Indonesia
NovelToon NovelToon
When The Extra Writes The Rules

When The Extra Writes The Rules

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.

Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.

Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Kertas Bergambar Serigala Es, Kereta Tanpa Lambang, dan Utusan di Tengah

Malam makin merayap di atas langit ibu kota. Udara dingin yang menyusup dari sela-sela jendela Kediaman Rosenberg membuat nyala lilin di ruang kerja rahasia Julian menari-nari liar.

Di atas meja kayu yang diterangi lentera sihir, selembar surat terbuka.

Di sudut atas kertas itu, segel lilin hitam berbentuk kepala serigala es yang melolong—lambang kebanggaan Wilayah Obsidian—sudah terbelah menjadi dua.

Evelyn duduk menyandarkan badannya di kursi. Jemarinya menelusuri tiap goresan tinta hitam di atas surat tersebut.

Di sampingnya, Julian berdiri dengan lengan bersedekap, matanya tak lepas mengawasi ekspresi sang adik.

"Tulisan tangannya indah sekali," gumam Evelyn pelan. "Cassian setuju buat membuka ruang negosiasi di Benteng Winterfell—wilayah netral di perbatasan Utara."

Julian menghela napas panjang, meraup wajahnya dengan sebelah tangan seraya melangkah mendekati meja. "Tapi poin keduanya yang bikin Kakak nggak bisa tidur nyenyak, Lyn. Dia Nggak mau berurusan sama perantara kelas dua. Dia minta penanggung jawab utama Perusahaan Asteria yang datang sendiri menghadap dia. Pria itu curigaan setengah mati."

Evelyn menyunggingkan senyum tipis, kontras dengan kekhawatiran kakaknya. "Justru itu pertanda bagus, Kak. Cassian bukan tipe penguasa yang gampang dibodohi sama janji-janji manis lewat surat. Dia mau melihat langsung siapa orang yang punya keberanian menguasai cadangan kristal Luminite terbesar di wilayahnya."

"Tapi kondisimu nggak memungkinkan buat perjalanan jauh ke perbatasan Utara!" tegur Julian.

"Suhu di perbatasan itu bisa membekukan air raksa dalam hitungan menit! Kamu baru dua hari lalu pingsan, fisikmu masih gampang ngedrop kalau kena angin malam!"

Evelyn mendongak, "Makanya... bukan Evelyn yang bakal jalan sebagai utusan pertama minggu ini, Kak."

Julian tersentak kecil, dahinya terlipat. "Maksudmu?"

Evelyn merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah stempel. Ia meletakkan stempel itu tepat di atas surat milik Cassian.

"Kita kirim tim diplomasi rahasia dulu," terang Evelyn.

"Kakak yang bakal pimpin utusan itu secara langsung ke Benteng Winterfell. Bawa Komandan Vanes, dan bawa Sir Ken—pengacara senior Asteria yang paling lihai mengolah kata-kata."

Julian membelalakkan matanya. "Kakak? Jadi Kakak yang harus menghadap monster Obsidian itu duluan?!"

"Iya, Kak," Evelyn menyunggingkan senyum tipis.

"Kalau Evelyn yang langsung muncul di pertemuan pertama, Cassian bakal langsung menebak kalau Asteria punya hubungan erat sama keluarga Rosenberg. Posisi kita bisa goyah. Tapi kalau Kakak yang datang... menyamar sebagai 'Kepala Keamanan dan Wakil Eksekutif Asteria'... Cassian bakal pusing menebak siapa sosok misterius di balik perusahaan ini."

Julian menahan napasnya, mencoba mencerna alur logika adiknya.

"Kakak datang sebagai wakil buat menyerahkan draf perjanjian awal dan sampel kristal murni," lanjut Evelyn.

"Kakak uji seberapa besar niat Cassian buat bekerja sama. Tunjukkan sampel kristal Luminite itu di depan matanya, lalu bilang... kalau dia mau pasokan penuh buat menyelamatkan rakyatnya dari badai es, dia harus menyerahkan bunga Frost-Blooded Amaryllis dan menandatangani pakta pertahanan rahasia."

Julian menarik napas.

"Dan setelah dia tergiur sama penawaran awal itu..." gumam Julian dengan mata membelalak, "baru kamu muncul di pertemuan kedua buat penandatanganan akhir?"

"Tepat sekali," bisik Evelyn manis seraya mengedipkan sebelah matanya. "Biarkan penguasa Utara itu penasaran setengah mati dulu. Bikin dia sadar kalau dia butuh kita lebih dari kita butuh dia."

Tiga hari kemudian, di area halaman belakang Kediaman Rosenberg.

Kabut tipis menyelimuti pelataran tanah saat fajar baru saja menyingsing.

Udara dingin membelai kulit, membawa aroma embun dan tanah basah. Sebuah kereta kuda berwarna hitam pekat tanpa lambang bangsawan terparkir rapi.

Dua ekor kuda jantan berbulu hitam meringkik pelan, membuang napas beruap ke udara pagi.

Julian berdiri di samping pintu kereta kuda. Ia membalut tubuhnya dengan zirah cokelat, dilapisi mantel berbulu serigala abu-abu.

Pedang panjang di pinggangnya terbungkus sarung kulit kusam, menyamarkan identitasnya sebagai komandan elit kerajaan.

Di sekeliling kereta, enam prajurit pilihan dari Pasukan Shadow menunggang kuda dengan pakaian penyamaran serupa.

Evelyn berdiri di dekat pintu. Di sampingnya, Duchess Eleanor sibuk merapikan kerah mantel Julian dengan tangan yang sedikit gemetar karena cemas.

"Hati-hati di jalan, Julian..." bisik Eleanor dengan suara serak, mencium kedua pipi putranya. "Jalan ke perbatasan Utara itu rawan badai dan penyamun. Jangan bertindak gegabah kalau ketemu orang-orang Obsidian."

"Mama tenang saja," balas Julian dengan senyum mantap yang menenangkan.

"Julian cuma pergi buat urusan bisnis cepat. Dalam lima hari Julian sudah kembali ke rumah."

Julian berpaling dari ibunya, lalu melangkah mendekati Evelyn.

Julian meraih kedua tangan Evelyn dan menggenggamnya.

"Semua surat, sampel kristal Luminite, sudah aman di dalam kotak," bisik Julian dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

"Kakak bakal pastikan pria Obsidian itu bakal menerima semua syarat yang kamu buat."

Evelyn menatap mata kakaknya, ada perasaan khawatir disana.

"Jangan terprovokasi kalau Cassian bicara kasar ya, Kak," pesan Evelyn lembut.

"Dia pria yang dingin dan suka menekan mental lawan bicaranya. Kalau dia mulai memancing emosi... ingat kalau kita yang pegang kartu trufnya."

Julian terkekeh pelan. "Kamu ini... malah mengkhawatirkan Kakak yang seorang ksatria. Kamu yang di rumah harus penurut! Jangan keluyuran ke ruang arsip bawah tanah lagi, minum obat tepat waktu, dan jangan bikin Mama panik lagi."

"Iya, Kakak," kekeh Evelyn manis.

Julian berdiri tegak, memukul dadanya sekali, lalu berbalik melangkah lebar mendekati kereta kuda, disusul oleh Sir Ken.

"Jalan!" seru Komandan Vanes dari atas kuda terdepan.

Klitik-klitik! Krek!

Roda-roda kereta kuda itu mulai berputar, menggilas tanah basah halaman belakang. Enam penunggang kuda Pasukan Shadow bergerak mengapit kereta di sisi kiri dan kanan, membentuk formasi pengawalan.

Evelyn memperhatikan kereta hitam itu melaju perlahan, hingga akhirnya menghilang di balik pekatnya kabut pagi menuju arah Utara.

Eleanor merapatkan jubahnya, mengusap bahu Evelyn dari belakang. "Mari masuk ke dalam, Sayang. Udara pagi ini makin dingin, nanti dadamu sesak lagi."

"Iya, Ma..." sahut Evelyn pelan.

Empat hari kemudian, di balik dinding batu tebal Benteng Winterfell yang diselimuti salju tipis.

Suara embusan angin es melolong di luar jendela berkaca tebal. Di dalam ruang audiensi, sebuah perapian kayu membara hebat, memancarkan hawa hangat yang memerah di udara.

Seorang pria duduk di atas kursi kebesaran.

Duke Cassian von Obsidian.

Pria itu mengenakan kemeja hitam berkerah tinggi yang dipadu dengan mantel bulu serigala hitam yang melapisi bahunya yang lebar dan tegap.

Wajahnya yang sangat tampan bagaikan dipahat dari batu pualam paling sempurna—rahang yang tegas, hidung mancung yang tajam, dan bibir tipis yang jarang sekali mengukir senyum.

Rambut hitam pekatnya yang agak bergelombang jatuh berantakan di dahi.

Aura keberadaan Cassian begitu dingin, menekan, dan memancarkan aura pembunuh yang membuat dua prajurit penjaga di belakang kursinya berdiri kaku.

Di seberang meja kayu panjang, Julian duduk tegap dengan raut wajah dingin.

Di sampingnya, Sir Ken merapikan kacamata bundarnya seraya memegang dokumen Asteria.

Di tengah meja tersebut, sebuah kotak besi hitam terbuka lebar.

Cahaya biru keemasan yang begitu memikat dan hangat memancar keluar dari dalam kotak, memantul indah di atas permukaan meja dan menerangi wajah dingin Cassian.

Bongkahan kristal Luminite tingkat tinggi sebesar kepalan tangan balita terbaring di sana.

Cassian menopang dagunya di atas meja. Matanya menatap kristal biru itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya beralih menatap lurus ke dalam mata Julian.

Pandangan mata Cassian begitu tajam dan intimidatif, seolah sanggup menembus sampai ke dasar jiwa lawan bicaranya.

"Kristal Luminite murni dengan kestabilan sembilan puluh delapan persen..." suara Cassian meluncur keluar. Suara baritonnya rendah, berat, dan bergetar halus bagaikan derum guntur di kejauhan.

"Barang yang sangat langka. Bahkan Istana pun harus memohon pada guild alchemist tertinggi buat mendapatkan kepingan sebesar ini."

Julian menyunggingkan senyum tipis, tidak menunjukkan sedikit pun rasa gentar menghadapi tekanan aura penguasa Utara tersebut.

"Perusahaan Asteria tidak main-main dengan penawarannya, Lord Obsidian," sahut Julian.

"Kami memegang hak kelola penuh atas tambang Luminite di Lembah Frostpeak. Kami sanggup memasok ratusan ton kristal seperti ini untuk kebutuhan energi seluruh wilayah Utara sepanjang musim dingin ini... dengan harga setengah dari tarif standar Istana."

Salah satu penasihat Cassian yang berdiri di samping meja tersentak kaget, matanya membelalak tak percaya mendengar harga yang ditawarkan.

Namun Cassian sendiri tidak menunjukkan ekspresi terkejut sedikit pun. Bibirnya justru menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat dingin dan berbahaya.

"Setengah harga..." gumam Cassian pelan, tangannya terulur mengetuk-ketuk permukaan meja batu dengan nada teratur.

Tuk. Tuk. Tuk.

"Penawaran yang terlalu indah buat jadi kenyataan di dunia bisnis. Tidak ada pengusaha yang sudi membuang potensi keuntungan sebesar itu... kecuali ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang mereka incar dari saya."

Cassian memajukan badannya sedikit.

"Katakan," desis Cassian, matanya terkunci pada Julian. "Apa yang sebenarnya diinginkan oleh pimpinan rahasiamu dari Obsidian?"

Sir Ken di samping Julian menyeka keringat dingin di pelipisnya, namun Julian tetap berdiri dengan tenang. Ia meraih lembaran perjanjian kedua dari tas, lalu menggesernya melintasi meja tepat ke hadapan Cassian.

"Pimpinan kami hanya menginginkan dua hal, Lord Obsidian," jawab Julian tegas tanpa keraguan. "Pertama... penyerahan hak kepemilikan atas setangkai bunga Frost-Blooded Amaryllis yang ada di rumah kaca pribadi Anda."

Cassian mengangkat sebelah alisnya. Binar ketertarikan yang sangat tajam berkilat di mata kelamnya.

"Bunga Frost-Blooded Amaryllis? Bunga penyembuh kelainan sihir langka itu? Buat apa seorang pengusaha butuh bunga seperti itu?"

"Itu rahasia pribadi Pimpinan kami," balas Julian tenang. "Dan syarat kedua... penandatanganan pakta pertahanan dan perlindungan militer rahasia antara pasukan Obsidian dan pihak Perusahaan Asteria."

Cassian terdiam sejenak. Ruangan audiensi itu kembali diliputi keheningan Hanya ada suara letupan kayu bakar di perapian dan derit angin badai di luar jendela.

Cassian meraih dokumen perjanjian itu dengan jemarinya, membaca poin demi poin yang tertulis di atas kertas kulit tersebut dengan sangat teliti.

Makin bawah ia membaca, makin tampak jelas betapa rapi dan menguncinya alur hukum yang disusun dalam dokumen tersebut—sebuah mahakarya strategi bisnis dan politik yang luar biasa cerdas.

"Sangat rapi..." bisik Cassian, lalu ia meletakkan kertas itu kembali ke meja. Pria itu mendongak, menatap Julian dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa ingin tahu.

"Tapi saya tidak pernah menandatangani perjanjian sepenting ini dengan seorang 'wakil'. Saya mau bertemu langsung dengan pemilik sebenarnya dari Perusahaan Asteria."

Julian tersenyum tipis, persis seperti yang sudah diprediksikan oleh adiknya sejak awal.

"Pimpinan kami sudah menduga Anda bakal meminta hal itu, Lord Obsidian," kata Julian santai. "Dan Pimpinan kami bersedia bertemu langsung dengan Anda buat penandatanganan akhir... di ibu kota, tiga hari dari sekarang."

Cassian menyandarkan punggungnya di kursi, matanya menyipit menatap ksatria di depannya. "Di ibu kota? Di tengah sarang mata-mata Istana?"

"Lokasinya bakal ditentukan secara rahasia oleh pihak kami," sahut Julian mantap.

"Bagaimana, Lord Obsidian? Apakah Anda punya keberanian buat datang dan menemui pimpinan kami?"

Sebuah tawa halus yang sangat rendah keluar dari tenggorokan Cassian—sebuah tawa langka yang membuat para pengawal pribadinya sampai menoleh kaget. Pria yang biasanya sedingin es itu kini tampak sangat terhibur.

"Keberanian?" ulang Cassian.

"Menarik. Sangat menarik. Katakan pada pimpinan misteriusmu itu... saya bakal datang ke ibu kota tiga hari lagi."

Cassian berdiri dari kursinya. Ia menatap Julian dengan pandangan mata yang begitu tajam.

"Tapi ingatkan pimpinanmu..." desis Cassian pelan namun menusuk. "Kalau sampai pertemuan ini hanya permainan buang-buang waktu atau jebakan Istana... saya bakal memastikan seluruh Perusahaan Asteria hancur dalam semalam."

Julian berdiri tegak, merapikan mantelnya tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Pimpinan kami tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal murahan, Lord Obsidian. Sampai jumpa di ibu kota."

Julian membungkuk singkat secara formal, lalu berbalik bersama Sir Ken dan melangkah lebar keluar dari ruang audiensi Benteng Winterfell.

Cassian berdiri terpaku di depan perapian, memperhatikan pintu yang tertutup rapat.

Tangannya terulur meraih kepingan kristal Luminite dari dalam kotak besi, merasakan kehangatan energi murni yang mengalir di telapak tangannya.

Matanya berkilat penuh intrik.

"Pimpinan Asteria..." gumam Cassian pelan. "Siapa sebenarnya sosok cerdas yang sedang mencoba memainkan papan catur denganku ini?”

1
Fazira
Cassian 😍😍
Fazira
padahal Rosalia di dunia novel ini protagonis, kenapa sifatnya jadi kaya antagonis gini yaa/Doubt/
Fazira
udah Rosalia 🤭
Fazira
Evelyn Evelyn pinter akting yaa🤣🤣
Fazira
Wah Duke Utara 😍
Fazira
Evelyn Evelyn udah badan penyakitan kenapa akting sakit 🤭
Fazira
kehidupan novel dalam novel ya😄
Fazira
wow transmigrasi kak👍
semangat nulisnya 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!