BANGKIT TANPA WARISAN.
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.
👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 bertarung melawan monster jenius
Seketika, suasana di tempat itu mendadak senyap.
Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah semburan darah yang memancar deras dari mulut mayat Tuan Muda Jiu Liang, membasahi tanah kering hingga berubah merah pekat. Aroma darah segar bercampur dengan debu dan aura pembantaian yang masih menggantung di udara, menciptakan suasana yang begitu mencekam.
Orang-orang yang menyaksikan kejadian ganjil tersebut berdiri terpaku. Tenggorokan mereka terasa tercekat, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram leher mereka. Tak seorang pun sanggup melontarkan sepatah kata pun.
Dalam dunia kultivasi, membunuh lawan yang berada di tingkat ranah yang sama sudah merupakan perkara yang sangat sulit—apalagi hanya dengan satu lambaian tangan santai yang mampu merenggut nyawa secara instan.
Terkecuali... jika pelakunya adalah seorang jenius monster.
Nanli pun dibuat membisu.
Sama sekali tak pernah terlintas di benaknya bahwa Yefan akan seberani itu membantai Tuan Muda dari Keluarga Ji di hadapan banyak orang.
Namun, di tengah kematian Jiu Liang yang tragis, tak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa Yefan sebenarnya tengah menyembunyikan sesuatu.
"Ha... tidak..."
Suara lirih itu terdengar dari arah Jiun Yi.
Sesaat kemudian—
"TIDAKKK! ADIK! ADIKKK...!"
Jiun yi melesat menuju sang adik dengan Jeritan histeris yang dipenuhi rasa tidak rela dan ketidakpercayaan memecah keheningan yang mencekam. Suara tersebut menghentak kesadaran semua orang yang masih terpaku.
Jiun Yi berlutut dengan kedua lutut menghantam tanah. Tangannya gemetar saat merengkuh jasad adiknya yang kaku dan mulai membiru. Wajahnya dipenuhi kesedihan yang begitu dalam hingga hampir berubah menjadi kegilaan.
Padahal, baru beberapa saat yang lalu adiknya masih berdiri tegak dan berbicara di sisinya.
Tujuan mereka datang ke tempat ini bersama adalah demi buah Ganoderma Lucidum untuk membantu meningkatkan kultivasi Jiu Liang, adiknya.
Namun sekarang...
Sang adik telah membujur kaku menjadi mayat yang mengenaskan.
Jiun Yi benar-benar tidak sanggup menerima kenyataan pahit tersebut.
Tangannya mengepal kuat hingga kukunya menancap ke telapak tangan.
"Kenapa..."
Suaranya bergetar.
"Kenapa kau harus mati...?"
Booocmm!
Secara mendadak, aura kemarahan, dendam membara, dan ketidakrelaan meledak hebat dari tubuh Jiun Yi.
Bumi bergetar!
Tekanan dahsyat itu melesat ke udara, membuat pepohonan di sekelilingnya bergoyang liar. Langit yang tadinya cerah perlahan berubah gelap, seolah tertutup oleh kemarahan yang berasal dari tubuh Jiun Yi.
Booocmm!
Ledakan kedua kembali bergemuruh dari dalam tubuh Jiun Yi.
Kali ini, aura yang dipancarkannya jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya. Awan hitam pekat yang menutupi langit kian memadat dan bergolak liar, membentuk pusaran raksasa yang seolah hendak menelan seluruh kawasan hutan.
Lalu, tepat di pusat pusaran awan hitam tersebut, perlahan-lahan muncul sebuah bayangan tombak raksasa sepanjang seratus kaki.
Begitu bayangan tombak itu terbentuk, tekanan mengerikan langsung menyelimuti seluruh kawasan.
Bumi bergetar hebat.
Kedalaman hutan seolah merasakan ancaman besar. Burung-burung beterbangan panik, sementara binatang-binatang buas yang berada jauh di dalam hutan melarikan diri tanpa berani menoleh ke belakang.
"Dia... berhasil menerobos kembali!"
Nanli menyipitkan mata, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Bahkan Paman Ketiga dan Culian dibuat terperanjat oleh lonjakan kekuatan Jiun Yi yang begitu mendadak.
Mereka dapat merasakan bahwa aura dari bayangan tombak raksasa di tengah pusaran awan itu sudah berada pada tingkat yang mampu membunuh mereka hanya melalui tekanannya saja.
Sontak, tubuh mereka dibasahi keringat dingin.
Di dalam pupil mata Culian terpancar rasa iri yang amat besar terhadap bakat luar biasa milik Tuan Muda Keluarga Ji tersebut.
Namun, pada akhirnya ia hanya mampu menghela napas panjang, meratapi keterbatasan bakatnya sendiri.
"Kematian orang yang paling dikasihinya telah memicu gelombang potensi darah yang tertidur di dalam nadinya," gumam pengawal Nanli dengan raut serius.
Nanli menoleh.
"Apakah kasih sayang terhadap adiknya yang selama ini menjadi belenggu justru menahan potensi dirinya?"
"Jika itu benar..." Nanli menelan ludah. "Bukankah dia adalah seorang jenius monster?"
Kecemasan dalam suaranya semakin jelas.
Hubungan antara Keluarga Ji dan Keluarga Nan saat ini sedang berada di ambang ketegangan.
Jika Jiun Yi benar-benar terbukti sebagai seorang jenius monster, maka Keluarga Nan berada dalam ancaman besar.
Sebab, jauh lebih baik berhadapan dengan sekelompok pemberontak daripada harus memusuhi seorang jenius monster yang memiliki potensi sedahsyat itu.
"Bisa dikatakan begitu. Jiun Yi memiliki masa depan yang cerah, bila tidak mati di tengah perjalanan," jawab pengawal Nanli dengan nada dalam, seolah tengah memikirkan sesuatu yang jauh lebih serius.
Nanli terkejut mendengarnya.
Ia kemudian mengalihkan pandangan dan menatap Yefan dengan gelisah.
Teman... lebih baik kau segera melarikan diri dari sini!
Nanli diam-diam memperingatkannya dalam hati.
Namun, Yefan tentu dapat mendengar suara batin Nanli melalui persepsinya.
Meski begitu, ia memilih untuk diam.
Matanya tetap fokus mengamati aura merah yang memancar semakin pekat dan brutal dari tubuh Jiun Yi.
Alis Yefan sedikit menyatu.
Ia dapat merasakan keganasan yang tak biasa dari aura merah tersebut. Aura itu tidak sekadar meningkatkan kekuatan Jiun Yi, tetapi seolah membawa karakteristik khusus yang membuatnya jauh lebih berbahaya.
Melihat peringatan batinnya sama sekali tak digubris, Nanli hanya bisa tersenyum getir.
Pemuda di hadapannya ini sungguh bagaikan pohon kayu mati yang berjalan; teramat sulit untuk menunjukkan ekspresi ketakutan.
Tentu saja, karena situasi sudah terlanjur melenceng jauh, Nanli tak lagi memiliki kapasitas untuk mencegah aksi balas dendam Jiun Yi.
Ia kini hanya bisa berharap Yefan sanggup bertahan hidup, agar karma baik yang baru saja ia tanam tidak menguap sia-sia.
"Kau..."
Suara Jiun Yi terdengar rendah.
Kemudian perlahan berubah menjadi raungan.
"Kau yang telah membunuh adikku!"
Tatapannya berubah merah karena amarah.
"Akan kubuat hidupmu jauh lebih menderita daripada kematian!"
Jiun Yi menunjuk lurus ke arah Yefan.
Sreengg!
Ia mengulurkan tangannya ke arah pusaran awan hitam di atas langit.
Bayangan tombak raksasa yang berada di tengah pusaran tersebut bergetar hebat sebelum akhirnya tertarik turun.
Sreengg!
Jiun Yi menarik tombak raksasa itu dari pusaran awan.
Saat mendarat di genggamannya, ukuran tombak tersebut menyusut kembali menjadi ukuran normal. Namun, meski ukurannya berubah, tekanan mematikan yang terpancar darinya sama sekali tidak berkurang.
Kilatan energi merah menjalar di sepanjang permukaan tombak.
"Ayo cepat mundur!"
Paman Ketiga segera memberi peringatan.
Ia tahu betul jika mereka tetap berada dalam jangkauan area pertempuran, mereka pasti akan tersapu oleh dampak destruktif pertarungan kedua jenius tersebut.
Wanita muda di samping Paman Ketiga segera melangkah mundur.
Walau tidak mengenal Yefan secara dekat, ada sedikit riak kekhawatiran yang terbayang di matanya.
Tuan Muda Nanli pun memilih untuk ikut mundur beberapa langkah.
Namun, matanya tetap tak lepas menatap Yefan.
Pemuda itu masih berdiri dengan tenang di tengah amukan aura Jiun Yi. Tidak ada rasa takut di wajahnya. Bahkan sedikit pun tidak terlihat niat untuk mundur.
Hal tersebut membuat Nanli sadar bahwa Yefan pasti memiliki kartu truf yang bisa diandalkan.
Kecemasan di matanya perlahan mereda.
Seandainya Nanli tahu bahwa rasa takut dalam kehidupan Yefan sebenarnya telah dihilangkan oleh dirinya sendiri, ia pasti akan syok berat.
Karena hal semacam itu benar-benar menentang logika para kultivator.
Mendengar ancaman membara dari Jiun Yi, Yefan sama sekali tidak menganggapnya serius.
Sebaliknya, ia justru merasa tertarik untuk bertukar pukulan.
Tuan Muda Jiun Yi adalah lawan yang cukup kuat untuk menguji kekuatannya saat ini.
Melihat pemuda di depannya hanya diam tanpa ekspresi—seolah membantai adiknya hanyalah perkara sepele—kemarahan Jiun Yi semakin membakar dadanya.
"Mati kau!"
BOOM!
Aura kultivasinya meledak.
Jiun Yi melesat secepat kilat.
WUSSSSS!
Ujung tombaknya menjurus lurus menyasar jantung Yefan, membawa serta aura merah membara yang begitu ganas hingga pepohonan di sepanjang lintasannya langsung layu dan mati.
Daun-daun mengering dalam sekejap.
Batang pepohonan retak.
Bahkan Rumput yang bercokol di tanah saat dilaluinya mulai kehilangan kehidupan.
Melihat efek merusak yang ditimbulkan oleh serangan tersebut, Yefan menyipitkan mata.
Tuan Muda Jiun Yi ini memang cukup jenius.
Tanpa ragu sedikit pun, Yefan menyambut serangan tombak itu menggunakan tinju telanjangnya.
Kepalan tangan Yefan diselimuti aura yin pekat.
DANG!
Ujung tombak yang tajam beradu telak dengan kepalan tangan Yefan.
Booocmm!
Bumi bergetar!
Gelombang benturan dua kekuatan yang saling bertolak belakang menyapu ke segala arah.
Di belakang posisi Jiun Yi, pepohonan yang terpapar aura merah langsung mengering, layu, lalu tumbang.
Sementara di belakang Yefan, pepohonan justru terkorosi hebat.
Batang-batangnya membusuk dalam hitungan detik sebelum akhirnya runtuh menjadi tumpukan serpihan dan kotoran.
"Seimbang?!"
Nanli dan semua penonton dibuat terperanjat.
Mereka sama sekali tidak menyangka pemuda asing yang baru mereka temui ini sanggup menahan serangan musuh yang tingkat kultivasinya berada dua tingkat di atasnya!
Dan yang jauh lebih mengerikan...
Aura yin yang dipancarkan Yefan ternyata identik dengan aura yin mematikan yang bersemayam di Jurang Keputusasaan.
Fakta tersebut membuat bulu kuduk mereka berdiri.
Jiun Yi menyipitkan mata.
Ia tidak menyangka pria di hadapannya mampu bertarung melompati dua ranah sekaligus.
"Pantas saja adikku mati tanpa sempat melawan!"
Geramannya menggema.
Dang! Dang! Dang!
Jiun Yi menyerang secara beruntun dari berbagai sudut.
Tombaknya menusuk, menyapu, kemudian berputar dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata telanjang.
Setiap kali tombaknya beradu dengan kepalan tangan Yefan, ledakan dahsyat bergemuruh ke segala arah.
Bumi bergetar!
Keduanya bentrok ke sana kemari, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Kepalan tangan Yefan yang beradu langsung dengan ujung tombak tajam tersebut sama sekali tidak terluka.
Bahkan kulitnya tidak tergores sedikit pun.
Sebenarnya, di balik wajah tenangnya, Yefan menyimpan sedikit keterkejutan saat merasakan aura merah yang melapisi tombak Jiun Yi.
Aura merah itu ternyata mampu menahan gempuran aura yin dari tubuhnya.
Lebih dari itu, aura tersebut bahkan mampu melindungi tombak Jiun Yi dari korosi aura yin, sehingga senjata itu tidak rapuh dan hancur.
Itulah alasan utama Yefan sengaja menggunakan aura yin Jurang Keputusasaan untuk membentuk tubuh barunya.
Ia tahu betul keunggulan aura tersebut.
Aura yin Jurang Keputusasaan memiliki kemampuan korosif yang sangat mengerikan. Bahkan senjata tingkat bawah sekalipun dapat dibuat rapuh dan hancur jika terus-menerus terpapar aura tersebut.
Namun, keunggulan itu ternyata mampu diredam oleh Jiun Yi.
Bahkan orang-orang yang menyaksikan pertarungan tersebut, termasuk Nanli, dibuat terpukau oleh keistimewaan aura merah milik Jiun Yi.
Tepat saat benturan serangan mereka mencapai pertukaran ke-200—
Boooocmm!
Bumi bergetar hebat!
Keduanya terdorong mundur secara bersamaan akibat ledakan energi ganda.
Jiun Yi melayang mundur beberapa meter sebelum akhirnya menghentikan tubuhnya.
"Hah... hah... hah..."
Napas Tuan Muda Jiun Yi memburu.
Keringat dingin membasahi dahinya.
Matanya menatap tajam ke arah Yefan yang berdiri tidak jauh di depannya.
Berbeda dengannya, Yefan hanya mengembuskan napas sedikit tersengal.
Jelas terlihat bahwa dalam dua ratus pertukaran sengit tadi, Yefan sedikit lebih unggul.
"Ternyata kau memang seorang jenius monster..."
Jiun Yi mencengkeram erat gagang tombaknya.
"Tapi sayang..."
Aura merah kembali meledak dari tubuhnya.
"Kau telah membunuh adikku!"
Tatapan Jiun Yi dipenuhi dendam.
"Dan nyawamu adalah harganya!"
Booocmm!
Aura merah menyala memenuhi langit.
Jiun Yi mencengkeram tombaknya dengan kedua tangan.
Sekejap kemudian, aliran-aliran petir merah yang ganas mulai menyelimuti senjata tersebut.
Krak!
Krak!
Krak!
Petir merah berderak di sepanjang mata tombak, menciptakan tekanan mengerikan yang membuat ruang di sekitarnya seolah bergetar.
Jiun Yi mengangkat tombaknya tinggi-tinggi.
"Teknik Seribu Tombak!"
Wuuussssss!
Dengan raungan penuh amarah, Jiun Yi melemparkan tombaknya ke arah Yefan dengan dorongan kekuatan yang amat mengerikan.
Tombak itu melesat menembus udara.
Namun, di tengah lintasannya—
WUSSSS!
Tombak tunggal tersebut mendadak terbelah.
Satu menjadi dua.
Dua menjadi puluhan.
Puluhan menjadi ratusan.
Hingga akhirnya, tombak itu berlipat ganda menjadi seribu bayangan tombak yang memenuhi langit.
Aura yang dibawanya kian brutal.
Tekanan udara yang tercipta begitu besar hingga tanah dan pepohonan di sekitar Yefan meledak hancur.
Bumi bergetar!
Jubah dan rambut hitam Yefan berkibar keras diterpa badai angin.
Namun, tatapan matanya tetap tenang.
Ia mendongak ke atas, menatap ribuan mata tombak yang memenuhi langit dan siap menghujani tubuhnya.
Di dalam pupil hitamnya tidak terdapat sedikit pun rasa takut.
Hanya ketenangan...
dan sedikit rasa penasaran terhadap kekuatan lawannya.
Seribu bayangan tombak telah tiba di atas kepalanya.
Dan pada detik berikutnya—
Seluruhnya menukik turun secara bersamaan!
(Bersambung)
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏