu yang membuat mereka bisa saling mengenal semendalam ini.
Saat ini, Nathan sedang menatap kosong ke luar jendela kaca, memandangi jalanan yang basah disapu sisa gerimis di malam Minggu. Sebuah malam yang sebenarnya tak biasa bagi dirinya untuk berada di tempatnya sekarang.
Ia duduk terdiam di meja sudut lantai satu Alleria cake shop. Kali ini, ia sengaja tidak duduk di tempat favoritnya. Secangkir hot choco di hadapannya mengepulkan uap tipis perlahan, tetapi belum sekali pun tersentuh. Tempat dan minuman itu seharusnya sanggup membawa ketenangan baginya, namun tidak malam ini.
"Kau masih aja kayak gini, Nath. Menyedihkan sekali. Kasian aku melihatmu sekarang."
Suara Carmela kemarin sore masih bergema begitu nyaring di dalam kepalanya.
Semua ucapan blak-blakan cewek itu masih menghantuinya. Terbawa masuk ke alam mimpi, terbawa saat ia terbangun dari tidur, bahkan saat ia duduk termenung sendirian di ruang tamu kos.
"Aku cukup mengerti keadaanmu, mungkin bisa dibilang aku sangat mengerti. Bahkan kalo aku yang ada di posisimu sekarang, mungkin aku gak yakin bisa bertahan jauh lebih lama darimu. Tapi... apa kau pikir dia akan senang dengan keadaanmu yang sekarang?"
Gema percakapan hari itu menghujam hatinya. Ketegasan nada bicara Carmela waktu itu benar-benar membuat Nathan tak sanggup membalas sepatah kata pun.
Nathan menelan ludah pelan. Kedua telapak tangannya menggenggam erat dinding cangkir hangat di meja, namun sengatan hangat di sana nyaris tak mampu menembus pikirannya yang berkecamuk.
Carmela... cewek itu memang selalu terlalu jujur dan blak-blakan sejak awal mereka kenal. Ia terlalu tahu banyak tentang masa lalu Nathan. Terlalu dekat dengan bagian paling rapuh dari diri Nathan yang paling ingin ia sembunyikan dan pendam rapat-rapat dari dunia. Bagian yang tak ingin ia biarkan orang lain atau siapa pun untuk mengetahuinya.
Nathan tahu dan mengerti betul bahwa Carmela tak pernah bermaksud menyudutkannya, apalagi berniat buruk padanya. Justru karena mereka sudah saling mengenal sejak lama, Carmela berani bersikap seperti itu. Mungkin, hanya Carmela satu-satunya yang cukup berani untuk mengusik dinding pertahanannya yang sepi.
Pertanyaan demi pertanyaan dari cewek itu mungkin terdengar samar, tetapi terasa bagaikan sebuah tamparan keras. Bukan karena pertanyaan itu sulit dijawab, melainkan karena jawabannya sebenarnya sudah terlalu jelas. Hanya saja, Nathan terus-menerus memilih untuk mengabaikannya dan menolak untuk mengakui.
Brak! "Huwaaa..."
Tiba-tiba, suara tangisan anak kecil terdengar dari arah depan meja kasir, seketika membuyarkan lamunan panjang Nathan.
Seorang anak perempuan mungil, baru berusia empat tahun tampak terjatuh akibat berlarian terlalu cepat di antara celah-celah meja. Anak itu terisak pelan sambil memegangi lututnya yang mengalami lecet ringan.
Sebelum suasana menjadi riuh, tampak seseorang langsung berjalan cepat mendekat, lalu berjongkok di hadapan si kecil. Orang itu merogoh saku apronnya, mengeluarkan selembar tisu basah, lalu mengusap luka kecil di lutut si anak dengan sangat hati-hati. Senyumnya memancarkan kehangatan yang mendadak terasa nyaman mengunci pandangan Nathan.
"Gak apa-apa, Adik manis. Sini, Kakak tiup biar gak sakit, ya. Gak perlu nangis, sebentar lagi juga ilang kok sakitnya," ucapnya lembut dengan senyum lebar, berusaha menghibur si kecil yang sedang kesakitan.
Kinan sama sekali tidak sadar bahwa ada seseorang di pojok ruangan yang sedang memperhatikannya tanpa berkedip. Bahkan hingga ibu dari anak itu datang dan mengucapkan terima kasih berkali-kali, Kinan hanya tersenyum manis, memastikan si kecil sudah bisa tertawa kembali sebelum ia berdiri.
Nathan mematung di kursi pojoknya. Pandangannya masih terkunci lurus ke arah Kinan, Sesaat, ia merasa benar-benar terlena.
Senyum itu. Ketulusan yang tiba-tiba hadir di hadapannya itu, membelah kesunyian dalam diri. Sikap lembut nan hangat itu membuat Nathan merenung. Mungkin, semua yang dikatakan Carmela kepadanya kemarin memang benar. Mungkin Nathan sendiri yang terlalu berlebihan memagari diri selama ini.
Ia menghela nafas pelan. Ada getaran halus di dadanya yang terasa asing, sebuah rasa yang tak bisa ia namai. Apakah ini pertanda, atau hanya bias emosi semata? Nathan benar-benar tak tahu pastinya.
Suasana cake shop berangsur-angsur kembali tenang. Namun, tidak dengan perasaan Kinan. Saat hendak berbalik menuju kasir, matanya tanpa sengaja beradu pandang dengan tatapan Nathan. Itu jelas sekali bukan tatapan biasa. Jantung Kinan mendadak berdetak kencang tak karuan hingga ia langsung cepat-cepat memalingkan wajahnya.
"Duh... kenapa gak pas banget waktunya." gumamnya pelan. Dengan wajah setengah panik, ia berusaha menutupi perasaannya lalu berjalan terburu-buru membuka menuju pintu area dapur.
Suasana di dapur tampak sudah sepi sejak sore tadi, tak ada seorang pun di sana. Kinan menyandarkan punggungnya di balik pintu, menghembuskan napas panjang untuk menenangkan diri. Jantungnya masih berdegup kencang saat bayangan tatapan dalam Nathan kembali berputar di kepalanya. Kedua tangannya refleks terangkat, menutupi wajahnya yang memerah.
Di sisi lain, Nathan tersenyum tipis. Reaksi salah tingkah dan gerakan tergesa-gesa Kinan tadi jelas tak luput dari perhatiannya.
Ia mengalihkan pandangannya kembali menatap ke luar jendela, lalu meraih cangkirnya untuk menyeruput hot choco yang kini sudah tak terlalu hangat. Namun anehnya, berbanding terbalik dengan minumannya yang sudah dingin, perasaan Nathan justru terasa sedikit lebih hangat dari sebelumnya.