Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14. Payung yang Menjadi Awal Rasa Hangat
Langit sore itu mendung pekat, kelabu menutupi cakrawala seakan tak ingin lagi menyisakan secercah cahaya matahari. Angin berhembus pelan namun membawa udara dingin yang menusuk hingga ke tulang. Aku berjalan tergesa-gesa keluar dari gedung perkuliahan, berharap hujan belum turun deras saat aku sampai di gerbang depan. Namun baru beberapa langkah keluar, rintik air mulai jatuh membasahi bumi. Tak lama kemudian, langit seakan pecah—hujan turun dengan derasnya, membasahi segala sesuatu dalam sekejap mata.
Aku segera berlari kecil menuju atap penunggu di depan gedung, tubuhku menggigil sedikit menahan dingin. Di saku tas tak ada payung, dan hari itu hari Sabtu, sehingga suasana kampus sudah sepi dari mahasiswa yang bergegas pulang lebih awal. Taksi pun sulit didapat di jam seperti ini. Aku memeluk diriku sendiri, menatap hujan yang turun tanpa tanda reda, berharap sebentar lagi akan reda. Namun semakin lama, air hujan justru semakin deras, membasahi jalanan hingga memutih.
Tak lama berselang, suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah lorong. Aku menoleh perlahan, dan jantungku seketika berdebar. Itu Arga. Ia berjalan tenang membawa sebuah payung besar berwarna hitam, langkahnya tegap dan teratur, seakan hujan deras di sekitarnya tak mampu mengganggu ketenangannya. Saat ia sampai di tempatku berteduh, ia berhenti di sampingku, berdiri tegak namun memberi jarak yang sopan, tak terlalu dekat namun tak terlalu jauh.
"Masih di sini, Lisna?" suaranya terdengar tenang di tengah suara gemuruh air hujan. "Hujan tampaknya belum akan reda dalam waktu dekat."
Aku mengangguk pelan, tersenyum tipis penuh kekecilan. "Iya, Pak. Saya lupa membawa payung. Sedang menunggu sampai agak reda baru berjalan pulang."
Arga menatap ke arah hujan di depannya sejenak, lalu menoleh kepadaku. "Jika kau menunggu sampai reda, bisa-bisa kau terjebak di sini sampai sore. Ambil payung ini. Kau bisa mengembalikannya di pertemuan berikutnya."
Ia mengulurkan payung itu ke arahku. Payung itu tampak kokoh, gagangnya terasa halus dan hangat. Aku tertegun sejenak, tak menyangka ia akan menawarkannya begitu saja. "Tapi... kalau begitu Bapak bagaimana? Bapak juga harus pulang."
"Saya tinggal tak jauh dari sini. Bisa berjalan cepat tanpa payung dan tak akan terlalu basah. Sedangkan kau harus berjalan agak jauh menuju gerbang, lalu menunggu kendaraan. Tak baik jika kau kehujanan dan jatuh sakit," jawabnya dengan nada tenang namun tegas, tak memberi ruang untuk menolak.
Ia meletakkan payung itu di tanganku, lalu menutupinya dengan tangan sejenak agar air hujan tak jatuh ke atas tanganku. Sentuhan itu singkat sekali, namun hangatnya menjalar cepat ke seluruh tubuhku. Aku memegang gagang payung itu erat-erat, merasakan sisa kehangatan yang tertinggal di sana.
"Terima kasih banyak, Pak," ucapku pelan, mataku menatapnya lekat-lekat, penuh rasa syukur sekaligus rasa haru yang tak bisa kuucapkan dengan kata-kata.
Arga tersenyum tipis, senyum yang begitu lembut dan menenangkan. "Sama-sama. Hati-hati di jalan. Jangan terlalu cepat berjalan, agar kakimu tidak basah kuyup."
Tanpa menunggu jawabanku, ia pun melangkah keluar ke dalam guyuran hujan. Langkahnya tegap, berjalan membelah air hujan yang jatuh deras, punggungnya perlahan menjauh dan menghilang di balik tirai air yang kelabu. Aku berdiri terpaku di tempatku, payung itu masih tergenggam erat di tanganku. Perlahan kubuka payung itu—langit-langitnya luas, melindungiku sepenuhnya dari air hujan. Di bawahnya, terasa begitu hangat dan terlindungi.
Sepanjang perjalanan menuju gerbang, aku berjalan di bawah payung itu. Setiap kali angin berhembus, payung itu tetap kokoh di atas kepalaku, tak goyah sedikit pun. Dan di setiap langkah yang kuambil, aku tak hanya merasakan perlindungan dari air hujan. Lebih dari itu, ada rasa hangat yang lain—hangat yang lahir dari perhatian sederhana namun tulus yang baru saja ia berikan. Rasa hangat yang membuatku menyadari bahwa di balik sikap tegas dan dinginnya di depan kelas, ia sebenarnya peduli. Ia sungguh-sungguh peduli padaku, meski harus menyampaikannya lewat cara yang sederhana dan diam-diam.
Sesampainya di rumah, aku meletakkan payung itu di sudut kamarku. Aku menyekanya pelan dengan kain bersih, menjaganya agar tetap kering dan rapi. Setiap kali menatapnya, hatiku terasa hangat kembali. Benda sederhana itu bukan sekadar payung biasa. Ia adalah jembatan pertama yang menghubungkan hatiku yang sempat ragu dan takut, menuju sesuatu yang jauh lebih lembut dan berharga. Ia menjadi awal mula rasa hangat yang perlahan tumbuh di dalam dadaku—rasa yang mulai kukenali, rasa yang mulai kurasakan, dan rasa yang perlahan membuatku menyadari bahwa mungkin saja, takdir ini tak seburuk yang kubayangkan di awal.
Dan malam itu, sebelum terlelap, aku berjanji pada diriku sendiri. Saat aku mengembalikannya kelak, aku ingin mengembalikannya bukan sekadar payung yang bersih dan kering. Melainkan juga dengan hati yang mulai lebih terbuka, dan rasa yang mulai tumbuh—berkat payung sederhana itu, yang menjadi awal dari segala kehangatan yang menyusul setelahnya.
bersambung...