Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Massal
Didepannya. Ia melihat Dayang Sari yang sedang terbang berputar di atas sungai dengan organ dalam tanpa tubuh.
Dayang yang sudah berubah menjadi Kuyang menatap Arkan dengan sorot mata yang merah. " Arkan... Beri aku makan... Atau kamu yang akan menjadi aku..."
Arkan menggelengkan kepalanya pelan. "Gak!"
Dayang yang kini menjadi Kuyang, melesat menghampirinya. Lalu menjilat lehernya, dan terasa cukup dingin.
Arkan tersentak bangun. "DAYANG!!"
Ia terbangun dengan nafas yang tersengal, dan keringat mengalir di pelipisnya. Manik kedua berwarna merah muncul di lehernya.
Dayang menggenggam tangan Arkan yang masih bernafas dengan berat.
"Kamu mimpi dia, ya?"
Arkan merasakan deguban jantungnya memburu. "Dia minta tumbal... lewat aku..."
Mendadak suasana menjadi hening. Tidak ada yang bicara. Mereka terlihat larut dalam pemikiran masing-masing.
"Kita harus mencari cara memutuskan kutukan ini. Kita punya Tuhan. Pasti ada caranya. Bagaimana pun kuatnya Iblis, maka Sang Pencipta jauh lebih kuat dari yang di Ciptakan-Nya." tegas Arkan.
Dayang Sari terlihat menggigil. Ia juga tidak ingin menerima warisan kutukan tersebut. Ia yakin, apa yang di katakan oleh Arkan adalah kebenaran.
"Aku akan mencari tahu, apa yang menjadi rahasianya," jawab Dayang Sari.
"Ya... Ini adalah ujian untuk kita. Dan kira harus bersama-sama mencari solusinya."
Di luar rumah, seseorang sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Ia berjalan dengan langkah yang bahkan hampir tak menyentuh tanah, lalu menghilang di balik kegelapan malam.
Waktu memperlihatkan pukul dua belas malam.
Udara dingin cukup membekukan tulang, disebabkan kabut yang turun dengan tebal.
Hulu sungai Mahakam di Pegunungan Muller tampak gelap. Hutan hujan yang terletak di daerah terpencil dan jarang tersentuh oleh tangan manusia, meniupkan angin yang cukup kencang.
Pucuk pohon bergoyang, dan dedaunan kering berterbangan.
Kabut tipis yang membentuk wajah-wajah mengerikan berterbangan menuju rumah-rumah warga.
Kabut tipis itu menempel di atap rumah, yang langsung membuat bulu kuduk meremang.
Wuuuuussh!
Ssssshhhss!
Di saat yang sama, warga mengalami tidur yang nyenyak. Kabut tipis menyusup kedalam mimpi warga, dan menghantarkan mimpi buruk yang sama.
Langit-langit rumah tiba-tiba menjadi gelap.
Semua listrik mendadak padam. Kegelisahan mulai mencekam.
Sedangkan dari atas atap rumah, terdengar suara yang membuat bulu kuduk meremang.
KRETAAAK!
KRETAAAAK!
Kepala wanita terbang melayang. Kepala dengan membawa organ dalam. Rambut panjang menjuntai.
Kedua mata merah menyala. Gigi taring yang panjang mencuat dari sudut bibirnya.
Sedangkan lidahnya panjang menjulur, berwana merah, dan meneteskan cairan pekat darah.
Ssssrrrt!
Ssssrrrt!
Suara lidah yang menjilat langit-langit rumah, dan meninggalkan jejak lendir yang berwarna hitam.
Saat bersamaan, suara tawa yang terdengar sangat mengerikan, dan membuat bulu kuduk meremang.
Saat bersamaan, suara teriakan dari setiap rumah terdengar bersamaan.
"Kuyaaaang!"
Semua warga terbangun dari tidurnya. Tubuh mereka keringatan dingin.
Tak!
Tak!
Tak!
Listrik langsung hidup. Dan desa yang tadinya gelap gulita,mendadak kembali terang benderang.
Mereka tersentak kaget bersamaan. Dada terasa sesak, dan seolah baru saja berlari puluhan kilometer.
Di atas ranjang, Pak RT dan istrinya saling pandang. Wajah mereka sama pucatnya.
Begitu juga dengan Pak Lurah. Dadanya masih terlihat naik turun, dengan nafas yang tersengal.
"Uma kenapa?" tanya Pak RT, saat melihat istrinya yang juga ikut terbangun.
"Uma mimpi buruk, Pak... Uma lihat ada Kuyang yang jilati langit-langit rumah," suara Bu RT terdengar bergetar.
Pak RT membeliakkan kedua matanya. "Hah? Kenapa bisa sama mimpinya?" ucap pria itu spontan.
"Bapak mimpi juga?"
Pak RT menganggukkan kepalanya pelan.
Saat bersamaan, Pak Thamrin menelpon.
Pak RT mengangkatnya. "Hallo, ada apa, Pak?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Pak, tolong, Pak. Anak perempuan saya teriak-teriak, katanya ada Kuyang jilati langit-langit rumah. Istri saya, dan saya juga mimpi yang sama," ucapnya dengan suara bergetar.
"Astaghfirullah..." suara Pak RT hampir tenggelam.
Nafasnya memburu. Tanpa menunggu lama, Pak RT langsung menghubungi via WA group.
Dan secara spontan, semua.penghuni group mengangkatnya.
Mereka menceritakan mimpi yang sama dan baru saja mereka alami.
Wajah-wajah pucat menghiasi mereka malam ini.
Dan saat bersamaan, desiran angin yang cukup kuat, menghantar kembali asap-asap putih yang kembali ke Pegunungan Muller.
****
Hari masih cukup pagi. Warga berkumpul di balai desa. Kabut masih turun, dan cukup tebal.
Empat puluh orang berkumpul. Wajah mereka sama pucatnya.
Pak Taslim tampak merasa bingung. "Mengapa kita bisa mimpi buruk massal?!"
Warga terlihat bergidik ngeri saat mengenang mimpi mereka malam tadi. "Ia... Mana kepala terbang jilat langit-langit!" sahut seorang warga, sembari bergidik ngeri.
"Sama! Lidahnya panjang! Dan mengatakan butuh 100 tumbal!" yang lain menyahuti.
"Gila! Bukannya Damang Jaya pernah bilang hanya empat puluh tumbal, kenapa jadi bertambah berlipat?" yang lain menimpali.
"Ini sangat tidak wajar! Bagaimana bisa kita mimpi bersamaan."
Sedangkan Damang Jaya tiba-tiba muncul dari balik kabut yang tebal. Wajahnya terlihat pucat. "Itu pertanda. Kalau Kuyang sedang mencari tumbal baru. Dan dia marah karena kalungnya pecah."
Pak Lurah menoleh ke arah Damang Jaya. "Terus solusinya apa, Tok?"
Damang Jaya terdiam. "Perkuat doa. Tidur rame-rame di balai. Jangan tidur di rumah sendiri malam ini." pesannya.
Warga terdiam sejenak. Mereka merasa jika desa ini benar-benar tidak aman.
Akan tetapi, mereka tidak punya pilihan. Semua yang terjadi terlalu rumit, dan mereka hanya percaya pada Damang Jaya, sehingga apapun yang dikatakan oleh pria itu, maka akan mereka patuhi.
Sementara itu, Arkan sudah berada di rumah singgah. Rumah tempat ia tinggal selama meliput berita tentang Kuyang.
Pemuda itu masih demam tinggi, dan mengigau. "Jangan... jangan makan..."
Dayang Sari tampak gemetar. Ia mengompres kening Arkan dengan air dingin dan tambahan daun kembang sepatu yang di remas . "Tahan, Arkan..."
Tiba-tiba saja, di leher Arkan muncul satu manik manik merah. Tanda itu menempel di kulit, dan bersinar pelan.
Dayang Sari semakin memucat.
Saat bersamaan, Damang Jaya datang menjenguk. Ia menatap dengan raut wajah yang gelisah.
Itu tanda kutukan udah masuk. Kalau sampai tujuh manik masuk semua, Arkan akan berubah menjadi Kuyang baru."
Dayang Sari semakin gugup. "Lalu gimana, Tok?"
Damang Jaya juga diam sejenak. "Cari cara mutusin kutukan. Atau... kasih dia tumbal."
Dayang menggeleng pelan. "AKU GAK MAU!"
Damang Jaya menatap dengan dingin. Tanpa mengatakan apapun, ia meninggalkan rumah singgah, dan menuruni anak tangga.
***
Warga berkumpul di balai desa. Obor dan senter mereka siapkan. Dan akan mereka pakai untuk menjaga jika listrik nantinya padam tiba-tiba.
Warga terlihat sangat khawatir. Wajah-wajah pucat karena takut tergambar jelas raut muka.
Wuuuussh!
Angin bertiup sangat kencang. Listrik tiba-tiba padam.
Tap!
Suasana menjadi gelap gulita.
Dari arah hulu Pegunungan Muller, tiba-tiba muncul bola api yang cukup terang.
Sungai Mahakam mendadak terang dengan cahaya kemerahan.
"Itu dia!" pekik Warga, yang menunjuk ke arah sungai dan di tepiannya banyak di tumbuhi pohon sagu.
Semua warga langsung mengarahkan sorot senter ke sana.
Suara tawa terdengar begitu mengerikan. Membuat bulu kuduk mereka meremang.
"Ayo! Kita kejar. Jangan sampai dia lolos!" teriak Pak RT memberi komando.
Warga berteriak, dan mengejar ke arah tepian sungai Mahakam.
Melihat banyaknya warga yang menuju ke arahnya, sosok itu langsung menghilang ke dalam sungai.
"Periksa CCTV, dan kita sumbat pintu air dengan kaca, biar organ tubuhnya hancur," teriak Pak Lurah yang sudah merasa geram.
Warga langsung menuju pintu air yang terdapat di bawah akar pohon beringin.
Sementara itu, Arkan yang masih demam tinggi, merasakan dirinya sedang berada di sungai Mahakam yang gelap.
Didepannya. Ia melihat Dayang Sari yang sedang terbang berputar di atas sungai dengan organ dalam tanpa tubuh.
Dayang yang sudah berubah menjadi Kuyang menatap Arkan dengan sorot mata yang merah. " Arkan... Beri aku makan... Atau kamu yang akan menjadi aku..."
Arkan menggelengkan kepalanya pelan. "Gak!"
Dayang yang kini menjadi Kuyang, melesat menghampirinya. Lalu menjilat lehernya, dan terasa cukup dingin.
Arkan tersentak bangun. "DAYANG!!"
Ia terbangun dengan nafas yang tersengal, dan keringat mengalir di pelipisnya. Manik kedua berwarna merah muncul di lehernya.
Dayang menggenggam tangan Arkan yang masih bernafas dengan berat.
"Kamu mimpi dia, ya?"
Arkan merasakan deguban jantungnya memburu. "Dia minta tumbal... lewat aku..."
Mendadak suasana menjadi hening. Tidak ada yang bicara. Mereka terlihat larut dalam pemikiran masing-masing.
"Kita harus mencari cara memutuskan kutukan ini. Kita punya Tuhan. Pasti ada caranya. Bagaimana pun kuatnya Iblis, maka Sang Pencipta jauh lebih kuat dari yang di Ciptakan-Nya." tegas Arkan.
Dayang Sari terlihat menggigil. Ia juga tidak ingin menerima warisan kutukan tersebut. Ia yakin, apa yang di katakan oleh Arkan adalah kebenaran.
"Aku akan mencari tahu, apa yang menjadi rahasianya," jawab Dayang Sari.
"Ya... Ini adalah ujian untuk kita. Dan kira harus bersama-sama mencari solusinya."
Di luar rumah, seseorang sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Ia berjalan dengan langkah yang bahkan hampir tak menyentuh tanah, lalu menghilang di balik kegelapan malam.
Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..
Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.
Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.
Sya sendiri punya suami orang Banjar, tetapi saya asli suku Dayak, salam persahabatan dan salam sehat thor ku. ☺